
Malam yang begitu panjang Rio tertidur pulas menikmatinya, dengan tubuh yang lemah dan capek serta dirinya merasa enakan setelah berikan minuman hangat dan makanan oleh Aira, bahkan diri juga diberikan obat vitamin untuk memulihkan staminanya.
Malam yang begitu rindang, terang bahkan penuh dengan pemandangan yang indah, Rio dengan nyamannya untuk beristirahat.
Aira yang sedang sedang pulas tertidur pulas juga menikmati malam yang begitu syahdu.
" Bos kami belum menemukan Tuan Rio, dimana pun sudah kami telusuri tetapi juga tidak ketemu juga Bos, " Lapor Mata-mata
" Dimana Tuan Muda, ya sudah kalian istirahat sudah malam, besok pagi-pagi susah siap mencarinya lagi," Jawab Manuel
" Baik Bos," Jawab Mata-mata
" Dimana keberadaan Tuan Muda, ini akan menjadi masalah besar jika tidak segera ditemukan, Tuan besar pasti akan marah-marah dan kasus sampai di mana-mana, ya sudahlah aku sejenak untuk istirahat," Ucap Manuel
Ayah Hadi pun juga memikiran dimana keberadaan sang puteranya, bahkan dirinya sangat cemas dan khawatir berhadap kondisinya, bahkan dirinya menahan untuk tidak memanggil pihak berwajib sebelum pencarian dirinya berhasil terlebih dahulu.
" Kamu dimana sayang, Ayah cemas memikirkan kamu, namun tidak bilang mau kemana kamu pergi atau berpamitan, semoga esok hari bisa kembali dan ditemukan," Harapan Ayah Hadi
Malam semakin malam dan larut, suasana sepi hanya bulan yang menyinari bumi, bintang menghiasi langit, bahkan sunyi suaranya bahkan sepi keadaan sekitar.
Waktu subuh pun tiba Ibu terbangun dan segera ke belakang untuk bersiap memasak dan menyiapkan sarapan pagi, tak lama Aira juga terbangun dan menghampiri Ibunya.
" Ibu sudah bangun, oh iya hari apa menunya, sudah siap semua kah, apa yang harus Aira lakukan Ibu," Ucap Aira
" Iya sayang ternyata kamu juga sudah bangun juga, selamat pagi, untuk bahan-bahannya sudah ada sayang, kalau bisa itu kamu campur adonan tepung sama parutan jagung itu terus buat bumbunya," Jawab Ibu
" Baik Ibu, oh iya sekali buat bumbu soap pasti nanti enak, " Ucap Aira
" Ia sayang, Ibu mau menanak nasi dulu biar keburu matang," Jawab Ibu
" Iya Ibu," Ucap Aira
Melihat lampu dapur menyala dan suara Aira dengan Ibunya membuat Rio terbangun dari tidurnya.
" Seperti mereka sudah pada bangun, aku coba untuk mengitipnya," Ucap lirih Rio di atas rumah bambu
__ADS_1
Rio terbangun dan membuka selimutnya dan bergegas untuk berdiri turun menuju dapur Aira, tidak disangka ketika Rio sampai disana Rio mendengarkan omongannya Ibu dan Aira.Tanpa sengaja Rio mendengarkan dengan berdiam diri.
Rio turun dan berjalan menuju dapur, niat Rio mau izin kembali ke jurang senggani mendengarkan bincang-bincang mereka Rio tidak jadi untuk mengganggunya.
" Sayang bagaimana persoalan kamu dengan bapak di jurang senggani itu, apakah sudah selesai," Tanya Ibu
" Belum Ibu, Aira sudah hampir mau cukup tapi tenang saja Ibu gak usaha khawatir Aira akan bisa dan cari sendiri, jadi Ibu tidak usah memikirkan bahkan repot, karena Ibu sudah banyak menanggung beban kita," Jawab Aira
" Bagaimana bisa Ibu berdiam diri apapaun itu juga masih jadi kewajiban Ibu sebagai orang tua, tapi entah Ibu tidak punya uang banyak hanya orang sederhana yang berusaha saja sayang, " Ucap Ibu
" Ibu sudahlah jangan dipikirkan pasti ada jalan, ini pasti sebuah jalan bahwa kita dituntut untuk tetap berusaha dan semangat," Jawab Aira
" Iya sayang, kamu baik sekali semoga dilancarkan semua apa yang menjadi keinginan kita," Ucap Ibu
" Aamin, " Jawab Aira
" Ya ternyata keluarga sederhana dan orang yang sangat baik, kenapa aku bisa membuat dirinya seperti ini, aku sungguh tidak tahu rasa kasihan terhadap orang, aku akan melakukan sesuatu," Batin Rio sambil menginjak sesuatu
" Siapa itu, seperti ada orang," Ucap Ibu
" Tidak tau, " Ucap Ibu
" Bentar biar Aira lihat yang ada di situ, " Jawab Aira
" Aduh ketahuan aku segera pergi dan menuju ke rumah bambu lagi sebelum Aira tau, bahwa aku mendengar semua omongannya," Batin Rio sambil meninggalkan tempat itu
Aira keluar dan melihat kanan kirim bahkan dirinya menuju ke depan dan belakang, tak lupa dirinya tidak lupa melihat Rio di rumah bambu, Rio yang berpura-pura tidur dan menutupi mukanya dengan Selimut membuat Aira kembali ke dapur lagi.
" Tidak ada siapa-siapa, ah sudah lah," Ucap Aira
" Tidak ada siapa pun Ibu, sudah kita lanjutkan saja," Ucap Aira
Pagi pun tiba dan aktifitas dimulai, Rio berpamitan kepada Aira untuk kembali ke jurang senggani.
" Aira aku mau ke jurang senggani terlebih dahulu ya, pasti disana sudah binggung mencariku dan Terima kasih atas bantuannya," Ucap Rio
__ADS_1
" Sama-sama mas Rio, maaf jika apa yang kamu miliki berikan kurang puas, karena seadanya," Jawab Aira
" Tidak ini lebih dari cukup, malah lebih dari segala-galanya, kalau gitu sampai jumpa nanti di jurang senggani," Ucap Rio
" Iya mas, Hati-hati, sudah bisa jalan sendiri," Jawab Aira
" Sudah tenang saja, mari," Ucap Rio
Rio berjalan menuju ke jurang senggani dan Aira bersiap untuk menyiapkan kebiasaan untuk acara perusahaan bersama Ibunya, Rio telah di tunggu oleh Ayah Hadi dan Manuel, akhirnya Rio kembali membuat mereka tidak binggung bahkan dirinya sangat di jaga ketat oleh suruan sang Ayah.
Rio berjalan dari arah gerbang jurang senggani dan Manuel melihatnya seketika itu Manuel langsung menghampirinya
" Tuan Muda dari mana saja kami dan Ayah Tuan mencarimu, kamu disini binggung bahkan mau melakukan sesuatu lebih lagi," Ucap Manuel
" Sudah lah sekarang aku sudah disini, jadi kamu tidak usah khawatir, aku baik-baik saja
" Baik Tuan, " Ucap Manuel
" Rio kamu sudah ketemu, bagaimana kabar kamu Rio, Ayah diri mencari-cari kamu, apakah ada yang menculik dirimu, " Tanya Ayah Hadi
" Tidak Ayah, tenang saja Rio tidak apa-apa sekarang, ya sudah Rio mau bersih diri biar fresh, lain kali aku ceritakan ke Ayah," Jawab Rio
" Ya sudah sana, nanti juga waktu sarapan pagi, " Ucap Ayah Hadi
Rio bergegas untuk bersih diri dan tak lama semua sudah siap, Aira dan Ibu sudah berada di jurang senggani menunggu para mengambil makanan, melainkan dengan Rio yang juga tergesa-gesa ingin melihat Aira dan segera ini bertemu dengannya, bahkan diri sangat beda dengan sebelum dirinya dibantu, yang membuat Manuel binggung dan merasa aneh terhadap sikap Rio yang berubah.
" Tuan mari kita makan sudah waktunya sarapan tiba," Ucap Manuel
" Iya mari ini mau jalan, buruan," Jawab Rio
"Tumben sekali Tuan Muda begitu semangat tidak seperti biasanya," Batin Manuel
" Baik Tuan, " Jawab Manuel
Mereka mengambil sarapan, Rio merasa tersenyum dan bermuka manis seolah untuk mencuri hati Aira, Aira tidak mengubrisnya.
__ADS_1