
Malam harinya setelah makan malam, Ary dan Enno sedang asyik bercengkrama di kamar Ary.
๐ต Suasana di kota santri
asyik senangkan hati
suasana di kota santri
asyik senangkan hati
tiap pagi dan sore hari
muda mudi berbusana rapi
menyandang kitab suci
hilir mudik silih berganti
pulang pergi mengaji๐ต
"Loe dari tadi nyanyi aja, gak kering apa tenggorokan?" Enno kesal karena dicuekin Ary yang asyik bernyanyi.
"Suka-suka gue dong, mulut-mulut gue juga. Masalah buat loe?" jawab Ary.
"Loe pengen sekolah mondok ya, dari tadi nyanyi lagu suasana di kota santri melulu. Ganti lagu yang lain ngapa!" Enno.
" Ya nggak lah, mana bisa gue tinggal di pondok. Sedangkan gue aja males pakai gamis ma hijab." jawab Ary.
"Eh, ngomong-ngomong nih ya. Perasaan loe ke Alex gimana sih?" tanya Enno.
"Kepooo...!!!" jawab Ary.
"Asal ditanya jawabannya selalu itu. Serius gue nanya nih. Jawab yang betul napa?"
"Mau tau aja, loe sendiri gimana? Hallo apa kabarnya yang disana???" kata Ary.
"Ditanya malah balik tanya, dasar *K*ampret loe!" kata Enno.
"Hahaha... Kalo gue Kampret, terus loe apaan? Biangnya Kampret?" Ary tertawa melihat Enno yang memanyunkan bibirnya kesal.
"Alex tuh, serius cinta mati ma loe. Kenapa loe tetap cuek bebek aja ma dia? Kasihan tau!!! Sudah ada dua tahun dia deketin loe, lebih malah." terang Enno.
"Kita beda agama Enno. Lagian dia itu anak pengusaha sukses, sedangkan gue cuma anak pensiunan guru SD. Dia sama gue beda jauh Enno, gak bisa bareng. Bagusan jalan sendiri sendiri, lebih aman gak ada yang tersakiti." jelas Ary panjang lebar.
"Setidaknya kan bisa loe terima dulu, dicoba dulu bisa sejalan gak. Kalau memang tidak bisa, ya udah jalan sendiri sendiri. Gitu aja kok repot."
"Gue gak repot kok, gak ribet juga. Loe aja yang kayak cacing kepanasan, padahal gue enjoy aja." jawab Ary.
"Gue kasihan liat Alex, dari dulu loe cuekin aja. Coba aja dulu Ary sayang, gue yang dukung loe.
Gue jamin, si Alex gak bakalan sakitin loe." Enno masih berusaha membujuk Ary agar mau menerima cinta Alex.
"Loe dapat apa dari Alex, kok sampai segitunya loe ngebujuk gue." selidik Ary.
"Kagak ada, Ary. Gue cuma pengen liat kalian jalan berdua aja. Serasi gitu, ganteng ma cantik. Sama pinternya. Jadi nanti gue ada yang nyontekin PR ma ulangan." Enno cengar-cengir.
Ary langsung memukul bahu Enno dengan buku ditangannya. Ary gemes dengan mulut Enno yang lemes. Enno selalu ceplas-ceplos kalau ngomong.
"Enak di loe, gak enak di gue. Loe cari kesempatan dalam kesempitan, namanya."
__ADS_1
"Namanya sama teman, biasa juga kali ngasih kesempatan temennya. Jangan gak enaknya aja yang gue dapet, enaknya gue juga mau." kata Enno.
Kalo aja Alex mau sama gue, gue pasti seneng walaupun cuma bentar jadi ceweknya. Enno berkata dalam hati. Enno ingin melihat Alex bahagia, karena bahagianya Alex bahagianya juga.
"Gue gak jadian ma Alex pun loe tetap dapat contekan dari gue. Selama ini kan gue udah banyak ngasih contekan ke loe, kalo cuma itu alasannya." jawab Ary.
Selama berteman memang Ary selalu memberikan bantuan berupa contekan ke Enno. Bahkan dia mau menjelaskan ulang pelajaran yang Enno kurang paham. Ary tau Enno lemah dalam ilmu akademik, jadi dia selalu membantu Enno.
"Betul juga ya, kenapa gue gak ngerasa ya?" gumam Enno. Dasar Enno si lola (loading lambat), jadi telat menyadari.
"Telmi! Dasar lola, oon banget sih loe!" teriak Ary.
Enno tetap kekeh membujuk Ary agar mau menerima cinta Alex. Sedangkan Ary juga tetap kekeh pada pendiriannya. Tidak akan berpacaran.
***
Sedangkan di kediaman Alex.
Alex sedang asyik main gitar bersama teman-temannya. Alex pun mulai memetik gitarnya dan bernyanyi.
๐ต Pernah berfikir 'tuk pergi
dan terlintas tinggalkan kau sendiri
sempat ingin sudahi di sini
coba lari kenyataan, tapi...
ku tak bisa... jauh... jauh darimu
ku tak bisa... jauh... jauh darimu
kalau kita gak saling mengerti
sampai kapan bertahan seperti ini
dua hati bercampur emosi, tapi...
ku tak bisa... jauh... jauh darimu
ku tak bisa... jauh... jauh darimu
sabar... sabar aku coba sabar
sadar... sadar seharusnya kita sadar
kau dan aku tercipta gak boleh berpisah
dan tak bisa... jauh... jauh darimu
ku tak bisa... jauh... jauh darimu๐ต
"Cieee... yang gak bisa jauh! Makanya pepet terus biar deket." kata Anton.
"Betul, nyuk. Pepet terus sampai lengket." kata Dheny si ketua kelas.
"Masih usaha, tiap hari juga gue samperin dianya. Tapi tetep aja dianya cuekin gue." jawab Alex.
"Gue harus gimana coba?" tanya Alex meminta saran ke teman-temannya.
__ADS_1
"Besok loe ke rumahnya lagi. Ungkapin semuanya ke dia. Jangan lupa bawa coklat sama bunga kesukaannya!" saran Dheny.
"Oke! Besok gue ke rumahnya lagi. Thanks udah kasih saran." kata Alex sambil menepuk-nepuk bahu Dheny.
"Yo'i. Gue sebagai sahabat cuma bisa bantu saran aja!" kata Dheny.
"Yang penting jangan lupa syukuran kalau sudah jadian. Makan-makan kita di warung apung." sahut Anton.
"Kalau itu pasti. Don't worry!" kata Alex.
***
Keesokan harinya Alex bangun pagi-pagi sekali. Bangun pagi olahraga sebentar kemudian mandi. Selama mandi dia bersiul sambil bernyanyi. Hatinya berbunga-bunga karena akan bertemu dengan pujaan hatinya.
Setelah selesai mandi, dia berdandan rapi dan wangi. Kemudian dilanjutkan sarapan pagi. Hari ini dia tidak pergi ke gereja, karena dia ingin cepat-cepat bertemu Ary.
Selesai sarapan dia keluar rumah memakai mobil. Dia akan singgah ke toko bunga untuk membeli bunga kesukaan Ary. Kemudian singgah ke toko kue untuk membeli coklat.
Sekitar jam sepuluh pagi, Alex sudah sampai di rumah Ary. Alex keluar membawa bunga dan coklat untuk Ary. Sebelumnya dia merapikan pakaiannya terlebih dulu.
Tok...tok...tok..
"Kulonuwun..." Alex mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tidak berapa lama pintu terbuka, keluar si Enno dari balik pintu.
"Ary! Ada Colak colek nih!" teriak Enno begitu tau siapa orang yang mengetuk pintu.
Ary yang mendengar teriakkan Enno, bergegas ke kamar untuk ganti baju dan celana panjang. Ary di rumah selalu mengenakan setelan baju tidur pendek.
Ary keluar sudah berganti pakaian dan membawa minuman. Karena mbak Asih tadi pamit pulang, maka Ary membuat minum sendiri.
"Hai Ary!" sapa Alex tersenyum.
"Ada apa ya? Kemarin kan sudah datang ke sini." kata Ary.
"Kangen lah, emangnya loe. Dasar gak peka" celetuk Enno tiba-tiba.
"Gue gak nanya loe, dodol!" Ary bersuara kuat.
"En, gue bisa ngomong berdua ma Ary? Bentar aja kok, habis itu loe boleh gabung lagi kok." pinta Alex ke Enno.
"Siip!" Enno mengacungkan jempolnya, kemudian pergi meninggalkan Alex dan Ary.
"Kok, Enno disuruh pergi sih? Enakan juga dia gabung ma kita disini." kata Ary. "Penting ya, apaan cepetan ngomongnya!"
"Ary, sudah lama kan kita saling kenal. Sudah lama juga aku suka sama kamu. Aku hanya ingin kita bisa bersama melewati hari-hari dengan tawamu." Alex diam sejenak.
"Hmm.."
"Aryanti Wihardja aku cinta kamu. Maukah kamu jadi pacarku? Jadi belahan jiwaku?" kata Alex gemetar sambil menyerahkan coklat dan bunga.
Ary diam terpaku, dia tidak menyangka Alex akan menembaknya lagi. Padahal Alex sudah sering ditolaknya, tapi Alex tidak menyerah juga. Berarti Alex benar-benar mencintainya.
Ary hanya menganggukkan kepalanya, tanda dia menerima cinta Alex. Alex yang melihat pergerakan kepala Ary, langsung melompat kegirangan. Sambil mengepalkan kedua tangannya dan menariknya ke bawah.
"Yeess!" teriak Alex kegirangan. Alex belum berani menyentuh Ary karena Alex tau, Ary tidak mau bersentuhan kulit dengan lawan jenis.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, comment, dan rate. Jadikan favorit juga ya! Terimakasih ๐๐ค๐
__ADS_1
Happy Reading ๐ค๐