Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
38. Koas Aja Belagu Loe!


__ADS_3

"Maaf! Pasienku bukan kamu saja! Masih banyak yang menunggu untuk saya periksa!" Rendy mengulangi perkataan Ary dengan suara dibuat-buat, dan tidak lupa bibir pun ikut dimonyongkan.


"Hahhhh!!!" teriak Rendy.


Rendy merasa kesal karena lagi-lagi Ary cuek padanya. Padahal dia sudah mencoba berbagai cara untuk menarik perhatian Ary. Mulai dari melepas jarum infus, tidak mau memakai oksigen, bahkan sampai menahan lapar. Tapi semua usahanya sia-sia. Sejak awal Ary selalu bersikap manis, tapi hanya sebatas dokter pada pasien.


"Dasar, cewek sombong!!! Masih koas aja belagu Loe!" umpat Rendy.


Brandon yang baru masuk ke ruangan jadi heran, "kenapa jadi begini sih?" batin Brandon.


"Mana nasi pesenan gue!" kata Rendy begitu melihat sahabatnya itu datang.


"Loe kenapa? Marah-marah nggak jelas!" tanya Brandon.


"Loe sudah kelaparan? Makanya makan! Suruh siapa mogok makan coba?" kata Brandon sambil menyerahkan sebungkus nasi gudeg dengan sambel rambak krecek dan ayam bacem.


Rendy sengaja meminta dibelikan nasi gudeg, karena sejak dia tinggal di Jogja dan mengenal rasa nasi gudeg menjadi ketagihan. Cita rasa manis dan gurih yang pas, serta rasa pedas sambal rambak krecek dapat menggugah selera makan. Yang awalnya malas makan, menjadi semangat begitu melihat menu kesukaannya selama di Jogja.


Rendy langsung membuka bungkusan nasi itu kemudian memakannya dengan lahap. Seperti orang sudah tidak makan berbulan-bulan, dia cepat sekali makannya.


"Loe itu kelaparan apa lagi pengen menghajar orang sih. Kalau mau menghajar orang, kenapa jadi nasi yang Loe hajar?" tanya Brandon menahan tawa.


Rendy diam saja tetap menghajar nasi gudeg itu sampai habis, kemudian minum air putih.


"Keduanya, gue laper tapi pengen menghajar orang juga!" kata Rendy sambil menelan sisa makanannya yang di mulut.


"Sampai segitunya loe makan! Nggak sampai sepuluh menit sudah kandas tak bersisa!" kata Brandon sambil tertawa.


"Anjirr!!! Gue lagi bad mood malah diketawain! Dasar loe!" kata Rendy sambil melempar bungkus bekas nasi gudeg tadi. Brandon pun menggeser posisinya untuk mengelak lemparan dari Rendy


"Sabar woiy!!! Lagian sih loe aneh-aneh, pakai ngelakuin itu semua! Mana Rendy yang gue kenal dulu, yang membiarkan cewek mengejar dia. Bukan Rendy yang sekarang, kek anak bocah!" kata Brandon.


"Dalam sejarah hidup gue baru kali ini pesona gue nggak ngaruh ke cewek. Biasanya sekali gue goda, mereka langsung lengket kek perangko. Ini tantangan, Men!" kata Rendy.


***

__ADS_1


Ary yang mendengar laporan dari perawat tadi langsung berlari menuju ke ruangan pasien yang dioperasi tadi siang. Ary mulai memeriksa kondisi pasien dan mulai melakukan tindakan pertolongan.


Setelah selama satu jam mengurus pasiennya, akhirnya pasien itu stabil. Hal ini membuat Ary merasa lega karena sudah berhasil menyelamatkan nyawa pasiennya. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Ary bila bisa menyelamatkan nyawa manusia.


Ary mulai mengunjungi semua pasien rawat inapnya satu persatu. Setelah selesai dengan pasiennya, Ary penasaran dengan keadaan Rendy. Sambil berjalan menuju ke ruangan Rendy, Ary melihat jam tangannya.


"Sudah jam sembilan lewat! Semoga dia sudah makan dan meminum obatnya, kemudian tidur." gumam Ary.


"Aneh-aneh saja!" Ary menggelengkan kepalanya menghadapi pasiennya yang satu ini.


Ary merasa bersalah karena tadi membentak Rendy. Dia harus mendahulukan pasien yang lebih membutuhkan dia saat itu. Oleh karena itu dia ingin meminta maaf pada Rendy.


"Sunyi, jangan-jangan dia sudah tidur!" Ary berkata sendiri karena tidak ada suara yang terdengar dari dalam ruangan Rendy.


Ary mengetuk pintu kamar itu dengan pelan, takut mengganggu Rendy yang tertidur. Kemudian dia membuka pintu kamar itu dan masuk dengan perlahan. Dia berjalan mendekati ranjang Rendy. Tampak olehnya Rendy yang main game di atas ranjang. Sedangkan Brandon sudah tertidur di sofa yang ada di ruangan itu.


"Belum tidur?" tanya Ary pelan.


"Ngapain loe kemari!" tanya Rendy masih asik dengan game online.


"Bukan urusan loe! Gue tanya, ngapain loe kesini!" teriak Rendy.


Brandon tertidur pulas di sofa, dia tidak terganggu sama sekali dengan teriakan Rendy.


"Saya minta maaf karena sudah bentak kamu! Itu karena keadaan pasien tadi kritis! Dia lebih membutuhkan saya dari pada kamu." kata Ary.


"Sudah?? Itu aja?!!! Kalau sudah tidak ada lagi yang perlu dikatakan lagi, baiknya kamu keluar" kata Rendy dingin.


"Ok! Saya akan keluar dan sini setelah saya, mengecek keadaan kamu dan memastikan bahwa kamu baik-baik saja!" jawab Ary tenang.


"Gue nggak butuh loe, loe keluar aja!!!" kata Rendy masih dingin.


Ary tetap berjalan ke arah meja nakas samping ranjang Rendy. Kemudian memeriksa obat Rendy. Dia tidak menemukan obat yang biasa diletakkan di cawan obat.


"Ok! Obat sudah diminum! Simpan HP kamu, kemudian tidur! Ini sudah malam, nggak bagus begadang terus. Atau... kamu memang masih ingin tidur disini lebih lama lagi?" kata Ary.

__ADS_1


"Bukan urusan loe! Gue mau tidur, mau main HP!!!" kata Rendy.


"Dasar koas! Gitu aja sudah sok pinter! Ngatur aja kerjaannya!" umpat Rendy pelan.


"Maaf, apa tadi kamu bilang? Koas???!" tanya Ary penasaran karena mendengar kata-kata Rendy.


"Saya ini seorang dokter spesialis penyakit dalam, bukan koas. Memang saya masih belajar lagi, saat ini saya mengejar impian saya untuk menjadi dokter spesialis paru. Insha Allah beberapa bulan lagi saya akan mendapatkan gelar itu." jelas Ary.


"Buahahaha... Loe itu lucu tau!!" Rendy tertawa sangat keras, sehingga suaranya itu membangunkan Brandon yang tidur pulas di sofa.


"Loe kenapa, Bro? Malam-malam tertawa keras sekali, ini rumah sakit bukan hutan!" kata Brandon.


"Lucu aja! Dia ngaku dokter spesialis, loe lihat dia! Wajahnya aja kelihatan seumuran sama kita. Ngaku sudah dokter spesialis, nggak banget!" kata Rendy masih tertawa.


"Umur saya sudah hampir 26 th, dan saya mendapatkan gelar dokter spesialis penyakit dalam itu sudah setahun lebih." jawab Ary tenang.


"Loe percaya sama yang dia katakan?" tanya Rendy pada Brandon.


"Percaya! Karena banyak dokter berotak brillian, jadi nggak mungkin dia termasuk salah satu orang itu." jawab Brandon.


"Ciihh!!! Nggak yakin gue, dia seorang dokter spesialis!" kata Rendy masih belum percaya jika Ary seorang dokter spesialis penyakit dalam, bukan seorang koas seperti dugaannya selama ini.


"Kalau kamu tidak percaya ya sudah! Saya tidak akan memaksa kamu untuk percaya. Saya hany memberitahukan fakta! Kebenaran tentang saya. Permisi! " kata Ary kesal sambil meninggalkan ruangan itu.


"Assalamu'alaikum" kata Ary sambil membuka pintu dan keluar meninggalkan mereka berdua.


Brandon heran dengan kelakuan sahabatnya itu, padahal sudah jelas dari awal kalau Ary seorang dokter. Tapi Rendy tidak percaya sama sekali ucapan Ary.


"Sudahlah, Bro! Loe tidur aja, sudah malam! Gue juga mau lanjut tidur lagi, ngantuk banget gue!" kata Brandon.


**** Happy Reading πŸ€—πŸ€—πŸ€—****


Mau tanya nih, visual Ary cocoknya siapa ya. Citra Kirana atau Cut Meyriska πŸ€”πŸ€”πŸ€”


Jawab ya, biar othor semangat nulisπŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2