Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
10. Pulang dari Rumah Sakit


__ADS_3

Sudah satu minggu Ary dirawat di rumah sakit. Hari ini Karin akan kembali bekerja karena cuti yang diambilnya sudah habis. Sehari sebelum keberangkatan Karin ke Surabaya, keluarga Aditya dtang ke rumah orang tuanya untuk melamar. Di saat itulah, Karin menjelaskan isi hatinya kenapa dia tidak mau menerima cinta Adit. Karin tidak memiliki perasaan apapun untuk Adit, selain menganggap Adit sebagai sahabat.


Setiap hari selama Ary dirawat, Bayu selalu menjenguk walaupun pada jam yang berbeda. Karena seringnya Bayu menjenguk Ary, Ary selalu diceramahi keluarganya. Mereka tidak ingin Ary pacaran dulu, Ary masih remaja labil yang harus banyak belajar mengenali pribadi seseorang. Mereka tidak ingin perasaan Ary tersakiti karena pacaran.


"Mbak, pamit. Kamu jangan bandel, nurut sama ayah bunda! Jangan pecicilan lagi!" pesan Karin kepada Ary.


"Iya mbak! Hati-hati di jalan! Pulang nanti bawa suami ya..." kata Ary sambil menyalami tangan Karin.


"Bawa suami? Memangnya cari suami gampang?! Wes gek ndang sehat ben ra nyusahin ayah bunda!"


(Udah cepetan sehat biar gak nyusahin ayah bunda)


"Mau naik bis dari mana? Dari depan sini aja, gak usah ke terminal. Kalau ada naik bis yang langsung sampai aja, Eka atau Sumber Kencono. Biar gak bolak-balik nyambung bis." pesan ayah.


"Inggih yah. Karin naik bis dari depan rumah sakit aja, biar gak repot." Karin


(Iya yah)


Karin menyalami tangan ayah dan bunda, untuk pamitan pulang ke Surabaya. Kota tempat merantau selama ini.


"Hati-hati yo, nduk!" kata bunda.


"Iya, Bun. Assalamualaikum" Karin pun meninggalkan ruangan itu. Karin tidak diantar ayah, karena rumah sakit tersebut berada di pinggir jalan raya antar provinsi. Jadi mudah mendapatkan bis keluar kota.


***


Sudah lima belas hari Ary dirawat, keadaannya sudah membaik dan dokter pun sudah mengijinkan Ary pulang. Hari ini bunda Ary sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Setelah diperiksa dokter dan ayah membereskan administrasi rumah sakit, Ary boleh pulang.


"Aahh... Senangnya hatiku hilang panas demamku..." Ary bersenandung kecil, dia sangat senang karena akan meninggalkan rumah sakit yang bau obat.


"Segitunya anak bunda..." bunda menghentikan senandung Ary.


"Hehehe... 😁. Ary seneng banget, bun."


"Jangan pecicilan dulu. Anteng, Jo kakehan polah? (jangan banyak gerak). Kamu masih harus banyak istirahat, kata dokter tadi, kamu belum boleh pergi ke sekolah selama empat minggu. Ini berarti kamu masih harus menjalani pemulihan perawatan selama di minggu ke depan." bunda menjelaskan pesan dari dokter tadi.


Setelah ayah selesai mengurus administrasi, mereka pulang ke rumah. Ayah mengendarai kijang Innova warna hitam. Mobil hasil kerja keras ayah selama menjadi guru SD.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, Ary disambut warga sekitar rumahnya. Mereka tidak hanya menjenguk Ary ketika di rumah sakit, begitu Ary pulang dari rumah sakit pun mereka menyambut kepulangan Ary dengan suka cita. Mereka menyanyangi Ary, karena perangai Ary yang baik selama ini.


"Gimana Ary, udah sehat? Jangan banyak gerak dulu. Bawa Ary ke kamarnya Wid, biar istirahat dianya." kata salah satu tetangga Ary sambil mengelus kepala Ary dengan lembut.


"Wes gek istirahat kono, kami ngobrol disini aja."(Sudah cepat istirahat sana) kata ibu satunya lagi.


"Ary permisi dulu, mau masuk kamar." pamit Ary pada ibu-ibu yang mengerubunginya tadi, dia salami satu persatu.


Ary pun meninggalkan para orang tua tadi, dia berjalan menuju kamar dibantu bunda.


"Kamu istirahat dulu, bunda mau ngancani ibu-ibu itu sik. Ayah mau ke kios lagi." kata bunda.


"Inggih, bun." jawab Ary.


Bunda pun keluar untuk menemui para tamu tadi menyambut kepulangan Ary.


***


Pagi menjelang siang di sekolah Ary.


"En, loe tau gak kapan Ary pulang dari rumah sakit?" tanya Alex pada Enno. Saat ini mereka sedang makan di kantin.


"Memangnya Ary tidak terganggu? Dia kan lagi sakit, butuh istirahat." kata Alex.


"Terus gue nanya ma siapa, dodol! Kalo gak SMS atau telepon Ary, ya gue gak tau. Soalnya kemarin gue gak jadi jenguk dia." jawab Enno kemudian memasukkan sesendok bakso ke mulutnya.


"Kenapa loe gak jadi jenguk dia? Waahhh... Gak setia kawan loe! Dasar mondar-mandir aja tau loe!" kata Anton sambil melemparkan kulit kacang ke arah Enno. Kulit kacang itu mengenai pipi Enno, kemudian jatuh ke mangkuk bakso Enno.


"Haseeemm! Jadi jorok bakso gue, mana gue masih laper lagi! Ganti yang baru, yang ini buat loe. Cepetan!!! Laper gue, mau loe yang gue gigit?" Enno marah karena kulit kacang masuk ke mangkuk baksonya.


"Iyaa, gue pesenin lagi. Tapi mana duitnya?" jawab Anton. Sebenarnya dia malas memesan bakso lagi, tapi karena dia tidak mau kena amukan singa betina. Akhirnya dia pergi juga.


"Enak aja, loe yang bayar! Loe kan yang bikin jorok, tanggung jawab dikit lah! Enno.


"Iya, gue yang bayar! Tapi pakai duit loe..." kata Anton sambil nyengir memperlihatkan giginya.


"Dasar kampret loe!" umpat Enno sambil menyodorkan selembar uang kertas berwarna biru.

__ADS_1


"Hei Lex, katanya loe cinta ma Ary. Sayang ma do'i, kok gak jenguk dia lagi! Buktinya mana?" kata Enno ke Alex sambil mengangkat jarinya membentuk huruf O.


"Bukan gak cinta, Ndir! Gue segen ma orang tuanya, gue juga serem lihat muka kakaknya. Galak!" kata Alex sambil mengedikkan bahunya. (Alex lebih sering memanggil Enno Mandir).


"Santai aja kali! Orang tua Ary baik semua, tapi kalo mbak e emang galak sih..." kata Enno. "Mbak Karin sama bunda beti, beda tipis. Lebih santai ayahnya. Maklum, bunda itu guru matematika jadi harus galak."


"Iya, betul. Bunda guru matematika, makanya Ary bisa juara Olimpiade matematika." sahut Anton tiba-tiba sambil membawa semangkuk bakso untuk Enno, dan sepiring kentang goreng.


"Loe tau dari mana kalo nyokap Ary itu guru matematika?" tanya Alex sambil mencomot kentang goreng yang baru diletakkan di meja.


"Gue tau dengar dari mulut Ary sendiri. Waktu SMP pas dia memenangkan olimpiade matematika tingkat Provinsi." jawab Anton.


"Kok loe gak ada cerita ama gue?" Alex.


"Loe gak nanya!" Anton tetap melanjutkan makan kentang goreng colek saos pedas.


"Katanya cinta tapi serba gak tau, selalu ketinggalan berita tentang pujaan hatinya. Hadeww...😔" Enno mengejek Alex.


"Ary sudah di rumahnya, barusan masuk kamar. Jadi gak loe nenggokin Ary di rumahnya? Jangan sampai ketinggalan berita lagi!" kata Enno setelah mendapat balasan SMS dari Ary.


"Ngomong-ngomong mana si Candra, kok dari tadi kok gak kesini?" tanya Anton.


"Ngapain loe nyariin gue?" tanya Candra yang tiba-tiba datang sambil memukul pundak Anton.


Candra duduk kemudian menyambar gelas Enno, dan langsung habis sekali serot.


"Aaa... Minum gue!!!" teriak Enno.


"Gak usah lebay! Pelit amat jadi orang! Nanti gue beliin teh botol." kata Candra sambil memasukkan sepotong kentang goreng ke mulut Enno. Candra gemas dengan mulut Enno, makanya dia sumpal mulut Enno dengan kentang goreng.


"Ayo, masuk kelas. Kalian ngobrol sampai gak dengar bel berbunyi." lanjut Candra. Dia berdiri untuk membeli minum kemasan.


Mereka berempat pun jalan beriringan menuju kelas. Begitu sampai di depan kelas, guru sudah berdiri di depan pintu menunggu mereka.


"Kena hukuman lagi..." kata Enno lesu.


**Jangan lupa tinggalkan jejak. Like dan comment.

__ADS_1


Happy Reading 🤗🤗🤗**


__ADS_2