
Hari pun berlalu, hubungan antara Ary dengan Bayu semakin dekat. Walaupun mereka hanya sebatas teman, tapi kedekatan mereka melebihi teman biasa. Rasa nyaman yang Bayu berikan pada Ary membuat Ary melupakan rasa cinta yang pernah ada untuk Alex.
Rasa cintanya pada Alex seolah hilang ditelan waktu, terkikis oleh rasa nyaman yang Bayu berikan untuk Ary. Selain rasa nyaman bersama Bayu, jauh dari Alex juga membuat rasa cinta Ary luntur bahkan hilang.
Rasa cintanya pada Alex dulu karena terbiasa diperhatikan Alex, bukan berasal dari lubuk hati. Maka dari itu begitu ada yang bisa memberikan rasa nyaman, rasa cinta itu menguap begitu saja. Hal ini bukan karena Ary mudah berpaling, tapi karena rasa cintanya dulu hanya sebuah rasa tidak enak menolak cinta Alex.
Seperti saat ini, jam istirahat pertama. Ary dan Bayu sedang berada di perpustakaan sekolah untuk membahas pelajaran tadi pagi.
"Ini susah banget kak" kata Ary.
"Mana coba lihat?" jawab Bayu.
Ary menggeser bukunya ke arah Bayu agar Bayu bisa melihat pelajaran Ary.
"Ini mah gampang dek. Tinggal dijumlahkan terus dibagi." Bayu menjelaskan cara mengerjakan soal tersebut.
"Nggak tahu, belum ngerti juga." jawab Ary malas.
"Nggak semangat begitu bagaimana bisa paham!" Bayu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ary.
"Ini kan gampang dek, barang yang ada di gudang yang dijual terlebih dahulu. Itu namanya FIFO, Fisrt In First Out. Harga jualnya sesuai data yang ada. Terus yang ini LIFO, Last In First Out. Barang yang terakhir masuk ke gudang dijual terlebih dahulu..."
"Sudah, cukup! Ary sudah paham, sudah ngerti. Makasih ya kak, sudah bantu jelasin ke Ary." Kata Ary.
Bayu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, karena belum selesai menjelaskan sudah dipotong Ary.
"Kalau sudah paham cepetan kerjakan, waktu istirahat sudah mau habis." kata Bayu.
"Gak harus selesai sekarang juga kali kak, besok kok dikumpulkan gak sekarang." jawab Ary.
"Kalau cepat selesai kan lebih baik, Ary. Mumpung masih ingat cepet-cepet dikerjakan biar gak lupa." nasehat Bayu.
"Iya, iyaaa..." teriak Ary.
"Ssstttttt..."
Ary langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan, dia tidak sadar kalau saat ini dia berada di perpustakaan.
"Upss..." Ary nyengir.
"Makanya jangan suka teriak di tempat umum." kata Bayu sambil mengelus kepala Ary.
Bayu biasa mengelus kepala Ary jika sudah gemas dengan tingkah Ary.
__ADS_1
"Sudah cepetan kerjakan soal-soal itu, biar cepat kelar!" perintah Bayu.
Ary mulai fokus mengerjakan soal tersebut dengan semangat.
***
Sementara itu di kantin sekolah, Eno bersama Alex dan Anton sedang menikmati makanannya.
"Eh, Enno! Nampaknya kamu sekarang sudah dilupakan sama Ary, ya?" tanya Anton.
"Nggak ah, cuma tadi katanya dia mau ke perpustakaan. Dia mau belajar lagi, soalnya tadi pas pelajaran ekonomi dia ngantuk. Jadi yang dijelaskan ma guru gak masuk ke otaknya." jelas Eno
"Kemarin juga, Lo ditinggalin sendiri disini. Ary malah pergi sama Bayu. Temen macam apa seperti itu, gak setia kawan banget sih." kata Anton manasi Eno.
"Dasar kompor Loe!" sahut Eno.
"Sirik banget sih, kami sudah biasa kali jalan sendiri sendiri. Kami sudah besar, masak kemana mana mesti bareng." tambah Eno.
"Dulu kan waktu SMP kalian kemana mana selalu bersama, aneh aja tiba tiba sekarang jalan sendiri." kata Alex tiba-tiba.
"Dulu kan masih ABG, sekarang kan sudah lebih dewasa gitu. Sohib itu gak harus selalu lengket kayak perangko, yang penting kan sama sama pengertian." jelas Eno.
"Awal masuk sini kan kalian selalu bersama, kemana mana berdua. Bahkan ke kamar mandi juga berdua. Aneh aja tiba-tiba kok pisah. Jangan-jangan kalian lagi ada masalah ya?" tanya Anton belum percaya sepenuhnya pada Eno.
"Candra ijin pulang, tadi dapat telepon dari rumahnya. Katanya Eyangnya sakit, semua anak cucunya dikumpulkan. Begitu ceritanya." jawab Eno.
"Aku kira jalan sama cowok juga dia." celetuk Anton.
"Iya, semua jalan sama cowok cuma si Eno Lerian penyanyi cilik kita yang gak ada cowoknya disini" ejek Alex sambil tertawa.
"Ih, reseh! Gue ada pacar ya, cowok gue yang paling ganteng diantara kalian semua!" kata Eno percaya diri.
"Jelas ganteng lah, Loe lihatnya pakai sedotan... hahaha..." jawab Anton.
Alex dan Anton tertawa terbahak-bahak melihat Eno yang cemberut aja. Puas rasanya menertawakan Eno. Mereka biasa membully Eno sejak mereka masih duduk di bangku SMP.
Disaat mereka tertawa, bel tanda belajar lagi berbunyi. Mau tidak mau mereka harus mengakhiri candaan mereka.
Mereka bertiga bergegas berjalan menuju kelas mereka. Saat dilorong kelas mereka berpapasan dengan Ary dan Bayu. Bayu awalnya akan mengantarkan Ary ke kelasnya.
"Weehhh.... pasangan romantis lewat." sindir Anton.
"Apaan sih 🙄" jawab Ary.
__ADS_1
"Kak Bayu mendingan langsung ke kelas kakak aja deh, aku ke kelas bareng mereka aja." kata Ary pada Bayu.
"Oke, byee. Assalamualaikum.."
Bayu pun meninggalkan Ary bersama teman-temannya setelah mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Ary dan Eno bersamaan.
"Yuk, jalan! Ntar keburu telat" kata Alex memecah keheningan.
Mereka akhirnya berjalan menuju kelas mereka untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
***
Satu setengah tahun kemudian...
Anak-anak kelas 12 sedang melaksanakan Ujian Nasional untuk kelulusan. Sudah seminggu mereka melaksanakan ujian tersebut, hari ini merupakan hari terakhir siswa kelas 12 melaksanakan Ujian Nasional.
Begitu juga dengan Bayu, dia mengerjakan soal ujian tersebut dengan semangat. Bayu tidak sedikitpun merasa kesulitan dalam mengerjakan soal tersebut.
Bayu yang memang memiliki otak brilian mendapatkan undangan masuk perguruan tinggi STAN tanpa tes. Bayu yang dari awal ingin masuk ke perguruan tinggi tersebut sangat bersyukur karena dia bisa mewujudkan impiannya.
Sebagai rasa syukurnya, dia mengundang teman-teman sekelasnya dan teman dekatnya untuk makan siang bersama di restoran milik keluarganya. Tidak ketinggalan juga Ary dan Eno juga turut diundang oleh Bayu.
"Ary, kita beli baju yuk! Buat acaranya kak Bayu besok Sabtu. Nggak ada bajuku yang baru nih." rengek Eno.
"Nggak harus baju baru juga kali, kalau mau pergi ke acaranya kak Bayu. Apa yang ada aja pakai!" saran Ary.
"Aku kan mau tampil cantik mempesona dan menawan hati setiap hadirin disana." kata Eno sambil mengedipkan mata.
"Dasar lebay Loe!" Ary memukul bahu Eno dengan bukunya.
"Kok lebay sih, wanita manapun pasti pengen tampil cantik mempesona sepanjang masa." hiperbola Eno keluar.
"Cantik mempesona sepanjang masa??? Yang bener aja Loe, mandi aja malas! Cantik mempesona sepanjang masa dari mana??? Dasar!!!" ejek Ary.
"Nggak setia kawan banget sih, bukannya dihibur malah dijelek-jelekkan!" Eno mulai merajuk.
"Cantik itu bukan dari wajah saja, No. Cantik juga bukan dilihat dari penampilannya. Baju bagus dan dandan di salon terkenal buka. ukuran seseorang dipandang cantik. Tapi dari kepribadian, dari tingkah laku kita Enooo!" nasehat Ary.
"Baju kamu kan banyak, tinggal pilih mau model yang seperti apa. Jangan terlalu sering beli baju, mubazir itu namanya." imbuh Ary lagi.
"Ya udah, Loe bantuin milih baju di lemari ya!" jawab Eno.
__ADS_1
Eno akhirnya mau menerima nasehat dari Ary. Mereka mulai membongkar lemari untuk mencari baju yang akan dipakai ke acara Bayu.