
Alex tiba di rumah Ary. Masih seperti kemarin, rumah Ary selalu tampak sepi. Ary hanya berdua dengan mbak Asih, ayah masih di kios dan bunda hari ini ada les bimbel. Bunda Ary selain mengajar di SD dekat rumah Ary, beliau juga mengajar les di tempat bimbel ternama di kota itu, Prima Gama.
Tok...tok...
Suara pintu rumah Ary diketuk Alex. Alex datang sendirian karena Anton dan Enno tidak mau diajak.
"Tunggu! Sopo sih, ngethuk Lawang ra uwes?" kata mbak Asih.
(Siapa sih, mengetuk pintu tidak berhenti).
Mbak Asih membuka pintu, dilihatnya Alex sendirian. Mbak Asih merasa mengenal Alex, tapi lupa pernah bertemu dimana.
"Cari siapa mas?" tanya mbak Asih.
"Ary ada mbak?" jawab Alex.
"Ada, mas ini siapa?" tanya mbak Asih.
"Alex, teman sekelas Ary. Bisa ketemu Ary?" Alex.
"Tunggu sebentar, masnya duduk dulu."
Alex kemudian duduk di kursi yang ada di teras, terlebih dahulu dia meletakkan tasnya di atas meja. Sedangkan mbak Asih masuk kembali menuju kamar Ary.
"Mbak, ada yang nyari. Namanya Alex, temen sekelasnya mbak Ary." kata mbak Asih sambil mendekati Ary yang sedang membaca novel di atas kasurnya.
"Iya, mbak. Sama siapa dia datangnya?" tanya Ary.
"Sendirian, mbak."
"Buatkan minum ya mbak, minta tolong nih. Matursuwun." kata Ary sambil mengedipkan matanya. Ary pun keluar tetap dengan pakaian panjangnya, celana jeans dan kaos tangan panjang kesukaannya. Tidak lupa topi kesayangannya.
"Hmm. Sorry, lama nunggu. Ada apa?" Ary berkata tanpa jeda, dengan wajah datarnya.
"Ng- nggak. Belum lama kok. Ini buku catatan yang aku janjikan kemarin." Alex menyodorkan buku catatan pelajaran ke Ary.
"Sorry, udah ngrepoti kamu." Ary mengambil buku itu, kemudian duduk di kursi depan Alex.
Mbak Asih datang membawa dua gelas es sirup, lalu meletakkannya di meja.
"Monggo mas, diminum dulu." mbak Asih mempersilahkan Alex minum, karena tau Ary pasti diam saja seperti biasanya.
__ADS_1
"Makasih ya, mbak. Kok repot-repot buat minum." Alex basa-basi.
"Tidak repot kok, ini tadi sekalian karena mbak cilik minta dibuatkan es sirup kelapa pandan kesukaannya." jawab mbak Asih mendekap nampan di dadanya.
"Mbak cilik itu siapa, mbak?" Alex penasaran dengan orang yang dipanggil mbak cilik.
Ary mata membulat, dia memberikan kode ke mbak Asih untuk diam.
"Mbak Asih jadi kan buatkan Ary martabak telur? Sekarang ya, Ary tunggu!" Ary mencoba mengalihkan pertanyaan Alex, agar Alex tidak tau siapa mbak cilik yang dimaksud.
Ary selalu dipanggil mbak cilik oleh Asih. Karena dia selalu dipanggil cah cilik dalam keluarga besar bunda. Diantara cucu kakek neneknya, Ary yang paling terakhir lahir. Bahkan anak pak lek/ Bu lek (adik-adik bunda) Ary, terlahir jauh sebelum Ary lahir.
"Saya tinggal dulu, mau buatkan kue kesukaan mbak Ary." Asih menghindar agar tidak menjawab pertanyaan Alex tadi.
Ary dan Alex hanya diam duduk di kursi teras rumah. Sama-sama tidak ada yang mau memulai percakapan. Ary yang mulai bosan pun mencoba mencairkan suasana dengan pura-pura bertanya.
"Apa..." Ary.
"Kamu..." Alex.
Ary dan Alex secara bersamaan ingin memulai percakapan. Keduanya merasa canggung karena secara tidak sengaja bersamaan mengucapkan kata.
"Kamu duluan, mau ngomong apa?" kata Alex karena tangan Ary menunjukan dia yang ngomong duluan.
"Kamu tidak apa-apa minum es, kamu kan masih sakit?" tanya Alex mengalihkan pertanyaan Ary.
"Aku sudah biasa minum es kalo hari tidak begitu terik. Tapi kalo panas terik, baru gak berani minum es." jelas Ary.
Akhirnya mereka ngobrol dengan lancar, membicarakan tentang pelajaran di sekolah, teman-teman sekelas dan cerita lainnya. Setelah puas bercengkrama dengan Ary, Alex pun pamit pulang.
Setiap hari selama Ary belum masuk sekolah, Alex selalu berusaha untuk datang ke rumah Ary. Kadang datang sendiri, kadang bersama teman-teman somplak nya ( Anton, Enno dan Candra). Karena teman-temannya terlalu sering datang, Ary tidak merasa kesepian lagi.
***
Selama Ary tidak sekolah, Tere terus mencoba mendekati Alex. Walaupun Alex sering menghindarinya, Tere pantang menyerah.
"Ndi, aku duduk sini ya!" kata Tere dibuat semanja mungkin. Dia mendekati Alex dan Anton yang sedang makan bakso di kantin sekolah.
"Duduk saja, ini kan tempat umum. Siapa aja boleh duduk di sini" kata Alex datar. Alex tetap menyantap baksonya.
"Mm... Ndi, nanti pulangnya bareng ya. Aku gak dijemput soalnya" kata Tere sambil menyendok gado-gado kemudian memasukkan ke mulutnya.
__ADS_1
"*Sor*ry, gue mau pergi ma Anton ke rumah Dheny." Alex menolak pulang bareng Tere.
"Lha, aku terus gimana dong?" suara Tere manja.
"Kan ada Catherine, loe kan bisa minta antar dia. Lagian rumah kalian searah, pasti dia mau." Anton memberikan solusi ke Tere.
"Cathy, dijemput cowoknya. Masak gue jadi lalatnya." bohong Tere. Catherine belum memiliki pacar, Catherine teman dekat Tere juga sepupu Alex.
"Sejak kapan Cathy punya pacar?" sangkal Alex.
"Kamu ngigau atau apa? Gue kenal dekat ma Cathy, dia mana berani pacaran. Kelihatan sekali modusnya." kata Anton jengah menghadapi Tere. Dia merasa risih karena setiap dia bersama Alex, Tere selalu nempel Alex seperti perangko kena lem.
"Be- betul kok, aku gak bohong." Tere gelagapan karena ketahuan bohongnya.
"Sudah habiskan makanmu, nyuk!. Sebentar lagi bel masuk kelas berbunyi. Mau kena hukuman lagi???" Alex mengingatkan Anton.
"Kalo Cathy dijemput cowoknya, loe kan bisa naik becak atau ojek." kata Alex memberi solusi.
Setelah selesai menghabiskan semangkuk bakso, Alex dan Anton berdiri. Keduanya seperti memiliki telepati, tanpa diucapkan pun mereka tau apa yang dipikirkan temannya. Mereka berdua pun pergi meninggalkan Tere.
Tere merasa kesal karena, dia belum selesai makan sudah ditinggalkan Alex sendirian di kantin. Padahal dia sudah merencanakan ingin berlama-lama duduk di kantin bersama sang pujaan hati.
"Pokoknya gue harus dapetin Alex. Kalo gue gak dapetin Alex. Ary ku juga gak boleh dapetin Alex." ancam Tere. Dia merasa kesal karena Alex terus menghindarinya.
Tere tidak jadi menghabiskan gado-gadonya. Dia meninggalkan makannya begitu saja di meja kantin.
"Apa sih kurangnya gue? Gue juga cantik, bokap gue kaya dan nilai gue juga termasuk lima besar di sekolah. Kenapa sih seorang Alexander Andi Kusumawijaya, tidak pernah melirik gue sekali saja." Tere menggerutu, berjalan menuju kelas karena waktu istirahat hampir habis.
Saat di lorong kelas, Tere berpapasan dengan Catherine yang sedang mencarinya. Tere mendekati Catherine, ingin mengeluarkan keluhannya.
"Kemana aja sih loe, Cath? Tau gak sih loe, gue dicuekin lagi sama adik sepupu loe itu. Masak gue mau duduk satu meja sama dia, malah dianya pergi gitu aja. Gue ditinggal sendirian di kantin. Tega banget kan dia ma gue!" kata Tere dramatis.
Catherine hanya menggelengkan kepalanya, mendengar curhatan teman sejak kecilnya.
"Terus, gue harus gimana dong? Biar dia mau melihat gue, anggap kalo gue itu ada." sambung Tere lagi.
"Loe yang sabar aja, banyak-banyak berdoa semoga pintu hatinya terbuka buat loe!" kata Catherine menasehati Tere.
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Maaf tidak bisa update setiap hari, karena author menulis hanya untuk mengisi waktu senggang. Mohon dukungan para reader kesayangan semua. Like dan comment (krisan) selalu author tunggu. Jangan lupa jadikan favorit novel ini.
__ADS_1
Terimakasih kesayangan semua 🙏🤗🤗🤗