
Mobil yang dikemudikan Noah melaju kencang memecah jalanan kota. Mentari sudah mulai menghilang dibalik cakrawala yang memunculkan warna jingga. Jika sedang berada di pantai ini pasti akan jadi sunset yang sangat indah. Membayangkannya saja sudah seperti ibu hamil yang ngidam mangga muda yang tidak terpenuhi. Pasti ngiler.
Noah dengan raut muka masam karna harus menyetir sendiri. Noah ingin duduk dibelakang kemudi sambil memeluk dan membelai perut Tania. Sesekali dia mememaki sekertaris Lee. Tania sampai geleng geleng kepala dibuatnya. Kenapa tiba tiba dia jadi menggemaskan saat kesal begitu pikir Tania. Sebenarnya Noah tau Lee sedang berurusan dengan Jessi tapi yang membuatnya benar benar kesal adalah Lee tidak kembali setelah empat jam lamanya. Karna biasanya Lee sangat cekatan dan kerjanya juga cepat.
"Aku mau ketoko bunga lagi." Kalimat Tania membuat Noah menghentikan makiannya untuk Lee.
"Kita pulang kerumah." Itu perintah. Jangan sampai membantah. Tapi memangnya dia kaisar yang harus dipatuhi.
"Tidak mau." Tania memanyunkan bibirnya melipat kedua tangannya didanya. Tingkah Tania yang seperti itu sungguh menggemaskan. Level keimutannya naik satu tingkat.
"Kau membantahku." Setengah berteriak.
"Pokoknya tidak mau tidak mau." Tidak mau kalah.
"Hufhh baiklah. Karna kau sedang mengandung aku akan menurutimu." Senangkan Tania jadinya. Dia tidak perlu tidur sekamar dengan pria ini. Tapi yakin akan seperti itu?
Mobil terparkir didepan ruko setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam. Mesin mobil masih dibiarkan menyala. Saat menoleh dia menemukan Tania terlelap. Kemudian Noah juga ikut bersandar menunggu Tania bangun. Setelah limabelas menit Tania masih belum terjaga juga. Noah memutuskan untuk menggendong Tania.
Noah membuka sabuk pengaman dengan hati hati. Lalu kemudian menggendong Tania. Bagi tubuh kekar Noah untuk menggendong Tania bukan beban yang berat. Dia juga tidak kesulitan saat menaiki tangga.
__ADS_1
Sesampai dikamar dengan sangat pelan Noah menidurkan Tania ditempat tidur. Tania menggeliat. Wajahnya saat tidur benar benar menunjukkan betapa polosnya dia.
Noah membelai rambut Tania lalu ingin beranjak pergi dari sana. Tapi tiba tiba Tania menarik tangannya.
"Jangan tinggalkan aku aku mencintaimu." Kalimat itu diucapkan Tania sampi tiga kali. Noah menatap wajah polos itu dengan penuh cinta.
"aaaa mengigau rupanya." Noah kembali membelai rambut Tania. Mencium pipinya beberapakali. Setelah dirasanya Tania kembali terlelap dia berjalan kesudut kamar duduk disofa yang ukuran untuk satu orang saja.
Noah mengambil hp dikantong celananya. Mencoba menghubungi Lee. Tiga kali tersambung tapi tidak ada jawaban. Lalu dia mengetik pesan kemudian menelfon lagi tapi masih tidak ada jawaban.
Kemana dia. Apa dia gagal mengerjakan pekerjaannya. Kalau dia kembali kulempar botol saja dia. Noah meletakkan hpnya diatas meja rias yang ada disamping sofa. Dia sudah kesal. Sejak tadi siang Lee tidak memberinya kabar apa apa. Malam semakin larut. Rasa lelah membuat matanya kantuk sampai terlelap sambil bersandar disofa.
Pagi hari masih samar samar terang. Tania duduk mengucek matanya. Mengumpulkan kembali nyawanya yang semalaman berterbangan kemana mana. Lalu matanya menangkap tubuh lelaki yang tertidur disofa. Tania hampir saja berteriak. Beruntung dengan cepat ingatannya semalam kembali. Dia bersama Noah.
"Eh maaf maaf." Mundur satu langkah. Tapi tangan panjang Noah mampu meraih tangan Tania dan menariknya jatuh keatas dada bidang milik Noah.
"Apa yang kau lakukan." Seringai tipis muncul lagi. Tangan Noah sudah mulai beraktivitas. "Salahmu kenapa mengganggu ku tidur."
"Aaah bukan begitu aku...hmmmhhh." Kecupan lembut dibibir Tania membuatnya tidak bisa berkata apa apa lagi. Suasana hening beberapa waktu. Hanya tubuh keduanya yang saling bicara.
__ADS_1
***
Pagi yang menyenangkan versi Noah dan memalukan versi Tania. Tania bahkan mengutuki dirinya sendiri kenapa bisa bisanya dia ikut terlena dan juga tangannya ikut beraktivitas menyentuh beberapa bagian tubuh Noah. Tania tidak berani menatap Noah walau laki laki itu sudah berdiri persis dihadapannya. yang duduk ditepi ranjang.
Noah menyentuh dagu Tania dan mengangkatnya sehingga mata mereka kembali bertemu. Noah membungkukkan badanya dan memberi kecupan lembut dikening Tania.
"Kau mau tinggal disini dan menjadikan ini rumah." Noah sudah duduk disamping tania. Memandang lekat lekat wajah polos itu. Dia ingin mencari celah agar bisa mengajak istrinya itu pulang kerumah.
"Aku nyaman disini. Aku seperti menemukan diriku lagi yang hilang beberapa tahun ini." Tania mengambil jeda dengan menarik nafas panjang. "Disini aku bebas berinteraksi dengan orang orang banyak walaupun sekedar tentang bunga saja. Tapi setidaknya disini tidak ada aturan yang mengikatku." Noah antusias mendengarkan. Dia jadi menyadari beban yang tak kasat mata yang di tanggung Tania yang dilihatnya selama ini.
"Maafkan aku ya." Menarik Tania kedalam pelukannya. Perasaan bersalah telah mengikat Tania sebagai istri seorang presdir dengan banyak sekali aturan. "Aku sudah memberimu banyak sekali beban."
Tania mendongakkan kepalanya lalu menggeleng.
"Tidak ini bukan salahmu. Ini adalah benang takdir yang harus kujalani. Pahit manis semuanya harus kuterima. Tapi lepas dari semua masalah ini aku bahagia sebentar lagi aku benar benar akan menjadi wanita yang sempurna." Membelai perutnya sendiri. Batinnya mengucap syukur Tuhan memberinya apa yang hampir diinginkan seluruh wanita didunia ini. Apapun yang terjadi dia akan menjaga kehamilannya.
"Hmm kamu kenapa jenala Tio."
"Aaah dia teman masa kecil." Hanya itu. Jaeaban yang tidak memuaskan sama sekali. Apalagi saat menanyakan perjanjian mereka Noah sama sekali tidak mengubris Tania. Tapi dari situ Tania tau kenapa Noah bisa datang kepesta pernikahan.
__ADS_1
Setelah selesai drama pagi itu Noah pergi kekantor sementara Tania kembali kerutinitasnya. Hari hari berikutnya masih sama dengan hari ini. Sepulang kantor Noah pulang ketoko bunga dan menemani Tania sepanjang malam. Memeluk Tania seperti ayah yang menidurkan putri kecilnya.
Bersambung