
Sudah dua minggu sejak Ary memutuskan Alex, Ary pergi check up. Ary pergi ke tempat praktek dokter Hermanu ditemani Bunda.
"Bagaimana kondisi kepala anak saya, dok?" tanya Bunda setelah dokter setengah baya tersebut selesai memeriksa Ary.
"Berdasarkan keluhan anak ibu dan pemeriksaan tadi, sudah banyak kemajuannya. Hanya saja jangan terlalu tertekan dan yang paling penting, jangan sampai terkena benturan lagi. Kalau itu terjadi, maka anak ibu akan sulit untuk pulih lagi." jelas dokter Hermanu.
"Kalau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler boleh, dok?" Ary tiba-tiba menyela.
"Boleh, asalkan jangan kegiatan yang menguras tenaga atau kepala banyak goncangan. Misalkan lompat, lari, geleng-geleng kepala dengan kuat. Tapi tetap dijaga kesehatannya, jangan karena diijinkan kamu bisa sesuka hati. Satu lagi kurangi makanan berlemak." pesan dokter Hermanu.
"Baiklah dokter, kalau begitu kami pamit." Bunda berdiri kemudian menjabat tangan dokter Hermanu.
Ary dan Bunda pun keluar dari ruangan dokter Hermanu. Kemudian menuju apotek untuk menebus obat Ary.
***
Esok harinya saat sarapan Ary meminta ijin kepada orangtuanya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
"Yah, Ary mau minta ijin ikut ekskul boleh?" tanya Ary bimbang.
"Mau ikut kegiatan yang mana?" Ayah balik nanya.
"Hmm, ikut pengkaderan pengurus OSIS. Boleh, Yah?" Ary mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Boleh, tapi itu bukan hanya alasan kamu aja kan?" Ayah memegang cangkir berisi kopi hitam kesukaannya.
"Alasan apa, Yah?" Ary heran kenapa tiba-tiba Ayah bertanya seperti itu.
"Alasan agar kamu dekat lagi dengan anak itu. Siapa namanya, Alex! Ya, Alex." kata Ayah sambil tetap membaca koran paginya.
"Nggak kok, Yah. Setahu Ary dia tidak ikut ekskul pengkaderan. Ayah jangan khawatir, Ary tidak akan mengingkari janji Ary." kata Ary.
"Ary sudah selesai sarapan, Ary pergi ke sekolah dulu." Ary berdiri, kemudian berjalan mendekati Ayah. Mencium punggung tangan Ayah. Selesai menyalami ayahnya, Ary berjalan mendekati Bunda. Ary melakukan hal sama dengan ayahnya tadi. Mencium punggung tangan Bunda.
"Hati-hati di jalan, naik apa jadinya? Naik sepeda apa motor?" tanya Bunda.
"Ary naik sepeda seperti biasanya aja, Yah." jawab Ary. Ary mulai meninggalkan ruangan itu.
"Semoga Ary betul-betul mengikuti ekskul itu. Aamiin." Ayah bertanya kepada Bunda.
"Aamiin." Bunda mengaminkan keinginan ayah.
***
Ary sudah sampai di parkiran sekolah. Di sana dia berpapasan dengan Bayu, kebetulan Bayu juga naik sepeda.
"Assalamualaikum, Ary." sapa Bayu mendekati Ary.
"Wa'alaikum salam, kak Bay. Sudah lama kita nggak pulang bareng ya, kak Bay." jawab Ary.
"Iya nih. Apa kabar Ary?" kata Bayu.
Mereka mulai melangkahkan kaki meninggalkan parkiran. Sambil berjalan mereka melanjutkan percakapan.
__ADS_1
"Alhamdulillah, baik kak. Kakak sendiri apa kabarnya?" Ary balik bertanya.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Sehat, segar dan bugar. Hehehe." Bayu nyengir kuda.
"Kak, kalau mau ikut ekskul pengkaderan masih bisa?" tanya Ary setelah terdiam sesaat.
Ary dan Bayu tidak menyadari kalau ada sepasang mata melihat keakraban mereka. Orang itu merasa cemburu dan marah.
"Masih, kenapa? Mau gabung, ayo!" kata Bayu.
"Iya, kalau masih boleh dan ada tempat untukku." jawab Ary mantap.
"Apa sih yang nggak untuk Ary?" kata Bayu mengacak rambut Ary.
"Janganlah! Kak Bayu ini sukanya merusak rambutku." Ary memanyunkan bibirnya. "Aku marah sama Kak Bayu."
"Itu bibir kenapa dimajuin sampai satu meter gitu? Kok malah jadi marah betulan sih?" Bayu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Jangan sentuh kepala orang lain tanpa permisi dulu. Pantang tau!!" kata Ary mulai menceramahi Bayu.
" Alex nggak cemburu nih, melihat aku jalan berdua gini sama kamu?" tanya Bayu tiba tiba
"Kami nggak ada hubungan apa-apa kok." jawab Ary.
"Bener nggak ada apa-apa? Seluruh murid di sekolah ini tahu lho, gosipnya kamu pacaran sama Alex." cerca Bayu.
"Ih, nggak percaya ya udah. Nggak usah tanya!" ketus Ary.
"Kalau jadi mau gabung pengkaderan, hari ini ada agenda jam dua siang. Akan ada pemberian materi dari pak Agus, tentang kepemimpinan. Ikut?" imbuh Bayu.
"Ary belum minta ijin sama Ayah Bunda. Gimana dong?" Ary bimbang antara hadir atau tidak.
"Kamu kan ada hp, punya pulsa tidak?" kata Bayu.
"Oh, iya. Lupa! Hehehe 😁" Ary menampakkan deretan giginya.
Bayu mengantarkan Ary sampai depan kelasnya. Banyak teman Ary yang heran, kenapa Ary diantarkan oleh Bayu.
"Belajar yang rajin ya, jangan lupa minta ijin orang tua. Nanti acara kita jam dua. Oke?"
Setelah berkata demikian Bayu meninggalkan kelas Ary dan banyak pertanyaan untuk teman-teman Ary yang mendengarnya.
"Busyet dah! Baru dua minggu putus dari Alex, sudah gandeng gebetan baru. Jangan-jangan dia putus karena orang ketiga." kata salah satu teman sekelas Ary.
Ary hanya diam saja. Dia tidak mau menanggapi perkataan teman-temannya. Ary langsung menuju bangkunya, meletakkan tasnya kemudian duduk manis menunggu kedatangan Enno dan Candra.
Tak berapa lama kemudian, Enno dan Candra masuk kelas mendatangi Ary.
"Kalian dari mana, ada tasnya nggak ada orangnya?" cerca Ary sewot.
"Dari tadi?" jawab Enno asal.
"Dari kantin, sarapan! Tadi gue nggak sempet sarapan di rumah." jawab Candra kalem.
__ADS_1
"Kalian nanti ada kegiatan ekstrakurikuler nggak?" tanya Ary kepada kedua sahabatnya.
"Kalau gue ada, akan ada pembentukan band sekolah. Jadi semua peserta wajib hadir." jawab Candra.
"Loe, No?" Ary menghadap ke Enno.
"Nggak ada, gue mau jalan sama Ronal." jawab Enno dengan entengnya.
"Siapa lagi si Ronal, gebetan baru loe?" cerca Ary.
"Iya, dia anak Kusuma Wijaya. Orang tuanya tajir melintir euy." bangga Enno karena bisa mendapatkan mangsa anak orang kaya.
"Pagi anak-anak!" sapa pak Widodo guru matematika sekaligus wali kelas mereka.
Ary dan kawan-kawan tidak menyadari kedatangan guru tersebut karena asik bercerita.
***
Setelah jam sekolah berakhir, Ary langsung menelepon Bunda. Dia memberitahukan bahwa dia akan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler terlebih dahulu.
"...."
Iya, Bun. Nanti begitu selesai Ary langsung pulang kok. Assalamualaikum, Bun.” Ary menutup panggilan teleponnya.
Ary berjalan menuju ruang OSIS, setelah berpisah dengan teman-temannya tadi. Mereka berpisah karena memiliki arah tujuan yang berbeda.
Begitu sampai di depan pintu ruang OSIS, Ary mengucapkan salam sambil mengetuk pintu.
"Assalamualaikum..." sapa Ary, tampak di dalam ruangan itu hanya ada Bayu sang ketua OSIS.
"Ary! Ayo masuk, cepat datangnya. Sudah makan siang?" kata Bayu mempersilahkan Ary masuk ke ruangan tersebut.
Ary menggelengkan kepalanya, tanda dia belum makan siang.
"Kok belum makan, nanti sakit lho. Masih ada waktu lima belas menit, kalau kamu mau makan." kata Bayu lagi.
"Mana sempat kak, untuk ke kantin aja butuh waktu lima menit. Belum lagi ngantri beli makannya, ditambah lagi aku makan nggak bisa cepat." jawab Ary.
"Ini makan!" Bayu menyodorkan bekal makan siangnya pada Ary.
" Kak Bayu gimana kalau ini aku yang makan?" tanya Ary bingung.
"Kita makan berdua, gimana?" ajak Bayu agar Ary tidak sungkan.
"Memangnya kak Bayu kenyang, biasa untuk sendiri. Sekarang harus berbagi sama aku." Ary.
"Aku masih kenyang, tadi sehabis sholat Dhuhur makan bakso. Ayo buruan, nanti yang lain datang tidak jadi makan!" Bayu memaksa Ary makan.
Akhirnya mereka makan satu bekal untuk berdua. Mereka gantian memakai sendok. Bayu sengaja makan hanya sedikit karena dia memang masih kenyang dan juga karena Ary belum makan.
**Maafken author ini yang masih banyak kekurangannya.
Terima kasih sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca novel ku ini**.
__ADS_1