Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
48. Surat Perintah Tugas


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa like dulu ya🙏🙏🙏


"Ary sudah tahu sejak awal kenal kak Bayu. Awalnya Ary penasaran karena Ary merasa pernah bertemu sebelumnya. Ternyata bertemu dengan fotokopian." kata Ary mencairkan suasana.


"Kenapa kamu diam saja, Ary?" tanya Bayu.


"Karena Ary belum yakin sepenuhnya. Waktu Ary kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, kak Bayu pernah datang menjenguk. Dari situ awal kecurigaan Ary. Ayah bilang kok mirip Sofyan ya?" jawab Ary.


"Dari perkataan Ayah, Ary jadi ingat om Sofyan. Om Sofyan versi tua, sedangkan kak Bayu versi muda." lanjut Ary sambil tertawa.


"Iya memang, Bayu itu fotokopian almarhum bapaknya." sahut ibu Marinah.


"Kenapa kalian merahasiakan semua ini dariku?!" tanya Bayu.


"Kalau kalian cerita dari awal, aku nggak akan memupuk rasa cinta ini. Aku akan menguburnya dalam-dalam sebelum tumbuh dengan subur. Aku sudah terlanjur cinta, sudah terlalu dalam rasa ini. Tiba-tiba harus aku pendam, harus aku kubur, harus aku buang... Aaahhhhhh!!!!" kata Bayu penuh kekecewaan mengguyar rambutnya ke belakang.


"Ibu tahu kalau kalian bersaudara saat acara syukuran kelulusan kamu. Ary diantar orang tuanya, ibu merasa kenal dengan mereka. Ibu perhatikan lagi dan memang betul kalau ibunya Ary adalah mbak Widya." jelas ibu Marinah.


"Ibu minta maaf, Ibu hanya tidak ingin kamu terluka karena tidak diharapkan." kata ibu Marinah sambil menunduk karena menahan tangisnya.


"Ibu, ibu tidak salah. Ibu tidak perlu minta maaf. Seharusnya Ary sejak awal bertanya tentang asal usul kak Bayu. Ary terlalu cuek, Ary tidak mau tahu urusan orang lain. Jadinya begini deh, kalau saja Ary lebih peduli mungkin kejadiannya tidak seperti ini." kata Ary menenangkan ibu Marinah.


Ary tidak tega melihat ibu Marinah menangis karena disalahkan oleh Bayu. Seharusnya Bayu bisa menahan emosinya. Selama ini Bayu tampak sabar menghadapi Ary, jadi Ary pun berpikir Bayu juga akan sabar menghadapi ibunya. Ary tahu Bayu sangat memuliakan perempuan, jadi dia terkejut melihat Bayu emosi menghadapi ibunya.


"Kak, Bayu sayang kan sama Ibu? Seharusnya kak Bayu bisa mengerti keadaan ibu, seharusnya kak Bayu tidak menyalahkan ibu. Semua sudah menjadi garis hidup kak Bayu, ikhlas atau pun tidak. Kak Bayu harus ikhlas menjalani semua ini." nasehat Ary.


Walaupun Ary anak bungsu dan manja, tapi dia selalu diajarkan kebaikan oleh kedua orang tuanya. Selain ajaran orang tuanya, Ary biasa bergaul dengan semua kalangan. Jadi tidak heran dia semakin bijaksana. Ary menjadi lebih dewasa dalam mengambil sikap dan keputusan.


Bayu yang mendengar nasehat Ary, menjadi lebih tenang. Dia mulai bisa menerima kenyataan bahwa Ary adalah saudara sepupunya, masih ada hubungan darah dengannya. Meskipun berat dia harus membuang perasaan itu.


"Ary pamit dulu, sudah siang. Takutnya Ayah dan Bunda cemas menunggu kedatangan Ary." pamit Ary sambil berdiri dari tempat duduknya.


Ary menyalami tangan ibu Marinah kemudian memeluknya. Giliran Bayu, Ary sudah berani menyalami tangan Bayu lebih lama.


"Boleh peluk gak?" tanya Bayu.

__ADS_1


Ary terdiam, ragu-ragu antara iya atau tidak. Ibu yang melihat keraguan Ary mulai berdiri diantara keduanya.


"Ingat!!! Kalian saudara, jangan berpikiran macam-macam ya kamu, Bay!" kata ibu Marinah.


"Untuk pertama dan terakhir kalinya, Bu." kata Bayu membujuk ibunya.


"Iya, boleh! Tapi bentar aja ya?'' jawab Ary sambil tertawa.


Akhirnya Ary dan Bayu saling berpelukan di depan ibu Marinah. Setelah berpelukan dengan Bayu, Ary meninggalkan rumah Bayu.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Ary berangkat ke Jogja untuk bekerja. Seperti biasa, dia selalu mengendarai sepeda motor kesayangannya ke rumah sakit tempat dia mengabdi.


Sesampainya di rumah sakit, banyak pegawai disana yang menyapanya. Ary seorang dokter yang sangat dikenal di rumah sakit itu, karena tangan dinginnya. Selain itu dia juga dokter yang ramah pada semua orang, dan sabar menghadapi pasiennya.


Sesaat setelah Ary memasuki ruangannya, datanglah seorang perawat perempuan menemui Ary.


"Pagi, Dok!" sapa perawat tersebut setelah mengetuk pintu.


"Pagi, ada yang bisa dibantu?" jawab Ary.


"Penting ya? Baiklah kalau begitu, saya akan menghadap beliau." jawab Ary sambil tersenyum.


Perawat itu meninggalkan ruangan Ary. Setelah perawat tadi meninggalkan ruangan, Ary segera menyusulnya. Sebelumnya Ary menyimpan tasnya terlebih dahulu.


Ary mengetuk pintu ruangan kepala rumah sakit tempat dia mengabdi. Dokter Rahmat adalah kepala rumah sakit dimana Ary mengabdi.


"Assalamualaikum, pagi pagi pak." sapa Ary begitu dipersembahkan masuk oleh dokter Rahmat.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh, pagi. Silahkan duduk!" jawab dokter Rahmat.


Ary duduk di depan meja kerja dokter Rahmat.


"Kamu tahu kenapa kamu saya panggil kemari?" tanya dokter Rahmat setelah Ary duduk.

__ADS_1


"Saya tidak tahu, Pak!'' jawab Ary.


"Dua hari lagi kamu berangkat ke Kabupaten Kulonprogo. Disana akan dibangun sebuah rumah sakit khusus penyakit dalam. Berdasarkan hasil rapat Minggu lalu di Kala, kamu terpilih sebagai wakil dari rumah sakit ini." jelas dokter Rahmat.


"Maaf Pak, bukannya saya menolak. Tapi masih banyak dokter senior di rumah sakit ini. Kenapa saya yang ditunjuk, bukan doktor lainnya?" tanya Ary.


"Tenang, kamu tidak sendirian. Ada dua dokter lagi yang akan bersama kamu nanti. Satu dari rumah sakit Panti Rapih dan satunya lagi dari rumah sakit Cipto Mangunkusumo." jawab dokter Rahmat.


"Bukan itu, Pak! Maksud saya, kenapa harus saya yang mewakili dari rumah sakit ini. Bukan dokter yang lainnya." kata Ary. Dia berat menjalankan tugas tersebut.


"Kamu mendapatkan kesempatan bagus jangan dibuang. Belum tentu kamu akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi."


"Baik, Pak! Kalau nanti ada yang tidak terima kalau saya yang mewakili, saya akan mundur." jawab Ary.


"Ini surat perintah tugas kamu. Selamat!" kata dokter Rahmat sambil menyalami tangan Ary.


"Terima kasih, Pak." jawab Ary sambil berdiri hendak meninggalkan ruangan itu setelah bersalaman dengan dokter Rahmat.


Ary meninggalkan ruangan itu dan kembali ke ruangannya.


"Hufftt... Kenapa mendadak begini? Aku kan belum ada persiapan, masak sih dua hari lagi harus berangkat? Aku kan belum minta ijin sama Ayah dan Bunda." monolog Ary.


Ary membaca surat perintah tugas tadi, disitu tertulis berapa lama dia harus bertanggung jawab atas pembangunan rumah sakit di kota tujuan.


"Whaatttt!!! Paling cepat tiga bulan, gimana aku mau minta ijin sama mereka?" Ary cemas memikirkan tugas yang baru saja didapatnya.


Ary baru saja kembali ke Jogja, tidak mungkin dia kembali pulang ke rumah orangtuanya. Apalagi banyak yang harus dipersiapkan untuk keluar kota nantinya. Dia merasa tidak sopan jika berpamitan melalui telepon.


Dibacanya berulang kali surat tersebut, tapi tetap sama. Bahwa dia ditugaskan di sebuah desa yang terpencil dengan masa tugas paling cepat tiga bulan.


Disaat kegundahan melanda, tiba-tiba HP berbunyi. Ada notif pesan masuk. Ary membuka pesan tersebut.


"Assalamualaikum... Selamat pagi masa depan aku."


***Maaf telat up lagi, karena Ilham kagak mau ikut pulang 🤭🤭🤭

__ADS_1


Happy Reading readers kesayanganku 😘😘😘


Jangan bosan menunggu up ya, soalnya up kalau waktu luangnya. Terima kasih atas dukungan kalian, tanpa kalian aku bukan apa-apa🤗🤗🤗🤗 ***


__ADS_2