Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
30. Dr. Aryanti Wihardja, Sp.PD.


__ADS_3

Tujuh tahun sudah berlalu, sekarang Ary sudah menyandang gelar dokter spesialis penyakit dalam. Dengan kecerdasan otaknya, Ary mampu mendapatkan gelar dokter spesialis. Bahkan sekarang dia sudah menjadi PNS di sebuah rumah sakit milik pemerintah di Jogjakarta.


Ary tidak pernah mendengar kabar dari Alex, sejak Alex meninggalkan Indonesia tidak pernah sekalipun terdengar kabarnya oleh Ary. Anton dan Eno sebagai sahabat Ary pun tidak mau membagi informasi mengenai Alex.


Walaupun tidak pernah bertukar kabar, Ary tidak pernah melupakan kebaikan Alex. Ary tetap menjalani harinya dengan ceria seperti biasanya.


"Selamat siang, Dok! Pasien dokter Fadli kondisinya mengalami penurunan, Dok." kata seorang perawat begitu melihat Ary datang ke bangsal perawatan.


Ada seorang pasien dengan riwayat bronkitis kronik yang dititipkan oleh dokter senior pada Ary. Dokter tersebut harus mengambil cuti karena ada acara bersama keluarga selama sepuluh hari.


"Kenapa bisa menurun kondisinya, bukankah kemarin sudah membaik?" tanya Ary.


"Iya, Dok. Dia tidak mau meminum obatnya sudah beberapa hari ini, makanya kondisinya mengalami penurunan." jawab perawat yang ber-tag name Annisa.


Ary yang mendengar penjelasan dari perawat tersebut hanya menggeleng kepala saja. Penyakit paru-paru jika berhenti mengkonsumsi obat sebelum dinyatakan sembuh, maka harus mengulang lagi pengobatan dari awal. Obat itu harus rutin diminum, dan pengobatan tidak boleh dihentikan tanpa persetujuan dari dokter.


"Ada-ada saja! Tunjukkan dimana kamarnya, Sus!" kata Ary sambil berjalan mengikuti perawat itu, menuju kamar rawat inap pasien yang bandel tersebut.


Perawat itu berjalan mendahului Ary untuk menunjukkan ruangan dimana pasien bandel itu dirawat.


"Sudah berapa lama dia dirawat disini, Sus?" tanya Ary.


"Sudah dua Minggu, Dok." jawab suster Annisa.


"Sudah bosan hidup sepertinya dia, Sus" kelakar Art sambil tersenyum. Dia tidak habis pikir ternyata ada pasien yang mogok minum obat, padahal sudah tahu keadaannya seperti apa.


"Katanya sih, bosan setiap hari minum obat, Dok." jawab Annisa sambil tersenyum.


Akhirnya mereka sampai ke ruang rawat pasien dokter Fadli. Pasien itu bernama Renaldy Alif Pratama dengan usia 21th. Status mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta.


"Selamat siang, dek..." sapa Ary begitu memasuki ruangan itu. Ary menggantung kalimatnya karena tidak tahu siapa nama pasien tersebut.

__ADS_1


"Renaldy Pratama, Dok." kata suster Annisa.


"Aldy, bagaimana hari ini, ada keluhan?" tanya Ary mendekati Renaldy yang terbaring.


Alif yang melihat kedatangan Ary, hanya menatap malas ke arah Ary. Tapi begitu Ary mendekatinya, dia mengamati wajah Ary. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang berbeda.


"Abang! Panggil gue Abang!"


"Atau bisa panggil gue Rendy" kata Alif tiba-tiba, tapi pandangan matanya masih tertuju pada HP kesayangannya..


Ary hanya tersenyum mendengar kata yang diucapkan oleh Rendy. Sewaktu Ary masuk ke ruangan itu tadi, Rendy menunjukkan rasa tidak sukanya dengan asik main HP.


"Abang?! Oh, pasti kamu anak cowok pertama di keluarga kamu." tebak Ary.


"Sok tahu! Loe siapa berani ganggu gue?"


"Loe kesini mau ngapain? Mau periksa gue apa bahas masalah pribadi gue?" kata Rendy dengan ketus.


"Ini dokter yang menggantikan dokter Fadli untuk sementara, Abang" kata suster Annisa dengan ramah.


"Kenalkan saya dokter Ary, saya yang akan merawat Abang selama dokter Fadli cuti." kata Ary dengan tersenyum sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Alif.


Alif tidak mau menerima uluran tangan Ary, dia tetap acuh dan memainkan game di HP-nya.


"Apa keluhan Abang hari ini" tanya Ary.


Rendy diam saja tidak menjawab pertanyaan Ary. Dia tetap pada posisinya, tidak mau bergerak sama sekali


"Bagaimana saya mau periksa Abang, kalau Abang tidak mau jawab pertanyaan saya tadi?" kata Ary dengan suara selembut mungkin, menahan emosi.


Ary sudah biasa menghadapi pasien yang seperti Rendy. Hanya kesabaran yang bisa menghadapi sifat pasien seperti dia.

__ADS_1


"Gue mau mati aja! Nggak usah urus gue!" jawab Rendy sambil kembali memainkan game di HP-nya.


"Lho kok?" Ary masih mencoba berinteraksi dengan Rendy


"Loe cuma mahasiswa yang masih belajar sama dokter senior, gak usah sok pinter deh!" ketus Rendy.


Rendy masih beranggapan bahwa Ary masih seorang koas. Ary hanya diam saja, tidak mau menanggapi kata-kata Rendy. Mana ada yang percaya jika di usianya yang masih muda sudah mendapatkan gelar dokter spesialis. Dan saat ini Ary kuliah lagi untuk mendapatkan gelar dokter spesialis paru, kebetulan dosennya dokter Fadli.


Ary kemudian mengalihkan pandangannya ke suster Annisa, dia memberi kode pada suster Annisa untuk meninggalkan mereka berdua. Suster Annisa menangkap pesan isyarat dari Ary langsung meninggalkan tempat itu.


"Kenapa pengen mati aja? Sia-sia dong pengobatan kamu selama ini. Kasihan orang tuamu yang mengusahakan kesembuhan untuk kamu. Kalau kamu mati nanti pacar kamu pasti cari cowok lain lho." kata Ary dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibirnya.


"Orang tuaku bakalan senang karena nggak ada lagi yang perlu diurusnya, nggak ada lagi yang mengganggu kesibukan mereka. Pacar? Mana ada cewek yang mau sama gue, penyakitan begini." jawab Rendy tetap melanjutkan game-nya.


Ary yang melihat tingkah Rendy hanya menggelengkan kepalanya, dia harus ekstra sabar menghadapi pasiennya yang satu ini. Sudah dewasa tapi kelakuannya seperti anak kecil.


"Masak sih nggak ada? Nggak percaya aku, nggak yakin seorang pemuda ganteng yang kuliah di Universitas ternama nggak ada yang mau. Nggak ada orang tua yang keberatan mengurus anak-anaknya. Mereka pasti sangat kehilangan jika anaknya meninggalkan mereka." jawab Ary.


"Nggak percaya ya sudah! Keluar dari kamarku!" usir Rendy.


"Nggak usah diusir, nanti saya keluar sendiri kalau sudah selesai. Saya kesini kan bertugas memeriksa keadaan pasien. Kalau saya tidak memeriksa kamu, berarti saya tidak menjalankan tugas dengan baik." jawab Ary.


Ary kemudian memakai stetoskopnya, dia mulai memeriksa keadaan Rendy. Ary juga mengecek suhu tubuh dan tensi darah Rendy. Kemudian mencatatnya dibuku pasien.


Selama diperiksa, Rendy diam-diam mengamati wajah Ary dan memberi penilaian terhadap Ary.


"Cantik dan menarik!' batin Rendy.


Jiwa petualang seorang f*uck boy Rendy tertantang untuk menaklukkan seorang Ary. Rendy tidak tahu jika Ary lima tahun lebih tua darinya. Wajah Ary yang cantik alami tanpa polesan make up, terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya.


"Oke, Abang! Sudah selesai diperiksa. Jangan lupa minum obatnya ya, kurangi main HP. Perbanyak istirahat, istirahat yang cukup akan membantu kamu lebih cepat sembuh." nasehat Ary.

__ADS_1


"Apa peduli loe! Memangnya loe sapa gue?" Rendy sengaja memancing emosi Ary.


"Saya dokter yang ditugaskan untuk merawat kamu. Kalau kamu tidak kunjung sembuh, itu akan menurunkan nilai prestasi saya sebagai seorang dokter. Itu berarti saya gagal!" jawab Ary.


__ADS_2