Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
37. Pasienku Bukan Kamu Saja!


__ADS_3

Hari Senin adalah hari yang sangat dibenci oleh sebagian orang. Bahkan sampai ada yang bilang "I hate Monday!", karena setelah liburan ongkang-ongkang kaki harus kembali berkutat dengan segala aktivitas yang melelahkan.


Begitu juga dengan Ary, kalau bisa dia ingin waktu berhenti berputar. Tetap di rumah orang tuanya, bercengkrama dengan Ayah, Bunda serta Eno. Seakan tak pernah puas berada diantara mereka, saling menyayangi dan saling mendukung dalam segala hal.


Kesibukan Ary dari pagi hingga siang hari dihabiskan di kampusnya. Ary mengurus pendidikannya untuk mendapatkan gelar dokter spesialis paru.


Setelah Dzuhur Ary baru bisa ke rumah sakit, jam prakteknya tukar jam dengan dokter penyakit dalam lainnya. Siang ini Ary ada janji dengan pasiennya yang akan melahirkan tapi memiliki riwayat penyakit dalam. Jadi dia akan mendampingi pasien tersebut untuk mengantisipasi jika terjadi komplikasi pada saat operasi.


Saat dia memasuki rumah sakit sayup sayup terdengar suara musik yang melantunkan sebuah lagu. Dan tidak sadar Ary pun mengikuti musiknya dan melafalkan liriknya.


🎶 Pernah ku jatuh hati


Padamu sepenuh hati


Hidup pun akan ku beri


Apa pun akan ku lalui


Tapi tak pernah ku bermimpi


Kau tinggalkan aku pergi


Tanpa tahu rasa ini


Ingin rasa ku membenci


Tiba-tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura-pura lupa


Tiba-tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia

__ADS_1


Semakin hancur hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku


Jangan lagi rindu cinta


Ku tak mau ada yang terluka


Bahagiakan dia aku tak apa


Biar aku yang pura-pura lupa 🎶


Tak terasa Ary pun meneteskan air matanya. Dia yang menyesal, seandainya dulu dia mengakui perasaannya mungkin akan lain ceritanya.


Ary yang sibuk dengan pendidikan dan pekerjaannya mampu melupakan kesedihannya sejenak. Semua dia lakukan dengan semangat jadi tidak terasa menjadi beban.


Karena kesibukannya itu, Ary menunda jam kunjungannya ke pasien rawat inap yang ditanganinya. Dia tidak pernah pilih-pilih pasien, semua pasien mendapatkan perlakuan yang sama. Baginya tidak ada pasien istimewa, kecuali yang darurat.


Sementara itu di ruang rawat inap pasien, Rendy sejak pagi berulah lagi setelah mamanya pamitan pulang ke Medan. Dia merasa tidak diperhatikan. Dia merasa terbuang, merasa keberadaannya tidak dianggap. (Othor lebay gak sih buat karakter Rendy 🤔)


"Bro, makan dulu! Dari pagi loe belum makan, belum minum obat juga. Kapan Loe sembuh kalau kayak gini terus?" bujuk Brandon.


"Koas yang mana sih?" tanya Brandon pada Rommy.


"Dokter yang menggantikan dokter Fadli kali!" jawab Rommy asal.


"Loe kek bocah, Bro! Loe keras kepala banget sih, yang penting sekarang loe sembuh dulu! Nggak penting tahu nggak mikirin dia!" kata Brandon.


"Ho'oh! Belum tentu dia mikirin loe! Iya kan, Ndon?" sela Rommy.


"Loe itu baru kenal dia seminggu, dan selama itu dia cuek aja kan sama loe? Anggap aja dia numpang lewat di depan loe!" kata Brandon.


"Dia lain, Men! Dia selalu tersenyum walaupun gue jahilin dia, gue isengin dia. Bahkan gue ngomong kasar aja tetep tersenyum. Senyumnya manis banget, Men!" bela Rendy.


"Eh, beneran dia cuma koas? Kok gue nggak percaya ya?" tanya Rommy penasaran.


"Koas kok dipercaya ngurus pasien berat kayak gini!" kata Brandon. "Nggak mungkin lah kalau cuma koas."


"Gue heran juga sih, kalau dia koas masak dia tahu semua tindakan yang harus dilakukan pas gue tiba-tiba kambuh." tanya Rendy.


"Tapi pas gue bilang koas, perawat yang biasa kesini juga diam saja. Nggak ada bilang apa-apa. Itu berarti dia koas." Rendy asik menebak-nebak sendiri.


Rommy melihat jam tangannya saat Rendy dan Brandon asik ngobrol. Dia ada kuliah siang ini, mata kuliah dengan dosen killer. Jika prosentase kehadirannya kurang dari 80 persen, bisa dipastikan dia akan mengulang mata kuliah ini di semester berikutnya.


"Bro, gue ada kuliah siang ini! Gue pamit dulu!" pamit Rommy pada Rendy.

__ADS_1


Rommy mendekati Brandon setelah menyalami Rendy.


"Kuliah sana yang rajin! Jangan tidur di kelas, nanti disuruh keluar kelas lagi!" Brandon mengingatkan.


Karena bukan hanya sekali dua kali Rommy tidur saat dosen menerangkan di depan. Alasannya selalu sama, ngantuk karena begadang. Bahkan mungkin semua orang di kampus itu tahu kalau seorang Muhammad Romadhon, mahasiswa belajar tapi tukang tidur di kelas.


***


Sore hari setelah mendampingi pasiennya menjalani operasi, Ary menuju ruang rawat jalan pasien. Dia memasuki ruang prakteknya, dan mulai mempelajari rekam medis pasiennya.


"Sus, sudah bisa dimulai ya!" kata Ary pada perawat yang menjadi asistennya selama praktek.


Setelah memberitahu perawat tersebut Ary duduk meminum air putih, kemudian berdiri hendak mencuci tangannya. Ary selalu mencuci tangan dan memakai sarung tangan setiap kali akan dan setelah memeriksa pasiennya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan.


Kurang lebih tiga jam Ary berkutat dengan segala keluhan pasien-pasiennya yang rawat jalan. Akhirnya sekarang giliran Ary mengunjungi pasien rawat inap. Kebetulan Rendy mendapat giliran pertama, jadi dia harus bergegas agar berhenti kelamaaan berada di ruang rawat Rendy.


"Selamat malam! Gimana Abang, sudah enakan?" tanya Ary ramah.


Ary berjalan mendekati Rendy, dan melihat meja nakas. Karena Rendy masih merajuk, nasi makan malam dari rumah sakit masih utuh belum tersentuh.


"Lho, kenapa nasinya masih utuh?" tanya Ary


"Nggak selera makan, Dok!" jawab Rendy singkat.


"Harus dipaksakan makan walaupun beberapa suap saja! Kalau nggak makan kapan bisa sembuh, mau disini terus?" kata Ary dengan senyum manis.


"Gue mau makan, tapi loe yang suapin ya!" jawab Rendy enteng.


Ary hanya tersenyum mendengar kata Rendy.


"Abang nggak bisa makan sendiri kah?" tanya Ary masih dengan senyum yang mengembang.


"Minta dipanggil Abang tapi makan minta disuapin. Malu dong sama cicak!" kelakar Ary.


"Kalau nggak mau, nggak usah!" jawab Rendy cemberut.


"Hahaha" Ary tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


Saat Ary sedang tertawa dan hendak mengambil nasi di meja nakas, datang seorang perawat yang panik.


"Dok, pasien yang tadi siang operasi mengalami penurunan detak jantungnya. Kata yang menjaga tadi sempat berhenti berdetak. Dokter Dzaky meminta dokter segera ke ruang tersebut, takutnya terjadi komplikasi seperti perkiraannya." kata perawat itu terengah-engah.


"Ok, saya segera kesana!" jawab Ary sambil kembali meletakkan piring berisi nasi jatah makan malam Rendy.


"Maaf Abang, saya harus menangani pasien itu. Abang makan sendiri ya, jangan lupa minum obatnya. Biar lusa bisa pulang dari sini." kata Ary


"Gue mau loe suapin gue dulu! Gue laper dari tadi siang nggak makan. Gue nungguin loe!" ketus Rendy.


"Malam ini makan sendiri dulu ya, besok saya usahakan menyuapi kamu makan. Janji!" bujuk Ary sambil mengangkat tangan kanannya membentuk huruf V.


"Nggak! Loe keluar dari kamar ini, gue nggak jadi makan!" ancam Rendy.

__ADS_1


"Maaf, pasienku bukan kamu saja! Masih banyak yang menunggu untuk saya periksa! Lagian ini genting, harus ditangani dengan cepat! Permisi!!!" kata Ary tegas sambil meninggalkan ruangan tersebut.


__ADS_2