Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
15. Backstreet


__ADS_3

Dari kejauhan Bayu melihat Alex dan Ary yang baru jadian. Selama ini dia menahan diri untuk tidak menyatakan perasaannya pada Ary. Bayu berpikir bahwa Ary belum siap untuk pacaran, dia ingin menjaga perasaan Ary. Ternyata Ary menerima cinta Alex, Bayu merasa sakit hati.


"Aku tidak boleh marah, tidak boleh sakit hati. Kalau Ary bahagia dengannya aku pun akan ikut bahagia. Melihat senyummu saja aku sudah bahagia. Tapi kalau dia membuat Ary menangis, akan aku rebut Ary darinya." kata Bayu dalam hati.


Sementara itu Ary, menjelaskan ke Alex bahwa dia tidak mau bersentuhan kulit dengan lawan jenis.


"Siapa pun itu aku tidak mau bersentuhan kulit, kecuali keluarga kandungku dan suamiku." tegas Ary. Ary tidak menyebut kata mahram dan muhrim di depan Alex, karena Ary tahu pasti Alex tidak tahu maksudnya.


"Iya, aku tahu kok. Keluarga kamu kan kuat ajaran agamanya. Jadi aku gak maksa buat sentuh kamu. Terima kasih sudah mau menerima cintaku. Terima kasih sudah mau jadi pacarku." Alex kembali duduk ke kursinya.


"Masak pacaran gak pegang tangan, gak ada ciuman. Mana ada, baru tahu ini gue." kata Enno.


"Kalau masih pengen pegang tangan ma ciuman, mending gak usah. Silahkan mundur. Aku gak apa-apa kok." jawab Ary.


"Jangan marah, sayang. Aku mau kok gak ada kontak fisik ma kamu. Asal kamu mau tetap jadi pacarku." Alex mencoba merayu Ary, dia takut diputuskan Ary karena kata-kata Enno tadi.


"Loe jangan ikut campur. Ini urusan gue ma cewek gue, loe diem aja." Alex memarahi Enno.


"Satu lagi, kamu jangan datang lagi ke rumah ini kalau tidak ada yang penting. Aku gak mau ayah bunda tahu dulu." Ary menambahkan satu syarat lagi pada Alex.


"Tidak apa-apa kok, kan kita bisa ketemu tiap hari di sekolah. Kita kan satu kelas, jadi kita bisa bersama-sama lebih dari lima jam." jawab Alex.


"Betul nih, lima jam cukup? Kalau libur sekolah gimana hayo? Kan gak boleh nyamperin ke rumah. Iya kan, Ar?" Enno memanas-manasi. Dasar kompor, bisanya cuma bikin panas aja.


Setelah berdebat lama, akhirnya Alex pamit pulang. Karena orang tua Ary akan pulang dari rumah budhe - nya Ary. Alex harus segera pergi atau akan ketahuan orang tua Ary kalau mereka sekarang pacaran.


"Akhirnya jadian juga, makan-makannya mana?" tagih Enno.


"Enak aja minta makan-makan, noh minta sama Alex. Sudah seneng kan, sukses jadi mak comblang." kata Ary


"Gue seneng banget tahu, akhirnya sahabat gue gak jomblo lagi."


"Udah ah, lapar gue. Habis makan langsung tidur. Mata gue tinggal lima watt lagi." Ary mengakhiri percakapan mereka.


"Apa lauknya? Kalau enak gue mau makan yang banyak." Enno yang dipikirkan selalu makan dan hang out bareng teman-temannya.


"Aku mau masak mie instan, campur sayuran hijau dari belakang rumah. Loe mau, No?" kata Ary, kakinya melangkah menuju dapur untuk masak mie instan.

__ADS_1


"Gak ada yang lain apa? Masak gue dikasih mie instan." tanya Enno mendekati Ary


"Ada, tapi masih mentah. Mau??? Kalau loe mau, masak sendiri! Loe ambil aja bahannya di kulkas." Ary jengkel karena Enno menolak mie instan yang mau dimasaknya.


"Gue masak??? Hellow, apa kabar dunia! Enno anaknya bapak Mundarman, turun ke dapur buat masak???"


"Oh, no. Big No!!!" teriak Enno.


"Kenapa loe? Habis obat loe? Teriak kayak Tarzan aja, ini rumah bukan hutan?" kata Ary


"Kita makan di luar aja, yuk! Masak Enno yang cantik jelita terparipurna gini, makan mie instan. Masak sendiri lagi. Ogah gue mah, bagusan gue makan di luar." Enno tetap ngotot tidak mau makan mie instan.


"Heleh!!! Jadi orang jangan sombong, jangan lihat atas terus! Nanti nyungsep baru tahu rasa." Ary menasehati Enno


"Udah ayok! Cepetan keburu kelaparan gue!" Enno masih membujuk Ary agar mau makan di luar.


Mereka terus saja berdebat mau makan apa dan dimana makannya. Saking seriusnya berdebat, mereka sampai tidak mendengar kedatangan kedua orang tua Ary


"Assalamualaikum..." sapa bunda yang tiba-tiba sudah berada di belakang Ary dan Enno.


"Wa'alaikum salam, eh bunda! Sudah pulang, cepat?" jawab Ary. Ary kaget karena tiba-tiba bunda sudah masuk ke dalam rumah.


"Ayah langsung ke kamar, mau istirahat. Capek katanya, maklum sudah berumur." jawab bunda lembut sambil mengelus kepala Ary.


"Ayah sama bunda sudah makan?" tanya Ary.


"Sudah, kalian sudah makan?" bunda balik nanya.


"Belum!" jawab Ary dan Enno kompak.


"Kenapa kalian berantem? Sampai ayah sama bunda masuk tidak tahu." kata bunda, beliau meletakkan makanan ke atas meja.


"Ini si Enno bun, gak mau makan mie. Mau makan di luar aja katanya." jawab Ary.


"Ini bunda bawa rendang sama sup kesukaan kamu. Buruan makan, mumpung masih anget supnya." kata bunda.


"Makasih bunda, sayang bunda." kata Ary.

__ADS_1


"Bunda memang te oo pe be ge te!" kata Enno sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Sudah, sudah. Kalian makan dulu, merayu bunda nanti saja." jawab bunda. Bunda pun pergi meninggalkan mereka menuju kamar


Akhirnya Ary tidak jadi masak mie instan. Mereka makan nasi dengan lauk yang dibawa bunda dari Jogja. Karena terlambat makan, mereka makan dengan lahap, seperti orang kelaparan berhari-hari tidak makan.


***


Alex sepulang dari rumah Ary langsung mengajak Anton dan Dheny pergi ke Jimbung. Alex ingin merayakan keberhasilannya memenangkan hati Ary. Sesuai janjinya tadi malam, dia mengajak kedua sahabatnya makan-makan di warung apung.


"Wah, selamat, nyet! Akhirnya jadian juga lho sama Ary." Dheny menepuk pundak Alex yang sedang menyetir mobil.


"Gak sia-sia gue, Dhen. Selama ini selalu mendekatkan mereka. Mendengarkan curhat Alex yang galau. Pokoke, selamat!! Semoga langgeng sampai pelaminan." kata Anton.


"Sebelah mana nih, yang enak biasanya warung no berapa?" tanya Alex.


"Yang mana aja bisa, yang penting makan sepuasnya. Iya nggak, Dhen?" jawab Anton.


Alex menepikan mobilnya, dia memilih warung yang sedikit pengunjungnya. Agar bebas memilih tempat duduk dan juga ingin tempat parkir yang luas.


Mereka bertiga turun dari mobil, kemudian menaiki gethek untuk menyeberang sampai ke warung makan tujuan.


Setelah memesan makanan, mereka bertiga pun mengambil pancing yang tergeletak di dipinggir tempat duduk mereka. Mereka mulai memasang umpan pada mata kail pancing.


"Eh, gerak nih. Pasti dapat ini, gue!" kata Anton tiba-tiba.


"Strike!" teriak Dheny. Umpannya dimakan seekor ikan nila yang cukup besar.


"Wah, pinter loe, Dhen! Pinter mancing ikan, tapi gak bisa mancing cewek." teriak Alex yang duduk agak jauh dari Dheny dan Anton.


"Hahaha..." tawa lepas dari mulut Alex dan Anton.


"Loe sudah strike belum, nyet?" tanya Dheny pada Alex, karena dari tadi Alex tenang saja.


"Gak dapat, gue! Ini yang tinggal makan aja ada, ngapain capek-capek mancing." Alex menjawab dengan santainya.


"Alex mah mancing cewek, nyuk! Kalau loe, mancing ikan bisanya." jawab Anton mendekati meja, karena pesanan sudah datang.

__ADS_1


"Sama kayak loe!" kata Alex meninju bahu Anton.


Warung apung Rowo Jombor memang terkenal dengan kuliner serba ikannya. Kita bisa makan sambil memancing ikan disana. Ikan hasil pancingan kita, bisa diolah ditempat atau bisa juga dibawa pulang mentah.


__ADS_2