Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
45. Dinner


__ADS_3

"Assalamualaikum... Bunda! Bunda, Ary pulang!" teriak Ary sambil mengetuk pintu rumahnya.


Ary barusan tiba di rumahnya, rumah itu tampak sepi. Tidak ada tanda-tanda akan adanya penghuni.


"Pasti Bunda sudah pergi ke kios deh!" gumam Ary, sambil mencari kunci rumah di bawah pot bunga.


"Dimana sih Bunda naruh kuncinya? Kok disini gak ada, disini pun gak ada juga. Huh, gara-gara kelamaan di rumah kak Bayu tadi!" gerutu Ary.


"Astaghfirullah, kok aku jadi nyalahin orang lain sih." kata Ary begitu tersadar dari kesalahannya.


Setelah lama mencari kunci rumah tidak kunjung didapat, Ary pun duduk di kursi yang ada di teras rumah. Ary mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Bunda.


"Assalamualaikum, Bund!" sapa Ary begitu panggilan tersambung.


"Wa'alaikum salam, iya. Ada apa?" jawab Bunda Widya.


"Bunda dimana sih, kunci rumah kok gak ada di tempat biasanya?" tanya Ary.


"Kunci rumah Bunda bawa, Bunda cuma sebentar. Ini juga sudah putar balik, lima menit lagi Bunda sampai rumah." jawab Bunda.


"Ya udah deh kalau gitu, hati-hati di jalan ya. Assalamualaikum!" Ary menutup panggilannya.


Sambil menunggu kedatangan Bunda, Ary membuka galery foto. Ada foto Alex yang sedang menggendong anak kecil berusia sekitar 1 tahunan. Foto itu dikirim Eno, beberapa bulan yang lalu. Ingin rasanya menghapus foto itu, tapi Ary merasa berat.


Tidak lama kemudian datang Bunda bersama mbak Karin serta Ryo, anak mbak Karin.


"Ante!!!" teriak Ryo sambil berlari ke arah Ary, begitu keluar dari mobil.


"Hai, Boy!" kata Ary sambil berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Ryo.


Ary langsung menangkap badan Ryo dan menggendongnya. Kemudian berdiri hendak berjalan mendekati Bunda dan mbak Karin.


"Assalamualaikum!'' sapa Ary sambil mencium tangan Bunda dan mbak Karin bergantian.


"Kenapa sampai siang baru nyampai?" tanya Bunda.


"Tadi Ary singgah dulu ke rumah kak Bayu, periksa kesehatan ibu Marinah." jawab Ary sambil mengikuti Bunda masuk ke dalam rumah.


"Lho, belum sembuh juga beliau?" tanya mbak Karin.


"Sebenarnya sudah membaik, tapi maunya kak Bayu seminggu sekali Ary disuruh nge cek kesehatan beliau." jawab Ary sambil menurunkan Ryo dari gendongannya.


"Ryo, tadi dari mana?" tanya Ary pada keponakannya.

__ADS_1


"Habis dali pasal beli sayul ma buah." jawab Ryo.


"Ihhh, sudah besar masih cadel sih!" kata Ary tertawa mendengar bahasa Ryo.


"Lidahnya pendek, dek! Makanya cadel, ayahnya kan dulu katanya sampai umur enam tahun masih cadel. Jadi wajar lah, kalau anaknya juga cadel." jelas Karin. Banyak yang sering tanya hal serupa, kenapa di usianya yang hampir empat tahun kok masih cadel.


"Kalau setiap hari bahasa kita biasa aja, nggak usah ikut cadel lama-lama pasti bisa lancar kok!" kata Ary.


Ary meninggalkan kakak dan keponakannya hendak masuk ke kamarnya.


"Ary ke kamar dulu ya, nyimpan tas!" kata Ary sambil berjalan menuju ke kamarnya.


"Iya, istirahat dulu sana! Capek kan habis perjalanan jauh." jawab mbak Karin.


"Nggak jauh kok, cuma sejam perjalanan aja!" jawab Ary sambil teriak, karena sudah sampai di pintu kamarnya.


Begitu masuk kamarnya, ada notif pesan masuk. Sebuah pesan dari pasien tengil.


"Assalamualaikum sayang 😘"


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" jawab Ary batinnya.


Seperti biasa, Ary malas untuk membalas pesan. Jadi, setelah membaca pesan itu HP-nya diletakkan ke atas meja nakas. Kemudian ditinggal ke kamar mandi.


"Ckk, gak diangkat! Tadi cuma di-read, ini ditelpon gak mau angkat!'' gerutu Rendy.


***


Sore hari setelah sholat Ashar Ary keluar dari kamar menuju teras belakang rumah. Di belakang rumah Ary banyak tanaman rindang dan sayuran. Kalau suntuk Ary suka duduk-duduk di belakang rumah, menikmati semilir angin sore hari.


Di teras belakang sudah ada Bunda dan mbak Karin serta Ryo. Mereka bertiga sedang duduk santai sambil menikmati rujak buah yang dipetik langsung dari pohon. Di halaman belakang terdapat pohon jambu, mangga , rambutan dan alpukat. Saat ini pohon mangga dan jambu sedang berbuah, jadi mereka membuat rujak.


"Bun, ada yang mau Ary omongin nih!" kata Ary sambil bergabung dengan mereka.


"Yo, tahan makan rujaknya? Nggak pedas ya?" tanya Ary sambil mengambil sepotong mangga kemudian mencocol ke sambel.


"Enak Ante, manis!" jawab Ryo.


"Wuihhh, Tante minta dong! Boleh?" tanya Ary.


"Boyeh, nih!" jawab Ryo sambil menyerahkan piring berisi rujak manis miliknya.


"Hmm, iya manis! Makasih sayang!" kata Ary.

__ADS_1


"Mau ngomong apa sih?" tanya Bunda.


"Ary mau minta ijin, nanti malam mau keluar. Diajak makan malam di luar sama kak Bayu." kata Ary.


"Cieee, yang mau malam mingguan! Adek mbak udah besar ya, sudah mau keluar malam nih." ledek mbak Karin.


"Nggak mungkin Ary tolak terus,mbak! Sudah sering Ary menolak diajak keluar malam Minggu. Sekali-kali kan nggak apa-apa dong, mengiyakan. Nggak enak menolak terus terusan." jawab Ary sambil menikmati rujak jambu dan mangga.


"Iya, Bunda ijinkan tapi pulangnya jangan malam-malam! Pandai-pandailah menjaga diri." jawab Bunda.


"Makasih Bunda! Sayang Bunda." kata Ary sambil memeluk tangan Bunda.


Sementara itu Bayu sedang menyiapkan apa yang akan dibawanya nanti malam. Bahkan dia bingung mau pakai baju yang mana, maklum ini kencan pertama Bayu. Bayu ingin menyatakan perasaannya pada Ary. Perasaan yang dipendam selama kurang lebih 9 tahun lamanya. Perasaan yang bersemi ketika pertama melihat Ary berada di sekolah yang sama.


Bayu yang terbiasa menghadapi masyarakat umum dan beberapa perusahaan, kini harus menghadapi Ary. Perempuan yang memiliki tingkat kepekaan yang rendah. Terbukti selama ini Ary tetap cuek aja. Ary memang selalu menutup hatinya, dan dia tidak mau tahu jika ada yang mencoba mendekatinya.


Setelah Isya' Bayu menjemput Ary di rumahnya. Saat Bayu sampai di rumah Ary, Ary sudah sangat rapi, tetap seperti biasa tidak ada make up di wajah cantiknya. Ini salah satunya yang membuat Bayu tidak bisa berpaling dari Ary. Kecantikan alami.


"Ayah, Bunda. Kami pamit ya, maaf saya bawa Ary keluar. Saya janji jam sepuluh malam, Ary sudah sampai rumah." Bayu meminta ijin pada Ayah dan Bunda.


"Iya, hati-hati di jalan." jawab ayah dan bunda kompak.


Bayu membawa Ary ke sebuah rumah makan yang biasa digunakan anak muda untuk pacaran. Sebelumnya Bayu sudah memesan tempat untuk mereka berdua.


Begitu mereka sampai langsung menempati ruangan yang terpisah dengan yang lainnya. Hanya disinari cahaya lilin yang melingkari meja makan dan sebuah lilin berada di atas meja.Ary merasa heran kenapa dibawa ke tempat seperti ini.


"Nggak salah ini, Kak?" tanya Ary sambil memperhatikan sekeliling ruangan itu.


"Tidak! Tadi siang sudah aku booking, sudah ayo duduk!" ajak Bayu sambil menarik kursi untuk diduduki Ary.


Ary pun duduk setelah Bayu menarik kursi untuknya. Setelah Ary duduk, Bayu kemudian berjalan mengitari meja untuk duduk di seberang Ary. Mengambil posisi tepat di depan Ary.


"Mau pesan apa?" tanya Bayu sambil menyerahkan daftar menu pada Ary.


"Masakan handalan disini apa? Ary terserah kak Bayu aja deh! Boleh?" Ary balik bertanya.


"Ok! Aku yang pesan ya." kata Bayu.


Bayu pun memanggil seorang waitress kemudian memesan beberapa makanan dan minuman.


***Maaf bila ceritanya tidak sesuai dengan keinginan para readers semua🙏🙏🙏


Terima kasih atas dukungan para readers kesayangan 🤗🤗🤗😘😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2