
Setelah selesai diukur, mereka pun meninggalkan toko itu. Mereka melanjutkan mencari cincin pernikahan. Setelah berkeliling kota Jogja, akhirnya mereka mendapatkan sesuai keinginan mereka. Akhirnya acara belanja selesai saat hari menjelang malam.
Ary yang tahu kondisi Rendy yang belum benar-benar pulih merasa kasihan. Tapi melihat semangat Rendy, Ary pun ikut bahagia.
"Capek, yank!" kata Rendy sambil duduk di sofa begitu tiba di rumahnya.
Selesai berbelanja mereka langsung pulang menuju rumah Rendy. Karena Rendy harus segera istirahat dan meminum obatnya, jadi lebih baik pulang ke rumah Rendy. Kalau ke rumah Ary, Rendy harus bolak-balik perjalanan jadi semakin kecapekan.
"Makanya kalau ada orang ngomong itu didengar! Kan sudah dibilang aku sendiri aja yang belanja, kamunya malah ngikut. Takut banget akunya ilang!" omel Ary sambil menyerahkan segelas air putih untuk Rendy.
Begitu sampai Ary langsung ke dapur untuk mengambil minum. Dia selalu menjaga kesehatannya, mengkonsumsi air putih yang cukup salah satu bentuk menjaga kesehatannya.
"Minum dulu!" kata Ary sambil menyerahkan segelas air putih.
"Makasih ya, perhatian banget! Tahu aja kalau Abang haus!'' kata Rendy sambil mengambil gelas dari tangan Ary.
"Haus gak haus harus minum, karena kita tadi banyak mengeluarkan keringat. Biar gak dehidrasi!" jawab Ary sambil mendudukkan dirinya di sofa sebelah Rendy.
"Iya... iyaaa... Bu dokter selalu benar! Manut aja!" jawab Rendy.
"Manut? Kapan manut-nya?" kata Ary memutar bola matanya.
"Ini barusan manut, minum air putih!" jawab Rendy.
"Aku masak dulu buat makan malam kita nanti!" kata Ary sambil meninggalkan Rendy di ruang tamu.
"Masak yang enak ya!" kata Rendy sambil merebahkan badannya di sofa, dia merasa letih badannya.
"Memang selama ini gak enak masakan aku?" tanya Ary sambil tetap berjalan meninggalkan Rendy.
Tidak ada jawaban dari Rendy. Karena Rendy sudah mulai terbang ke alam mimpi, saking lelahnya.
Ary pun mulai menyiapkan masakan untuk makan malam. Dia sengaja memasak masakan yang simple, memanfaatkan bahan yang ada di kulkas. Kedua orang tua Rendy sudah kembali lagi ke kota Medan.
Saat Ary mulai masak, datang asisten rumah tangga yang bekerja disana.
"Ibu mau masak apa?" tanya art tersebut.
"Kan sudah dibilang, jangan panggil Ibu! Aku masih muda lho!" jawab Ary sambil tersenyum ramah.
"Tapi, den Rendy bilang kalau mbak yang akan menjadi nyonya rumah disini!" jawab Minten, nama asisten rumah tangga di rumah Rendy.
"Panggil mbak aja, gak lucu satu dipanggil aden satunya ibu. Memangnya aku nampak tua banget ya?" tanya Ary. Sedikit nggak ikhlas dipanggil ibu, jadi agak sewot.
__ADS_1
"Ng... enggak mbak, maaf kalau perkataan saya tadi menyinggung perasaan mbak." kata Minten ketakutan.
Minten tidak takut sama Ary, tapi takut dengan Rendy. Karena Rendy kalau marah ngeri.
"Sudah nggak apa-apa! Lain kali jangan panggil Ibu, seperti aku ibunya Rendy aja." kata Ary masih kesal tapi tetap melanjutkan masak.
Beberapa menit kemudian Ary selesai masak, kemudian menyusun makan malam di meja makan. Setelah itu dia menuju ruang tamu untuk memanggil Rendy. Karena terakhir kali dia melihat Rendy di sana.
Di ruang tamu, Rendy ternyata tidur pulas di sofa.
"Abang... Bangun, makan malam sudah siap!" kata Ary sambil menggoyangkan kaki Rendy.
Sudah berulang kali Ary memanggil dan menggoyangkan kaki Rendy, tapi tidak ada respon dari Rendy. Ary kemudian berjalan mendekati wajah Rendy.
"Abang, bangun yuk!" kata Ary sambil mengusap pipi Rendy.
Tidak ada respon juga! Tidur kok kayak kebo, batin Ary.
Ary pun mulai memeriksa denyut nadi di leher Rendy, memeriksa nafas di hidung Rendy juga. Karena tidak menunjukkan tanda-tanda buruk, Ary memencet hidung Rendy.
Rendy yang merasa hidungnya sumbat, membuka matanya. Sebelah tangannya memegang tangan Ary yang memencet hidung Rendy. Sebelahnya lagi dipakainya untuk menarik Ary, sehingga Ary jatuh menimpa dada Rendy.
Ary yang tidak menyangka akan ditarik Rendy tidak ada menjaga keseimbangannya. Sehingga saat dia terjatuh wajahnya duluan yang mendarat di bibir Rendy. Rendy pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mencium Ary. Dia mulai meny*sap dan mel😘mat bibir Ary. Menikmati manisnya bibir Ary.
Karena ciumannya tidak mendapat balasan dari Ary, Rendy pun melepaskan dekapannya. Ary langsung terbangun menjauh dari Rendy. Ary ketakutan, takut akan dosa bukan takut pada Rendy.
"Kenapa yank? Kok ketakutan gitu!" tanya Rendy santai.
Ary masih terdiam, dia tidak menyangka akan dicium Rendy. Badannya gemetaran antara rasa takut dan gelenyar rasa aneh. Seperti ada yang menggelitik. Ary tidak bisa menjabarkannya karena ini adalah pengalaman pertamanya.
"Maaf ya, khilaf tadi!" kata Rendy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sorry, ok?!" lanjut Rendy sambil mendekati Ary.
Ary bergeser menjauh dari Rendy. Dia masih takut dicium Rendy. Takut tidak bisa mengontrol dirinya nanti.
"Ayuk makan, sudah malam! Takutnya nanti aku pulangnya kemalaman." kata Ary, tapi sebelumnya dia berdehem umum menetralkan perasaannya.
"Yuk, yank! Aku juga sudah lapar banget." kata Rendy sambil menarik tangan Ary.
Ary terpaksa mengikuti Rendy karena tangannya ditarik.
Sesampainya di meja makan, Rendy langsung duduk sedangkan Ary mulai mengambil piring Rendy kemudian mengisinya. Tidak lupa dia juga mengisi piringnya sendiri.
__ADS_1
Malam ini Ary memasak menu sederhana, hanya capcay dan ayam goreng kesukaan Rendy. Gampang membuatnya dan tidak ribet.
Rendy makan dengan lahap. Masakan Ary sangat cocok di lidahnya. Bahkan Rendy berulang kali tambah. Biasanya dia malas makan, kalau bibi yang masak.
"Besok masakin lagi ya! Masakan kamu mantap, yank!" kata Rendy sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Alhamdulillah kalau Abang suka. Ary tidak pintar masak. Ini aja yang Ary bisa. Hehehe!" jawab Ary sambil tersenyum.
"Ini tuh masakan kesukaan aku! Kamu tahu banget seleraku." kata Rendy sambil mengambil gelas berisi air putih kemudian menenggaknya sampai habis.
Setelah selesai makan Ary pamit pulang, tapi tidak diijinkan Rendy. Alasannya hari sudah malam, bahaya kalau Ary pulang sendiri. Sedangkan Rendy tidak sanggup mengantarkan Ary, karena kondisinya yang belum benar-benar pulih.
Ary diam-diam menghubungi Eno yang kebetulan hari ini berada di Jogja. Dia minta jemput Eno, sekalian mengajak Eno menginap di rumahnya.
Ary mulai membereskan barang-barangnya, dia memisahkan barang milik dia dengan milik Rendy.
"Yank, yang untuk acara akad nikah jangan dibawa pulang. Kan akadnya disini!" kata Rendy mengingatkan.
"Iya, ini punya Abang aku sama yang untuk keperluan akad nanti aku tinggal kok." jawab Ary.
Tidak lama kemudian terdengar suara klakson di depan rumah Rendy. Tadi Ary mengirimkan alamat rumah Rendy pada Eno melalui google map. Jadi tidak susah bagi Eno menemukan rumah Rendy.
"Bang, Ary pulang dulu ya. Itu Eno sudah datang menjemput." pamit Ary sambil menenteng tas dan belanjaannya.
"Kalian aman gak ada cowok yang mengawal?" tanya Rendy.
"Aman! Abang tenang aja!" jawab Ary.
Ary berjalan menuju pintu keluar, dia melambaikan tangannya. Eno pun membalas lambaian tangan Ary.
"Pamit ya, assalamualaikum." kata Ary sambil tersenyum.
"Wa'alaikum salam, hati-hati ya!" jawab Rendy.
"Nggak dicium dulu nih?" goda Eno.
"Maunya! Seneng sekarang, nanti di akhirat jadi kayu bakar!" jawab Ary sambil menutup pintu mobil Eno.
"Hahaha" Eno tertawa mendengar jawaban Ary.
"Yuk, jalan! Sudah malam, ngantuk berat gue. Capek lagi!" kata Ary.
Akhirnya Eno menjalankan mobilnya, meninggalkan rumah Rendy.
__ADS_1