
Badan Rendy sudah lemas sekali, dan dia kembali tidak sadarkan diri. Ary masih terus menangis sambil mengusap kepala Rendy. Ilmunya sebagai dokter selama bertahun-tahun hilang karena rasa paniknya yang berlebihan. Dia tidak juga memberikan pertolongan pertama pada Rendy. Ary hanya bisa menangis dan menangis.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Rendy langsung dilarikan ke ruang ICU, mengingat kondisinya yang sangat lemah.
Ary dan keluarga hanya bisa menunggu di depan ruangan itu. Padahal biasanya Ary lah yang pertama maju bila ada pasien kritis. Tapi tidak kali ini.
Ary sudah terduduk lemas di lantai yang dingin di depan ruang ICU sambil menangis. Keadaan Ary saat ini sangat kacau. Maskara sudah bercampur dengan air mata. Dandanan sudah berantakan tak berbentuk lagi.
Bunda pun mendekati Ary, dia mencoba menguatkan anak bungsunya.
"Do'akan yang terbaik untuk suamimu. Semoga cepat sembuh dan kembali berada di tengah-tengah kita." kata Bunda.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan muncullah seorang dokter laki-laki.
"Keluarga saudara Rendy!" kata dokter itu.
"Kami keluarganya Dok!" jawab ayah Ary dan papa Rendy serentak.
"Saya istrinya!" jawab Ary sambil berdiri dan mendekati dokter itu.
"Dengan berat hati, saya sampaikan bahwa pasien tidak dapat tertolong lagi. Beliau sudah meninggal dalam perjalanan menuju kesini." kata dokter itu.
"Tidak!!!" kata Ary sambil berlari memasuki ruang ICU.
"Abang!!! Bangun! Gak lucu tau gak sih!" jerit Ary sambil mengguncang tubuh Rendy.
"Ayo bangun! Jangan bercanda Abang! Bercandamu gak lucu!" Ary terus mengguncang tubuh Rendy.
Setelah lelah, akhirnya Ary memeluk tubuh Rendy erat sambil terus terisak.
"Katanya mau buat aku hamil! Katanya mau buat aku menjerit keenakan! Mana?! Kamu malah membuat ku menjerit karena tangisan." kata Ary lirih.
**Flash back on**
__ADS_1
Saat itu Rendy sedang dibersihkan lukanya oleh Ary, karena terjatuh saat menolong seorang anak kecil yang akan menjadi korban tabrak lari.
Setelah selesai dibersihkan dan sholat Maghrib bersama, Ary dan Rendy menuju balai kota Jogjakarta untuk mencari makan malam.
"Kamu masih kecil, kok sudah pinter ngaku-ngaku aku sebagai istri kamu! Gak salah tuh?" kata Ary sambil duduk menunggu pesanan.
Ary mengelap meja di depannya menggunakan tisu yang tersedia di meja. Saat ini mereka sedang menunggu pesanan makanan di sebuah warung lesehan yang berada di depan balai kota.
"Ehh, jangan salah ya! Biarpun gue masih kecil, gue sanggup buat loe hamil tiap tahun. Bahkan gue sanggup membuat loe menjerit keenakan, terus minta lagi!" kata Rendy sambil tersenyum jahil.
"Dasar omes!!! Itu aja yang ada di pikiran kamu!!!" jawab Ary sambil melempar tisu bekas mengelap meja tadi.
"Ihh, jorok! Itu kan kotor, kenapa loe lempar ke gue?" kata Rendy sambil membuang tisu yang dilemparkan Ary tadi.
Candaan mereka harus berakhir karena pesanan sudah datang.
** Flash back off**
Ary dibawa ke UGD, dia diperiksa dan dirawat sementara disana. Sedangkan Rendy sudah mulai diurus jenazahnya akan dibawa pulang.
Seharusnya hari ini adalah hari bahagia Ary dan Rendy. Tapi Tuhan berkehendak lain, rumah yang seharusnya penuh dengan riuh tawa digantikan dengan air mata.
Kepergian Rendy yang tiba-tiba membuat Ary dan mama Rendy syok. Kedua wanita itu sama-sama tidak sadarkan diri begitu mendengar kata dokter jika Rendy sudah meninggal.
Pantas saja selama seminggu ini, Rendy selalu meminta maaf kepada semua orang yang dijumpainya. Padahal selama ini dia paling benci meminta maaf. Meminta maaf adalah hal yang harus dihindarinya. Tapi kali ini dia berbeda, semua orang dimintai maaf.
Sore itu juga Rendy dikebumikan di TPU dekat rumahnya. Semua mengantarkan Rendy ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dengan diiringi Isak tangis, Rendy mulai dimasukkan ke liang lahat.
Adik semata wayang Rendy yang bernama Anggita pun tidak kalah histeris. Menurut Gita, Rendy seorang abang yang penyayang walaupun sering menjahilinya. Tidak ada lagi yang memperhatikannya lagi, karena selama ini kedua orang tuanya sibuk dengan urusan bisnis.
Setelah selesai acara pemakaman Rendy, Ary dan keluarganya diajak kembali ke rumah Rendy oleh kedua orang tua Rendy. Karena bagaimanapun juga Ary sudah sah menjadi istri Rendy. Yang berarti Ary berhak atas rumah Rendy.
Sesampainya di rumah Rendy, mereka berkumpul di ruang tengah. Hanya ada kedua orang tua Rendy, adik Rendy dan Ary beserta kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Saat ini Ary sudah menjadi bagian keluarga ini, walaupun anak kami Rendy sudah meninggal bukan berarti hubungan ini putus begitu saja. Baru hari ini Ary sah menjadi bagian dari kami, hari ini juga Ary sudah menjadi janda anak kami." kata papa Rendy sambil terisak menahan tangisnya. Papa Rendy tidak bisa meneruskan kata-katanya, dia masih menangis tergugu karena kehilangan satu-satunya anak laki-laki.
Rendy yang diharapkan dapat meneruskan usahanya, ternyata harus menghadap Tuhan terlebih dahulu.
Sejak tadi siang, sejak Rendy dinyatakan meninggal. Ary hanya terdiam dengan tatapan mata kosong. Ary menolak makan dan minum. Sudah berulang kali dipaksa Bunda, tetap saja dia hanya diam tidak bergeming.
Ary seperti mayat hidup, kemanapun dia selalu dipegangi karena badannya sangat lemas. Seperti saat ini, Ary dibawa ke kamar Rendy. Dia hanya diam menurut mengikuti Bunda yang membimbingnya.
***
Sudah satu Minggu kepergian Rendy, Ary tetap seperti mayat hidup. Tanpa gairah hidup sama sekali. Hari-harinya dihabiskan dengan hanya melamun, mengingat masa-masa bersama Rendy. Awal mula pertemuan hingga perpisahan selalu berputar seperti video.
Orang tua Ary akhirnya memutuskan membawa Ary pulang rumahnya. Mereka tidak tega melihat kondisi Ary yang semakin memprihatinkan. Siapa yang menyangka Ary yang kuat akan menjadi seperti ini.
Sesampainya di rumah kedua orang tuanya, Ary diajak ngobrol Eno. Eno rela kembali mengurus bisnis orang tuanya demi bisa mendampingi Ary.
Eno sangat sedih melihat keadaan Ary saat ini. Dulu sewaktu Ary mendengar Alex menikah, Ary hanya meneteskan air mata sekali. Setelah itu Ary kembali ceria seperti biasanya.
Tapi kali ini, Ary yang katanya belum sepenuhnya mencintai Rendy. Terpuruk dan larut dalam kesedihan. Diajak ngobrol pun susah. Bagaimana dia akan menghibur Ary?
Setelah beberapa hari berada di rumahnya, ayah Ary iba melihat putri bungsunya tetap larut dalam kesedihan.
Ayah Ary mendekati Ary yang saat ini selesai sholat Isya'.
"Nduuk, Ayah mau ngomong sebentar! Boleh?" tanya Ayah sambil puncak mengusap kepala Ary.
"Iya, Yah. Ary dengarkan." jawab Ary datar sambil melipat mukenanya.
"Sampai kapan kamu akan begini seperti ini. Ingat tanggung jawab kamu sebagai dokter. Di luar sana banyak pasienmu menggantungkan hidupnya padamu." ayah menjeda kalimatnya sejenak.
"Mulailah menerima dengan lapang hati apapun yang terjadi. Karena mau menerima atau menolaknya, takdir akan tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya pada perasaan kita. Apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka, bahkan dia juga tidak basa-basi untuk menyapa." lanjut Ayah.
Ayah merasa bersalah karena membiarkan anaknya berlarut dalam kesedihan. Dia seharusnya mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang kuat, agar saat badai cobaan datang menerpa. Anak-anaknya akan tetap kokoh berdiri, menyambut badai tersebut dengan hati yang tegar.
__ADS_1