Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
32. Gak Ada Loe Gak Seru


__ADS_3

Sabtu pagi di kediaman Ary, rumah dinas lebih tepatnya. Ary menempati rumah dinas yang disediakan oleh pihak rumah sakit tempatnya mengabdi. Ary mendapatkan rumah dinas dikarenakan pada saat dia mulai bekerja kebetulan ada rumah dinas yang kosong.


Pagi-pagi sekali Ary bersiap-siap untuk berangkat mengunjungi rumah orang tuanya. Seminggu sekali Ary meluangkan waktunya untuk keluarganya.


Ary pulang ke rumah orang tuanya mengendarai sepeda motor lamanya. Sepeda motor kesayangannya yang menemaninya selama mengenyam pendidikan di bangku SMU dan kuliah di kedokteran. Motor itulah yang menghantarkan Ary menjadi seorang dokter.


"Assalamualaikum... Bunda... Aku pulang!" teriak Ary sambil masuk ke dalam rumah melalui pintu samping.


Sebelumnya Ary memarkirkan motornya di teras samping rumah, melepas helm dan jaketnya.


Ary dengan ceria masuk menuju dapur dimana Bunda berada.


Ary langsung memeluk Bunda dari belakang begitu dilihatnya sang Bunda mencuci piring di wastafel.


"Bunda.... Ary kangen banget sama Bunda." kata Ary dengan manja sambil tetap memeluk Bunda.


"Baru juga seminggu nggak pulang, kok koyo sewindu ra ketemu!" jawab Bunda sambil berbalik menghadap ke Ary setelah selesai mencuci piring.


(Kok seperti sewindu nggak ketemu)


Bunda mengelap tangannya kemudian membalas pelukan sang anak tersayang.


"Kamu sudah sarapan belum? Bunda buat nasi goreng kesukaan kamu nih!" kata Bunda sambil berjalan menuju meja makan, kemudian duduk di salah satu kursi disana.


"Wahh... Pasti enak nih, kebetulan Ary belum sarapan. Sengaja mau makan masakan Bunda." kata Ary sambil mengambil nasi goreng. Tapi sebelumnya Ary cucu tangan terlebih dulu.


"Ayah mana, Bund?" tanya Ary sambil mengunyah nasi goreng kesukaannya.


"Ayah sudah ke kios, ada banyak pesanan pelanggan yang akan diambil hari ini." jawab Bunda.


"Ayah sehat kan, Bund? Bunda juga kelihatan sehat saja." Ary.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat!" kata Bunda mengangkat kedua tangannya.


"Mbak Karin nggak kesini, Bund? Ary sudah kangen sama Ryo, pengen main-main sama anak itu." tanya Ary.


"Mbakmu baru kemarin kesini, mungkin beberapa hari lagi dia baru kesini." jawab Bunda.


Mbak Karin akhirnya menikah juga dengan Kak Adit, setelah sekian lama kak Adit menanti. Penuh perjuangan untuk mendapatkan hati mbak Karin. Bertahun lamanya seorang Aditya Mahendra menanti Karina Wihardja menerima cintanya.


***


Sementara itu di rumah sakit tempat Rendy dirawat, Rendy gelisah karena sejak pagi dokter cantik yang ditunggunya tidak kunjung datang.


"Sus, kok dokter yang memeriksa ganti lagi?" tanya Rendy pada suster Annisa yang kebetulan mengecek keadaan pasien.

__ADS_1


"Setiap hari Sabtu dan Minggu serta hari libur nasional, yang memeriksa pasien dokter jaga, Bang. Kalau hari biasa dokter masing-masing pasien, kecuali kalau dinas luar atau sedang cuti maka tugasnya akan dilimpahkan ke dokter lain yang sama kualifikasinya." jelas suster Annisa.


"Terus kenapa dokterku diganti sama Koas?" tanya Rendy lagi.


"Koas??? Yang mana ya, Bang?" suster Annisa balik bertanya karena tidak tahu maksud Rendy.


"Dokter muda itu, siapa namanya ya?" Rendy pura-pura tidak mengingat nama Ary.


"Oh, dokter Ary. Dokter Ary itu memang mahasiswanya dokter Fadli, saat ini sedang menyusun tesis. Dokter Ary itu cerdas, dan juga hasil kerjanya bagus. Sudah diakui kredibilitasnya di rumah sakit ini." jawab suster Annisa.


"Owh, begitu!" Rendy manggut-manggut mendengar penjelasan dari suster Annisa.


"Ada lagi yang bisa saya bantu, Bang?" tanya suster Annisa. Dia harus mengecek pasien yang lainnya juga.


"Sudah! Terima kasih!" jawab Rendy.


"Tumben bilang makasih!" gerutu suster Annisa dalam hati.


Suster Annisa pun meninggalkan ruangan itu melanjutkan tugasnya memeriksa keadaan pasien yang menjadi tugasnya.


Ternyata dia pandai juga, aku pikir hanya modal cantik doang. Heran juga kok bisa dia yang dipercaya untuk merawat gue. Nggak tahunya dia mahasiswa berprestasi. Jadi makin penasaran gue. Rendy bergumam.


"Siang, Boss!" teriak seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan Rendy.


Rendy tersentak kaget, saat dia sedang melamun dikagetkan oleh suara temannya yang datang berkunjung.


"Melamun aja si Boss! Ngelamunin siapa nih?" tanya Romy.


Rommy juga teman dekat Rendy selain Brandon. Hanya saja Rommy jarang keluyuran seperti Brandon dan Rendy. Rommy yang bertugas merakit komputer di usaha Rendy. Jadi mau tidak mau Rommy lebih sibuk ketimbang dengan Rendy dan Brandon.


Usaha yang didirikan Rendy yaitu jual beli komputer, mulai dari yang dirakit pabrik hingga rakitan mereka bertiga. Hanya Rommy lebih serius bekerja, karena dia yang paling susah ekonominya dibanding dengan kedua temannya.


"Ngelamunin siapa sih, Bosku? Nggak biasanya melamun!" tanya Rommy.


"Loe datang ke sini buat apa? Baru ketemu bukannya nanya keadaan atau kabar malah ngeledek! Huh!" kata Rendy sambil meninju lengan Rommy sewaktu Rommy mendekati Rendy.


"Ups! Kelupaan Bos!" jawab Rommy sambil nyengir.


"Cengar-cengir loe, kayak kebo di sawah!" kata Rendy.


"Mooo!" jawab Rommy.


"Sue loe!"


"Hahaha..." mereka berdua tertawa.

__ADS_1


"Cewek mana sih yang udah buat seorang Rendy menjadi galau dan melamun? Biasanya juga do'i yang bikin cewek-cewek galau!" kata Rommy.


"Dia lain Rom, ada yang istimewa dalam dirinya." jawab Rendy.


"Apa sih istimewanya tuh cewek?! Penasaran gue, pengen lihat dia seperti apa!" Rommy penasaran.


"Loe nggak sedang jatuh cinta kan, bos?" tanya Rommy lagi.


"Nggak tahu gue! Cuma senang aja buat dia marah, kalau lihat dia marah pengen cium bawaannya!" jawab Rendy sambil tertawa.


"Hahaha"


"Gila ya loe, bos! Suka banget ngerjain cewek. Kalau nanti malah senjata makan tuan bagaimana, Bos? Nanti malah bos yang kecantol terus jatuh cinta, ditolak pula sama tu cewek kan cari penyakit itu namanya, Bos!" cerocos Rommy.


"Udah?!" tanya Rendy menatap tajam ke arah Rommy.


Rommy yang sudah mengenal Rendy selama ini, hanya bisa diam melihat tatapan mata Rendy. Tatapan mata yang siap membunuh jika Rommy teruskan meledek Rendy.


"Gimana kerja loe, banyak pesanan nggak?" tanya Rendy.


"Untuk barang yang akan diambil besok sudah kelar semua. Tinggal yang mau diambil seminggu lagi belum kelar." jawab Rommy.


"Sengaja sempatin waktu ke sini, mau lihat masih hidup apa sudah mati si Rendy." kelakar Rommy.


"B*ngs*t loe! Do'ain gue cepet mati ya loe! Biar bisa kuasai aset usaha gue, loe! jawab Rendy.


"Bercanda, Bos! Mana berani aku do'ain loe cepet mati, yang ada gue kehilangan guru!" kata Rommy sambil senyum-senyum.


"Guru apaan?" tanya Rendy penasaran.


"Guru mesum!" jawab Rommy.


Tawa mereka langsung pecah begitu keluar jawaban dari mulut Rommy.


"Pergi sana, gue mau tidur!" kata Rendy tiba-tiba menghentikan tawa mereka berdua.


"Kok ngusir sih?! Baru juga datang!" tanya Rommy heran.


"Gue mau tidur, istirahat!" jawab Rendy.


"Alasannya aja tidur, padahal loe mau lanjutin lamunan loe yang tertunda tadi kan?" tebak Rommy.


"Dah, sana loe cabut! Berisik!" jawab Rendy.


"Oke, gue cabut dulu. Jangan lupa dimakan nasinya, diminum obatnya! Jangan kebanyakan melamun loe!" kata Rommy.

__ADS_1


Rommy pun akhirnya meninggalkan Rendy sendirian di ruangan itu. Begitu Rommy keluar ruangan, Rendy membuka HP-nya dan mulai chat.


Hai Cantik, kemana aja hari ini kok nggak visit ke kamar gue? Sibuk liburan yah? Nggak ada loe yang visit ke kamar gue, nggak seru!


__ADS_2