Semua Karna Cinta

Semua Karna Cinta
Keluarga Sarah


__ADS_3

Tania berbaring di atas sofa di kamar. Merenung tentang takdir hidup yang di berikannya. Jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam. Noah belum pulang. Jam berapa dia pulang apa dia selalu pulang larut malam begini. Ahh untuk apa juga aku memikirkanya gumam Tania.


Tania yang sedari tadi berada di bawah selimut mulai memejamkan matanya. Miring kanan miring kiri rubah posisi bantal mring lagi sampai akhirnya jatuh juga dari sofa.


"Aww. "Tania memegang dengkulnya yang terasa nyeri. "Aku ga bisa tidur. Kenapa aku ingat hal itu terus." Tania kembali duduk di sofa. Ia terbayang perkataan Pak Edi pada malam pernikahanya.


Malam itu setelah tamu tamu mulai sepi Tania berniat menemui pak Edi. Tania ingin berterimakasih karna sudah membantunya selama tiga tahun. Juga ingin meminta doa restu agar pernikahanya yang tanpa cinta tetap berjalan selayaknya pernikahan pada umumnya. Tapi apa yang dia dengar.


"Haha akhirnya papa bisa juga membalaskan dendam papa." Pak Edi bicara sambil terkekeh bahagia. Sementara Tania berdiri di balik dekorasi bunga.

__ADS_1


"Apa maksud papa?"Bu Tanti bertanya dengan penasaran.


"Kamu tahu ayahnya Tania. Papa sangat membencinya. Sebenarnya papa sudah merencanakan pernikahan ini dari lama. Kecelakaan itu juga papa yang rencanakan. Sampai kedua orang tua Tania meninggal. Mengangkatnya sebagai anak itu juga bagian dari rencana. Papa menyekolahkannya karna tidak mungkin dia menikah saat masih di bawah umur. Ibarat pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui." Pak Edi tertawa lagi kemudian ia melanjutkan ceritanya. "Papa bisa membalaskan dendam papa melalui Tania, dan juga kita bisa masuk secara perlahan kekeluarga Arindra melalu pernikahan ini." Pak Edi tersenyum sinis. Kepalanya sudah di penuhi rencana rencana busuk untuk ia jalankan selanjutnya.


"Tapi tunggu mama masih ngga ngerti masalah papa dengan ayahnya Tania." Sorot mata bu Tanti meminta penjelasan.


"Dulu waktu kuliah papa dan ayah Tania satu kampus. Sebenarnya dia itu mahasiswa pindahan pada semester empat. Dan ternyata kita satu jurusan. Papa yang pada awalnya adalah mahasiswa unggul sehingga beberapa dosen di kelas papa terkadang meminta bantuan papa untuk menyampaikan materi. Tapi setelah dia datang satu kelas malah mengagung agungkan ayah Tania. Dan juga banyak dosen yang memujinya. Bahkan salah satu dari dosen itu menjadikannya sebagai sekertaris. Papa seperti tak lagi dianggap. Bahkan teman teman papa malah pindah berteman denganya dan melupakan papa. Itu membuat Papa sakit hati."


"Ya. Papa tau. Makanya papa diam saja. Dan soal rencana rencana papa. Papa sengaja merahasiakannya dan memberi tahu kalian di waktu yang tepat sekarang ini. Dan kalian tau sebenarnya perusahaan kita tidak bangkrut tapi itu bagian dari rencana."

__ADS_1


"Apa?" Sarah dan bu Tanti serentak saling melempar pandang.


"Iya dan selanjutnya kita akan perlahan lahan menekan Tania untuk membantu kita masuk kekeluarga Arindra dan meguasai kekayaan mereka. Gadis itu sangat lugu dia tak akan pernah tau kalau kita memanfaatkannya." Di balik bunga berukuran besar itu Tania mengigit bibirnya. Berusaha menahan kristal bening itu di pelupak matanya agar tak jatuh. Saat mengetahui kenyataan sebenarnya ia seakan terjatuh dari ketinggian yang menghempaskan tubuhnya berkeping keping.


Tania bersandar di sofa. Ia mengela nafas panjang. Megusir pikiranya tentang keluarga pak Edi. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat mengingat kembali semua itu.


Jadi kalian memanfaatkan aku. Sayangnya kalian terlalu bodoh bagaimana kalian membicarakan hal itu di tempat terbuka. Dan dendam? Rasanya kekanak kanakan sekali dibalas dengan hal seperti ini.


Tania tersentak dari lamunanya saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Dia sudah pulang gumam Tania dan kembali meringkuk di bawah selimut tebalnya. Pura pura tidur pulas saat Noah masuk kekamar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2