
Persiapan terus berlangsung. Seperti pernikahan pada umumnya tentu ada acara lamaran terlebih dahulu.
Noah dan Sekertarisnya yang bernama Lee itu sudah tiba di kediaman Pak Edi dan mereka sudah terlibat pembicaraan yang membuat Noah tidak nyaman. Sebenarnya dari tadi hanya Pak Edi yang bertanya Noah hanya menjawab sekenanya saja. Begitu juga dengan Lee.
Noah dan Lee memang hanya datang berdua. Mengingat hubungan Noah dengan keluarga ayahnya tidak begitu dekat. Apalagi dengan keluarga Ibunya. Noah membenci keluarga itu. Jadi Noah memutuskan bahwa pernikahan ini tidak perlu melibatkan keluarga besarnya.
Sementara Tania ada di kamarnya sedang bersiap siap. Ia di bantu oleh Putri. Sementara Sarah tidak ada dia sudah pergi sejak pagi buta. Untuk menghindari agar Noah tidak tau bahwa sarahlah putri asli di rumah ini yang seharusnya menikah dengan Noah. Tania keluar tanpa di temani Putri dari kamarnya dengan memakai gaun biru muda yang cukup cantik untuk ia pakai. Tak lupa juga make up yang natural yang membuat penampilannya bertambah anggun. Noah cukup terpesona di buatnya. Tapi juga merasa terkejut kenapa gadis itu yang datang menemuinya.
Noah menatap Lee dengan tatapan tanda tanya. Orang yang di tatappun tampak kebingungan. Habis aku. Gumam Lee.
"Tuan, Ini Tania putri kami." Bu Tanti memperkenalkan Tania. Ia menuntun Tania untuk duduk di sampingnya. Benar benar terlihat seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana Tuan." Tanya Pak Edi. Apa kamu menyukai Tania begitu arti dari pertanyaannya.
Hanya senyum tipis yang di berikan Noah. Hatinya sudah merasa kesal ingin memaki pak Edi. Apa kau menipuku? Begitu ia berteriak. Tapi tentu saja dalam hati. Noah menatap lekat pada Tania lalu beralih pada Pak Edi.
"Sesuai yang sudah kita sepakati. Pernikahan akan di laksanakan sesuai dengan tanggal yang sudah di bicarakan tadi." Jawab Noah.
"Maharnya tuan?" Bu tanti menimpali. Pak Edi menyenggol tangan Bu Tanti agar ia tak lepas bicara. Noah menatap nya lekat. Yang di tatap terlihat tanpa dosa. Bukankah setiap pernikahan ada maharnya. Begitu pikirnya.
Noah tersenyum sinis. Ia menatap Lee yang sedari tadi hanya terdiam mendengarkan. Lee paham dengan tatapan Noah. Sekarang dialah yang harus bicara.
"Ahh maafkan istri saya tuan?" Pak Edi bisa membaca air muka ketidak nymanan Noah atas pertanyaan yang di lontarkan istrinya. Nyali istrinya pun menciut. Harapan untuk mendapat menantu kaya raya sepertinya harus ia buang jauh jauh ke laut atau ia kubur dalam dalam. Harapan. Yaa walaupun yang menikah adalah Tania. Namun dirinya yang tak tau diri berharap lebih.
__ADS_1
Sementara itu Tania hanya menunduk saja mendengar percakapan yang terjadi. Tubuhnya serasa melemah seakan tak ada satupun tulang belulang yang menopang tubuhnya. Apalagi ketika mengingat tentang impian masa depannya. Meraih kesuksesan dengan tangannya sendiri dan kemudian menikah dengan orang yang dicintainya dan mencintainya. Pasti setiap perempuan akan menginginkan hal itu.
Ahhh.. Kenapa harus aku. Kenapa aku harus menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai. Bahkan untuk menatapnya saja aku tak berani. Membayangkan betapa kasarnya Noah sudah membuat Tania frustasi.
"Kalau begitu kami rasa semua sudah selasai." Lee bicara dengan ringan. "Saya harap nona Tania bisa mempersiapkan diri ya. Pasti kita semua tidak mau ada masalahkan dengan pernikahan ini?" Walaupun Lee berkata dengan nada sopan tapi tentu perkataannya punya arti lain. Tania hanya tersenyum. Berusaha mengeluarkan senyum termanis nya walau hatinya gemetar.
"Kalau begitu kami permisi Tuan Nyonya."
Noah berlalu tanpa berkata kata lagi sepertinya ia sudah sangat geram. Jika sedikit lebih lama lagi munkin Noah tak bisa menahan dirinya. Lee mengikuti langkah kaki Noah keluar dari kediaman keluarga Pak Edi.
Tania kembali kekamarnya dengan air mata di pipinya. Ia sudah menahannya sejak tadi tapi akhirnya jatuh juga. .....
__ADS_1
Bersambung..
Kasihan juga hidup Tania. Hiks hiks. @thor***