
Tania tiduran di sofa sambil nonton tv. Tapi pagi pagi begini acara tv kebanyakan tentang gosip artis. Tania bosan. Ia mematikan tv dan meraih ponsel yang ada di atas meja.
"Hai Tania." Pesan masuk dari putri. Tania tampak senang. Putri sudah seperti nyawa baginya yang membuat ia tetap ada di dunia ini.
"Eh iya. Put kamu lagi di mana." Pesan terkirim.
"Aku lagi di toko bunga Tania. Kamu udah bicara belum sama Noah."
Jangankan bicara tentang kerjaan. Menatapnya saja aku tidak berani.
"Belum Put. Aku juga mau istirahat dulu beberapa hari ini." Cari alasan aja Tania.
"Ok baiklah Tania. Oh ya aku lagi sama kakak sepupu aku. Haha lumayan buat teman ngobrol."
"Oh ya. Kakak sepupu yang mana. Kak Andri kah?" Tania hanya mengenal sepupu Putri satu yaitu Andri.
__ADS_1
"Bukan kak Andri. Kamu belum pernah ketemu."
"Nona." Pak jumi muncul mengagetkan Tania.
"Ya ada apa pak."
"Ada tamu untuk Nona." Seorang gadis berdiri di belakang Pak Jumi. Sarah duduk di sofa di sebelah Tania setelah pak Jumi mempersilahkannya. Pak Jumi meninggalkan dua orang yang sama sekali tak akrab itu.
"Enak ya kamu. Tinggal di rumah mewah seperti ini. Bisa santai santai di sofa sambil tiduran pula."
"Eh Tania aku bicara sama kamu." Sarah semakin kesal melihat Tania sibuk dengan ponselnya membalas pesan dari Putri.
Sarah menarik bahu Tania hingga posisi mereka berhadapan.
"Berani kau mengabaikanku ya." Sarah setengah berteriak.
__ADS_1
"Kenapa. Apa masalah mu Sarah." Tania menepis tangan Sarah yang masih mencengkram bahunya. " Kau datang kesini lalu bertingkah seperti majikan memergoki pelayannya sedang bersantai. Dengar Sarah aku tidak tinggal di rumahmu lagi. Berbahagialah dengan itu." Tania mencecar Sarah.
"Kau. Anak tidak tau diri. Beraninya kau berteriak padaku sekarang." Sorot mata sarah tajam menatap Tania.
"Aku? Kau yang tidak tahu diri. Kau lupa sekarang berada di mana. Kau berada di rumahku di rumah suamiku. Dan aku tidak mengundangmu kesini." Suara Tania memenuhi ruang tamu. Pak jumi di dapur mendengar samar samar.
"Kau." Tangan Sarah melayang akan menampar Tania. Ia kehilangan kata kata. Tania dengan sigap menangkis tangan Sarah.
"Hati hati dengan tanganmu mulai sekarang Sarah." Tania mengancam ia mencengkram tangan Sarah. "Dengarkan kata kataku. Jangan pernah datang ke sini lagi, jangan pernah meggangguku lagi. Aku sudah tidak mau lagi terikat dengan keluargamu." Tania melepaskan tangan Sarah. Emosinya meluap luap. Tangannya bahkan sudah terkepal. Amarah yang di tahannya selama ini tersalurkan juga.
Huffhhh. Tania bersandar di sofa. Ia benar benar merasa lega sekarang. Entahlah dari mana datang keberaniannya untuk melawan Sarah. Dan kata katanya yang amat menyakitkan di telinga Sarah dari mana ia dapatkan. Tania akhirnya bingung sendiri dengan perlakuannya pada Sarah tadi.
Sarah melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Wajahnya masih merah padam seperti kepiting rebus. Ia sama sekali tidak bisa menerima perlakuan Tania padanya. Otaknya sekarang di penuhi oleh rencana untuk balas dendam.
Bagaimana dia bisa seberani itu padaku. Apa karna sekarang dia sudah menikah dengan pria yang punya kekusaan bagai kaisar itu. Aku akan menghancurkan pernikahan mereka. Aku akan membuatmu mengemis di kaki ku suatu hari nanti saat di mana pria itu mencampakkanmu. Kemana kau akan lari selain kerumahku. Mobil yang di kemudikan Sarah terus melaju hilang dalam keramaian.
__ADS_1