
Tengah malam Ary baru sampai di rumah singgah tempat dia ditugaskan. Begitu sampai Ary langsung merebahkan badannya, karena kelelahan tidak butuh waktu lama Ary pun terlelap.
Keesokan harinya di rumah sakit tempat Rendy dirawat.
Rendy masih kembali terlelap setelah badannya dibersihkan mamanya dan minum susu. Rendy diperlakukan seperti anak bayi oleh mamanya. Badannya dilap menggunakan washlap yang dibasahi dengan air hangat. Mama dengan telaten membersihkan wajah dan sebagian tubuh Rendy.
Rendy tidur berjam-jam, bahkan dokter Fadli melakukan kunjungan pun tetap tidak bangun. Dokter Fadli yang curiga terjadi sesuatu terhadap Rendy mulai memeriksa dengan teliti. Rendy ternyata tidak sadarkan diri lagi. Kondisinya semakin menurun, padahal tadi malam saat Ary meninggalkannya keadaan sudah stabil.
Dokter Fadli pun dengan sigap memberikan pertolongan pada Rendy. Rendy kembali ditempatkan di ruang ICU. Denyut jantungnya melemah, kadar oksigen yang berada ditubuhnya juga berkurang. Baru beberapa jam ditinggalkan Ary kondisi Rendy kembali drop.
Dokter Fadli pun berinisiatif menghubungi Ary, terlebih dahulu beliau menghadap kepala rumah sakit. Dokter Fadli meminta ijin pada kepala rumah sakit agar memberi cuti atau menarik kembali Ary dari tempat dinasnya yang sekarang. Semua demi rasa kemanusiaannya sebagai seorang dokter. Apapun akan dilakukan dokter untuk menyelamatkan nyawa pasiennya.
"Assalamualaikum! Ary cepetan balik kesini! Rendy kembali kritis!" kata dokter Fadli begitu sambungan telepon tersambung.
Tanpa bertanya terlebih dahulu siapa yang mengangkat telepon, dokter Fadli langsung ngomong seolah-olah dia tahu kalau yang mengangkat telepon adalah Ary.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh. Ini siapa ya?" tanya si pengangkat telepon.
"Hmm, maaf bisa bicara dengan dokter Ary?" dokter Fadli berdehem dulu sebelum menjawab pertanyaan dari si pengangkat telepon.
"Sebentar, Pak! Saya panggil dulu." jawab perawat yang mengangkat telepon.
Saat ini Ary sedang memeriksa pasien yang datang untuk berobat. Walaupun rumah sakit itu belum selesai dibangun, tapi sudah banyak pasien yang datang. Hal ini dikarenakan sebelum dibuat menjadi rumah sakit, bangunan ini sebelumnya Puskesmas. Jadi tidak heran kalau sudah banyak pasien yang datang untuk berobat.
"Dok, dapat telepon dari..." kata perawat yang tadi mengangkat telepon. Dia lupa menanyakan siapa nama si penelpon.
"Iya, ini juga sudah selesai." jawab Ary sambil berjalan mendekati mejanya.
"Tunggu sebentar ya, Bu!" pamit Ary pada pasiennya, tidak lupa Ary juga meminta pasiennya untuk duduk.
"Ya, assalamualaikum..." sapa Ary begitu mendekatkan gagang telepon di telinganya.
"Wa'alaikum salam, Ary! Ini saya Fadli. Rendy kembali kritis, kamu segera kembali kesini. Saya sudah urus semuanya, kamu bisa kembali ke rumah sakit ini sekarang." kata dokter Fadli terburu-buru, karena banyak pasiennya yang menunggu.
"Tapi Dok! Rumah sakit disini belum selesai pembangunannya, sedikit lagi selesai. Tinggal pengadaan alat-alat medis saja, pembangunan masih tahap finishing." jelas Ary.
"Sudah, tinggalkan saja. Kan ada utusan juga dari Jakarta, biar dia yang bertanggung jawab. Tadi sudah saya bicarakan dengan dokter Rahmat." jawab dokter Fadli.
Bukan hanya keadaan Rendy saja yang menjadi alasan dokter Fadli memaksa Ary kembali ke Jogja. Pasien yang semakin meningkat membuat dokter Fadli membutuhkan bantuan dari dokter seperti Ary.
__ADS_1
"Baiklah! Selesai jam dinas saya usahakan kembali ke Jogja, Dok!" jawab Ary akhirnya.
Beberapa jam kemudian, setelah pasien habis. Ary membereskan barang-barangnya untuk dibawa kembali ke Jogja. Sore ini juga dia akan pulang ke rumah dinasnya yang berada di dekat rumah sakit tempatnya mengabdi.
***
Jam sembilan malam Ary sampai juga di rumah sakit. Dia langsung menuju ruang ICU, dimana saat ini Rendy masih terbaring tak berdaya.
"Rend! Kamu kenapa sih?" sapa Ary begitu memasuki ruangan Rendy.
"Bangun! Nggak capek apa tidur terus?!" lanjut Ary. Ary masih mencoba membangunkan Rendy.
Ary mulai memeriksa keadaan Rendy, dari tensi lanjut ke denyut jantung. Ke paru-paru, lambung, syaraf kaki dan terakhir mata. Selesai memeriksa Rendy, Ary duduk di kursi sebelah kanan ranjang Rendy.
"Kalau kamu tidak mau bangun, aku pulang. Capek tahu bolak-balik perjalanan jauh, mana jalan rusak lagi." kata Ary, kemudian berdiri.
"Aku pulang dulu ya, besok aku datang lagi kalau kamu sudah bangun. Kalau kamu nggak bangun, aku nggak mau datang lagi." kata Ary sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Ar..."
"Ar...ry.."
Ary yang samar-samar mendengar namanya dipanggil menolehkan kepalanya ke arah suara itu.
Dilihatnya tangan Rendy bergerak lemah, Ary sebenarnya tidak tega melihat keadaan Rendy saat ini. Begitu lemah tak berdaya, nafasnya pun tersengal karena sesak.
"Iyaa..." jawab Ary mendekati Rendy.
"Mau minum?'' tanya Ary begitu berada di samping Rendy.
Rendy hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan tinggalkan aku!" jawab Rendy lirih.
"Aku mati tanpa kamu!" lanjut Rendy.
"Ssstttttt! Jangan ngomong seperti itu! Aku disini, aku yang akan merawat kamu sampai sembuh." kata Ary sambil memegang tangan Rendy.
Baru pertama kali Ary mau memegang tangan Rendy. Biasanya Ary selalu menjaga untuk tidak bersentuhan kulit dengan lawan jenis. Rendy merasa bahagia karena Ary sudah mau memegang tangannya.
__ADS_1
"Terima kasih!" jawab Rendy sambil tersenyum.
***
Satu Minggu kemudian.
Keadaan Rendy sudah banyak mengalami kemajuan pesat. Bahkan dia sudah tampak lebih segar. Semua ini karena ada Ary yang selalu dengan telaten merawat Rendy. Rendy semakin bersemangat menghadapi hidup melawan penyakitnya.
Orang tua Ary hari ini akan datang menjenguk Rendy, karena sudah diberitahu oleh Ary. Ary sudah menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya. Dan orang tua Ary pun merestui, hanya menunggu Rendy sembuh untuk membahas pernikahan Ary dengan Rendy.
"Assalamualaikum..." sapa ayah Ary begitu memasuki ruang rawat inap VIP yang ditempati Rendy.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Ary dan Rendy kompak.
Saat ini Ary menjaga Rendy, karena orang tua Rendy keluar untuk membeli makan siang. Kebetulan juga Ary sudah selesai memeriksa pasiennya.
"Ayah, Bunda!" kata Ary sambil berjalan mendekati orang tuanya kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Ayah dan Bunda mendekati Rendy setelah bersalaman dengan Ary.
"Bagaimana jagoan?! Sudah mendingan!?" sapa ayah Ary sambil berjabat tangan dengan Rendy.
Rendy tersenyum kikuk, dia merasa malu dipanggil jagoan oleh calon mertuanya.
"Alhamdulillah, sudah mendingan." jawab Rendy singkat. Dia bingung hendak memanggil apa pada calon mertuanya.
Ayah duduk di kursi dekat ranjang Rendy. Dia hendak mengajak ngobrol Rendy. Karena keadaan Rendy sudah membaik, tidak ada masalah jika ayah mengajaknya mengobrol (pikir ayah Ary).
Sedangkan Ary dan Bunda duduk di sofa, memilih memisahkan diri dari Ayah dan Rendy. Tidak lama kemudian datang orang tua Rendy.
"Assalamualaikum" sapa kedua orang tua Rendy.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh." jawab semua yang berada di ruang itu.
"Eh, ada besan!" kata mama Rendy. Mama Rendy dikenalkan oleh Ary dengan ayah bundanya saat berkunjung ke rumah dinas Ary.
"Kebetulan sekali bapak dan ibu disini, sebenarnya tidak sopan membahas hal ini di rumah sakit seperti ini. Tapi keadaan yang memaksa saya untuk mengambil keputusan ini." papa Rendy membuka percakapan.
Saat ini kedua orang tua dari Ary dan Rendy sedang duduk berkumpul di sofa. sedangkan Ary duduk di kursi dekat ranjang Rendy.
__ADS_1
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat kami pada Jenengan berdua, saya selaku orang tua Rendy ingin meminta Ary menjadi menantu kami sebagai istri Rendy." lanjut papa Rendy, Candra Wijayanto.