Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
42. Lunch


__ADS_3

"Assalamualaikum..." sapa Ary pada deringan pertama. Dia mengangkat panggilan itu karena sebelumnya Bayu sudah mengirim pesan, kalau Bayu akan menelepon Ary.


Tadi sewaktu Ary pulang dari klinik, ada pesan masuk dari Bayu. Ary pulang sudah malam, karena pasiennya banyak hari ini.


"Wa'alaikum salam... Sudah sampai rumah, dek?" tanya Bayu dari seberang telepon.


"Sudah kak, setengah jam yang lalu. Makanya aku kirim pesan tadi, kakak ini basa basi! Basi tau!" jawab Ary sambil mencari posisi enak untuk telepon.


"Hmm, besok siang kamu sibuk nggak?" tanya Bayu.


"Itu yang nggak bisa dipastikan, kak! Semua tergantung pasien, semakin banyak pasien yang berobat semakin sibuk. Kalau tiba-tiba ada salah satu pasienku harus rawat inap, atau tiba-tiba pasienku masuk ICU. Maka aku akan sibuk mengurus mereka. Jadi, aku nggak tau besok sibuk apa nggak. Do'akan aja besok semua orang sehat." kata Ary menjelaskan.


"Besok makan siang bareng yuk!" ajak Bayu.


"Aku nggak bisa janji, kak! Karena aku ini pelayan dan pasien adalah raja. Maka aku akan lebih prioritas ke pasien, jadi kalau nggak ada pasien bisa. Tapi kalau banyak pasienku saat itu, mohon pengertiannya." jawab Ary.


"Oke, besok aku datang ya ke rumah sakit! Enaknya aku jemput kamu jam berapa?" tanya Bayu.


"Iya, kak! Kalau banyak pasienku, kakak makan sendiri ya!" kata Ary.


"Aku tunggu kamu sampai selesai aja." jawab Bayu.


"Memang kak Bayu nggak kerja, kok mau nungguin sampai selesai?" tanya Ary.


"Aku cuti 12 hari karena Ibu sakit." jawab Bayu.


"Oh, oke! Sampai jumpa besok ya, kak. Maaf kak, aku sudah ngantuk!" kata Ary sambil nyengir.


"Oke, see you! Have a nice dream." jawab Bayu


"Assalamualaikum" Ary menutup telepon tanpa menunggu Bayu menjawab salamnya.


Ary pun mulai memejamkan matanya menuju pulau mimpi.


***


Keesokan harinya, Ary kembali beraktivitas seperti biasanya. Bangun tidur mandi, sholat Subuh ngaji sebentar kemudian jogging keliling komplek. Setelah itu buat sarapan, mandi berangkat ke rumah sakit.

__ADS_1


Pasien hari lumayan banyak, karena dokter Fadli cuti. Semua pasien dokter Fadli kembali dilimpahkan pada Ary. Hanya saja hari ini tidak se melelahkan kemarin. Tanpa ada pasien yang rewel minta didahulukan, membuat Ary tenang bekerja.


Hingga jam sudah menunjukkan pukul satu siang, masih ada pasien yang belum diperiksa Ary. Padahal Ary sudah membuat janji untuk makan siang bersama Bayu.


Ary sebenarnya ingin menolaknya, tapi Bayu bersikeras untuk menunggu sampai Ary selesai praktek. Tadi Bayu sudah menghubungi, kalau dia akan menunggu Ary di taman dekat parkiran rumah sakit.


Ary merasa tidak nyaman bekerja jika ada seseorang yang menunggunya. Karena dia tidak ingin menunggu ataupun ditunggu.


Akhirnya setelah jam hampir mendekati pukul dua, Ary selesai praktek. Pasiennya sudah diperiksa semua. Ary meninggalkan ruangannya menuju taman dekat parkiran sesuai janjinya tadi.


Dari kejauhan tampak Bayu sedang duduk di bangku taman. Ary berjalan mendekati Bayu.


"Maaf ya, kak! Lama banget ya nunggunya? Maaf ya!" kata Ary sambil mendekati Bayu.


"Nggak apa-apa kok, tenang aja! Kebetulan juga nggak ada acara kok." kata Bayu menenangkan.


Bayu duduk menghadap Ary, tapi sebelah tangannya dia letakkan ke belakang. Ya, Bayu membawa buket bunga mawar dan lili kesukaan Ary. Bayu sengaja membawa buket bunga hanya untuk mendapatkan hati seorang dokter cantik yang cerdas. Siapa lagi kalau bukan Ary, cinta pertamanya sejak SMU.


"Kita makan dimana nih, di kantin rumah sakit atau rumah makan yang di seberang jalan itu?" tanya Ary.


Karena dari tadi Ary hanya berdiri, Bayu pun bangkit dari duduknya. Bayu menyerahkan buket bunga yang dibawanya tadi pada Ary.


Ary terdiam, dia ragu-ragu untuk menerimanya.


"Ini nggak ada maksud apa-apa kan, kak?" tanya Ary curiga.


"Kalau memberi sesuatu itu harus ada maksud gitu ya?" Bayu balik bertanya pada Ary.


"Nggak juga sih, kan ini bukan hari ulang tahunku. Nggak ada yang istimewa juga hari ini. Heran aja!" kata Ary sambil mengedikkan bahunya.


"Ambil ya! Pegel tangan aku nungguin kamu ambil nih buket!" kata Bayu.


Ary mengambil buket bunga itu dari tangan Bayu, seraya mengucapkan terima kasih.


"Kita makan di rumah makan seberang jalan itu aja, ya?!" kata Bayu.


"Dimana aja lah, kak. Yang penting nyaman!" jawab Ary sambil tersenyum.

__ADS_1


Mereka berjalan kaki menuju rumah makan. Karena kedua orang itu sama-sama suka bergerak. Selain itu juga sengaja agar memiliki waktu lebih lama untuk mengobrol.


Saat mereka memasuki rumah makan, ada seseorang yang memperhatikan keduanya. Ary membawa bunganya di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya membelai bunga, serta mencium aroma bunga kesukaannya itu.


Ary dan Bayu memilih tempat duduk lesehan yang bersekat, karena lebih santai dan tidak bergabung dengan pengunjung lainnya.


"Ary mau makan apa?" tanya Bayu sambil melihat daftar menu.


"Apa ya, ikan aja lah kak." jawab Ary.


"Nggak mau coba yang lain?" tanya Bayu. Kemudian Bayu memesan ikan bakar dan menu andalan di rumah makan tersebut.


"Kok semua dipesan sih?" tanya Ary.


Perlakuan Bayu dari dulu tidak berubah terhadap Ary. Rasa sayang yang tulus kepada Ary, membuat Bayu selalu sabar menghadapi Ary.


Ary yang lama mengenal Bayu pun tidak menutupi sifat aslinya yang manja. Karena sudah terbiasa dengan perlakuan Bayu yang ngemong.


"Biar kamu puas makan, kamu pasti sudah lapar banget. Ini sudah lewat jam makan siang lho!" jawab Bayu tersenyum.


"Mana habis, kak! Banyak banget lho!" kata Ary.


"Masak nggak habis? Habis perang pasti makannya banyak! Kayak dulu waktu habis latihan soal, pasti makannya banyak." kata Bayu sambil mengenang masa sekolah dulu.


"Ih, kakak ini daya ingatnya jempol!" kata Ary sambil mengacungkan jempolnya.


Bayu yang melihat tingkah Ary hanya tertawa kecil. Ary-nya ternyata berubah, masih manja seperti dulu. Bayu pun berharap Ary tetap seperti dulu, belum ada pacar.


Ary dan Bayu selalu tertawa selama berada di rumah makan itu. Entah apa saja yang mereka obrolkan, sesama PNS beda bidang itu tampak asik bercanda. Bayu di bidang perpajakan, sedangkan Ary di bidang kesehatan.


Seseorang yang memperhatikan sejak tadi merasa jealous. Karena selama ini yang dia tahu Ary itu cewek yang dingin dan cuek. Ary tidak pernah sedikitpun menanggapi semua ulahnya.


Ya, seseorang itu Rendy yang saat itu kebetulan ada janji dengan ceweknya yang lain. Tapi cewek itu tidak muncul sampai Ary dan Bayu datang. Bukannya bertemu dengan cewek seksinya, malah melihat pemandangan yang menyakitkan hati.


"Huh, sok jual mahal! Padahal dia sama aja ma yang lainnya. Pakai jaim di depan gue lagi!" gerutu Rendy.


Rendy merasa kesal sekali, kesal yang berlipat-lipat. Si seksi tidak datang malah melihat Ary berjalan dengan cowok lain.

__ADS_1


"Lihat aja, gue pasti bisa dapetin loe!" kata Rendy sambil mengepalkan tangannya.


__ADS_2