
Senin pagi adalah hari paling sibuk. Begitu juga dengan Ary, karena hari ini adalah hari pertama dia masuk setelah sebulan lamanya tidak sekolah. Kecelakaan itu membuat Ary tidak bisa sekolah sebulan, tepatnya empat Minggu, dua Minggu di rumah sakit dan dua Minggu lagi istirahat di rumah.
"Ary, nanti pergi ke sekolah ayah yang antar!" kata ayah di ruang makan. Saat ini mereka sedang menyantap sarapan pagi.
"Kenapa tidak boleh bawa motor sendiri, yah?" tanya Ary
"Ayah tidak ingin anak ayah kenapa kenapa." Ayah.
"Kamu baru sembuh, Ary. Jangan buat kami khawatir! Ikuti saja apa kata orang tua!", ibu menjelaskan keinginan ayah.
Ayah dan bunda sangat menyayangi Ary, mereka tidak mau kejadian sebulan yang lalu terulang kembali.
"Iya, bunda. Ary ke sekolah diantar ayah, tapi pulangnya gimana?", tanya Ary.
"Pulang nanti ayah jemput lagi, kalau ayah tidak sempat ayah kabari kamu. Kamu bisa numpang sama Enno atau naik angkot.", kata ayah sambil mengakhiri sarapannya dengan minum air putih.
"Ayo, Ary! Ayah mau belanja ke Jogja, banyak barang yang stock- nya habis. Ayah harus cepat, kalau tidak pelanggan kita akan lari ke toko lain.", ayah berkata sambil berjalan keluar rumah menuju garasi.
"Hati-hati, yah. Jangan ngebut bawa mobilnya!", bunda mencium punggung tangan ayah.
Ary pun mengikuti ayah sambil menggendong tas sekolahnya. Kemudian Ary memeluk bunda, mencium kedua pipi bunda, terakhir dia mencium tangan bunda.
"Ary pamit bunda, assalamualaikum.", kata Ary.
"Kami berangkat ya, bun! Assalamualaikum." ayah sudah duduk di belakang kemudi melambaikan tangannya.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh.", jawab bunda.
Ayah pun mulai menghidupkan mesin mobil kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sepuluh menit kemudian, sampailah mereka di depan sekolah Ary. Ayah berhenti di seberang bangunan sekolah Ary.
"Nanti kabari ayah kalau sudah mau pulang, jangan mendadak biar ayah bisa mengatur waktu.", pesan ayah sebelum Ary turun dari mobil.
"Iya, yah. Ary masuk dulu." Ary mengambil tangan ayah kemudian menciumnya.
"Hati-hati menyeberang jalan!", pesan ayah lagi over protective.
"Iya, ayah. Itu ada petugas yang seberangin jalan.", Ary mulai malas menghadapi sikap ayah yang terlalu berlebihan.
Ary mulai menyeberangi jalan, di seberang jalan sudah ada Alex menunggu kedatangan Ary. Alex sengaja menunggu Ary di pos satpam samping gerbang sekolah.
__ADS_1
"Pagi, sayang." sapa Alex begitu Ary memasuki gerbang sekolah.
Ary terkejut mendengar kata-kata Alex. Dia lupa kalau sudah menerima cinta Alex kemarin.
"Sayang sayang pala loe peyang!" jawab Ary ketus.
Alex yang mendengar jawaban ketus Ary pun terkesiap, wajahnya pias. Banyak pertanyaan berkecamuk di hatinya.
Kenapa Ary ketus begitu, pasang muka jutek lagi. Apa mungkin Ary belum terbiasa ku panggil sayang jadi marah, batin Alex.
Tidak hanya Alex yang mendengar kata-kata Ary barusan, di situ juga ada Anton dan Enno.
"Wajarlah si Colak colek panggil loe sayang, loe kan pacarnya. Gimana sih loe, Ar?", Enno pun terheran heran.
Anton hanya melongo sambil memukul-mukul tangan Alex. Bingung antara tertawa atau iba melihat sahabatnya dijuteki Ary.
Ary terkejut waktu Enno mengatakan kalau Alex pacarnya. Kemudian dia ingat, bahwa kemarin dia baru menerima Alex jadi pacarnya. Begitulah kalau menerima cinta Alex karena bujukan teman, bukan dari hatinya.
Sebenarnya dia belum memiliki perasaan apapun pada Alex. Tapi melihat usaha Alex selama dua tahun ini, juga bujukan Enno setiap hari, akhirnya Ary menerima Alex jadi pacarnya
"Udah ayo masuk ke kelas, sebentar lagi upacara mau dimulai.", kata Alex menengahi, sambil menunjuk ke arah lapangan yang sudah penuh dengan murid yang siap-siap berbaris.
Mereka berempat menuju kelas untuk menyimpan tas sebelum mengikuti upacara bendera hari Senin. Karena sekolah ini sangat disiplin, sebagian besar muridnya sudah berada di lapangan sebelum bel berbunyi. Hal ini dilakukan untuk menghindari hukuman karena telat masuk barisan.
Satu jam kemudian upacara bendera pun berakhir. Sebelum para murid bubar barisan, ada pengumuman dari guru BK (Bimbingan Konseling).
Pak Agus selaku guru BK, mengumumkan bahwa semua murid kelas sepuluh wajib mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Ekstrakurikuler ditujukan untuk mengetahui bakat murid serta mengasah bakat tersebut.
Ekstrakurikuler wajib diikuti untuk menambah nilai kepribadian para siswa. Ada beberapa ekstrakurikuler di sekolah ini, diantaranya Pramuka, olahraga basket, tenis lapangan, voli, beladiri pencak silat, seni tari, seni musik dan pengkaderan (untuk pengurus OSIS).
Setelah selesai pengumuman, barisan dibubarkan. Semua murid kembali ke kelas masing-masing. Begitu juga dengan Ary dan teman-temannya, masuk ke kelasnya.
"Ary, loe mau ikut yang mana? Kita samaan ya!", kata Enno. Saat ini mereka berada di dalam kelas menunggu guru pengajar datang.
"Gue juga mau dong samaan ma kalian." Candra menimpali. Candra berdiri di samping Ary sambil menyandarkan pan***nya di meja Ary.
"Gue gak bisa ikut, belum dapat ijin dari dokter ma Ayah. Kalian kan tahu sendiri, gue baru aja masuk sekolah." jawab Ary tidak ingin sahabat-sahabatnya kecewa.
"Yaah!" kata Enno dan Candra serempak.
__ADS_1
"Gimana dong, kita berdua aja nih yang samaan ikut ekskul. Enaknya kita ikut apa, En?", tanya Candra.
"Ada usul, Ar?", tanya Enno pada Ary.
"Kalian sukanya apa? Terus bisa gak ngejalaninnya?", Ary balik nanya ke Enno.
"Pagi anak-anak!", sapa pak Widodo guru matematika sekaligus wali kelas mereka, kelas sepuluh A.
"Pagi pak..." jawab murid kelas sepuluh A. Semua murid yang berdiri langsung lari ke tempat duduk masing-masing.
***
Jam istirahat pertama
Ary dan kawan-kawan saat ini sedang di kantin membahas ekskul apa yang akan diikuti. Tidak lupa juga Alex, Anton, dan Dheny pun ikut dalam rombongan Ary.
"Menurut kalian mana yang enak, bisa dijalani dan kalian suka. Gue belum bisa ikut ekskul, gue masih dalam tahap pemulihan. Nanti kalau sudah dinyatakan sehat betul, baru deh gue gabung ma kalian." Ary mencoba memberi pengertian pada teman-temannya.
"Enak ya loe, Ar! Sakit boleh tidak ikut ekskul." Enno iri dengan Ary yang tidak mengikuti ekskul sekolah.
"Enak aja loe ngomong! Siapa juga yang mau sakit? Loe mau sakit, biar gak usah ikut ekskul?", Alex menoyor kepala Enno.
"Sakit tau! Kepala gue masih dipakai, nanti kalau lepas gimana coba!", tanya Enno dengan konyolnya.
Tiba-tiba Bayu mendekati mereka, dia sejak tadi menguping pembicaraan Ary dan kawan-kawan.
"Ary, kalau kamu tidak mengikuti ekskul, orang tuamu harus datang ke sekolah menemui pak Agus selaku guru BK dan penanggungjawab ekskul di sekolah ini." Bayu.
"Kalau tidak kamu, ikut saja ekskul pengkaderan. Ekskul ini tidak banyak mengeluarkan keringat, karena tidak banyak gerak. Gimana?", Bayu memberikan solusi pada Ary agar mengikuti ekskul.
"Iya, kak. Ary pikir-pikir dulu.", jawab Ary.
"Pikirkan baik-baik, masih ada waktu satu Minggu untuk memutuskan.", kata Bayu.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, comment dan jadikan favorit. Tip jangan lupa juga, hehehe 😁
Terimagajeeh...
Happy Reading 🤗🤗
__ADS_1