
Eno dan Ary pulang setelah selesai acara syukuran Bayu. Eno kebetulan membawa motor kesayangannya. Eno tahu banget kalau Ary lebih suka naik motor dari pada mobil.
"Gimana sih perasaan loe ke kak Bayu?" tanya Eno tiba-tiba.
"Ya nggak gimana gimana, biasa aja!" jawab Ary cuek.
"Maksudnya, Loe gak apa-apa kan, kak Bayu sudah dijodohkan sama ibunya?" tanya Eno.
"Nggak apa-apa lah, emang mau ngapain? Ikut seneng aja, kalau dia juga seneng. Toh selama ini kan hanya sebatas teman." kata Ary sambil mengedikkan bahunya.
"Masak sih loe gak ada rasa sama kak Bayu, kalian kan lengket banget. Kemanapun selalu berdua, disitu ada kak Bayu disitu ada loe."
"Kami bersama kalau pas ada perlu saja. Dia ketua OSIS, gue sekretaris OSIS jadi wajar kalau ada kami sering ketemu atau bersama di acara Sekolah. Di luar, dia senior gue di walet putih. Wajar kalau kami sering latihan bareng. Kalau di perpustakaan bareng karena sama sama mau belajar. Nggak ada yang istimewa kok." jelas Ary panjang kali lebar.
"Gue kira loe pacaran samaa kak Bayu, secara kalian kan selalu bersama lengket banget." balas Eno.
"Selain kegiatan di sekolah sama kegiatan di walet putih gak ada. Kami dekat karena organisasi bukan karena secara pribadi." imbuh Ary.
"Tapi banyak banget anak-anak di sekolah mengira kalau loe ma kak Bayu pacaran. Sampai si Colek (panggilan Eno untuk Alex) stress berat gara-gara cemburu." kata Eno.
"Kenapa mesti stress dan cemburu? Gue ma dia kan sudah end." tanya Ary heran.
"Loe emang oon atau gimana sih? Heran gue ma loe! Alex itu cinta mati ma loe, tau gak sih!?" Eno mulai jengkel dengan sikap Ary yang pura-pura tidak tahu.
"Atau loe emang gak peka? Selama ini Alex perhatian banget ma loe, loe cuek aja. Emang gak ada rasa gitu, loe ma Alex?" tambah Eno.
"Entahlah, gue juga gak tau. Semua baik ma gue, gue suka ma mereka. Tapi hanya sebatas suka aja, gak lebih! Nggak ada yang istimewa!"
Mendengar jawabannya Ary yang cuek banget bikin Eno geregetan. Dia membelokkan motornya ke arah warung es kelapa muda, lalu berhenti dan turun dari motornya.
"Minum dulu, biar dingin kepala gue ngadepin loe" kata Eno.
__ADS_1
"Kaleh nggih pak!" Eno memesan es kelapa muda. (Dua ya pak)
"Ih, gue masih kenyang. Emang perut loe masih muat?" Ary heran kenapa tiba-tiba Eno mengajak nongkrong di warung es kelapa muda.
Eno selalu begitu, setiap ada yang mengganjal di hatinya dia akan menyelesaikannya sampai tuntas.
"Sudah sini dulu, kita ngobrol sambil minum biar kepala dingin." kata Eno.
"Apalagi yang mau ditanyakan Eno Mundarwati yang cantik jelita mempesona sepanjang masa..." jawab Ary.
"Gue masih penasaran tau, sebenarnya siapa sih yang kamu pilih diantara mereka?" Eno masih penasaran.
"Kan tadi sudah gue jawab. Semua sama aja, hanya sebatas teman gak lebih." jawab Ary cuek.
"Serius? Lah dulu kan Loe pernah jadian ma Alex, gimana sih?" Eno semakin penasaran.
"Yaa, iya kan aja sih biar dia seneng." jawab Ary enteng.
"What??? Jadi loe gak ada rasa yang gimana gitu? Pantesan loe tega banget mutusin dia waktu itu! Busyet!!!" Eno geleng-geleng kepala, gak percaya dengan ucapan Ary.
"Jadi loe putusin dia waktu itu juga karena itu?" tanya Eno.
"Bukan sih, alasan utamanya karena gak boleh pacaran ma Ayah Bunda. Kalau dulu aku terima cintanya kan karena gue pikir gue bisa mencintainya. Tak taunya, yaaahhh gitu lah." Ary mengedikkan bahunya, kemudian menyeruput esnya.
"Perasaan gue nggak bisa gue paksain. Gue sudah coba, tapi tetep aja gak bisa. Yang ada gue malah gak tenang, untungnya gue masih bisa konsen belajar. Pas ketahuan pacaran ma Ayah dan disuruh putus rasanya tenang banget. Makanya gue langsung putusin Alex, dengan alasan orang tua melarang pacaran." Ary menjeda kalimatnya.
"Kan emang bener, gue dilarang pacaran sama ayah bunda. Itu bisa jadi alasan kuat gue putus ma Alex. Kalau Alex tidak mau terima ya, itu terserah dia. Gue hanya gak pengen bohongi dia terus. Lebih baik menjadi teman dari pada pacaran." Ary menjelaskan semuanya yang ditutupinya selama ini.
"Kasihan Alex tahu! Dia sudah cinta mati ke loe. Loe malah mainin perasaan dia." kata Eno.
"Pernah gak sih loe deg-degan gitu pas pacaran ma Alex? Atau pas lagi berduaan aja ma kak Bayu?" Eno semakin nggak bisa menahan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Hmm, gimana ya??? Nggak pernah sih, biasa aja!" jawab Ary.
"Haa!!! Gila ya loe!" Eno kaget mendengar jawaban Ary.
"Memang begitu kok, biasa aja sama seperti yang lainnya!"
"Terus loe pacaran itu atas dasar apa?" Eno masih belum percaya sepenuhnya atas jawaban Ary.
"Kasihan! Gue kasihan aja, lihat wajah memelas Alex setiap kali gue tolak. Tapi begitu dijalani, gue lebih kasihan lagi karena gue sudah bohongi dia. Makanya lebih baik berakhir." jelas Ary.
"Dasar labil!!! Bagus loe tolak aja dari pada PHP, itu lebih menyakitkan dari pada ditolak!" Eno emosi mendengar jawaban Ary.
Eno yang sebenarnya dari awal juga menaruh hati pada Alex, merasa kasihan melihat Alex cuma dipermainkan Ary.
"Gue gak ada maksud PHP atau mempermainkan perasaan Alex. Awalnya gue kira, gue bisa mencintainya. Tapi gak bisa, setidaknya gue sudah berusaha mencintai Alex." Ary menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Ary sadar bahwa dirinya seharusnya jujur dari awal. Agar tidak terjadi salah paham antara dia dengan Eno.
"Sudah lah, toh semua sudah berakhir. Sekarang loe gimana kak Bayu? Tanya ma hati loe yang paling dalam!" kata Eno.
"Biasa aja dibilang! Perasaan gue ke kak Bayu sama seperti gue ke kak Handika. Rasa sayang seorang adik ke kakaknya." jawab Ary.
"Serius??! Tadi gue lihat muka loe kayak gak ikhlas gitu pas ibunya kak Bayu umumkan calon menantunya." cerca Eno.
Eno hanya ingin memastikan perasaan Ary yang sebenarnya. Eno gak ingin Ary terluka karena patah hati.
"Gue hanya ingat kak Handika, setelah menikah dia jauh ma gue. Kakak kandung gue aja menjadi jauh ma gue apalagi kak Bayu. Pasti setelah menikah dikuasai istrinya. Dan pastinya istrinya bakalan cemburu kalau gue deket ma kak Bayu. Iya kan???" kata Ary.
"Betul juga ya, kak Handika sekarang jarang pulang ke rumah sejak menikah. Kita gak bisa malakin dia lagi. Pasti kak Bayu setelah menikah pun pasti begitu. Karena dia akan menjaga perasaan istrinya ketimbang orang lain." jawab Eno.
"Gue hanya belum siap kehilangan seorang kakak lagi. Bukan karena gue patah hati gak bisa memiliki kak Bayu, tapi lebih ke rasa seorang adik yang takut kehilangan kakaknya." jelas Ary.
__ADS_1
"Iya, gue ngerti kok rasanya kehilangan saudara yang deket ke kita."
Eno dan Ary berpelukan setelah keluar semua uneg-uneg yang mengganjal selama ini.