Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
46. Sebatas Kakak Adik


__ADS_3

Setelah selesai makan, datang pelayan membawa troli berisi nampan tertutup dan menaruhnya di meja.


"Ini apalagi, kak? Ary sudah kenyang banget!" kata Ary begitu pelayan meninggalkan mereka.


"Buka aja!" kata Bayu.


Ary dengan patuh membuka tutupnya, di dalamnya terdapat buket bunga mawar dan lili kesukaan Ary. Disitu juga terdapat kotak beludru kecil berwarna merah.


"Waahhh!" kata Ary terpesona dengan buket bunga yang terlihat cantik di mata Ary.


Bayu mengambil kotak tersebut kemudian berdiri mendekati Ary. Setelah dekat, Bayu berjongkok dengan posisi sebelah kakinya diletakkan ke arah belakang.


Sambil membuka kotak itu Bayu berkata dengan dada berdebar.


"Aku bukanlah orang yang sempurna, masih banyak kekuranganku. Tapi hal itu tidak menyurutkan keinginanku untuk mempersunting kamu. Aku tidak bisa memberikan istana atau pun harta, karena yang aku punya hanya cinta. Aku tidak menawarkan pacaran, karena aku menginginkan sebuah ikatan suci." Bayu memberi jeda pada kalimatnya.


"Ary, will you marry me?" kata Bayu akhirnya.


Ary yang niatnya hendak mengambil buket bunga itupun mengurungkan niatnya. Dia kaget kalau Bayu beneran menginginkan lebih dari sekedar saudara.


"Kak Bayu bangun ya! Jangan seperti ini, nggak enak dilihat yang lain!' kata Ary membujuk Bayu agar bangun dari posisinya saat ini.


"Kamu jawab dulu, baru aku bangun." jawab Bayu tetap pada posisinya.


"Apapun jawabannya, kak Bayu akan bangun kan?" tanya Ary was-was.


"Apapun itu, aku akan menerimanya dengan lapang dada." jawab Bayu.


Bayu menunda-nunda untuk menyatakan perasaannya pada Ary, karena dia merasa tidak yakin Ary akan menerimanya. Ary orangnya sangat tertutup perihal perasaannya. Ary selalu menutup hatinya untuk siapapun, itu yang Bayu kenal selama ini.


"Sebelumnya Ary minta maaf, mungkin jawaban Ary nanti akan menyakiti perasaan kak Bayu." kata Ary sambil menunduk.


Ary sangat takut menyakiti perasaan orang lain, terlebih lagi Bayu sudah terlalu baik terhadapnya.


"Katakanlah Ary, sebisa mungkin aku akan menerimanya." kata Bayu.


"Ary selama ini juga sangat menyayangi kak Bayu, Tapi..." Ary tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.


"Tapi apa Ary? Cepat katakan, kakiku sudah mulai kebas ini!'' kata Bayu dengan tidak sabar.


"Makanya, kak Bayu bangun terus duduk lagi di kursi kakak!" jawab Ary.


"Kamu cepat katakan, biar aku nggak kelamaan duduk dengan posisi seperti ini!" kata Bayu.


Akhirnya Ary mengalah, dikumpulkannya semua keberaniannya. Ary sudah bertekad untuk menjawab pertanyaan Bayu. Apapun itu Ary harus mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini.

__ADS_1


"Tapi Ary hanya menganggap kak Bayu sudah seperti kakak kandung sendiri. Maaf..." kata Ary sambil menunduk.


Ary belum bisa membuka hatinya untuk laki-laki manapun. Bahkan Rendy yang sudah sering merayunya saja belum bisa mengetuk pintu hatinya, apalagi membuka hatinya.


"Nggak apa-apa, Ary!" kata Bayu sambil berdiri dan mendekati Ary.


Bayu mengusap kepala Ary dengan lembut sebentar.


"Apa ini semua karena Ibu? Ibu yang meminta kamu untuk menolakku?" tanya Bayu.


"Ini tidak ada hubungannya dengan Ibu, kak! Dari awal kenal, Ary sudah menganggap kak Bayu seperti kakak kandung Ary sendiri." jawab Ary.


"Kamu yaki." tanya Bayu lagi.


"Sangat yakin! Kalau tidak yakin, sewaktu kak Bayu dijodohkan dengan kak Yuni hari itu. Pasti Ary sudah patah hati. Tapi Ary ikut bahagia, Ary pikir dulu kak Bayu menikahi kak Yuni." jawab Ary sambil senyum tersungging.


"Baiklah kalau begitu. Semoga kita bisa menjadi kakak beradik yang saling menyayangi dan mendukung dalam kebaikan." kata Bayu akhirnya.


"Aamiin. Maafkan Ary ya, Kak!" hanya kata itu yang terucap dari bibir Ary.


"Nggak apa-apa, kamu ambil ya bunganya. Sayang sudah dibeli, buat kamu aja!" kata Bayu.


"Ary ambil bunganya, tapi cincinnya kak Bayu simpan untuk istri kak Bayu nanti." jawab Ary masih tetap tersenyum.


"Ok! Sudah malam, ayo kita pulang!" ajak Bayu.


***


Bayu mengantarkan Ary pulang ke rumahnya. Setelah Bayu meninggalkan rumah Ary, Ary mulai masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Ary, Bunda mau bicara sebentar!" kata Bunda.


Saat ini ayah dan bunda sedang menunggu Ary di ruang keluarga.


"Iya, Bun." jawab Ary sambil mendekati Ayah dan Bunda, kemudian duduk diantara keduanya.


"Boleh tanya nggak?" tanya Bunda.


"Langsung aja, Bun! Nggak usah muter-muter! Sudah malam!" kata Ayah mengingatkan Bunda.


"Kamu sama Bayu ada hubungan apa?" tanya Bunda.


"Hanya teman, Bun! Nggak lebih, kalau pun lebih hanya sebatas kakak adik." jawab Ary.


"Kamu lihat foto ini!" kata Ayah sambil menyerahkan selembar foto pada Ary.

__ADS_1


"Iya, Ary tahu kok! Seperti pinang dibelah dua!" jawab Ary.


"Berarti betul kalau..." belum selesai Bunda berkata sudah dipotong Ary.


"Belum tentu, Bun! Sewaktu Ary tanya siapa nama ayahnya, jawabannya berbeda kok. Tapi Ary nggak percaya begitu saja. Apalagi ibu Marinah sudah mengingatkan Ary untuk tidak berharap lebih. Ada yang ditutup-tutupi ibunya kak Bayu deh. Kasian kak Bayu!" kata Ary menyela perkataan Bunda tanpa jeda sama sekali.


"Ayah tadi lihat sendiri kan, wajah si Bayu sama persis dengan almarhum." kata Bunda menoleh ke arah Ayah.


"Iya, sama persis! Ayah kira tadi almarhum malah bukan Bayu." jawab Ayah.


"Kamu nggak pernah tanya gitu ke Bayu, siapa dia sebenarnya? Pernah nggak Bayu cerita tentang masa kecilnya?" Bunda mencerca pertanyaan pada Ary.


"Ary mana berani tanya masa kecilnya, nanti dikira Ary mau tahu urusan orang aja." jawab Ary sambil pindah posisi duduknya.


"Ya kan kamu itu kenal dia sudah lama, sembilan tahun Ary. Masak sih nggak pernah dengar cerita masa kecilnya si Bayu!" kata Bunda.


"Nggak pernah Bundaku sayang!" jawab Ary. Ary memang terlalu cuek, dia tidak mau tahu urusan orang lain. Jadi Ary pun malas mencari tahu tentang masa kecil Bayu.


"Ya udah kamu tidur sana, sudah malam ini!" kata Ayah.


"Oke, Ayah! Ayah the best deh!" kata Ary sambil memeluk ayahnya.


"Ayah aja nih yang dipeluk? Bunda nggak!" kata Bunda cemburu karena Ary memeluk ayahnya.


Ary kemudian menghampiri Bunda dan memeluknya.


"Ary sayang Ayah dan Bunda" kata Ary setelah melepas pelukannya.


"Kami juga sayang Ary!" kata Ayah dan Bunda bersamaan.


"Ayah dan Bunda tidur juga dong! Ayo kita istirahat!" kata Ary sambil melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Sementara itu di tempat Bayu.


Bayu nampak lesu, semangatnya hilang menguar entah kemana. Dia merasa gagal mendapatkan cinta diamnya. Sudah terlalu lama dia pendam perasaannya, tanpa berpaling sedikit pun ternyata harus kandas. Kandas karena perasaannya tak berbalas, tidak sesuai dengan yang diharapkannya selama ini.


Bayu masuk ke dalam kamarnya dengan lunglai. Ibu Marinah yang melihat anaknya seperti itu langsung mengikuti dari belakang. Ibu Marinah ikut masuk juga ke kamar Bayu.


"Ngopo tho Le, kok sajake gelo??" tanya bu Marinah sambil duduk mendekati anak laki-laki semata wayangnya.


Bayu hanya diam sambil menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya dengan kasar.


"Cerita sama ibu sini!" kata Bu Marinah.


(Kenapa sih nak, kok sepertinya kecewa??)

__ADS_1


***Maaf ya gak bisa up setiap hari, ada urusan RL. Setelah lebaran baru bisa up normal seperti biasanya. Sekali lagi maaf🙏🙏🙏🙏***


__ADS_2