
"Hai nia." Laki laki itu tanpa rasa canggung memeluk Tania tanpa peduli ada seseorang di sampingnya menatap tidak suka. Tania reflek menolak. Tapi penolakannya tak berarti.
Berani beraninya kalian berpelukan di depanku. Sorot mata Noah seakan ingin mengiris tubuh kedua orang itu.
Ehemmm. Suara Noah mengejutkan keduanya. Laki laki asing bagi Noah itu melepaskan pelukannya pada Tania.
"Kak kenalkan ini tuan Noah dia suamiku." Laki laki itu terkejut tapi dengan cepat ia mengulurkan tangan memperkenalkan diri pada Noah.
"Saya andri. Maaf saya tidak tau anda suami nia." Andri melirik Tania sekilas. Kau menikah tidak memberi tahuku. Begitu Tania mengartikan tatapan Andri.
Noah tidak menjabat tangan Andri. Andri tersenyum kecut. Ia sama sekali tidak mengenali Noah. Ya karna memang Noah jarang tampil di publik. Jika saja dia tau, ia tak akan seberani itu memeluk Tania.
"Kau sudah selesai ayo kita pulang." Noah langsung menarik tangan Tania. Ada perasaan sesak di dada Noah.
"Aku pulang ya kak." Tania bahkan mengucapkan kata pamit sambil setengah berlari mengikuti langkah kaki Noah.
__ADS_1
***
Keduanya sudah berada dalam mobil yang di kemudikan Lee. Noah masih dengan muka masamnya. Sementara Tania di sampingnya duduk seperti patung. Ia menyadari bahwa saat ini Noah sedang kesal.
"Dia pacarmu." Bertanya tanpa melihat
"Hah siapa." Tania bingung sendiri dengan pertanyaan Noah. Apa maksudnya kak Andri. "Tidak tuan, dia hanya teman. Ya dulu dia memang pernah menyatakan cinta."
"Apa." Tania belum menyelesaikan kata katanya Noah sudah mencengkram dagunya. "Jadi dia menembakmu begitu."
"Lihat sekarang kau juga memanggilnya dengan akrab begitu. Tapi kau memanggilku dengan sebutan panggilan pada orang asing." Noah mendorong Tania sampai bahunya terbentur pintu mobil. Dia meringis kesakitan.
Laki laki ini saat marah sunggu menakutkan.
"Tunggu hukumanmu besok."
__ADS_1
Tania bahkan tidak berani memanyakan hukuman apa yang akan di terimanya. Sementara sekertaris Lee masih fokus melajukan mobil. Lampu lampu jalanan berpendar terang. Tania mperhatikan lewat jendela sambil membayangkan hukuman apa yang akan di dapatnya.
***
Andri masih di restoran menyantap makanan yang terasa hambar di lidahnya. Ia masih memikirkan Tania. Mengingat bagaiman dulu Tania menolak cintanya. Mengetahui sekaran Tania menikah hatinya semakin teras hancur.
Aku bahkan belum melupakan perasaanku padamu Tania. Tapi kau sudah menikah saja bahkan tidak memberi tahuku. Kenapa sedikit saja kau tidak mengizinkan ku berjuang untuk mendapatkan cintamu.
Andri masih ingat jelas kata kata yang terucap dari mulut Tania saat itu.
"Maafkan aku kak. Tapi aku tidak bisa menerima cinta kakak. Aku tidak mau membuang buang waktuku untuk berurusan dengan perasaan. Jadi aku harap kakak mengerti dan berhentilah sampai di sini saja." Kata kata Tania itu bahkan masih terngiang di telinganya.
Sejak saat itu memang Andri tak pernah lagi mendekati Tania. Namun dia bertekad memperjuangkan cintanya dengan cara lain. Yaitu dengan kesuksesan. Saat itu Andri benar benar yakin jika dia sukses Tania akan menerima cintanya. Tapi saat sekarang kesuksesan itu sudah di ada di genggamannya Tania sudah menjadi milik orang lain. Dia berhasil menjadi dokter hebat diusianya yang masih muda.
Saat ini hatinya benar benar hancur, sedih, kecewa, marah semua bercampur menjadi satu. Tapi ia tidak boleh terpuruk ada banyak orang yang harus ia selamatkan hidupnya.
__ADS_1