Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
59. Janji Setia (End)


__ADS_3

Hari ini Ary mengunjungi makam Rendy. Dia merindukan saat-saat bersama Rendy. Sering berantem dengan Rendy membuatnya perlahan membuka hatinya. Rasa sayang itu perlahan merasuk ke dalam kalbu.


Ary berkunjung ke makam Rendy ditemani Eno. Eno lah yang selama ini ada di sampingnya. Mengingatkan dirinya bahwa dia pernah berkata pada Eno, jangan mencintai berlebihan dan jangan pula membenci orang berlebihan. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bisa jadi yang kamu benci itulah yang terbaik untukmu.


Dulu Ary juga yang mengajarkan kepada Eno, agar ikhlas melepas Ronald. Karena Ronald bukanlah jodoh terbaik untuk Eno. Hal ini juga yang Eno katakan pada Ary, mungkin hanya sebentar saja Ary dan Rendy berjodoh.


Sesampainya di makam Rendy, Ary mulai memanjatkan do'a untuk suaminya. Walaupun hanya hitungan menit dia menjadi istri Rendy. Dia tetap menganggap Rendy adalah suaminya sampai saat ini.


Selesai berdo'a, Ary mulai menaburkan bunga yang dibawanya. Tidak lupa dia juga menyiramkan air setaman ke kuburan Rendy.


"Abang, tidur yang nyenyak ya! Jangan pikirin Ary, Ary sudah ikhlas kok. Ary ikhlas Abang pergi duluan, semoga kita dipertemukan dan disatukan lagu di JannahNya. Ary kangen Abang!" tidak terasa air mata Ary menetes.


Ary sudah berusaha menahan tangisnya, tapi setiap kali mengingat kebersamaannya dengan Rendy, air mata Ary selalu menetes.


"Ary, ayo pulang! Kasihan Rendy disana, kalau loe ratapi terus dia akan semakin susah. Katanya sudah ikhlas, kok masih diratapi!" kata Eno sambil menarik tangan Ary.


Akhirnya mereka berdua meninggalkan makam itu. Sebelum pulang ke rumah dinas Ary mampir ke rumah Rendy. Saat ini mama Rendy masih menempati rumah itu.


"Assalamualaikum, Ma!" sapa Ary begitu memasuki rumah.


"Wa'alaikum salam, ayo duduk dulu sini!" kata mama Rendy.


Ary tetap berjalan ke belakang, dia hendak ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya karena baru saja sampai. Setiap kali masuk rumah biasakan cuci tangan dan kaki pakai sabun, untuk menjaga kesehatan.


"Maaf, ma! Tadi Ary barusan dari makam Abang." kata Ary sambil mencium punggung tangan mama Rendy kemudian memeluknya.


"Iya, makanya mama gak menyalami kamu tadi. Kamu gimana? Sehat?!" tanya Mama.


"Alhamdulillah, ma! Mama gimana?" tanya Ary.


"Ma, ini temen Ary!" kata Ary mengenalkan Eno pada mertuanya.


"Iya, tadi sudah kenalan sewaktu kamu di kamar mandi." jawab Mama.


"Sini! Duduk dulu, ada yang mau mama omongin ke kamu!" ajak Mama.


Ary dan Eno duduk di kursi depan mama Rendy. Tidak lama setelah mereka berdua duduk, mama mengeluarkan sebuah amplop besar berwarna coklat.


"Ini semua untuk kamu, Rendy sebelum meninggal sudah menulis surat wasiat. Disitu tertulis, bahwa semua harta atas nama dia diberikan seluruhnya untuk kamu. Baik kamu sudah atau belum menikah dengannya. Beberapa hari sebelum meninggal, dia juga mengatakan berulang kali bahwa semua milik dia akan dia berikan seutuhnya untuk kamu. Dia juga minta maaf kepada semua orang, kalau tidak bisa membahagiakan kamu." jelas mama Rendy sambil terisak.


Dia teringat kembali dengan anak laki-laki satu-satunya. Sebelum kenal Ary, selalu kata-kata mati saja yang terucap dari bibirnya. Tapi begitu mengenal Ary, semangat hidupnya tinggi. Takdir berkata lain, ternyata semua ini hanya buang tabiat. Agar orang terdekat tidak tahu kalau dia akan pergi untuk selamanya.


"Ary sudah menerima semua ini, Ma! Sekarang Ary berikan kepada Mama semuanya." kata Ary sambil mengembalikan amplop yang diberikan oleh mama Rendy tadi.

__ADS_1


"Tidak! Mama tidak mau menerimanya! Kalau kamu kembalikan semua ini, mulai detik ini juga jangan pernah anggap aku sebagai mama kamu! Dan jangan harap kamu bisa menginjakkan kakimu di rumah ini atau pun di makam Rendy! Mama kecewa sama kamu!" kata mama Rendy emosi.


"Kamu tidak tahu betapa berartinya Rendy bagi kami! Sebagai istrinya, kamu seharusnya bisa menggantikan posisi dia di hati kami. Seharusnya kamu bisa jadi obat kami!" kata mama Rendy terisak, beliau menangis karena penolakan Ary.


"Ma, Ary minta maaf! Iya, Ary ambil semua ini. Tapi mama tetaplah mama Ary juga kan. Kita tetap satu keluarga kan, Ma?" kata Ary sambil bersimpuh di kaki mama Rendy.


Akhirnya mereka saling berpelukan, saling menumpahkan kasih sayang dan air mata. Air mata kesedihan dan kebahagiaan. Sedih karena kehilangan Rendy, bahagia karena mereka tetap menjadi keluarga.


***


Saat ini Ary dan Eno dalam perjalanan menuju rumah dinas Ary. Ary akan kembali bekerja besok pagi. Dia harus membuka lembaran baru. Waktu tetap berjalan, begitu pun kehidupan Ary. Mau tidak mau dia harus bangkit menghadapi masa depannya.


Eno memutar musik siaran radio untuk mengiringi perjalanan mereka agar tidak sepi. Lagu milik La Luna mulai terdengar di telinga mereka.


🎢 Perjalanan waktu tlah membawaku


Menemukan kembali kisah laluku


Tahukah kamu sepeninggal engkau pergi


Ku merasa hampa ku kehilanganmu


Mungkin saat itu ku mengabaikan mu


Tak pernah menganggap kau kekasih hatiku


Dan ketika ku sadari kau tlah pergi


Ternyata dirimu begitu berarti


tuk mencintaimu


Jika masih ada kesempatan


untuk ku kembali


Betapa berat hidupku tanpamu


Rindu ini begitu menyesakkan hati


Tak kan pernah aku jatuh cinta lagi


Selain dirimu hanya kepadamu

__ADS_1


Mungkin saat itu ku mengabaikan mu


Tak pernah menganggap kau kekasih hatiku


Dan ketika ku sadari kau tlah pergi


Ternyata dirimu begitu berarti


Tuk mencintaimu


Jika masih ada kesempatan


untuk ku kembali


Dan ku berjanji setia


Tak kan lagi berpaling dari mu


Jika harap ini kan menjadi nyata


Ku berjanji setia🎢


Ary mulai menitikkan air mata mendengar lagu itu, lagu yang menggambarkan tentang dirinya saat ini. Dia pun berjanji akan setia pada Rendy.


***


Tiga tahun telah berlalu...


Ary sudah menjadi kepala rumah sakit di rumah sakit yang saat itu dia ditugaskan untuk mengawasi pembangunannya. Ternyata tugas yang hari itu diberikan adalah tangga menuju kesuksesan kariernya.


Untuk membunuh rasa sepinya karena kehilangan Rendy, Ary bekerja dan bekerja tanpa lelah. Dia selalu bersama para pasiennya, bercerita, bercanda dan saling support. Baginya bersama pasien adalah kebahagiaan. Karena setiap dia kembali ke rumah, dia akan selalu teringat dengan Rendy.


Apalagi Rendy pernah mengajak dia berbulan madu ke daerah dimana dia ditugaskan waktu itu. Daerah yang berada di wilayah kabupaten Kulonprogo. Itulah yang menjadi alasan Ary menerima tawaran menjadi kepala rumah sakit yang baru dibangun tersebut.


Saat ini Ary menjadi wanita mandiri dan mapan. Tidak mudah bagi Ary menjadi dokter terkenal sekaligus kepala rumah sakit, karena selalu saja ada batu sandungannya. Ary tidak pantang menyerah.


Berparas cantik dengan karier yang sukses dan harta peninggalan dari suami, tidak menjadikan Ary bahagia. Dia tetap sendiri menjalani hidupnya. Tanpa anak dan suami....


***Alhamdulillah... Akhirnya tamat juga karya recehku 🀧🀧🀧. Maaf bila ending-nya tidak sesuai dengan keinginan para readers πŸ™πŸ™πŸ™ Sejak awal memang aku mau buat sad ending, karya yang berbeda dengan yang lainnya.


Bila ada persamaan nama tokoh/tempat/jalan cerita, semua itu hanyalah kebetulan semata.


Mohon maaf masih banyak kesalahan dalam penulisan kataπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


Saya tunggu saran dan masukan dari para readers kesayangan πŸ€—πŸ€—πŸ€—***


__ADS_2