
"Assalamualaikum... Selamat pagi masa depan aku"
Ary tersenyum membaca pesan dari pasien tengilnya. Ya, pesan tersebut dikirim oleh Rendy. Tepatnya Renaldy Pratama, yang sudah beberapa bulan ini menjadi pasiennya.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh. Selamat pagi juga."
Begitulah kira-kira isi balasan yang Ary kirim.
Di seberang sana, Rendy bersama teman-temannya tertawa bahagia karena chat Rendy akhirnya dibalas. Karena sepanjang sejarah mereka kenal, baru kali itu Ary mau membalas chat.
Rendy riang gembira tak terkira, akhirnya dari sekian banyak chat yang dia kirim berbalas. Dia tidak menyangka sama sekali akan dibalas pesannya. Dia hanya ingin menyapa Ary saja, karena dengan seringnya dia menyapa Ary tidak akan pernah melupakannya.
Rendy percaya dengan pepatah Jawa "witing tresna jalaran seka kulina". Dengan menyapa Ary setiap hari, suatu saat nanti pasti ada rasa cinta yang tumbuh.
Setelah membalas pesan itu, Ary mulai fokus kerja. Dia memasuki ruang prakteknya dan mulai memeriksa satu persatu pasiennya.
SKIP
Beberapa jam kemudian, Ary selesai praktek. Dia berencana pulang cepat untuk mempersiapkan semua keperluannya selama di tempat dinas yang baru. Dia juga harus mengabari kedua orang tuanya, kalau dia ditugaskan keluar kota selama tiga bulan.
Sore harinya dia pergi ke klinik seperti biasanya. Karena dia praktek di klinik setiap hari Senin sampai Jum'at, kecuali tidak ada yang jaga klinik. Dia akan bertugas menjaga klinik.
***
Dua hari kemudian...
Waktu keberangkatan pun tiba, Ary harus pergi keluar kota untuk menjalankan tugas dari rumah sakit. Dia ditugaskan untuk mengawasi pembangunan rumah sakit di daerah terpencil. Karena daerah itu belum ada rumah sakit, sehingga angka kematian di daerah itu tinggi. Untuk menekan itu, pemerintah pusat mendirikan sebuah rumah sakit dengan fasilitas lengkap.
"Selamat jalan ya, semoga sukses selalu!" kata Mira teman Ary sambil memeluk Ary.
"Aamiin. Kamu jaga klinik hati-hati, jangan sering tinggalkan klinik. Kalau gak ada yang jaga klinik pasien kabur. Sia-sia dong usaha kita selama ini perjuangin itu klinik." pesan Ary.
Selama ini Ary lah yang sering tugas jaga klinik dibandingkan dengan kedua teman sejawatnya.
"Kan ada Zaky yang bantu jaga klinik. Kamu jangan lama-lama disana, cepet pulang!" kata Mira.
"Maunya kamu! Aku gak bisa cepat pulang, aku harus selesaikan tugasku baru bisa pulang. Do'akan cepat kelar urusan disana, biar cepat pulang. Bisa urus klinik sama-sama." jawab Ary.
Ary berangkat menuju tempat tugasnya diantar mobil dinas rumah sakit. Semua sudah difasilitasi oleh rumah sakit tempatnya mengabdi.
"Kalau kamu lama disana, gimana sama pasien yang kamu titipkan ke aku? Nanti dia kecarian, kehilangan kamu. Kenapa gak pamitan sih sama dia?" tanya Mira.
__ADS_1
"Ingat jangan kasih tahu dimana aku ditugaskan! Bilang aja keluar kota, mungkin susah sinyal disana. Kalau kamu mau hubungi aku gak bisa, kamu telepon aja rumah sakitnya." pesan Ary sambil masuk ke dalam mobil.
Ary sudah ditunggu seorang sopir yang akan mengantarkannya ke Kulonprogo.
"Aku pergi dulu ya, ingat pesanku!" kata Ary sebelum menutup pintu mobil.
"Iya, iya! Aku ingat kok semua pesan kamu!" jawab Mira.
"Assalamualaikum..." ucap Ary sambil melambaikan tangannya.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh." jawab Mira juga melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
***
Sudah beberapa hari Rendy tidak bertemu Ary, hari ini jadwal dia check up kesehatan. Rendy sangat bersemangat untuk pergi ke rumah sakit. Dia berdandan semaksimal mungkin, agar Ary mau melihatnya.
Dengan langkah kaki yang mantap, Rendy menuju ruang tunggu pasien setelah mendaftar terlebih dahulu. Begitu sampai di ruang tunggu, sudah banyak pasien yang mengantri untuk diperiksa.
Saat sudah sampai pada gilirannya untuk diperiksa. Rendy merapikan bajunya kemudian masuk ke ruang periksa.
"Assalamualaikum sa..." ucap Rendy menggantung.
Betapa kagetnya Rendy karena tidak mendapati Ary di ruangan itu. Melainkan dokter Fadli, dokter yang menanganinya sebelum Ary.
"Kok dokter Fadli yang praktek, dokter Ary kemana, Dok?" tanya Rendy untuk menutupi rasa kagetnya.
Dalam hati Rendy bertanya-tanya kemana dokter pujaan hatinya, kenapa digantikan dengan dokter Fadli tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Dokter Ary dinas keluar kota selama tiga bulan. Jadi selama itu saya yang menggantikan dia disini. Kemungkinan juga menggantikan dia di kliniknya, menunggu kepastian dari pemilik klinik tempatnya praktek selama ini." jelas dokter Fadli.
Dokter Fadli sudah tahu kalau pasiennya yang satu ini mengidolakan yuniornya. Tidak hanya dokter Fadli saja, bahkan beberapa perawat di rumah sakit itu pun mengetahuinya.
"Kok, lama banget dinas luar kotanya? Biasanya kan paling lama sebulan, itu pun karena mengikuti pelatihan. Apa dokter Ary sedang mengikuti pelatihan, Dok?" tanya Rendy penasaran.
"Dokter Ary tidak mengikuti pelatihan tapi sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan rumah sakit di daerah tertinggal. Dia ketua tim-nya, jadi beban tanggung jawab dia berat." jelas dokter Fadli.
Rendy terdiam karena Ary tidak mengatakan apapun sebelum pergi. Begitu tidak pentingkah dirinya bagi Ary, sehingga Ary tidak mau pamitan padanya.
"Hmm, Dok! Di tempat Ary, maaf dokter Ary yang baru, tidak ada jaringan kah?" tanya Rendy ragu.
"Memang disana masih susah jaringan, tapi kalau PLN sudah ada. Hanya saja tempatnya susah dijangkau, karena masih minim pembangunan." jawab dokter Fadli.
__ADS_1
"Kalau berkirim pesan gimana, Dok? Kan susah komunikasi kalau seperti itu. Kalau ada kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani bisa fatal akibatnya." kata Rendy.
"Ya begitulah, kami disana memakai double cabin untuk akses kendaraan. Karena hanya itu yang bisa gerak cepat medan perjalanan yang belum dibangun." jawab dokter Fadli.
"Oke, sudah selesai. Sudah mulai berkurang kotoran di paru-parunya tapi baru sedikit berkurang, lanjutkan gaya hidup yang sekarang. Agar cepat bersih total, sehingga tidak kambuh lagi. Saya tuliskan resep seperti biasanya, tolong tetap rutin diminum obatnya." nasehat dokter Fadli.
"Baik, Dok! Terima kasih." jawab Rendy sambil berdiri menyalami tangan dokter Fadli sebelum meninggalkan ruangan itu.
Rendy meninggalkan ruang periksa menuju ke apotik untuk mengambil obatnya. Selama menunggu obatnya diracik, Rendy berusaha menghubungi Ary. Tapi sudah berulang kali, panggilannya selalu diluar jangkauan.
"Tadi malam dia masih membalas pesanku, malah meledekku. Sekarang sudah tidak bisa dihubungi, huffttt!" gerutu Rendy.
**Flash back on**
Rendy iseng mengirim pesan pada Ary, karena sudah beberapa hari ini dia mengirim pesan selalu dibalas walaupun hanya singkat.
"Assalamualaikum, selamat malam." Rendy.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh. Malam juga!" balas Ary.
"Belum tidur??? Sudah malam, cepetan tidur biar besok ketemu fresh mukanya. Biar makin cantik!ππ" Rendy.
"Memangnya selama ini aku gak cantik?πππ" balas Ary lagi.
"Bukan gak cantik, selalu cantik kok. Tapi lebih tampak cantik lagi kalau wajahnya fresh, gak ada kantong hitam dibawah mata.βΊοΈβΊοΈ" Rendy mencoba meredam emosi Ary.
"Yakin, besok bisa ketemu? Kalau gak bisa ketemu gimana?π€" Ary.
"Kenapa gak bisa ketemu? Kamu gak mau ketemu sama aku? Kamu marah ya karena aku salah ngomong, eh salah ketik kata." Rendy.
"Siapa juga yang marah? Rugi tau, nambah dosaku kalau marah. Lagian kalau suka marah kelihatan tua, kek kamuπ€£π€£π€π€" Ary
"Uuppsss!!! SorryβοΈβοΈβοΈ" Ary.
"Sekarang aku sudah gak marah-marah lagi kokβΊοΈ" Rendy.
"Kan sekarang, besok belum ketahuan π€" Ary.
"Sudah malam nih, aku bobok dulu ya. Takut bangun kesiangan. Assalamualaikum πππ" Ary.
"Oke, good night have a nice dream. Wa'alaikum salam.πππ" Rendy.
__ADS_1
**Flash back off**