Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
25. (Masih) Di Acara Syukuran Bayu


__ADS_3

Semua tamu undangan adalah teman sekelas Bayu dan teman teman di Organisasi OSIS SMU Negeri Pembina. Ary sengaja meminta Bayu untuk mengundang Eno, untuk teman ngobrol dan teman sewaktu di perjalanan.


Karena Bayu menginginkan Ary datang, maka dia pun juga mengundang Eno. Bayu takut kalau Ary tidak mau datang ke acaranya. Bayu sangat mengharapkan kehadiran Ary.


Saat semua tamu undangan menikmati hidangan, tiba-tiba terdengar suara Ibu Marinah dari atas pentas. Pentas yang sengaja dibuat sebagai salah satu fasilitas untuk para pengunjung restoran yang ingin mendengar musik secara life.


"Assalamualaikum... Selamat datang untuk semua tamu undangan. Mohon perhatiannya, Ibu mau mengganggu sebentar ya. Ibu hanya mau mengenalkan calon mantu ibu. Biar semua kenal sama calon mantu ibu."


Kemudian ibu berjalan mendekati sebuah meja kasir, dimana ada beberapa karyawan restoran tersebut.


"Kenalkan ini calon mantu ibu, namanya Yuni Kurniati. Dia teman Bayu sejak kecil, dimana ada Bayu disitu juga ada Yuni." Ibu menarik tangan Yuni menuju pentas.


Yuni yang sejak awal menaruh hati pada Bayu pun menjadi berbunga-bunga. Dia tidak menyangka sama sekali akan dipilih Ibu Marinah sebagai calon menantu.


Berbeda dengan Bayu, dia merasa terkejut dengan pengumuman ibunya. Dia tidak menyangka akan dijodohkan dengan teman semasa kecilnya.


Beda lagi dengan Ary, Ary yang mendengar pengumuman tersebut langsung berdiri menyalami Bayu dan mengucapkan selamat berbahagia.


"Selamat ya kak, semoga langgeng dan bahagia selalu sampai rambut memutih. Turut bahagia untukmu kak."


Bayu hanya diam saja mendapat ucapan selamat dari Ary. Semua teman Bayu yang semeja juga mulai berdiri ingin mengucapkan selamat kepada Bayu, tapi melihat raut muka Bayu mereka urung.


Setelah mengucapkan selamat kepada Bayu, Ary menghampiri Yuni.


"Selamat ya kak. Maaf gak bawa kado, karena tidak tahu." kata Ary sambil menyalami tangan Yuni dengan wajah yang ceria.


Bayu merasa syok sekali. Dia tidak menyangka kalau ibunya akan mengacaukan acara bahagianya.


"Ibu kenapa sih? Kan Bayu pernah bilang belum memikirkan pernikahan. Bayu mau sekolah dulu yang tinggi, biar bisa buat Almarhum Bapak dan Ibu bangga memiliki anak seperti Bayu." Bayu mencoba membujuk ibunya agar berhenti menjodohkannya.


"Kalian kan gak harus menikah sekarang, nanti kalau sudah lulus kuliah kalian baru menikah. Sing penting ditengeri ndhisik, ben podho ngerti yen wes duwe. Sekarang kalian tunangan dulu!" jawab Ibu Marinah.


(Yang penting dikasih tanda dulu, biar orang tahu kalau sudah punya pasangan.)


Bayu mengguyar rambutnya ke belakang, pertanda dia frustasi dengan pemikiran ibunya.

__ADS_1


"Tapi Bu..."


"Nggak ada tapi-tapi an, wes pokoke nurut ae karo Ibu!" ibu langsung memotong kata-kata Bayu, sambil berjalan meninggalkan Bayu dengan kebingungannya.


(Sudah, nurut aja sama Ibu)


Bayu bingung tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi dia mencintai Ary, di sisi lain dia sangat menghormati dan menyayangi ibunya.


Padahal Bayu sudah mempersiapkan semuanya dengan matang.


Bayu ingin menyatakan perasaannya pada Ary, tidak tahu nya sudah didahului ibunya mengumumkan pertunangannya dengan Yuni.


Tidak sedikitpun ada rasa tertariknya pada Yuni. Walaupun Yuni teman bermainnya saat kecil, dia sudah menganggap Yuni seperti saudara sendiri.


"Bu, kalau memang Bayu gak mau gak usah dilanjutkan acara tunangannya. Takutnya nanti dia mempengaruhi prestasinya. Kuliah di STAN itu gak gampang lho, Bu." kata Yuni sambil memegang tangan ibu.


"Wes tho menengo bae! Ra sah melu-melu'' bentak ibu Marinah.


(Sudah diam aja kamu! Gak usah ikut-ikutan.)


"Ayo silakan lanjutkan makannya ya, jangan sungkan-sungkan. Anggap saja sebagai rumah sendiri. Sambil makan, Ibu mau memasangkan cincin di jari manis Yuni."


"Tunggu, Bu. Bayu nggak setuju, Bayu mau fokus sekolah dulu." kata Bayu tiba-tiba menyela perkataan ibunya.


"Bu, aku mau fokus kuliah dulu, aku belum mau menjalin hubungan dengan siapa pun. Jadi harap maklum dan pengertiannya." Bayu menjelaskan alasan penolakannya pada Yuni.


"Lagian selama ini Yuni sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Tidak mungkin aku menikah dengan adikku.' imbuh Bayu.


Tampak raut wajah kecewa Yuni, ternyata cintanya selama ini bertepuk sebelah tangan. Bayu tidak sedikitpun melihatnya sebagai seorang perempuan.


"Oke! Kalau kamu tidak mau tunangan dengan Yuni dengan alasan ingin kuliah dulu, kamu tidak boleh menjalin hubungan dengan siapa pun. Dengan wanita manapun juga! Kamu hanya boleh menjalin hubungan dengan Yuni. Jika kamu ketahuan menjalin hubungan selain dengan Yuni, maka ibu akan mencoret nama kamu sebagai ahli waris. Ingat itu baik baik!"


Ibu Marinah murka sekali karena Bayu tidak mau mengikuti kemauannya.


Setelah mengancam Bayu, Ibu Marinah meninggalkan tempat itu. Melihat ibu Marinah meninggalkan tempat tersebut, Yuni mengikutinya.

__ADS_1


Sementara itu di meja dimana Ary dan kawan-kawan Bayu berada.


"Wuuuiihhh... Gue kira tadi Bayu mau menembak Loe, Ar. Ehh, gak tahunya malah ada kejutan yang betul-betul membuat orang syok." kata Wasis.


"Sepertinya itu bukan kemauan Bayu deh, kemauan ibunya Bayu. Terlihat dari wajah si Bay, dari tadi ditekuk mulu." kata Rina.


"Kami hanya berteman saja kok, sama seperti kalian." jawab Ary.


"Teman biasa kok selalu bersama, seperti Mimin lan Mintuno." kata Wasis.


"Ary dilarang pacaran sama orang tuanya, takut terjadi hal yang tidak diinginkan." celetuk Eno tiba-tiba sambil menahan tawa.


"Jaman sekarang gak pacaran? Yang bener aja!" kata Rina.


"Takut terjadi fitnah! Lagian masih anak-anak ini, fokus belajar dulu." jawab Ary dengan entengnya.


"Anak-anak??? Sudah bangkotan kali, bau tanah! Pakai ngaku masih anak-anak segala!" kata Rina.


Wasis dan Rina kalau berkata memang kasar, tapi sebenarnya hati mereka baik. Hanya saja mereka suka meledek teman sampai kelewat batas.


"Kita ini usia remaja, bukan lagi anak-anak. Bukan tua juga! Kalian kalau ngomong suka ngaco!" kata Amelia menengahi perdebatan mereka.


"Aduuhhh, Bu guru ikut nimbrung. Sudah bubar aja, lanjut makan lagi. Sayang kalau gak dimakan, mubazir!" kata Wasis.


Akhirnya mereka melanjutkan makan yang sempat tertunda karena asik membahas hal yang tidak berfaedah tadi.


Bayu pun kembali menghampiri meja Ary. Dia ingin menjelaskan pada Ary bahwa tadi itu diluar rencananya. Tapi begitu sampai di mejanya, kursi sudah penuh.


Kursi yang didudukinya tadi sudah dipakai Eno. Bayu kemudian mengambil kursi lagi untuknya. Bayu tahu, Eno sama Ary pasti ingin duduk berdekatan.


"Maaf ya teman-teman, tadi ada insiden sedikit. Semua itu diluar rencanaku. Aku aja kaget waktu ibu mengumumkan itu." kata Bayu mencoba tenang.


"Santai Bro! Jangan terlalu dipikirin, ntar Loe sakit. Malah gak jadi berangkat ke asrama. Kan Loe yang rugi." kata Wasis.


"Kak Bayu makan aja dulu"

__ADS_1


__ADS_2