Semua Karna Cinta

Semua Karna Cinta
Pertengkaran part 2


__ADS_3

Lelaki dihadapannya ini benar benar serius untuk mengusirnya. Dia dibuang dari rumah ini. Tapi kemana dia akan pergi. Kembali kerumah keluarga yang sudah memungutnya dulu. Itu tidak mungkin. Dia bahkan dengan berani mengatakan pada Sarah untuk tidak lagi terkait dengan keluarga mereka. Tapi kini dia tidak punya tempat. Sekalipun dirumah laki laki yang sudah menjadi suaminya ini.


Masih bingung memikirkan kemana dia akan pergi. Menatap penuh permohonan pada Lee untuk menolongnya. Tapi laki laki itu menggeleng. Saya tidak bisa membantu anda nona. Begitu isyarat yang disampaikan sekertaris itu.


Malam semakin gelap ditambah lagi diluar memang mendung. Sepertinya langit ikut merasakan kesedihan yang melanda hati Tania.


Sekali lagi dengan hati gemetar ia menatap laki laki dihadapannya. Memastikan apa ia benar benar diusir dari rumah ini. Benar. Airmuka Noah tidah berubah sama sekali. Dia serius dengan ucapannya.


Langkah gontai Tania meninggalkan kedua laki laki itu. Yang satunya sedang dikuasai oleh amarah dan satu lagi menatapnya iba. Dia memilih pergi ketoko bunga.


Lee hendak mencegah Tania. Tapi sorot mata Noah menghentikan niatnya. Biarkan dia pergi. Begitu yang ingin disampaikan oleh Noah.


Beberapa saat kemudian terdengar petir besar beserta hujan yang turun dengan deras. Setiap rintiknya jatuh ditubuh Tania. Membuat wanita itu basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Air matanya yang mengucur deras menyatu dengan hujan. Dia tidak tau kemana tujuannya sekarang. Kecuali hanya toko bunga. Tapi toko itu cukup jauh dan jalanan sudah sepi. Meminta bantuan pada Putri? Tidak! Dia sudah banyak menyusahkan sahabatnya itu. Sekarang dia tidak mau membuat orang lain repot dengan urusannya. Apalagi ini adalah masalahnya dengan suaminya.


"Tuan, diluar hujan sangat deras sekali." Kuatir yang ditunjukan Lee.

__ADS_1


"Biarkan, aku tidak peduli." Menjawab datar. Tapi sebenarnya dia juga merasa kuatir.


Dia mendesah panjang. Sambil bersandar disofa memejamkan mata. Mengingat kembali rentetan perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukannya enam tahun lalu itu.


"Tapi saya kuatir dengan nona tuan."


"Aku tidak peduli." Berteriak akhirnya. "Kau taukan bagaimana perjuanganku untuk keluar dari rasa sakitku. Bahkan aku membutuhkan seorang psikolog." Kalimat panjang itu membungkam mulut Lee. Sekertaris itu tau kemana arah pembicaraan tuannya.


"Bahkan ayahku sampai serangan jantung dan meninggal saat melihat kondisi anak satu satunya dalam keadaan depresi. Anak yang dia besarkan dengan kedua tangannya tanpa seoarang ibu dan istri disampingnya."


Lee sudah mendengar tuannya terisak sambil memegang dadanya yang terasa sesak. Kalian tidak percayakan bagaiman laki laki seberkuasa Noah bisa menangis. Tapi saat ini dia benar benar menangis.


Beberapa tahun lalu seorang pria masih dengan rambut keritingnya duduk dipojok kamar. Menundukkan kepalanya dalam dekapannya sendiri.


Kamar yang biasanya rapi kini telah porak poranda. Beberapa tetes darah terlihat dilantai akibat terkena pecahan cermin yang dipukulnya.


Cinta yang begitu besar membuatnya deperesi. Bahkan dia menganggap semua orang adalah kekasihnya. Para pelayan, para pengawal, laki laki dan perempuan sama saja baginya. Mereka seperti kekasih yang sudah meninngalkannya.

__ADS_1


Seseorang laki laki yang sudah paruh baya harus terpaksa kembali dari luar kota lebih cepat dari jadwal seharusnya. Tergopoh menaiki tangga menuju kamar putranya.


"Noah.." Suara kasar yang biasanya begitu tegas kini terdengar getir menahan iba melihat keadaan putra semata wajangnya. Dia berjongkok dan membelai kepala putranya. Noah mendongak lalu tersenyum. Bayangan wanita itu yang dilihatnya.


"Sayang kamu sudah kembali, benar benar kembali untukku." Noah mengguncang tubuh ayahnya dan memeluknya. Dia hanya mengenali satu orang. Hanya Jesi.


"Nak, ini ayah." Ujar Ayah iba.


"Hahaha sayang. Kamu bercanda. Bagaimana kau bisa menjadi ayahku." Tertawa terbahak bahak.


Dia benar benar tidak sadar. Sedetik kemudian tangis lagi yang keluar dari mulutnya. Makian pada wanita yang telah meninggalkannya. Bahkan dia tidak menyadari laki laki paruh baya dihadapannya itu sudah kehilangan keseimbangan dan tidak sadarkan diri.


Noah tersadar dari lamunannya saat lagi lagi petir menyambar. Kini pikirannya beralih pada Tania. Dia membayangkan wanita itu kini kehujanan dijalanan.


"Lee, Cari dia dan bawa pulang." Beranjak menaiki tangga menuju kamar.


Dasar pria aneh. Tadi dia yang mengusir. Sekarang menyuruhku untuk menyarinya. Ahh merepotkan saja. Lee melajukan mobil dengan perasaan kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2