Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
51. Droop


__ADS_3

"Bokap gue bilang markonah, kalau nyokap bilangnya oto!" jawab Rendy santai, tetap asik dengan gawainya.


"Tadi markonah, sekarang oto! Mbohlah ra ngerti kabeh aku!" kata Rommy.


(Entahlah nggak tahu semua aku)


"Buahahahaha" Brandon tidak bisa menahan tawanya.


"Loe tau istilah markonah dari mana?" tanya Rommy masih penasaran.


"Kan sudah gue jawab, kalau bokap gue yang sering bilang markonah. Markonah sama oto itu sama!" jelas Rendy kemudian meneguk minumannya.


"Ckk, kasih tau aja Rend! Dari pada nanti dia mati penasaran!" kata Brandon menengahi.


"Jangan bilang loe juga gak tau apa itu markonah!?" kata Rendy.


"Astaga, punya temen begini amat yak!" kata Rendy lagi sambil menepuk jidatnya.


"Makanya kasih tau!" jawab Rommy.


"Markonah itu sama saja dengan dudul, bodoh, oon. Sudah ngerti?" kata Rendy.


"Owalah, ngomong kek dari tadi! Suka banget ngerjain orang!" jawab Rommy.


"Loe aja jadi orang kelewat markonah!" balas Rendy, kembali menegak minumannya sampai habis.


"Gue sudah kenyang! Gue cabut duluan!" lanjut Rendy setelah minumannya habis.


"Kenyang dari mana, masak makan ayam goreng satu sama minum es jeruk segelas bisa kenyang?" kata Brandon.


"Loe mau kemana kok buru-buru?" tanya Rommy.


Akhirnya Rommy dan Brandon mengikuti Rendy keluar dari rumah makan itu. (Rumah makan yang swalayan begitu ambil langsung bayar ya, jangan dibilang mereka makan gak bayar 🤭)


"Woiy Bro! Tunggu dulu kenapa?" teriak Brandon.


"Gue mau modom!" jawab Rendy meninggalkan Rommy dan Brandon.


"Bahasa apalagi modom?" tanya Rommy sambil menggelengkan kepalanya.


"Entahlah, dia emang gitu! Kadang pakai bahasa emaknya, kalau pakai bahasa bapaknya masih ngerti gue!" jawab Brandon.


"Namanya dia dari luar Jawa, biasalah kalau kita nggak ngerti. Kita kan asli Jawa, mana ngerti bahasa luar Jawa." kata Rommy.


Rommy dan Brandon kembali ke ruko tempat usaha mereka yang tidak jauh dari rumah makan itu. Toko yang menyediakan berbagai macam komputer dan suku cadangnya itu mereka kasih nama MBR Com.


***

__ADS_1


Sudah dua bulan berlalu, Rendy masih tetap tidak mau melanjutkan pengobatannya. Bahkan sisa obat yang terakhir kali berobat tidak diminumnya.


Semakin hari badan Rendy semakin kurus, karena kurang asupan gizi selain itu penyakitnya pun semakin parah. Dia selalu berpikir tidak ada yang menyayangi dirinya. Orang tua dan keluarganya tidak ada yang menanyakan keadaannya. Hanya Brandon dan Rommy yang masih mau mengingatkan, tapi tidak satupun omongan kedua temannya itu didengar.


Kerinduannya kepada Ary membuat Rendy semakin terpuruk. Belum pernah dia merasakan cinta yang begitu dalamnya. Rendy merasa cintanya bertepuk sebelah tangan, cintanya tidak berbalas sehingga dia menyiksa dirinya.


"Untuk apa aku hidup kalau tidak ada yang menginginkan aku lagi di dunia ini"


Rendy kembali bersikap dingin kepada siapapun, bahkan teman dekatnya tidak terlepas dari sikap dinginnya.


Suatu hari Rendy berangkat kuliah karena ada ujian akhir semester. Setelah selesai mengerjakan soal ujian Rendy berniat meninggalkan kelas. Tapi baru sampai di pintu dia langsung ambruk tak sadarkan diri.


Teman sekelasnya menjerit melihat Rendy tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri.


"Rendy!!!"


Brandon yang saat itu kebetulan berada di kelas itu, langsung berlari mendekati Rendy.


"Langsung bawa ke rumah sakit aja!" kata dosen yang berada di kelas itu.


Brandon dan beberapa teman laki-laki yang lain mengangkat tubuh Rendy menuju mobilnya.


Brandon langsung melarikan Rendy ke rumah sakit yang biasa menangani Rendy, ditemani Rommy. Sebelumnya Brandon menghubungi Rommy yang berada di kantin kampus.


"Bandal! Sudah tau penyakitan masih sok kuat! Malas makan, malas minum obat, diantar berobat pun gak mau! Dipikir bisa pergi sendiri itu penyakit! Dasar!!!" kata Rommy kesal.


"Gak ada oksigen portabel di tas! Gawat! Anak ini memang, huh!" kata Rommy makin kesal.


Tidak berapa lama mereka sampai ke rumah sakit yang biasa menangani Rendy.


"Sus! Tolong brankar!" teriak Brandon begitu keluar dari mobil.


Beberapa perawat langsung mendekati membawa brankar. Mereka langsung mengangkat Rendy dan membawanya ke UGD.


Brandon dan Rommy diminta menunggu di luar. Brandon berinisiatif menghubungi keluarga Rendy. Dia mulai mengambil ponsel Rendy dan mencari kontak mama Rendy.


"Hallo tante!" kata Brandon begitu panggilan tersambung.


"Assalamualaikum..." kata mama Rendy.


"Wa'alaikum salam warahmatullah, Tan! Tan ini Brandon temen deketnya Rendy." kata Brandon.


"Iya, nak! Ada apa ya?" tanya Mama Rendy.


"Begini Tan, Rendy pingsan di depan kelas saat ujian." Brandon menjeda kata-katanya, dia khawatir mama Rendy syok mendengar berita ini.


"Sudah dibawa ke rumah sakit kan?" tanya Mama Rendy lagi.

__ADS_1


"Sudah Tan, tapi..." jawab Brandon gelisah.


"Tapi kenapa, nak? Cepat katakan!" kata Mama Rendy.


"Tante bisa datang kesini gak, biar aku ceritakan semuanya." Brandon memohon.


"Baik sekarang juga Tante pesan tiket pesawat, Tante titip anak Tante ya, nak!" kata mama Rendy.


"Iya Tan, Tante hati-hati! Assalamualaikum!" Brandon menutup panggilannya.


"Gimana?" tanya Rommy yang mendengar percakapan Brandon dengan mama Rendy.


"Katanya mau langsung datang, kalau langsung dapat tiket nanti sore sudah sampai sini!" jawab Brandon.


"Sumpah! Gue nggak nyangka bakalan jadi kek gini! Nekat banget, gak makan gak minum obat! Padahal sudah kronik paru-parunya." cerocos Rommy.


"Sudah diem!" kata Brandon.


Brandon type orang yang akan diam bila menghadapi suatu masalah. Dia tidak suka keributan, berisik atau bising. Dia lebih suka diam menyendiri di tempat sunyi. Di saat seperti ini dia ingin diam dan tidak diganggu.


Setelah satu jam menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan itu.


"Keluarga pasien atas nama Renaldy Pratama?" tanya dokter yang keluar dari ruangan itu.


"Kami teman dekatnya, Dok! Orang tuanya masih dalam perjalanan!" jawab Brandon.


"Kondisi pasien sangat kritis, jadi dia harus ditempatkan di ICU. Jadi kami mohon salah satu dari kalian untuk menandatangani dokumen, bahwa keluarga menyetujui kami untuk menangani pasien lebih lanjut." jelas dokter itu.


"Siap, Dok! Dimana saya harus tanda tangan?" tanya Brandon.


Brandon langsung mengambil keputusan untuk menyelamatkan nyawa Rendy.


"Lebih cepat ditangani akan lebih baik!" kata Brandon lagi.


"Silahkan mengikuti saya!" kata dokter itu.


Brandon mengikuti doktor itu menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan itu, Brandon langsung menandatangani berkas. Sambil mendengarkan dokter itu menjelaskan kondisi Rendy.


"Lakukan yang terbaik untuk teman saya, Dok!" kata Brandon sambil menyalami tangan dokter itu.


"Saya pasti melakukan yang terbaik untuk pasien saya." jawab dokter itu.


"Terima kasih, Dok!" kata Brandon meninggalkan ruangan itu.


"Hadeehh! Rend... Rend... seperti anak kecil saja kamu!" kata Brandon dalam hati.


"Gimana? Apa kata dokter tentang Rendy?" tanya Rommy khawatir.

__ADS_1


"Sudah loe tenang aja, kita do'akan yang terbaik aja untuk Rendy." jawab Brandon.


__ADS_2