Semua Karna Cinta

Semua Karna Cinta
Sial


__ADS_3

"Selamat pagi tuan." Sapa sekertaris Lee sambil membuka pintu belakang mobil. Noah tidak menjawab. Sekertaris Lee menutup kembali pintu mobil setelah Noah masuk. Anda kenapa lagi tuan gumam Lee melihat wajah kesal Noah.


Sekertaris Lee sudah duduk di belakang kemudi. Selain menjabat sebagai sekertaris ia juga menjadi sopir pribadi Noah yang siap mengantar kemanapun tujuan tuannya.


Noah masih merasa kesal dengan ulah Tania. Muka masamnya masih terlihat. Tadi ingin sekali ia memukul bahkan mencekek leher Tania. Tapi ntah apa yang terjadi. Ia seakan tak berani menyakiti tubuh istrinya itu.


"Lee." Akhirnya ia bersuara juga setelah lama diam membisu. "Kau tau." Lanjutnya. Lee mulai antusias mendengarkan. "Dia membuatkan teh asin untukku." Lee tergelak kecil mendengar cerita Noah. Tapi tentu saja tawa itu hanya di dengar olehnya.


"Benarkah tuan." Lee menjawab se antusias mungkin. Berlagak ikut kesal dengan ulah Tania.


"Aaaa aku ingin mematahkan tangannya itu tadi." Noah mengayungkan tangannya ke udara. "Tapi aku cukup senang tadi aku menyuruhnya menghabiskan teh itu tadi. Kau tau sepeti apa wajahnya tadi." Noah kembali tertawa seperti orang yang baru dapat lotre undian saja. Sesaat keduanya sama sama diam. Lee melirik spion melihat tuannya sedang bersandar dan mata terpejam. Ia kembali fokus menyetir mobil membelah jalanan kota yang terbentang diantara jejeran bangunan bangunan megah yang menjulang tinggi mencakar langit.


tek tek tek... ciit.


Mobil yang di kemudikan Lee berhenti mendadak. Noah yang hampir tenggelam dalam alam bawah sadarnya pun terbangun.


"Ada apa." Noah bertanya datar.


"Sepertinya mogok tuan." Lee turun dari mobil. "Akan saya cek sebentar" Lee membuka kap depan mobil itu. Otak atik sebentar seperti ahli teknisi saja.

__ADS_1


"Saya akan coba dorong dulu mobilnya tuan. Tuan bisa menyetir sebentar. " Lee memasukkan setengah badannya ke dalam mobil supaya Noah bisa mendengarnya dengan jelas.


"Apa kau menyuruhku menyetir begitu." Noah masam.


"Kalau begitu apa tuan mau dorong mobilnya? Sebenarnya Lee tidak serius dengan ucapannya. Tapi ditanggapi serius oleh Noah.


"Aaaa iya iya aku yang dorong kau menyetir saja." Noah langsung turun.


Noah dengan sekuat tenaga mendorong mobil. Keringatnya mulai membasahi keningnya. Tapi mobil tidak bergerak walau hanya satu senti. Noah sudah terengah engah. Ia bersandar di mobil. Tiba tiba matanya membulat sempurna.


Kenapa aku yang dorong sementara sekertaris sialan itu enak enakan di dalam mobil. Awas kau. gerutu Noah.


"Kau berani kurang ajar sekarang yah." Noah menatap tajam Lee.


"Maaf tuan. Tadikan saya bilang tuan yang menyetir tidak mau."


Benar juga tadi dia bilang begitu.


"Aaghhhh aku naik taksi saja." Noah berlalu meninggalkan Lee yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aneh gumam Lee.

__ADS_1


Noah terus berjalan menyusuri trotoar. Panas matahari cukup terik di pagi ini. Noah mengambil hp di kantong celananya dia akan memesan taksi online.


"Lowbat. Ahhh sialan sialan." Noah menendang kaleng minuman yang ada di samping tempat sampah yang memang sengaja di sediakan pemerintah kota untuk para pejalan kaki. Mungkin kaleng minuman itu tidak masuk ketempat sampah saat pejalan kaki melempar asal.


"Awww." Seorang pejalan kaki yang tak jauh dari Noah tiba tiba meringis kesakitan sembari memegang kepalanya.


Astaga. Kesialan apa lagi ini. Noah mengusap kepalanya kasar.


"Maaf tuan." Ucap Noah.


"Kau punya mata tidak." Dengan berani laki laki paruh baya itu berteriak pada Noah. Jika saja dia tau siapa laki laki yang ada di hadapannya itu tentu dia tak akan seberani itu.


"Maaf tuan. Maafkan tuan muda." Lee yang sudah menyusul dan berada dekat mereka bicara menggantikan Noah. Laki laki paruh baya itu langsung ciut. Ia mengenali sekertaris Lee. Ia pun pergi sebelum urusan jadi panjang.


"Tuan tidak apa apa." Tanya Lee setelah mereka duduk di bangku trotoar yang agak teduh karna ada pohon.


"Pesan taksi hp ku lowbat." Ketus.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2