Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
28. Perpisahan


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa sudah setahun Bayu meninggalkan SMU Negeri Pembina. Bayu pergi menimba ilmu untuk melanjutkan pendidikannya ke STAN.


Sesuai dengan ultimatum dari ibunya, Bayu tidak menjalin hubungan dengan perempuan mana pun. Bahkan dia juga tidak pernah menghubungi Ary. Ary juga mengerti alasan Bayu yang tidak pernah lagi menghubunginya.


Selama ini Ary lebih memilih menghabiskan waktunya dengan belajar dan belajar. Eno sebagai sahabatnya pun mengikuti jejak Ary. Begitu juga dengan Alex dan Anton, mereka bergabung dengan Ary dan Eno. Mereka berempat selalu belajar bersama, baik di perpustakaan maupun di luar sekolah.


Dan akhirnya, tiba saatnya mereka menjalani Ujian Nasional. Mereka berempat mengerjakan soal ujian tersebut dengan semangat. Dan pastinya dengan hasil yang memuaskan.


Saat ini mereka mengikuti acara perpisahan yang diadakan oleh kelas mereka. Acara digelar di hutan, karena sesuai kesepakatan bersama acara perpisahan diadakan kemah bersama.


"Huft, capek!" kata Eno sambil duduk dengan kaki berselonjor dan kedua tangan di belakang untuk menopang tubuhnya.


"Baru juga segitu, sudah capek No!" kata Ary.


"Jalan sepanjang 50 km dibilang segitu?! Yang bener aja, Non!!!" jawab Eno sambilmemutar bola matanya.


"Makanya, biasakan olahraga biar nggak gampang capek!" kata Ary.


Berjalan sepanjang 50 km bagi Ary adalah hal yang biasa, sedangkan Eno merasa hal yang berat. Selama ini Eno malas olahraga, jangankan olahraga berjalan ke warung kelontong sebelah rumahnya saja sdh malas.


"Gampangnya kalau ngomong! Loe sendiri emang pernah olahraga?" tanya Eno.


Eno hanya tahu kalau Ary ikut latihan beladiri, tanpa Eno tahu kalau sahabatnya itu setiap sore lari mengelilingi kampungnya.


"Makanya jangan pacaran mulu, biar kalau sore kita bisa lari bareng mengelilingi kampung kita tercinta." jawab Ary sambil tersenyum mengejek.


"Setiap sore setelah Ashar gue lari-lari kecil sih tapi itu cukup bikin gue berkeringat dan tentunya lemak di perut dan paha habis terbakar." lanjutnya.


"Hah, loe gak setia kawan! Kenapa gak ajakin gue juga???" tanya Eno merajuk.


"Kalau kek gini kan jadinya gue gak tahan jalan jauh." imbuhnya.


"Mana gue tahu kalau loe juga mau lari sore kayak gue!" jawab Ary mengedikkan bahunya.


Ary mengambil minum di tasnya kemudian duduk di sebelah Eno untuk minum.


"Udah yuk, kita pasang tendanya sekarang entar keburu malam. Biar cepat istirahat kita." ajak Ary sambil menarik tangan Eno.


Mereka memulai memasang tenda. Awalnya mereka kesulitan, tapi akhirnya mereka dapat menyelesaikannya berdua. Bukan berdua, lebih tepatnya Ary yang memasang, Eno hanya membantu memegangi saja.


"Hai cewek! Waahhh... kalian hebat bisa pasang tenda sendiri!" puji Anton yang tiba-tiba datang mendekati mereka.


"Loe telat datang, kemana aja! Capek gue masang tendanya tahu! Tadi janji mau bantu pasangin tenda, eh malah ngilang!" cerocos Eno tiada henti begitu kedatangan Anton.


"Sudah???" tanya Anton.


"Apanya yang sudah?" jawab Eno.


"Ngomelnya, apalagi? Tenda sudah terlihat berdiri, tinggal ngomelnya yang belum ketahuan sudah apa belum." jawab Anton dengan santainya sambil duduk di sebelah Ary.


"Alex mana? Kok sendiri, biasanya kalian selalu sama!" tanya Ary.


"Cieee... kangen ya? Tumben nanyain Alex?!" ledek Anton.


"Iya, kangen berat dianya. Dari tadi ditinggal melulu ma kalian!" jawab Eno.


"Yee, sok tahu! Yang ditanya siapa yang jawab siapa." kata Ary sambil menoyor kepala Eno.

__ADS_1


"Idih, iyain aja kenapa! Biar senang hatinya, bikin orang lain senang kan dapat pahala. Gimana sih Loe?!" jawab Eno sambil tersenyum.


"Itu disana, lagi bantuin Tere pasang tenda." kata Anton sambil menunjuk ke arah Alex yang sedang memasang tenda sendirian tapi dikerubuti cewek cewek centil.


"Lagi tp tp sama ciwi ciwi dianya!" kata Ary begitu melihat ke arah Alex sambil tertawa.


"Bukan tebar pesona, Ary. Dia murni kok nolongin Tere dan kawan-kawanya. Masak ada yang minta tolong, kita nggak mau nolong." jawab Anton.


"Cemburu bilang, Neng!" celetuk Eno.


"Apaan sih, siapa juga yang cemburu?? Yee!!!" jawab Ary spontan.


"Loe lah, yang cemburu! Siapa lagi?" kata Eno.


"Nggak salah tuh? Yang memendam rasa siapa, yang dituduhkan siapa!!" ketus Ary.


"Ada apa sih ini, kok rame banget?!" tanya Alex yang tiba-tiba datang mendekati.


"Ini, para bidadari cemburu lihat loe bantuin Tere dan yang lainnya tadi." jawab Anton.


"Gue jadi penonton saja dari tadi. Mereka berdua lagi rebutin loe. Ternyata mereka pun menaruh hati ke loe!" lanjut Anton sambil menggelengkan kepalanya.


"Masak sih? Asiikk dong, kalau ada yang cemburu. Berarti gue masih dihatinya!" jawab Alex dengan penuh percaya diri.


"Idih, kePD an jadi orang!" kata Ary.


"Iya tuh! Siapa juga yang cemburu?" sahut Eno.


"Kalian sudah persiapkan agenda kan untuk acara nanti malam?" tanya Alex.


"Tanya aja sama panitianya, gue bukan panitia!" jawab Ary sambil menghidupkan kompor yang dibawanya.


"Eno, airnya mana nih? Apinya sudah nyala!" tanya Ary.


"Ini! Makanya biasakan sediakan dulu bahannya kalau mau masak." kata Eno sambil menyerahkan jerigen isi air bersih.


"Yee, tadi kan sudah gue bilang! Loe bawa air ke sini, gue yang bawa kompor sama pancinya! Dudul!" gerutu Ary.


"Dari tadi kalian berantem aja, gue lihat! Tapi kok persahabatan kalian bisa langgeng ya? Herman gue!" kata Anton.


"Heran Anton! Heran bukan Herman!" kata Ary dan Eno bersamaan sambil tertawa.


"Iya, heran gue!" jawab Anton dengan santainya.


"Itu yang bikin kita langgeng, karena perbedaan itu selalu ada. Karena menyatukan dua kepala itu nggak gampang. Dengan mengeluarkan isi pikiran kita bisa tahu apa yang dirasakan oleh sahabat kita." jawab Ary.


"Bersahabat bukan berarti tidak beda pendapat, bersahabat itu bagaimana menyatukan dua pendapat yang berbeda biar bisa diterima kedua belah pihak. Bukan memaksakan pendapat kita untuk diterima."


***


Sejam kemudian setelah mereka berempat menyantap makan malam berupa mie instan.


Anak-anak kelas 12 IPA 1 sudah berkumpul untuk mengadakan acara perpisahan tanda kelulusan. Mereka duduk melingkari api unggun. Acara ini hanya diisi dengan nyanyi bersama dan makan bekal masing-masing.


🎶 Suatu hari


dikala kita duduk di tepi pantai

__ADS_1


Dan memandang


ombak di lautan yang kian menepi


Burung camar


terbang bermain di derunya air


Suara alam ini


hanyutkan jiwa kita


Sementara sinar surya


perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa tercurah saat itu


Kemesraan ini janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini ingin ku kenang selalu


Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu


Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu


Sementara sinar surya


perlahan mulai tenggelam


Suara gitarmu


mengalunkan melodi tentang cinta


Ada hati


membara erat bersatu


Getar seluruh jiwa, tercurah saat itu


Kemesraan ini janganlah cepat berlalu


Kemesraan ini ingin ku kenang selalu


Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu


Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu 🎶


Mereka bernyanyi bersama dengan diiringi suara gitar. Mereka secara gantian memetik gitar, bagi yang bisa bermain gitar mendapat giliran untuk memetik gitar.

__ADS_1


Mereka menghabiskan malam itu dengan makan makanan ringan dan bernyanyi. Acara berlangsung secara kondusif sampai selesai.


__ADS_2