
Sehari setelah kepulangan Ary dan kawan-kawan dari acara perpisahan, Alex mengajak Ary untuk makan siang bersama di Cafe Cinta. Kafe yang berada di dekat sekolah mereka, tempat yang biasa digunakan Alex dan kawan-kawan nongkrong sepulang sekolah.
"Hai Ar!" kata Alex sambil melambaikan tangan saat Ary melangkahkan kakinya masuk ke kafe tersebut.
"Hai, sudah lama ya nunggin aku? Maaf telat, tadi bantuin Bunda dulu." kata Ary.
"Nggak juga, baru sepuluh menit kok. Belum berakar nih pantat! Hahaha..." jawab Alex sambil tertawa.
"Sudah lama itu namanya." kata Ary sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Alex.
"Minumanku aja belum habis, jadi belum lama dong!" Alex masih saja tersenyum.
Hati siapa yang tidak bahagia saat sang pujaan hati mau diajak makan siang bareng. Apalagi sudah lama sekali Alex tidak pernah jalan bareng Ary.
Tak lama Ary datang, pelayan kafe langsung mengeluarkan makanan yang sudah dipesan oleh Alex tadi, saat menunggu kedatangan Ary. Alex sengaja memesan semua makanan kesukaan Ary.
"Banyak banget makanannya, kan cuma kita berdua. Memang kamu sanggup habisin semua ini???" tanya Ary keheranan.
"Makan secukupnya saja, gak harus dipaksakan habis kok." jawab Alex dengan tersenyum manis.
"Ini mubazir namanya, Alex." kata Ary.
"Ya udah kalau gitu, sebagian dibungkus aja. Yang mana kamu mau dibawa pulang, bungkus aja." kata Alex menenangkan Ary agar tidak marah.
"Kamu sedekahin aja buat adik-adik pengamen yang biasa mangkal diperempat jalan. Aku makan ini secukupnya aja." saran Ary.
Sifat Ary yang selalu memikirkan orang yang kurang mampu, menjadi salah satu alasan Alex tidak bisa berpaling dari Ary. Sifat dermawan dan suka menolong Ary membuat Ary semakin cantik. Tidak hanya paras wajahnya saja yang cantik, tapi hati Ary juga cantik.
"Hmm..." Alex berdehem untuk menghilangkan rasa canggung dalam memulai percakapan dengan Ary.
__ADS_1
"Ary..."
"Ya, ada apa?" jawab Ary dengan santainya sambil menikmati makanan yang terhidang di atas meja.
"Besok siang aku berangkat ke Singapura, papa memintaku kuliah disana." Alex menjeda kalimatnya untuk melihat bagaimana reaksi Ary.
Ary hanya manggut-manggut saja tetap melanjutkan makannya.
"Sebelum pergi, aku hanya ingin memastikan perasaan kita. Memastikan hubungan kita ini. Aku benar-benar sayang kamu Ary, Aku cinta sama kamu." akhirnya keluar juga apa yang ingin Alex sampaikan selama ini.
"Aku tahu, kita memiliki banyak perbedaan. Karena alasan perbedaan itu menurut aku bukanlah alasan yang bisa dengan mudah aku terima. Dengan perbedaan itu kita bisa menjadikan sebagai warna dalam hubungan ini. Kita tetap bisa melangkah bersama walaupun berbeda." Alex mencoba mengutarakan pendapatnya, mengeluarkan isi hati dan pikirannya.
Ary yang mendengar perkataan Alex, langsung menyudahi makannya. Ary meneguk segelas air putih untuk melegakan tenggorokannya sebelum menjawab perkataan Alex.
"Alex, maaf beribu maaf. Perbedaan kita itu bukan sekedar harta yang dengan kita bekerja keras akan kita dapatkan. Perbedaan itu juga bukan sekedar pendapat yang hanya dengan musyawarah bisa terselesaikan. Ini masalah keyakinan yang berbeda. Bukan masalah yang rumit jika seandainya salah satu dari kita mau mengikuti keyakinan yang kita anut."
"Terus terang, dari lubuk hati yang terdalam. Aku tidak bisa meninggalkan keyakinan ku terhadap agamaku. Dan aku juga tidak pernah berharap kamu untuk mengikuti keyakinan ku." Ary menghela nafasnya untuk menjeda kalimatnya.
"Kita masih muda, jalan kita masih panjang. Masih banyak cita-cita yang akan kita raih. Masalah cinta dan perbedaan jangan sampai membuat kita lupa melangkah ke depan. Masa depan kita sudah menanti untuk diraih. Kamu jangan mau diperbudak perasaan kamu. Rasa itu harus kita lawan saat ini. Karena siapa tahu hari esok rasa itu sudah hilang bersama berlalunya waktu." jelas Ary panjang lebar.
Ary selama ini selalu melawan rasa cinta yang kadang hadir di hatinya. Karena dia selalu yakin bahwa cinta itu akan datang pada saat yang tepat. Saat ini bukanlah waktu memikirkan cinta, begitulah yang selalu dibenak Ary.
"Ary, berarti kamu menolakku?" tanya Alex.
"Aku tidak bisa mengatakan menolak atau menerima. Aku hanya mengatakan masa depan kita masih panjang. Untuk urusan cinta jangan terlalu dipikirkan. Cinta itu tidak harus memiliki, Alex. Dengan rasa cintamu itu, kamu bisa semakin termotivasi untuk belajar lebih giat lagi agar cepat tercapai cita-cita kamu. Agar kamu bisa menjadi kebanggaan orang tua kamu." nasehat Ary.
"Ya, cinta memang tidak harus memiliki. Tapi aku hanya ingin tahu perasaan kamu saja. Agar tenang hati dan pikiranku selama kuliah di Singapura." kata Alex.
"Aku belum tahu pasti, Alex. Yang aku tahu aku senang bila bersama kamu, senang berteman dengan kamu. Itu saja." jawab Ary.
__ADS_1
Ary tidak mau Alex kecewa jika dia mengatakan tidak mencintai Alex. Ary juga tidak ingin Alex berharap lebih jika Ary mengatakan dia juga mencintai Alex. Cukup Ary sendiri yang tahu bagaimana perasaannya pada Alex.
"Besok aku berangkat ke Bandara jam 9 pagi, kamu bisa kan mengantarkan aku ke Bandara, Ar?" tanya Alex.
"Aku usahakan ya, tapi aku tidak bisa janji. Karena semua itu atas ijin Allah." jawab Ary.
"Kalau aku tidak datang hingga 10 menit, kamu tinggal aja!" lanjut Ary.
"Oke, aku tunggu ya." kata Alex dengan tersenyum manis.
Setelah selesai makan Alex mengajak Ary jalan-jalan ke Mall yang ada di kota itu. Satu satunya Mall yang ada pada waktu itu. Mereka berniat membeli barang untuk kenang-kenangan. (Kalau sekarang sudah banyak kali, karena othor sudah lama banget meninggalkan pulau Jawa).
Sesampainya di Mall, Ary menuju ke konter baju pria. Dia ingin membelikan baju untuk Alex sebagai kenang-kenangan. Sebenarnya Alex mengajak Ary ke Mall juga untuk membeli kenang-kenangan untuk Ary.
"Kita ke konter baju pria dulu ya, aku mau beli buat kamu buat kenang-kenangan. Gak boleh nolak!" Ary memberikan ultimatum yang mau tidak mau dituruti Alex.
"Oke, ladies first!" jawab Alex.
"Kemeja ini cocok deh kayaknya sama kamu, suka gak?" tanya Ary sambil menunjukkan kemeja polos berwarna cream.
"Boleh! Mana aku lihat ukurannya?" jawab Alex, sambil mengambil kemeja tadi.
"Ukurannya sih sesuai. Aku coba dulu ya!" kata Alex kemudian meninggalkan Ary menuju ruang ganti.
"Pas banget! Pinter ya kamu milihnya, tepat lagi ukurannya. Jangan-jangan kamu selama ini diam-diam merhatiin aku ya?!" kata Alex begitu dekat dengan Ary setelah selesai mencoba kemejanya.
"Idih! Orang tadi cuma nebak aja, kebetulan pas!" jawab Ary.
"Sekarang giliran aku yang cariin barang buat kamu. Kamu mau apa?" tanya Alex.
__ADS_1
"Namanya dikasih, ya seikhlasnya yang mau ngasih dong!" jawab Ary.
Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu setelah Ary membayar kemeja untuk Alex.