Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
55. Menuju Halal


__ADS_3

"Semua saya kembalikan pada Ary, karena dia yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya nanti. Saya tidak mau memaksakan kehendak saya kepada anak." jawab ayah Ary.


"Ary, kamu bagaimana nak?" tanya papa Rendy.


"Iya, Ary mau!" jawab Ary sambil menunduk.


"Yes!!!" kata Rendy sambil mengepalkan tangannya, dia merasa sangat bahagia karena akhirnya Ary menerimanya.


Rendy hendak memeluk Ary saking bahagianya. Tapi dilarang oleh kedua belah pihak, apalagi orang tua Ary yang sangat melarang pacaran.


"Eittt! Tunggu belum sah!" kata ayah Ary dan papa Rendy bersamaan.


"Sudah tidak sabar dia, Yah!" kata Bunda sambil tertawa.


"Sebaiknya secepatnya saja mereka dinikahkan, saya takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Maklum, sepertinya si Rendy sudah tidak sabar menunggu sah." kata papa Rendy.


"Saya terserah yang menjalani saja!" jawab ayah Ary, lagi-lagi menyerahkan jawaban pada Ary.


"Kalau setelah Abang keluar dari rumah sakit gimana?" tanya Rendy tiba-tiba.


Semua yang mendengar perkataan Rendy langsung memandang ke arah Rendy.


"Ide bagus!" celetuk mama Rendy.


"Mama setuju, lebih cepat lebih baik. Biar ada yang mengawasi Rendy yang bandal ini!" lanjut mama Rendy.


Bunda yang mendengar perkataan Rendy merasa kalau keluarga Rendy memanfaatkan Ary. Ary hanya akan menjadi perawat orang sakit saja, demikianlah pemikiran bunda Rendy. Ada rasa tidak rela, anak perempuan satu-satunya akan menikah dengan seorang pria yang penyakitan dan usianya lebih muda dari Ary.


Melihat perubahan pada raut wajah calon besannya, mama Rendy melanjutkan kata-katanya.


"Bukan maksud saya untuk menjadikan Ary sebagai perawat atau pembantu. Tapi dengan adanya Ary di samping Rendy, menambah semangat Rendy untuk sembuh. Buktinya baru seminggu dirawat Ary, sudah banyak kemajuan pada anak kami. Kami sangat berterima kasih pada Ary. Kami akan menyayangi Ary seperti anak kami sendiri." jelas mama Rendy.


"Rendy sangat mencintai Ary, kalau dia hanya main-main dengan Ary tidak mungkin akan seperti ini. Setiap ditinggal Ary, dia langsung kritis. Itu karena Rendy tidak bisa tanpa Ary." kata papa Rendy.


"Rendy tanpa kami bisa bertahan, tapi begitu jauh dari Ary dia langsung drop! Kritis! Tidak sadarkan diri sampai berjam-jam! Ini sudah cukup untuk membuktikan bahwa Rendy sangat mencintai Ary." lanjut papa Rendy.


"Rendy tanpa Ary mati! Sebelum Ary pergi aku mati duluan!" tiba-tiba Rendy menyela pembicaraan para orang tua.


"Hustt! Kalau ngomong suka ngelantur, hati-hati! Jaga itu punya mulut, jangan asal keluar aja!" omel mama Rendy sambil mendekati Rendy.


"Ucapan itu adalah do'a, nak! Hati-hatinya kalau berucap, jika bisa berucap kata-kata yang baik kenapa harus berucap yang tidak baik?" nasehat ayah Ary.


"Iya, Pak!" jawab Rendy malu mendapatkan teguran dari calon mertuanya.


"Rendy sudah terbiasa kalau ngomong asal keluar aja! Maafkan kami yang tidak becus mendidiknya. Kami juga mohon bantuan kang mas untuk mendidik dan membimbing Rendy ke arah yang lebih baik, seperti nak Ary ini." kata papa Rendy.

__ADS_1


"Kita sama-sama mendidik anak-anak kita, pak Candra! Karena mereka akan menjadi anak-anak kita berdua nantinya." kata ayah Ary.


"Berhubung sudah sore, kami pamit pulang! Takut kemalaman di jalan, maklum mata tua silau kalau perjalanan malam." lanjut ayah Ary.


Setelah selesai bersalaman, akhirnya orang tua Ary pulang ke rumahnya.


***


Sudah dua puluh hari Rendy dirawat di rumah sakit. Hari ini Rendy sudah bisa pulang ke rumahnya. Hari ini juga rencana acara resmi lamaran. Acara lamaran akan diadakan di rumah dinas Ary, hal ini dikarenakan lebih dekat dengan rumah Rendy yang berada di jl. Kaliurang.


Acara lamaran berlangsung sederhana, hanya dihadiri oleh keluarga saja. Acara dibuat sesederhana mungkin mengingat kondisi Rendy yang belum sehat betul. Dalam acara tersebut ditentukan pernikahan Ary dengan Rendy akan dilaksanakan dua Minggu lagi.


Saat acara selesai Rendy dan Ary diledek oleh keluarga yang menghadiri acara tersebut.


"Ary, cari suami brondong. Cari yang tenaganya masih kuat. Dan juga biar tampak awet muda, padahal umur sudah tua!" kata salah satu sepupu Ary.


"Kecil-kecil cabe rawit lho, biar kecil tapi berasa!" sahut yang lainnya.


Rendy yang mendengar perkataan mereka menjadi panas. Dia pun mendekati Ary untuk meluapkan kekesalannya.


"Kecil begini gue bisa buat loe hamil, gue juga bisa buat loe menjerit keenakan!" kesal Rendy.


"Hah??!!" Ary kaget karena tiba-tiba Rendy berkata seperti itu.


"Sabar! Mereka hanya bercanda, jangan diambil hati!" nasehat Ary.


Kemudian Ary meninggalkan Rendy menuju dapur untuk mengambil minum.


"Nih, minum dulu! Biar dingin kepala sama hati!" kata Ary sambil menyerahkan segelas air putih yang diambilnya dari dapur tadi.


"Makasih ya, Sayang!" jawab Rendy sambil tersenyum dan mengambil gelas tersebut kemudian meminumnya sampai kandas.


"Haus ya, Bang? Kenapa gak bilang dari tadi kan bisa aku ambilkan!" kata Ary sambil tertawa karena Rendy begitu bersemangat menghabiskan air minum dalam sekali teguk.


"Jahat kamu! Orang lagi kesel malah diledek!" kata Rendy menyentil jidat Ary.


"Ihh, sakit tahu! Kasar amat jadi laki!" kata Ary manyun.


"Sakit ya, sini Abang usap!" kata Rendy sambil mengusap jidat Ary.


"Maaf ya, sayang!" kata Rendy lagi sambil terus mengusap jidat Ary.


***


Seminggu sudah acara lamaran sudah berlalu. Menurut rencana acara pernikahan digelar di rumah Rendy. Karena rumah Rendy lebih luas dibandingkan dengan rumah dinas Ary. Kenapa tidak diadakan di rumah orang tua Ary? Karena orang tua Rendy ingin acara ini dihadiri oleh seluruh keluarga besar Rendy dari Medan.

__ADS_1


Jadi tidak mungkin diadakan di rumah orang tua Ary, karena nantinya repot mencari penginapan yang dekat. Sedangkan rumah orang tua Ary berada di perkampungan, sehingga sulit mencari penginapan. Jika acara diadakan di rumah Rendy, rumah itu dekat dengan penginapan selain itu halamannya yang luas mampu menampung banyak tamu.


Ary dan Rendy sedang keliling Malioboro untuk mencari perlengkapan untuk acara pernikahan mereka nanti. Walaupun acaranya sederhana, mereka ingin acaranya berkesan dan tidak terlupakan seumur hidup.


Ary dan Rendy berencana membeli baju untuk akad nikah. Mereka berdua menginginkan baju yang sederhana tapi elegan. Baju yang akan dipakai untuk acara sekali seumur hidupnya.


"Yank, sini bentar! Lihat ini, pasti cocok buat kamu." kata Rendy sambil memegang gaun berwarna putih gading.


"Hmm... Bagus sih, tapi bahannya transparan harus beli bahan lagi dong!" jawab Ary.


Penjaga yang kebetulan mendengar percakapan mereka pun mendatangi mereka.


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga toko tersebut.


"Ini mbak, bajunya gak ada ya yang tangannya panjang terus tertutup?" tanya Ary.


"Ini hanya sample, Mbak. Kalau mbaknya mau bisa dijahit dulu. Ada beberapa pilihan warna lain, tapi masih dalam bentuk kain bakal." jelas penjaga toko sambil berjalan menuju lemari.


Penjaga toko itu mulai mengeluarkan berbagai macam warna dengan motif yang sama dengan baju yang dipegang Rendy tadi.


"Ini nanti akan kami jahit sesuai ukuran badan mbaknya, kalau mbak jadi ambil. Harga yang tertera disini sudah termasuk ongkos jahit mbak." lanjut penjaga toko.


"Gimana yank? Mau?" tanya Rendy.


"Kalau nunggu dijahit dulu, berapa lama proses menjahitnya?" tanya Ary.


"Paling cepat seminggu mbak!" jawab si penjaga toko.


"Nggak bisa lebih cepat lagi?" tanya Rendy.


"Kita cari tempat lain aja, Bang. Beli baju jadi saja!" jawab Ary.


"Memangnya kapan mau dipakai mbak?" tanya penjaga toko.


" Pas seminggu lagi!" jawab Rendy.


"Akan kami usahakan lima hari sudah selesai dijahit, tapi ada tambahan ongkos jahit. Bagaimana?" kata penjaga toko.


"Gimana yank?" tanya Rendy pada Ary.


"Ini bisa dipasang puring kan, mbak?" tanya Ary pada penjaga toko.


"Bisa mbak! Kalau deal, saya ukur badan mbaknya sekarang." kata penjaga toko.


"Oke, kami ambil!" jawab Rendy. Rendy sudah terlanjur suka dengan baju itu. Dia juga yang memilih warnanya.

__ADS_1


__ADS_2