
Hari ini Sabtu pagi, hari terakhir Ary ijin tidak masuk sekolah. Ayah dan bunda ada undangan rewang dari budhe Maria, kakak sepupu bunda. Budhe Maria tinggal di Jogja, tepatnya belakang pasar Ngasem. Besok budhe mengadakan resepsi pernikahan anaknya yang paling kecil. Untuk itulah ayah dan bunda diundang rewang.
"Kamu gak apa-apa kan, nduk? Ayah sama bunda besok siang pulang." kata bunda.
"Selesai acara resepsi, kami langsung pulang kok." sambung ayah.
"Iya, Ary gak pa-pa. Kan ada mbak Asih yang nemenin Ary. Biar nanti malam, Enno ku suruh nginep sini." kata Ary menenangkan orang tuanya. "Ayah sama bunda jangan khawatir, ok?"
"Bapak sama ibu tenang saja, Asih akan menjaga mbak cilik dan rumah ini. Pokoke beres wes!" mbak Asih meyakinkan kedua orang tua Ary.
"Yo wes, kami tak budal sek. Ati-ati neng omah!" pesan bunda.
(Ya sudah, kami berangkat dulu. Hati-hati di rumah.)
Ayah dan bunda pun tenang meninggalkan Ary di rumah, setelah mendengar kata mbak Asih tadi. Mereka berdua akhirnya pergi menuju rumah budhe.
"Mbak... Mbak gak apa-apa kan, di rumah cuma berdua sama mbak Asih? Kalo takut, biar mbak Asih boboknya di kamar mbak Ary saja. Gimana mbak?" tanya Asih.
"Gak pa-pa, nanti malam Enno nginep sini kok. Mbak Asih tidur di kamar mbak aja seperti biasanya." jawab Ary. Setelah itu Ary masuk ke kamarnya, dia menelepon Enno.
"Hallo, assalamualaikum."
"....."
"Jadi loe nginep sini kan?"
"....."
"Jangan sampai kelupaan. Ingat pulang sekolah langsung ke sini!"
"....."
"Ya, selamat belajar. Jangan molor di kelas! Dah ya, assalamualaikum" Ary menutup pembicaraan dengan Enno.
Satu jam kemudian setelah ayah dan bunda pergi. Ayah mengabari Ary, bahwa beliau sudah sampai di rumah budhe Maria. Jarak tempuh rumah Ary dengan rumah budhe hanya memakan waktu kurang lebih satu jam, bila menggunakan kendaraan pribadi.
***
Di sekolah Ary saat jam pulang sekolah.
"Lex, loe jadi ikut ke rumah Ary gak?" tanya Enno pada Alex, saat berada di parkiran sekolah.
"Nanti agak sorean lah, gue pasti kesana. Gue masih ada urusan." kata Alex.
"Jangan lupa bawa makanan yang banyak! Masak ke tempat pujaan hati gak bawa apa-apa. Modal dikit ngapa? Awas ya kalo gak bawa!" cerocos si Enno.
"Mulutmu kebanyakan makan cabe ya, Ndir? Nyerocos aja, gak ada jedanya." Anton gemas, tangannya maju ingin meremas mulut Enno.
Tangan Anton langsung ditepis Enno.
__ADS_1
" Cerewet! Alex aja diem, anteng gak banyak komen. Kenapa loe yang sewot?" jawab Enno.
"Malah berantem! Ayo cepat masuk!" Alex menarik tangan Anton, agar cepat masuk ke dalam mobilnya. Alex dan Anton kemudian melaju pergi meninggalkan Enno sendiri di parkiran.
Setelah Alex dan Anton pergi, Enno memacu kendaraannya menuju rumahnya. Begitu sampai rumah, dia langsung ganti baju. Enno menyiapkan baju ganti untuk menginap di rumah Ary. Setelah beres, dia langsung pergi ke rumah Ary.
"Ary... Ary... Assalamualaikum!"
"Assalamualaikum! Mbak... Mbak Asih" Enno teriak-teriak memanggil Ary dan mbak Asih.
Dari dalam rumah terdengar suara langkah kaki seseorang mendekati pintu utama, kemudian pintu pun terbuka.
"Oh, non Enno. Mari masuk non, itu mbak cilik di kamarnya." kata Asih. " Langsung masuk kamar aja non, gitu pesan mbak cilik."
Enno pun melangkahkan kakinya menuju kamar Ary.
"Ary!!!"Jerit si Enno. Dia berteriak histeris, begitu masuk ke kamar Ary.
Ary yang sedang terbuai alam mimpi tidur langsung melompat dari tempat tidurnya, reflek karena kaget.
"Aduuhhh.." Ary memegangi kepalanya yang terasa sakit, karena bangun secara tiba-tiba karena kaget tadi. Padahal Ary belum dibolehkan untuk bergerak atau berdiri secara tiba-tiba. Kepalanya akan langsung berdenyut jika menggerakkan kepala secara tiba-tiba.
"Sorry... sorry! Gue kira loe bangun, belum tidur." kata Enno cengengesan tidak merasa bersalah sedikitpun. Enno berjalan mendekati Ary yang sedang duduk di pinggir ranjangnya.
"Kepala loe gak pa-pa kan?" tanya Enno panik.
"Kenapa loe teriak-teriak sih? Jadi kaget gue!" Ary teriak karena saking sakitnya.
"Sorry banget ya, betulan gak sengaja ngagetin loe." Enno memelas.
*Tok tok...tok..
Ceklek*...
Pintu kamar Ary diketuk lalu dibuka, masuklah mbak Asih ke dalam kamar.
"Mbak cilik, itu ada temannya di depan. Disuruh masuk apa di teras aja?" tanya Asih.
"Biar di teras aja, mbak. Oh ya, biasa ya. Mintol... minum seperti biasanya." Ary mengedipkan matanya tanda mode merayu lagi on.
"Yuk, depan kita." kata Ary menarik tangan Enno. Kulit Enno sangat lembut, karena dia tidak biasa mengerjakan pekerjaan rumahan.
"Kepala loe udah enakan? Betul gak sakit lagi?" tanya Enno was-was.
"Udah mendingan kok, gak pa-pa! Ayo!" sahut Ary.
Mereka berdua berjalan keluar menuju teras, hendak menemui temannya yang datang bertamu.
"Pasti si Colak colek, mau apa dia ya Ar? Jangan jangan mau nembak loe lagi!" Enno menakut-nakuti Ary.
__ADS_1
"Terima aja ngapa, Ar? Kurangnya apa coba, dia itu pandai, baik, orang tuanya tajir tapi tidak sombong. Apalagi ya, ganteng sih tapi sayang kerempeng." si Enno nyerocos sepanjang jalan.
"Hahaha..." mereka berdua tertawa bersama.
"Awalnya diangkat setinggi langit, abis itu dibanting. Grubaakk..." kata Ary masih sambil tertawa. Bahkan sampai di pintu depan pun mereka masih tertawa.
"Hahaha... Udah sakit perut gue!" kata Ary sambil memegangi perutnya, tidak tahan tertawa terus.
"Sepertinya ada yang lagi seneng, sampai tertawa kenceng banget." celetuk Anton karena melihat Ary dan Enno tertawa terbahak-bahak.
"Ini si Enno lagi ngelawak." jawab Ary.
"Hai, Ary. Makin sehat dan cantik aja nih. Senin sudah pasti masuk sekolah kan?" Kata Alex.
"Oh, kalo itu pasti. Ary gitu loh!" Enno menimpali. Ary memukul tangan Enno.
"Apaan sih!" Ary.
"Lho, gue kan ngomong apa adanya. Loe makin sehat, makin cantik iya. Hari Senin besok sudah bisa sekolah lagi. Itukan fakta, fakta Ary!!!" Enno ngotot.
"Tumben waras si Mondar-mandir." kata Anton.
"Gue gak gila ya, Ferguso! Yang gila itu loe, kalo ngomong suka asal keluar dari mulut!" Enno mulai emosi.
"Kalian dua, kalo ketemu pasti berantem. Kayak anjing sama kucing. Gak ada yang waras memang kalian dua ini!" Alex menggelengkan kepalanya.
"Laper gue belum sempat makan tadi, loe bawa apaan, Lex?" jiwa pemalak Enno keluar.
"Ini, buka aja! Kita makan sama-sama di sini." Alex menyerahkan dua kantong plastik kresek makanan ke Ary.
"Makasih" jawab Ary singkat.
"Gue yang minta, Ary yang dikasih." Enno protes.
"Jangankan makanannya, hati sama nyawanya aja dikasihkan ke Ary, kalo diminta." Anton.
Alex hanya diam tersipu malu, karena diledek teman-temannya. Sedangkan Ary, masuk membawa plastik berisi makanan yang dibawa Alex tadi.
Walaupun Ary ditinggalkan orang tuanya pergi, Ary tidak merasa kehilangan. Karena teman-temannya datang menemaninya.
Ary keluar membawa gado-gado yang dibawa Alex tadi. Tidak hanya gado-gado, ada berbagai macam jajanan lainnya. Alex sengaja membeli gado-gado, karena itu makanan kesukaan Ary.
Mereka berempat makan dengan lahap. Mereka makan sambil bercerita, tak jarang pula mereka tertawa, jika ada yang lucu. Bahkan mereka juga menertawakan kelucuan Enno. Enno memang somplak, selalu saja ada kejadian atau kata-kata Enno yang membuat temannya tertawa.
Happy Reading 🤗🤗😘
Jangan lupa like dan comment serta beri bintang 5.
Terimakasih 🙏🙏🙏
__ADS_1