
Rendy sudah dipindahkan ke ruang ICU, banyak selang mengelilingi badannya. Ada selang infus, selang oksigen dan selang yang terhubung ke monitor. Tidak satupun boleh menunggunya di dalam. Brandon dan Rommy hanya bisa melihat dari kaca.
Sudah berjam-jam Rendy belum juga sadarkan diri. Brandon dan Rommy sudah sangat khawatir dengan keadaan Rendy. Orang tua Rendy pun belum sampai juga. Sudah lima jam berlalu tapi belum ada tanda-tanda akan segera sadar.
Di tempat lain, dokter jaga yang menangani Rendy tadi melihat riwayat rekam medis Rendy. Disitu tertulis dokter yang menangani terakhir kali adalah dokter Fadli. Dengan sigap dokter yang ber-tag name Harun itu menghubungi dokter Fadli.
"Dok, bisa ke ruangan saya sebentar? Saya mau membahas salah satu pasien dokter." kata dokter Harun melalui sambungan telepon.
Tak lama kemudian.
"Siang Dok!" sapa dokter Fadli memasuki ruang praktek dokter Harun.
"Silahkan duduk!" kata dokter Harun.
"Begini dokter Fadli, pasien anda yang bernama Renaldy Pratama saat ini sedang tidak sadarkan diri. Masih dalam pengawasan kami di ruang ICU. Karena saya hanya dokter jaga, saya kembalikan lagi pasien tersebut kepada dokter." lanjut dokter Harun sambil menyerahkan catatan rekam medis Rendy yang terakhir.
"Hanya dokter Ary yang bisa menghadapi pasien ini. Karena beberapa bulan yang lalu pun demikian, dibawah pengawasan dokter Ary kondisinya semakin baik dan stabil. Tapi begitu dokter Ary dinas keluar kota, kondisinya semakin memburuk." kata dokter Fadli.
"Bagaimana cara terbaik menangani pasien ini, Dok! Mengingat kondisinya yang kritis saat ini." tanya dokter Harun.
"Bukankah hari ini jadwal dokter Ary menyerahkan laporan bulanan? Biar nanti saya kabari dia." jawab dokter Fadli.
"Baik, Dok! Ini berkas rekam medis pasien tersebut, semoga bermanfaat dan berhasil menanganinya." kata dokter Harun.
Dokter Fadli pun meninggalkan ruangan itu. Saat akan kembali ke ruangannya, di lorong rumah sakit beliau bertemu dengan Ary.
"Ary!" sapa dokter Fadli.
"Makin cantik aja, awet muda kamu ya?!" kata dokter Fadli lagi.
"Assalamualaikum, Dok! Apa kabar?" sapa Ary.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh. Kabar kabur!" jawab dokter Fadli.
"Kok kabur sih, Dok?!" tanya Ary.
__ADS_1
"Banyak pasien yang mau diperiksa, ada juga pasien yang kondisinya juga kritis!" Jawa dokter Fadli.
"Perlu bantuan, Dok? Bantuan merusuh, maksudnya!" kata Ary tersenyum.
"Itu pasien kamu kritis, masih belum sadar dari tadi pagi!" kata dokter Fadli.
"Pasienku!? Pasien yang mana ya, Dok? Perasaan semua pasien yang aku limpahkan ke dokter gak ada yang parah deh!" jawab Ary.
"Fans berat kamu kritis! Sejak kamu dinas keluar kota dia gak pernah lagi datang berobat, apalagi minum obatnya." jelas dokter Fadli.
"Fans berat?! Yang mana sih, jadi penasaran!" kata Ary.
"Renaldy Pratama, kenal?" tanya dokter Fadli.
"Owh si Rendy! Hah, dia kritis? Dimana dia dirawat, Dok?" cerocos Ary.
Ary bukan main terkejutnya, mendengar berita terbaru tentang Rendy. Dua bulan dia menahan rindu pada Rendy. Berharap suatu saat mendapat kabar bahagia mengenai Rendy. Tapi kenyataan berkata lain, Rendy terbaring lemah tak berdaya, berjuang antara hidup dan mati.
"Sabar, dokter Ary! Saat Ary dia masih dirawat di ruang ICU, karena masih dalam pengawasan. Kondisinya masih labil, belum bisa dipastikan kapan dia akan terbangun." jawab doktor Fadli.
Dahulu pernah ada seorang pasiennya yang meninggal saat dirinya mengikuti pelatihan ke Jakarta. Sekarang ada si Rendy yang tiba-tiba tidak sadarkan diri dan kritis.
"Ini berkas laporan bulanan saya, tolong simpankan dulu, Dok! Saya mau melihat kondisi pasien itu sekarang." kata Ary sambil menyerahkan berkas laporan yang dibawanya tadi pada dokter Fadli.
Ary berlari menuju ke ruang ICU, rasanya dia ingin memeluk Rendy. Membangunkannya kemudian saling meledek seperti dulu, sebelum keberangkatannya keluar kota.
Sesampai di depan ruang ICU, dilihatnya dua sahabat Rendy sedang duduk di kursi tunggu. Kedua sahabat Rendy langsung berdiri mendekati Ary begitu jarak mereka sudah tidak terlalu jauh.
"Ary, tolong Rendy! Di sudah lama tertidur, bangunkan dia. Tolong, Dok!'' kata Rommy.
"Iya, Dok! Selamatkan Rendy! Hanya kamu yang bisa menyelamatkan nyawa Rendy." kata Brandon menimpali.
"Saya cek dulu ya, diperiksa secara menyeluruh biar tau bagaimana cara penanganannya yang tepat!" kata Ary sambil meninggalkan mereka berdua.
Ary tetap berjalan memasuki ruang ICU,. Mengganti pakaian khusus, kemudian masuk ke ruangan dimana Rendy berada. Ary mulai fokus memeriksa keadaan Rendy dengan teliti.
__ADS_1
Sambil memeriksa, Ary sesekali menggelengkan kepalanya. Kadang dia juga menghela nafasnya dengan kasar.
"Rend, bangun! Jangan tidur mulu ihh!! Kalau kamu gak bangun, aku pergi lagi ya!" ancam Ary.
Rendy masih diam tidak bergerak, belum ada tanda-tanda akan sadar.
"Kamu kenapa sih, seneng banget nyiksa diri! Gimana kamu menyayangi orang lain, sedangkan dirimu sendiri tidak kamu sayang."
"Rend, bangun! Kasihan kedua orang tua kamu, kalau kamu tidur terus. Kasihan juga kedua sahabat kamu! Pasti saat ini mereka sedih!"
Ary mencoba mengajak ngobrol Rendy, untuk memancing syaraf otak Rendy. Dengan rangsangan sering diajak ngobrol, biasanya otak pasien akan terangsang dan kemungkinan bisa sadar.
"Kamu gak kasihan sama kedua orang tua kamu! Kamu juga gak kasihan ma kedua sahabat kamu! Tapi kamu kasihan gak sama aku? Kalau kamu kasihan sama aku dan beneran sayang sama aku. Kamu bangun dong, demi aku!" kata Ary sambil meneteskan air mata.
Ary merasa takut kehilangan Rendy. Takut sekali kalau Rendy tidak mau bangun lagi selamanya.
"Rend, bangun dong! Sayang...!!!" dengan ragu-ragu Ary memanggil sayang pada Rendy.
Rendy pernah bilang padanya ingin dipanggil sayang. Sebagai tanda kalau mereka saling menyayangi.
Tiba-tiba jari tangan kanan Rendy bergerak, tapi Ary tidak mengetahuinya. Ary sibuk memanggil nama Rendy, sehingga dia tidak memperhatikan tangan Rendy yang mulai bergerak.
"Sayang... bangun yuk! Kamu mau makan apa, biar aku masakin? Katanya mau makan masakan aku!" Ary masih terus mengoceh untuk membangunkan Rendy.
Diluar ruangan tampak wanita paruh baya berjalan mendekati ruang ICU diantar oleh seorang perawat.
"Silahkan Bu! Harap berganti pakaian khusus dulu sebelum masuk ke kamarnya!" pesan perawat yang mengantarkannya.
"Terima kasih, sus!" kata perempuan itu.
"Sudah menjadi kewajiban saya, Bu! Silahkan, saya kembali ke depan. Bila butuh bantuan silahkan pencet tombol darurat." kata perawat itu. Dan perawat itu pun meninggalkan perempuan tadi bersama Rommy dan Brandon.
"Tante! Apa kabar, Tan?" sapa Rommy dan Brandon serentak (lagi kompak nih keknya 😂).
"Gimana keadaan anak Tante, sudah sadar belum?" tanya Mama Rendy. Perempuan paruh baya itu adalah mamanya Rendy. Mama Rendy. bernama Hotmaida Siregar, berdarah Jawa Batak. Sedangkan papa Rendy berdarah keturunan Cina Jawa.
__ADS_1