Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
47. Saudara


__ADS_3

Bayu merasa kecewa, ingin marah tapi tidak tahu pada siapa. Lama dia memendam perasaan, lama dia menjaga hatinya. Sekarang dia harus menelan kekecewaan karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Dia tidak menyangka kedekatannya dengan Ary selama ini hanya dianggap kakak saja.


Bayu cukup tahu diri, dia tidak mau memaksakan kehendak. Dia tahu bahwa cinta tidak harus memiliki. Cukup melihat pujaan hatinya bahagia sudah membuatnya bahagia. Walau tidak bisa dipungkiri, ada rasa sakit menggores hatinya.


"Kamu kenapa, sejak pulang tadi kok murung terus?" tanya ibu Marinah sambil duduk mendekati Bayu.


"Bayu nggak apa-apa kok, ibu nggak usah khawatir ya." jawab Bayu sambil mengusap punggung ibunya.


"Kan ibu pernah bilang, kamu jangan mencintai Ary berlebihan. Karena dia itu bukan jodoh kamu." kata ibu sambil memegang lengan Bayu.


Bayu terkesiap mendengar kata-kata ibunya, dia tidak menyangka ibunya tahu kegundahan hatinya.


"Ibu kan, yang melarang Ary untuk menerima Bayu?" tanya Bayu tiba-tiba.


"Ibu melarang kalian pacaran ataupun menikah, karena ibu punya alasan tersendiri." jawab ibu Marinah sambil berdiri hendak meninggalkan kamar Bayu.


"Ibu akan menjelaskan kenapa ibu menentang keras hubungan kalian. Besok suruh Ary datang ke sini, ibu akan jelaskan semuanya!" perintah ibu Marinah sambil menutup pintu kamar Bayu.


"Iya, Bu!" jawab Bayu singkat.


Setelah pintu kamar tertutup, Bayu mengambil ponselnya lalu mengirim pesan untuk Ary. Karena sudah malam, makanya Bayu hanya mengirim pesan saja.


"Assalamualaikum, Dek besok pagi bisa ke rumah nggak. Ada yang mau ibu sampaikan."


Tidak lama kemudian Bayu ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Ary yang saat itu kebetulan hendak mematikan lampu, mendengar ada notif pesan masuk langsung membuka pesan itu.


"Wa'alaikum salam warahmatullahi. Ok! Jam sembilan pagi, aku datang."


Seperti itulah jawaban Ary. Setelah membalas pesan dari Bayu, Ary mematikan lampu kemudian tidur.


***


Keesokan harinya.


Ary bersiap-siap ke rumah Bayu setelah selesai membantu Bunda beberes rumah. Tadi Ary sudah minta ijin pada Ayah dan Bunda kalau akan pergi ke rumah Bayu.

__ADS_1


"Bun, Ary pamit ya. Sudah ditunggu nih sama kak Bayu." kata Ary mendekati Bunda kemudian mencium punggung tangan Bunda.


"Assalamualaikum" kata Ary sambil meninggalkan ruang keluarga.


"Wa'alaikum salam, hati-hati di jalan ya! Nitip salam ya buat Bayu sama ibunya." jawab Bunda.


"Iyaa!" jawab Ary sambil menghidupkan motornya.


Sepuluh menit kemudian Ary sudah sampai di rumah Bayu. Ary langsung mengetuk pintu rumah Bayu.


"Assalamualaikum!" teriak Ary.


"Wa'alaikum salam, ayo masuk!" jawab Bayu sambil membuka pintu lebar-lebar.


"Ibu mana, kak?" tanya Ary saat memasuki rumah.


"Ibu di belakang, ayo ke belakang aja!" ajak Bayu.


Ary mengikuti Bayu dari belakang. Ary sebenarnya tidak tega melihat keadaan Bayu, sejak tadi malam Bayu tampak kusut. Tidak seperti biasanya selalu ceria, walaupun sedang ada masalah.


Sampailah mereka di teras belakang rumah Bayu, dimana ibu Marinah sudah menunggu kedatangan Ary.


"Wa'alaikum salam, sini duduk dekat Ibu." jawab ibu Marinah.


"Ada hal pentingkah, kok Ibu meminta Ary datang kesini?" tanya Ary terus terang.


Ary tidak ingin melihat wajah kecewa Bayu terlalu lama. Ary hatinya sangat lembut, sehingga dia mudah iba melihat kesedihan orang lain.


"Bayu kamu ambilkan peti kecil di nakas samping ranjang Ibu!'' perintah ibu Marinah pada Bayu.


Bayu pun bergegas mengambil peti yang dimaksud tanpa banyak tanya. Selama ini dia penasaran dengan isi peti itu, tapi tidak sekalipun dia mengambilnya.


"Ini, Bu!' kata Bayu sambil menyerahkan peti tersebut setelah diambilnya dari kamar.


Ibu Marinah menerima peti itu kemudian membukanya. Di dalam peti tersebut terdapat beberapa lembar foto yang sudah usang dan juga sebuah gelang emas bertahtakan berlian.


"Bayu sebenarnya orang yang kamu anggap sebagai bapak itu bukanlah bapak kandungmu." kata ibu Marinah tiba-tiba sambil mengambil selembar foto.

__ADS_1


Foto pernikahan antara Marinah muda dengan Sofyan Hadiningrat, penerus perusahaan meubel Jaya Hadiningrat.


Bayu yang mendengar perkataan ibu Marinah terkejut, dan dia merasa telah dibohongi ibunya.


"Lalu siapa bapak Bayu, dimana beliau sekarang?" tanya Bayu memendam amarah.


"Kak Bayu sabar ya, jangan marah sama Ibu. Kita dengar dulu cerita Ibu." kata Ary menenangkan Bayu.


"Dulu ibu pernah menikah dengan anak seorang pengusaha terkenal, bukan hanya pengusaha sukses tapi juga seorang berdarah biru. Tidak semua orang bisa diterima masuk menjadi anggota keluarga itu. Keluarga itu sangat memperhatikan bibit, bebet dan bobot seseorang. Hanya orang dari kalangan keluarga berdarah biru atau pengusaha sukses saja yang bisa diterima."


"Ibu hanya seorang anak petani miskin yang tidak memiliki apa-apa. Ibu bekerja sebagai pembantu di rumah itu. Rumah kediaman Raden Mas Jaya Hadiningrat. Mereka sangat baik memperlakukan orang yang bekerja disana."


"Beberapa bulan bekerja disana, anak majikan ibu pulang dari Jakarta karena sudah selesai kuliah. Lama kelamaan tumbuh rasa di hati kami, kami pun menjalani pacaran secara sembunyi. Sampai suatu hari kami ketahuan, ibu dipecat. Sedangkan Sofyan dijodohkan dengan relasi bapaknya. Walaupun berbeda keyakinan mereka tetap menjalankan perjodohan itu demi bisnis. Sofyan menolak perjodohan itu, kemudian meninggalkan rumah."


"Kami menikah tanpa restu dari orang tua, karena pada waktu itu orang tua ibu sudah meninggal semua. Sewaktu mas Sofyan meninggalkan rumah, dia membawa sebuah gelang pemberian ibunya. Gelang itulah yang digunakan sebagai mas kawin pernikahan kami."


"Kehidupan kami sangat susah setelah menikah, karena semua perusahaan menolak lamaran kerja mas Sofyan. Kami berjualan kue keliling kampung agar bisa makan. Karena keterbatasan modal, kami hanya berjualan kecil-kecilan. Tidak lama kami menikah, ibu hamil. Ternyata cobaan belum berhenti juga, yang awalnya jualan kami laris manis tiba-tiba tidak laku."


"Suatu hari, datang seorang utusan yang mengabarkan bahwa kanjeng Raden Mas Jaya sakit keras. Mas Sofyan diminta pulang ke rumahnya. Dia menolak untuk pulang, akhirnya dengan bujukan dan paksaan dari ibu. Mas Sofyan pulang menjenguk bapaknya. Setelah itu, Mas Sofyan tidak pernah kembali lagi pada ibu."


"Ibu tidak tahu lagi kabarnya. Beberapa bulan kemudian, ibu mendengar kabar kalau mas Sofyan menikah dengan seorang gadis yang pernah dijodohkan dengannya. Karena kabar itu, ibu meninggalkan rumah kami. Rumah peninggalan orang tua ibu."


"Saat itu ibu sedang hamil tua, hanya menunggu hari kelahiran kamu saja. Dalam perjalanan, perut ibu sakit. Tanda-tanda akan melahirkan pun sudah ada. Ibu ditolong seorang pemuda, yang akhirnya menjadi bapak kamu."


"Sofyan Hadiningrat adalah adik laki-laki ibunya Ary, Widya Lestari Hadiningrat."


Ary tidak heran mendengar siapa sebenarnya ayah kandung Bayu. Karena wajah Bayu adalah hasil fotokopian Om Sofyan. Jika om Sofyan masih hidup, Bayu versi muda om Sofyan.


"Itulah kenapa ibu melarang kalian menikah, sampai matipun ibu tidak akan merestui. Karena kalian masih memiliki ikatan darah, diharamkan untuk menikah." jelas ibu Marinah.


Ibu Marinah mengakhiri ceritanya, beliau menangis karena harus membuka luka lamanya. Dia harus menceritakan semuanya agar Bayu menghentikan keinginannya untuk menikahi Ary. Ibu hanya tidak ingin ada rasa benci di hati Bayu karena ditolak Ary.


Hallooo readers kesayangan, masih boleh dong ngucapin "Selamat Hari Raya Idul Fitri"


Taqaballahu Minna Waminkum, Taqabal Ya Karim...


Mohon maaf lahir dan batin ya para readers kesayangan aku.

__ADS_1


Minal Aidin wal Faizin 🙏🙏🙏🙏


Maaf telat up, Bunda Cantik lagi sibuk RL. Sudah jadi seorang nyonya repot luar biasa menyiapkan lebaran.


__ADS_2