Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
22. Beda


__ADS_3

Sepulang dari latihan beladiri, Ary diajak mampir ke rumah makan milik orang tua Bayu. Bayu ingin memperkenalkan Ary pada ibunya. Karena ibunya penasaran dengan Ary, wanita pertama yang selalu dipuja Bayu di depan ibunya.


Bayu selalu bercerita tentang Ary pada ibunya. Semua tentang Ary dan kegiatan yang dilakukan Bayu bersama Ary tidak pernah luput dari cerita Bayu pada ibunya.


Bagi Bayu ibunya adalah seorang pahlawan, karena ibunya bisa bertindak sebagai ibu sekaligus ayah dan teman. Sejak ayahnya meninggal, Bayu semakin dekat dengan ibunya.


"Assalamu'alaikum." Bayu masuk ke rumah makan itu melalui pintu samping dekat meja kasir. Ary mengikuti Bayu.


"Mbak, Ibu mana?" tanya Bayu pada salah satu karyawan ibunya yang sedang duduk di meja kasir.


"Ibu sedang masak di dapur, Mas. Tadi ada pelanggan lawas yang minta masakan Ibu." jelas karyawan yang bernama Wati tersebut.


"Oh, okelah kalau begitu! Kami langsung menuju dapur saja!" kata Bayu dengan ramah, sambil tersenyum manis.


"Ayo, Dik. Kita cus ke dapur aja, sekalian makan di sana. Masakan Ibu enak lho." ajak Bayu pada Ary.


Bayu dan Ary pun berjalan menuju ke dapur untuk menemui Ibu Marinah, ibunya Bayu. Rumah makan itu bernama "Rumah Makan Bu Marinah".


"Assalamualaikum, Ibu." sapa Bayu pada ibunya, saat ini ibunya sedang memasak cumi goreng asam manis atas permintaan pelanggan.


"Wa'alaikum salam, lho Gantengnya Ibu sudah pulang tho. Mrene mrene lungguh kene dhisik." kata Ibu menunjuk pada kursi di belakang Ibu berdiri.


(Sini sini duduk disini dulu)


Di belakang Ibu terdapat meja makan dengan empat kursi. Meja itu biasanya digunakan untuk meracik bahan masakan yang akan dimasak. Selain itu juga, biasa dipakai oleh para karyawan untuk makan.


"Kene lho Bay, koncone diajak lungguh kene dhisik. Ibu tak ngrampungke le masak iki sik!" perintah Ibu.


(Sini lho Bay, temannya diajak duduk dulu. Ibu mau menyelesaikan masak ini dulu)


Bayu dan Ary pun berjalan menuju kursi yang berada di dapur itu. Ary menyalami tangan Ibu Bayu kemudian mencium punggung tangannya.


"Waahh, ayu tenan yo. Pantes Bayu kedanan ro kowe, cah ayu!" kata Ibu.

__ADS_1


(Waahh, cantik benar ya. Pantas saja Bayu tergila-gila sama kamu, Cantik.)


" Jenengmu sopo, Cah Ayu? Jan, ayu tenan ngene iki gek anake sopo ngono." Ibu gemas sendiri melihat kecantikan alami Ary.


(Nama kamu siapa, Cantik? Memang cantik, ini anaknya siapa coba?)


Ary memiliki kecantikan alami, karena dia tidak pernah berdandan. Setiap hari dia hanya memakai bedak tabur bayi. Lipglos (pelembab bibir) saja dia tidak pakai, apalagi lipstik.


***


Sementara itu di tempat lain, di sebuah cafe yang berada di lantai teratas mall di kota Ary. Tampak Alex sedang menginterogasi Enno.


Alex begitu cemburu melihat kedekatan antara Bayu dan Ary. Setelah putus dari Alex, Ary semakin dekat dengan Bayu. Alex berpikir bahwa Ary dan Bayu sudah pacaran.


"Kenapa mereka (Bayu dan Ary) jadi sangat lengket begitu?" tanya Alex pada Enno.


"Mana gue tahu, tanya aja sendiri sono!" jawab Enno ketus. Enno mulai jengah dengan sikap Alex. Alex selalu ingin tahu semua tentang Ary, tapi tidak mau bertanya langsung pada Ary.


"Ya kali, gue 24 jam nongkrongi si Ary. Gue bukan baby sister nya!" teriak Enno, dia marah karena Alex selalu mendesaknya untuk menceritakan semua kegiatan Ary.


"Masak sih, yang bener aja loe nggak tau! Kagak percaya gue!" Alex pun mulai terbawa emosi, karena Enno tak kunjung memberikan jawaban.


" Jadwal kegiatan dia itu padet banget. Pulang sekolah, selalu saja ada kegiatan OSIS. Entah itu sekedar rapat atau sharing, entah latihan berbaris, entah materi pembekalan atau apalah itu. Gue kagak tau!"


"Seminggu tiga kali dia ikut bimbel di Prima Gama, tempat nyokapnya ngajar. Kalau tidak ada jadwal bimbel dia bantuin Ayah di kios."


Akhirnya mau tidak mau Enno menceritakan semua kegiatan Ary selama ini. Dia tidak mau Alex selalu mengejar informasi tentang Ary.


"Terus, kalau hari Minggu pagi dia ikut pengajian Ahad pagi di Masjid Raya. Setelahnya langsung ke GOR, latihan beladiri pencak silat walet putih. Pulang dari situ baru, dia bisa istirahat." imbuh Enno.


"Berarti Ary setiap hari selalu sama orang itu?" tebak Alex.


"Orang itu siapa? Ada namanya kan? Dia punya nama, sebut namanya yang bener. Jangan bilang orang itu lagi! Nanti Ary denger bisa bisa lehermu digorok!" kata Enno.

__ADS_1


"Sakit hati gue, lihat Ary begitu dekatnya dengan orang lain." kata Alex memelas.


"Jelas deket lah, jelas-jelas Kak Bayu mengajak Ary dalam kebaikan. Lagian Ary sama Bayu itu searah, sejalan dan satu tujuan yang sama." kata Enno panjang kali lebar.


"Kalau loe sama Ary, beda semuanya. Banyak banget perbedaan antara loe sama Ary." imbuh Enno.


"Beda? Apanya yang beda? Di mana letak perbedaan itu?" tanya Alex bingung mendengar kata-kata Enno.


"Sadar loe! Loe itu ke Gereja, sedangkan Ary ke Mesjid. Loe anak pengusaha sukses yang kaya raya, orang tua Ary hanya guru SD. Ibarat kata kasarnya, loe sama dia ibarat langit sama bumi. Beda jauh, dodol! Beda arah, beda jalan dan beda tujuan!" kata Enno berapi-api menjelaskan pada Alex.


Alex yang mendengar kata-kata Enno barusan langsung lemas. Dia tidak menyangka kalau perbedaan itu yang menghalanginya untuk bersama Ary.


"Lah, loe sama Ronal beda juga. Tapi kalian tetep jalan bareng. Tetep pacaran!" jawab Alex.


"Ishh... Gue sama Ronal kan hanya sebatas pacaran. Beda sama Ary, dia tidak mau pacaran. Dia maunya pacaran cuma sekali terus nikah. Keluarga Ary tidak mengenal istilah pacaran."


"Keluarga gue sama keluarga Ary beda. Keluarga gue, berjiwa Pancasila. Yang penting, Ketuhanan yang maha esa."


"Kalau keluarga Ary, keluarga ustadz. Kedua kakaknya saja sekolah di pondok pesantren. Cuma Ary sendiri yang tidak sekolah di sana, karena dia tidak mau pisah sama orang tuanya." Enno menjelaskan semuanya pada Alex, agar Alex berhenti mengejar Ary.


Enno kasihan melihat Alex yang tergila-gila pada Ary, tapi Ary hanya cuek saja. Tidak sedikitpun ada rasa cinta dari Ary untuk Alex. Karena Ary mengubur dalam-dalam rasa cintanya pada Alex. Selain adanya jurang perbedaan, juga karena Ary masih ingin mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter.


Ary memang bercita-cita menjadi seorang dokter dari kecil. Dia selalu bermain dokter-dokteran dengan teman-temannya ketika kecil.


Ary selalu mengingat salah satu ayat dalam surat pendek Al Kafirun. Lakum dinukum wa liyadin (Al Kafirun ayat enam). Artinya, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.


Ary sebisa mungkin menjauhi Alex, agar dia tetap pada ajaran agamanya. Begitu juga dengan Alex, tetap pada ajaran agamanya sendiri.


TERIMA KASIH SUDAH MAU MAMPIR DAN MEMBACA NOVELKU YANG PENUH DENGAN KEKURANGAN INI.


MOHON TINGGALKAN JEJAK, LIKE, COMMENT DAN JADIKAN FAVORIT.


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2