Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
40. Shopping


__ADS_3

"Assalamu'alaikum.... Ary!!!!" teriak Mira dari dalam mobilnya sambil mencet klakson mobil. Mira malas turun dari mobil, karena tadi sudah janjian langsung jalan.


Mira datang ke rumah dinas Ary membawa mobilnya. Dia tidak mau berpanas-panasan, karena cuaca hari ini sangat terik. Selain itu polusi juga jadi penyebab dia malas naik motor. Apalagi dia anak orang kaya, sudah terbiasa hidup mewah.


"Wa'alaikum salam, sabar! Masih ngunci pintu, sudah berisik aja! Malu neng!!!" jawab Ary mendekati mobil Mira.


"Sudah ayok jalan!'' kata Ary setelah duduk di kursi penumpang sebelah Mira.


"Tumben kamu ngajak shopping? Biasanya juga aku yang maksa kamu buat shopping!" tanya Mira keheranan.


"Aku lagi suntuk!" jawab Ary.


"Kenapa? Ada masalah apa, nggak biasanya lho kamu seperti gini. Pasti ada apa-apanya nih!" kata Mira.


"Cerita biar bisa plong, walaupun aku nggak bisa bantu nyelesaiin. Tapi aku siap kok jadi pendengar." lanjut Mira.


"Tadi ada pasien mesum di ruang rawat inap! Pas banget deh, aku mau periksa itu pasien!" jawab Ary.


"Lha apa hubungannya?" tanya Mira.


"Coba deh kamu pikir, pantas nggak dia melakukan itu di ruang rawat inap? Walaupun dia penghuninya tapi nggak sepantasnya dia berbuat seperti itu. Kalau di hotel tadi iya, nggak masalah. Lha ini, rumah sakit lho bukan kamar kos atau hotel!" kesal Ary.


"Hahaha... Biarin aja, toh kita nggak dirugikan." jawab Mira enteng.


"Nggak rugi gimana? Kalau yang menangkap basah orang nggak betul, orang yang nggak bertanggung jawab. Rumah sakit yang kena masalah. Ujungnya nasib semua karyawan dan pegawai disana kek!" kata Ary sambil menyilangkan jari ke leher.


"Hahaha, betul. Terus kamu tegur nggak dia tadi?" tanya Mira.


"Aku suruh pulang aja, biar dia rawat jalan kembali sama dokter Fadli. Males aku berurusan sama orang seperti dia." jawab Ary.


"Lho, memang sudah sehat kok disuruh pulang?" tanya Mira keheranan.


"Dia sudah lepas infus, sebenarnya dia itu butuh udara yang bersih. Tapi dia nggak peduli, jadi perokok aktif maupun pasif. Hadeehh!" Ary tepuk jidat menghadapi Rendy.


"Wah, seru ya punya pasien bengal seperti itu! Kalau aku jadi kamu, sudah aku kerjain habis-habisan itu." kata Mira.


Tidak lama kemudian mereka sampai juga di Malioboro. Setelah parkir mobil, mereka berdua berjalan menuju mall sambil terus membicarakan pasien tadi.

__ADS_1


"Malas aku nanggapi orang seperti itu! Orang yang seperti itu sebenarnya kurang perhatian, dia lagi cari perhatian orang aja." jawab Ary.


"Dan, menurut aku nggak usah ditanggapi. Kalau ditanggapi nggak ada habisnya, karena akan terus membuat ulah agar diperhatikan terus." lanjut Ary.


"Nggak juga, Ar! Siapa tahu kalau sudah diperhatikan dia jadi nggak banyak tingkah. Secara dia sudah ada yang memperhatikan, betul nggak?" kata Mira sambil memainkan alis matanya.


" Nggak tahu lah! Nggak usah dibahas lagi, nggak penting juga kali! Semoga saja nggak dipertemukan lagi sama itu orang! Aammiinn." kata Ary sambil memilih baju.


Sedangkan di tempat yang sama nampak si Rendy membawa ceweknya belanja juga. Sepulangnya dari rumah sakit tadi Rendy dan Veronica memutuskan untuk belanja ke mall. Karena selama Rendy dirawat di rumah sakit, Vero tidak pernah lagi dimanjakan Rendy dengan uangnya.


Saat memilih baju, terdengar musik lagu dari group band yang berjudul Emang Dasar. Ary dan Mira ikut bersenandung sambil tertawa.


"Emang dasar, kamu b*jing*n!" kata mereka bersama sambil tertawa.


"Wah, lagu ini pas banget buat pasienku tadi, Mir!" kata Ary di sela tawanya.


"Hoo... Iya kah!" jawab Mira masih tertawa.


"Tapi kalau menurut cerita kamu tadi sih, pas juga lagu ini!" lanjut Mira sambil berpikir.


Saat Ary akan mengambil sebuah tunik berbahan kaos katun, tiba-tiba ada juga orang yang menarik baju itu.


Ary langsung melihat ke arah suara. Ternyata cewek itu adalah cewek yang dilihatnya di rumah sakit. Ya, cewek itu adalah Vero. Ceweknya Rendy!


"Maaf ya mbak, saya yang duluan pegang. Kalau mbaknya mau, ambil aja! Saya cari yang lain aja." kata Ary sopan. Ary malas ribut, jadi biarkan saja Vero yang ambil.


Rendy yang mendengar ceweknya teriak lalu mendatangi mereka.


"Ada apa sih ini?" tanya Rendy begitu sampai di samping Vero.


"Ini, bie! Cewek ini mau ambil baju yang sudah aku pegang." kata Vero manja.


Rendy langsung melihat ke arah Ary, maksudnya ingin memarahi Ary. Tapi amarahnya hilang begitu matanya menatap Ary.


Ary yang berpenampilan beda hari ini membuat Rendy terpesona.


Kali ini Ary memakai outfit yang membuat dia nampak seperti anak baru berumur 20th. Dia nampak jauh lebih muda dari umur sebenarnya.

__ADS_1


Kedatangan Rendy membuat Ary semakin malas untuk berdebat dengan Vero. Dia langsung mengajak Mira pindah dari situ.


"Yuk, cari yang lain aja!" ajak Ary sambil menyeret Mira meninggalkan tempat itu.


"Lho kok nggak jadi? Kamu kan sudah lama kepengin baju model seperti itu.!" tanya Mira heran.


"Malas aku ketemu sama mereka! Takut ketularan jadi b*jing*n!" kata Ary sambil tersenyum.


"Hah, jangan bilang kalau itu pasien yang kamu maksud tadi?" tanya Mira.


Ary hanya mengangguk saja mengiyakan perkataan Mira.


"Astaga! Baru keluar dari rumah sakit langsung shopping, apa nggak takut drop lagi?" kata Mira kaget.


"Ya begitulah! Namanya juga orang yang nggak dapat perhatian, jadi ya..." jawab Ary sambil mengangkat kedua tangannya.


Sementara itu Rendy dan Vero malah berantem karena Rendy hanya diam saja melihat kepergian Ary. Vero merasa cemburu karena Rendy menatap dengan intens pada Ary.


"Kamu kenapa sih, bie! Bukannya belain aku, malah bengong lihatin itu cewek!" kata Vero sambil memukul-mukul tangan Rendy.


"Sudah nggak usah ribut, malu dilihatin orang banyak!" kata Rendy menenangkan ceweknya.


Rendy sebenarnya terpukau dengan penampilan Ary barusan. Dan dia merasa semakin tertarik dengan Ary.


***


Ary dan Mira selesai shopping langsung menuju klinik tempat mereka praktek. Klinik yang mereka dirikan di daerah yang jauh dari rumah sakit. Klinik itu dekat dengan balai kota.


Klinik yang didirikan oleh tiga sekawan yaitu, Ary, Amira dan Zaky. Mereka bertiga berteman sejak awal masuk kuliah. Dan persahabatan itu terjalin hingga mereka menjadi dokter.


"Huft!!! Pegel kakiku!" kata Ary sambil melangkahkan kakinya menuju ruang prakteknya.


"Segitu aja sudah pegel, makanya biasakan shopping biar terbiasa itu kaki!" jawab Mira.


"Aku tiap hari olahraga, Mir! Sehabis sholat Subuh pasti jogging. Aku sudah terbiasa jalan, tapi kali ini betul-betul melelahkan. Belanja segitu banyaknya, berjalan keliling mall, ditambah lagi balik ke parkiran mobil." jawab Ary.


"Tapi kamu happy kan?" tanya Mira.

__ADS_1


"Masih suntuk? Jangan sampai konsentrasi kamu buyar ya gara-gara pasien gila itu!" kata Mira.


"Santai, Mir! Sudah fresh! Aku bisa kok bedain tempat, kalau kerja ya kerja aja. Nggak bakalan ganggu kerjaan aku kok!" kata Ary.


__ADS_2