
"Ayo oper ke sini bolanya, Ryo!" kata Ary pada sang keponakan.
Bocah usia 3 th itupun dengan patuh menendang bola ke arah tantenya, Ary. Dan ternyata bola itu meleset, bola itu hanya bergerak beberapa sentimeter dari tempatnya.
"Nggak bisa, ante! Yo capek!' kata bocah itu sambil duduk berjongkok di atas bolanya.
Anak itu tampak putus asa karena bola yang ditendangnya dari tadi hanya bergerak beberapa senti saja dari tempatnya semula.
"Ayo semangat, Yo!" Ary memberi semangat pada keponakannya tersebut.
"Ayo tendang sekali lagi!" Ary masih saja berteriak menyemangati Ryo.
"Dah ah, Yo capek nte!" jawab bocah bernama lengkap Aryo Mahendra tersebut.
"Ya udah, kita istirahat. Cuci tangan, cuci kaki lalu kita makan!" kata Ary sambil mengangkat Ryo untuk diajak masuk ke rumah.
"Kok udahan mainnya?" tanya Bunda ketika Ary dan Ryo sudah keluar dari kamar mandi.
"Ryo sudah capek, Bund! Lagian ini juga sudah siang, sudah panas waktunya masuk ke rumah." jawab Ary.
"Ryo, mau makan apa? Buah apa kue?" tanya Ary sambil menurunkan Ryo dari gendongannya.
Ary tadi pagi setelah selesai sarapan menghubungi mbak Karin agar datang ke rumah membawa Ryo. Mbak Karin pun datang membawa dan kemudian meninggalkan Ryo di rumah itu. Akhirnya jadilah Ary bisa bermain bersama sang keponakan.
"Yo, mau apen (apel)! Nte, potongin!" kata Ryo sambil mengambil sebuah apel merah dan diberikan kepada Ary.
Ary mengambil apel dari tangan Ryo kemudian mengupas dan memotong apel tersebut menjadi kecil-kecil.
"Tara.... silahkan dimakan tuan muda!" kata Ary menyerahkan sepiring apel merah pada Ryo.
"Eyang boleh minta nggak nih?" tanya Bunda pada cucu kesayangannya.
"Boyeh eyang." jawab Ryo.
"Makasih sayangnya eyang." kata Bunda sambil mencomot sepotong apel kemudian meninggalkan mereka. Bunda mau mengantarkan makan siang Ayah.
"Bunda berangkat dulu ya, assalamualaikum" pamit Bunda.
"Iya Bund, hati-hati di jalan ya. Wa'alaikumsalam." jawab Ary.
"Good Ryo! Ryo nggak boleh pelit ya, kalau pelit. Kenapa hayo?" Ary.
__ADS_1
"Kayo peyit, kubuyannya hempit." jawab Ryo celat.
(Kalau pelit, kuburannya sempit)
"Anak pinter!" kata Ary sambil mengacungkan kedua jempolnya.
"Yo udah kenyang ante, Yo mau bobok." kata Ryo setelah selesai makan apel.
"Oke ganteng! Sekarang kita bobok di kamar Tante cantik." jawab Ary sambil menggendong Ryo menuju kamarnya.
Ary pun menidurkan Ryo. Setelah Ryo tidur Ary mengecek HP-nya. Ada notif WhatsApp masuk dari nomor tidak dikenal. Dia hanya membuka dan membacanya saja.
"Hai Cantik, kemana aja hari ini kok nggak visit ke kamar gue? Sibuk liburan yah? Nggak ada loe yang visit ke kamar gue, nggak seru!"
"Siapa sih?! Iseng banget deh." gumam Ary.
"Hmm, gue hubungi Eno aja! Mana tahu dia juga lagi sendirian sama kayak gue." Ary ngomong sendiri karena temannya di rumah hanya Ryo, Ryo sudah tidur.
Ary pun menghubungi Eno. Kebetulan Eno juga lagi suntuk, jadinya Eno setuju untuk datang ke rumah Ary.
"Assalamualaikum!" teriak Eno begitu sampai di rumah Ary.
"Loe males banget sih keluar rumah? Gosong jadinya kan kulit gue?! Panas banget tahu di luar!" cerocos Eno.
"Nah minum dulu, biar adem." Ary menyerahkan segelas jus mangga pada Eno.
"Kita ngobrol disini aja, biar nggak ganggu tidur Ryo." kata Ary sambil menghidupkan TV di ruang keluarga.
"Serah loe deh, yang penting ada cemilannya. Biar enak ngerumpinya!" jawab Eno sekenanya.
"Loe nggak piket, kok pulang pagi." tanya Eno.
"Nggak, gue piket jaga Minggu lalu." jawab Ary.
"Eh, Ar! Gue ada berita bagus nih, mau tahu nggak?" tanya Eno.
"Berita opo? Sudah dapat gantinya Ronald?" tanya Ary sambil tersenyum mengejek.
"Gue masih belum bisa move on dari dia. Gue trauma. Dah, jangan bahas dia lagi! Kalau bahas dia terus yang ada gue makin susah move on." jawab Eno sedih.
"Iya deh iyaaa! Terus berita apaan?" Ary penasaran.
__ADS_1
"Janji ma gue dulu! Janji loe nggak sedih apalagi sampai mewek!" jawab Ary.
"Apaan? Cepetan cerita, jangan bikin gue mati penasaran!" perintah Ary.
"Seminggu yang lalu, gue ketemu Alex di Mall "X". Dia makin ganteng tahu, keren. Apalagi dia gendong baby, lucu banget baby-nya." Eno memulai ceritanya.
"Terus???" tanya Ary sambil mengambil sebuah bantal dan diletakkan di pangkuannya.
"Ada cewek cantik juga yang mengapit lengannya. Awalnya gue nggak yakin itu dia, tapi karena penasaran gue samperin aja dia. Eeehh, ternyata beneran dia. Soalnya pas gue pura-pura lewat didepannya, dia panggil gue. Jadi kami ngobrol bareng, dia kenalin bininya ke gue." Eno menjeda ceritanya dengan menenggak minumnya tadi.
"Kata dia, dia nikah sudah setahun lebih. Bininya orang seberang, guys! Busyet dia loe putusin dapat ganti yang lebih seksi dan cantik. Sudah punya anak lagi." cerita Eno penuh semangat.
Ary yang mendengar cerita Eno, tiba-tiba tersedak ludah sendiri. Mendengar berita itu seperti ada yang hilang dalam dirinya. Ary diam saja mendengar cerita Eno tentang Alex yang sudah menikah dan memiliki seorang anak.
"Katanya sih, Alex nggak lama disini, Selasa kemarin dia balik ke Singapura lagi. Pas gue tanya kenapa buru-buru balik ke seberang, jawabnya belum siap ketemu sama loe! Gila kan tuh orang?" Eno tetap melanjutkan ceritanya tanpa memperhatikan raut wajah Ary.
Selama ini Ary tidak mau mengatakan bagaimana perasaannya terhadap Alex. Dia berusaha untuk menepis perasaan yang hadir di hatinya. Dia selalu berpikiran mengejar cita-cita itu yang utama, dia mengabaikan perasaannya.
Dia berharap dengan belajar giat dan dapat meraih mimpinya, akan bisa menghilangkan rasa yang tumbuh di hatinya. Tapi ternyata rasa itu tidak hilang, rasa cinta itu masih ada. Dia selalu berpikir tanaman yang tidak dirawat akan mati dengan sendirinya, begitu pula dengan cintanya.
Selama ini Ary selalu menggunakan pikiran, tanpa mau melibatkan perasaan. Dan, akhirnya dia kehilangan orang yang dicintainya dalam diam.
"Ar! Ary! Woi Ary!" Eno memanggil nama Ary berulang-ulang sambil mengguncang tubuh Ary.
"Loe melamun?" tanya Eno.
"Ehh, ada apa?" tanya Ary.
"Loe jangan sedih! Gue tahu kok, kalau loe sebenarnya cinta sama Alex. Tapi loe nggak mau mengaku. Loe kenapa nggak jujur aja sih dari awal. Kan jadi begini deh akhirnya!" kata Eno ikut sedih melihat Ary yang diam saja sejak tadi.
"Cinta kan tidak harus memiliki Eno, sama kayak loe sama Ronald..." Ary tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Iya, gue ngerti kok. Gue jadi trauma buat pacaran lagi. Gue takut diselingkuhi lagi. Awalnya gue cuma iseng aja ma Ronald, akhirnya gue beneran cinta ke dia. Dan... dan dia selingkuh di depan mata gue!" Eno menangis mengingat Ronald mantan pacarnya sejak SMA.
Dulu Eno pernah menaruh hati pada Alex, tapi seiring berjalannya waktu dia bisa mencintai pacarnya yang bernama Ronald.
"Jangan nangiss No! Ntar hilang cantiknya lho! Nggak lagi cantik mempesona sepanjang masa dong!" kata Ary menghibur Eno.
"Kenapa sih, nasib kita bisa sama. Sama-sama mencintai cowok beda agama, sama-sama tidak bisa memiliki mereka." kata Eno melo.
"Begitulah cinta deritanya tiada akhirnya..." kata Ary sambil tertawa, dan Eno pun ikut tertawa.
__ADS_1