
Sore harinya setelah sholat ashar, Bayu pergi ke rumah sakit dimana Ary dirawat. Dia ingin menjenguk Ary dari tadi siang sepulang sekolah. Karena rumah makan masih ramai, dia pun menunggu sepi baru pergi.
Tok...tokk...tokk...
Suara pintu diketuk. Bayu mengetuk pintu kamar rawat inap di mana Ary dirawat.
"Assalamualaikum..." Bayu mengucap salam sambil membuka pintu.
"Wa'alaikum salam..." jawab mbak Karin.
Di dalam kamar itu hanya ada Ary dan Karin. Bunda baru saja diminta pulang Karin, karena besok bunda harus mengajar.
"Kak Bayu?" Ary tidak menyangka akan dijenguk Bayu.
"Gimana keadaan kamu, dek?" Bayu mendekati ranjang Ary. Menyalami mbak Karin dan Ary. Bayu datang sendirian tanpa teman maupun buah tangan.
"Alhamdulillah kak, seperti yang kak Bayu lihat." jawab Ary sambil menghela nafasnya.
Sesak rasanya harus terbaring lemah tanpa boleh banyak gerak. Setiap mengerakkan kepalanya, rasa sakit yang didapatnya.
"Patuhi apa kata dokter dan perawat penjaga, juga orang yang menjagamu! Jangan ngeyel, biar cepat sembuh!" Bayu menasehati Ary.
"Kak, kenalin kakakku. Mbak, ini kakak kelas Ary juga teman Ary di walet." Ary memperkenalkan mereka.
"Bayu" Bayu memperkenalkan diri.
"Karina, biasa dipanggil mbak Karin." jawab Karin.
"Mbak Karin kerja atau kuliah?" tanya Bayu.
"Mbak ini sudah tua jadi udah kerja. Mbak kerja di Surabaya. Kalian pacaran?" Mbak Karin mulai menanyakan kedekatan Ary dan Bayu.
"Enggak mbak!" jawab Ary dan Bayu kompak.
"Hahaha... Kompak ya kalian! Gak usah takut, ngaku aja!" Mbak Karin merasa lucu dengan kekompakan adiknya dengan Bayu.
"Kami betulan gak pacaran kok, mbak. Kebetulan kami dekat, karena Ary juga teman di PS walet. Jadi, kami sering ketemu dan lebih akrab" Bayu menjelaskan.
Sebenarnya Bayu memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman atau saudara. Tapi Bayu belum mengungkapkan perasaannya. Dia menunggu Ary siap untuk pacaran. Selama kenal Ary, Ary selalu mengatakan belum ingin pacaran.
__ADS_1
"Mbak Karin ini bikin malu Ary aja! Dekat itu bukan berarti pacaran." kata Ary sewot.
"Kak Bayu tahu dari siapa, kalau Ary di sini?"
"Tadi tidak sengaja ketemu Enno di depan gerbang sekolah. Katanya habis dari sini jenguk kamu sakit. Kemarin siang ku antar ke rumah masih sehat, sekarang sudah seperti ini. Apa yang terjadi sama kamu?" tanya Bayu.
"Kemarin sore kejadiannya kak Bayu!" Ary menekan suaranya, jengkel rasanya.
"Kemarin sore habis ashar Ary dimintain tolong ma bunda, suruh antar kue tempat budhe yang rumahnya masih satu kampung. Pas pulangnya kena tabrak, terus dibawa ke sini. Begono ceritane!"
"Begitu ceritanya? Istirahat yang cukup, jangan banyak gerak dulu! Biar cepat sembuh, terus kita latihan bareng lagi." kata Bayu.
"Sudah sore. Aku pulang ya, besok ke sini lagi." Akhirnya Bayu pamit pulang, karena sebentar lagi waktu Maghrib. Rumah makannya akan banyak pengunjung nanti selepas Maghrib.
Sepulangnya Bayu, Ary langsung diinterogasi mbak Karin.
"Betul... Dia bukan pacar kamu, dek?" mbak Karin masih curiga apa hubungan Ary dengan Bayu.
"Iya, mbak. Cuma temen, tidak lebih dan tidak kurang!" Ary masih bisa cengengesan, padahal mbak Karin bicara serius.
"Kalo cuma temen, kok pandangan matanya lain. Sama seperti cowok, temen sekelasmu tadi pagi. Cuma si Bayu ini lebih tenang bawaannya. Tapi terlihat jelas kalo dia mau lebih dari sekedar teman." mbak Karin mulai ceramah, menasehati Ary.
"Dan satu lagi, jangan pacaran! Kamu masih remaja, gunakan masa remaja mu sebaik-baiknya. Belajar, belajar dan belajar! Jangan salah pilih teman, carilah teman untuk menambah wawasan ke arah yang benar. Persahabatan yang tulus akan mengantarkan kesuksesan untukmu kelak."
"Iya kak! Sudah ceramahnya? Pusing kepalaku, mau tidur." kata Ary.
"Anak ini, dinasehati malah... huh!" mbak Karin kesal sendiri melihat tingkah laku Ary.
***
Hari sudah berganti, siang hari sebelum dhuhur. Aditya Mahendra, biasa disapa Adit. Ketua karang taruna di kampung Ary, sekaligus pelatih Ary di PS walet putih. Adit bersama beberapa muda-mudi kampung Ary datang menjenguk Ary di rumah sakit.
"Wah, Sarno!"kata Adit setelah mendengar cerita bagaimana kondisi Ary dan kenapa Ary dioperasi.
"Sarno, apa itu?" tanya Sari teman Adit, teman Karin juga.
"Sarno, sarafe keno!" kata Adit sambil tertawa.
"Apa kamu bilang?" Karin marah mendengar perkataan Adit.
__ADS_1
"Eit, jangan marah dulu! Maksudku, sarafe keno itu karena syaraf otak Ary yang sakit, makanya syaraf otak Ary yang kena. Kena masalah?" jelas Adit, maksudnya bercanda malah membuat pujaan hatinya marah.
Sudah lama Adit naksir Karin, sudah berulang kali menyatakan isi hatinya. Tapi jawaban Karin selalu sama, jodoh tak kemana tidak usah pacaran. Sehingga sampai sekarang dia masih menunggu kesiapan Karin untuk disuntingnya.
"Oh, kirain! Habis kata-kata kamu tadi absurd, bikin orang bingung nangkapnya." Sari.
"Kalo ngomong itu dipikir dulu mas! Jangan sampai menyinggung perasaan orang lain!" Karin masih emosi mendengar kata sarno tadi.
Ary hanya diam menjadi pendengar setia, mendengarkan kakak dan teman-temannya ngobrol. Seperti menemani kakaknya menghadiri acara reuni akbar. Kamar Ary jadi ramai seketika, karena kehadiran muda-mudi karang taruna kampungnya.
"Dit, untuk beberapa bulan ke depan, Ary tidak ikut latihan PS walet dulu. Biar pulih kembali seperti semula. Kalo sudah betul-betul sembuh baru latihan lagi." kata Karin tiba-tiba, disela canda tawa mereka.
"Ih, mbak ini apaan sih! Ngomong gak jelas gitu, Ary masih pengen ikut latihan juga! Malah dilarang, huh! Nganyelne!" Ary bersungut-sungut.
(menyebalkan)
"Ini semua demi kebaikan kamu Ary!" mbak Karin mengelus tangan Ary.
"Iya, Ary. Betul yang dibilang Karin. Kamu untuk sementara gak usah ikut latihan dulu, nanti kalo sudah betul-betul sembuh baru ikut lagi." Adit ikut membujuk Ary.
Disaat orang-orang membujuk Ary, datang perawat mengantar makan siang dan obat untuk Ary.
"Dihabiskan makannya, ya mbak. Jangan lupa obatnya juga diminum! Biar cepat sembuh." kata perawat tadi.
"Iya sus, makasih ya." jawab Ary.
Karena Ary belum boleh mengangkat kepalanya, Ary makan disuapi Karin. Ary yang tidak menyukai bubur, terpaksa harus makan bubur nasi tersebut. Karin terus menyuapi Ary, seperti bayi sampai bubur habis. Kemudian meminum obatnya.
"Waahhh... Sudah sehat nampaknya si Ary. Buktinya bubur semangkuk habis dilahap." kali ini si Agung meledek Ary, teman karang taruna lainnya.
Wajah Ary memerah, menahan malu. Dia sebenarnya terpaksa memakan buburnya karena takut dengan ancaman Karin. Karin mengancam akan menjual si Maxi, motor Jupiter MX kesayangannya.
"Sudah! Sudah! Dari tadi, adikku diledek terus! Kalian pulang sana, biar adikku bisa istirahat. Dia harus banyak istirahat. Bukannya menghibur malah meledek terus" Karin memarahi teman-temannya.
Alasan utama mereka menjenguk Ary, karena ingin ketemu Karin. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Itulah kata pepatah, mereka menjenguk Ary sekalian reuni dengan kakak Ary. Karena sejak pulang dari Surabaya, Karin belum pulang ke rumahnya. Dia menunggui Ary siang malam, kedua orang tuanya hanya diijinkan menjenguk Ary sebentar saja.
Karin begitu menyayangi Ary. Ary adik perempuan satu-satunya, Ary juga teman bermain dan berantem di rumah. Kedekatan keduanya betul-betul menggambarkan persaudaraan yang akrab.
Begitu Adit dan teman-temannya pulang, Ary mulai memejamkan matanya. Obat yang tadi diminumnya mulai bereaksi membuatnya mengantuk.
__ADS_1