Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
50. Gegana


__ADS_3

"Huhhh... Capeknya!" monolog Ary setelah memasuki kamarnya.


Seharian bekerja di lapangan mengawasi jalannya pembangunan rumah sakit serta menangani pasien yang datang, membuat Ary kelelahan. Sejak pertama menginjakkan kakinya di tempat ini, Ary belum sempat mengabari kedua orang tuanya. Selain karena kesibukannya, masalah jaringan juga menjadi kendala.


Ary tinggal di rumah warga setempat yang disewakan. Karena hanya Ary yang perempuan, Ary tinggal sendiri. Kedua temannya yang lain laki-laki tinggal serumah di samping rumah yang ditempati Ary.


Di desa itu banyak rumah kosong karena ditinggal pemiliknya merantau ke kota. Jadi memudahkan Ary dan tim-nya mencari tempat tinggal.


Malam ini tiba-tiba saja Ary teringat Rendy, pasien yang selalu mengirim pesan padanya. Sudah sebulan ini tidak ada pesan masuk ke gawainya. Bukan karena tidak ada yang menghubunginya, tapi karena ketiadaan jaringan.


Sebenarnya di rumah sakit yang sedang dibangun memiliki telepon dan terdapat jaringan, walaupun tidak sekuat jaringan yang di kota. Ary yang sibuk, tidak sempat mengaktifkan gawainya di rumah sakit. Bahkan di rumah singgahnya saja dia tidak sempat. Ketika sudah sampai di rumah, Ary langsung beristirahat. Awalnya hanya berniat rebahan saja tapi selalu ketiduran.


Karena teringat dengan Rendy, Ary mulai mengaktifkan gawainya. Setelah aktif, Ary penasaran karena tidak mendapati satu pun pesan masuk.


"Pantas tidak pernah mendengar ada notif pesan maupun telepon masuk. Ternyata oh ternyata, jaringan gak mau dipeluk. Huffttt!" monolog Ary.


"Lama-lama aku seperti orang gila, ngomong sendiri terus di rumah." kita Ary sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu disana sedang apa ya sekarang???"


"Ehhh, kok malah mikirin dia sih!"


"Harus tidur nih, biar gak mikirin si tengil lagi!"


Ary bergerak gelisah diranjangnya, sudah satu jam lebih dia merebahkan badannya tapi tidak bisa tidur juga. Bayang-bayang Rendy yang selalu mengganggunya selama ini berputar di otaknya seperti video.


Akhirnya Ary bangkit dari tempat tidurku, kemudian melaksanakan sholat malam untuk menenangkan pikirannya. Harapan Ary, semoga setelah sholat malam bisa tidur nyenyak dan bayang-bayang Rendy menghilang dari pikirannya.


Setelah selesai sholat malam, Ary kembali merebahkan badannya. Dan tak lama kemudian Ary pun terlelap.


***


Di sisi lain dalam waktu yang sama.


Rendy tidak bisa mengerti kenapa Ary tidak memberitahu tentang pekerjaannya. Ary seperti merpati di mata Rendy. Tampak jinak tapi tatkala didekati terbang, dicuekin mendekat.


Rendy tidak pernah mendengar kabar dari Ary, padahal hari sudah berganti minggu, minggu sudah berganti bulan. Sudah satu bulan berlalu, Rendy masih berusaha mencari tahu kabar Ary. Setiap saat dia selalu mencoba menghubungi Ary. Bahkan dia juga nekat mencari alamat rumah orang tua Ary.


Rendy pernah mendatangi rumah orang tua Ary, guna menanyakan nomor telepon yang bisa digunakan untuk menghubungi Ary. Ternyata orang tua Ary pun tidak bisa menghubungi Ary.


Rendy juga bertanya kepada pihak rumah sakit yang menugaskan Ary, tapi pihak rumah sakit tidak mau memberitahu dimana tepatnya lokasi Ary ditugaskan.


"Kamu dimana sihhhh... Aku kangen tau gak!!!" teriak Rendy di kamarnya.

__ADS_1


Rendy duduk di atas ranjang dengan bersandar di headboard. Dia duduk sambil memandang foto Ary di galeri HP-nya. Foto yang diambil diam-diam saat Ary bekerja, tanpa Ary tahu.


"Manis, gemesin banget sih kamu!" kata Rendy sambil mengusap-usap layar gawainya. Seolah-olah dia mengusap wajah Ary.


Kerinduan yang dirasakannya membuat Rendy tidak nafsu makan, apalagi minum obat. Hari-harinya dihabiskan dengan main game, bahkan usahanya tidak diurusnya. Semua urusan pekerjaan dipegang Brandon dan Rommy.


Rendy tidak sadar jika dia malas makan dan minum obat akan membahayakan nyawanya. Sakitnya sudah kronis, jadi mau tidak mau, suka tidak suka dia tetap harus minum obat dan menjaga pola hidup sehat.


Teman-temannya sudah berulang kali mengingatkan Rendy, agar tetap berobat. Tapi Rendy tetap tidak melanjutkan pengobatannya. Karena menurut Rendy, tanpa Ary untuk apa bertahan.


Malam pun makin menuju pagi, Rendy tetap tidak bisa tidur. Matanya sudah dipaksa tidur, tapi pikirannya tidak mau diajak tidur.


Semenjak tidak bisa mendapatkan kabar dari Ary, Rendy menjadi lebih sering mengganggu ketenangan teman-temannya. Ada saja yang dilakukan untuk mendapatkan perhatian.


***


"Loe gak makan, Rend?" tanya Brandon.


Saat ini mereka berada di rumah makan dekat ruko tempat Rendy membuka usahanya.


"Gak laper gue!" jawab Rendy sambil memainkan gawainya.


"Loe dari pagi belum makan, makanlah walau sedikit!" nasehat Brandon.


"Serah!! Loe juga yang rasain, bukan gue. Semoga aja Loe gak mati sebelum ketemu Ary!" ucap Brandon kesal.


"Loe do'ain gue cepet mati ya???" tanya Rendy penuh emosi.


"Bukan do'ain loe cepet mati, tapi kalau gue lihat Loe yang sekarang ini, kek tanda tanda orang mau mati!" jawab Brandon.


"Hidup tak mau, mati pun enggan!!!" lanjut Brandon.


"B*c*t!!! Anda siapa?!" jawab Rendy marah.


Sejak kepergian Ary, Rendy kembali ke sifat aslinya. Mudah emosi, ada kata-kata yang mengusiknya dia langsung marah. Selalu kata kasar yang keluar dari mulutnya.


"Kalo loe masih anggap aku kawan, aku sahabat loe! Kalo loe anggap gue bukan siapa-siapa, mau bilang apalagi?" kata Brandon melanjutkan makan siangnya.


"Loe bisa diem gak? Berisik!" kata Rendy tetap melanjutkan main game.


Tak lama kemudian datang si Rommy, dia paling lambat datang karena masih kuliah. Diantara mereka bertiga hanya Rommy yang rajin kuliah.


"Gak makan Rend?" tanya Rommy sambil duduk.

__ADS_1


Rommy membawa sepiring nasi dan segelas jus jeruk. Karena di rumah makan itu model swalayan alias ambil sendiri.


"Gak laper gue!" jawab Rendy singkat.


"Owh, gue makan dulu ya!" kata Rommy langsung menyantap makanan di depannya.


Rendy sekilas melirik ke piring Rommy, dilihatnya ada ayam goreng langsung disambar.


"Gak laper, lauk orang diembat juga!" kata Rommy berdiri hendak mengambil ayam goreng lagi.


"Namanya juga lagi gegana, wajarlah!" ucap Brandon.


Rommy sudah kembali membawa ayam goreng lagi untuk mengganti lauknya yang diambil Rendy.


"Apa itu gegana? Tim penjinak bom?" tanya Rommy.


"Kok tim penjinak bom sih! Loe kudet banget jadi orang. Sudah kudet, telmi lagi!" jawab Brandon.


Rendy yang mendengar perdebatan kedua temannya hanya diam saja, tetap menikmati ayam goreng yang dicomot dari piring Rommy.


"Makanya kasih tau, biar gak kudet!" kata Rommy dengan mulut penuh.


"Telan dulu, baru ngomong! Ntar keselek!" kata Brandon.


Rommy mengambil gelasnya lalu meminumnya untuk melegakan tenggorokannya. Dia kesusahan menelan karena makan sambil ngomong.


"Kepo loe!" sela Rendy


"Makanya jangan markonah, jadi orang!" lanjut Rendy.


"Nah, tambah markonah lagi!" kata Rommy sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ckkk, dasar ni anak!!! Kok bisa dapat nilai tinggi, padahal kalau diajak ngomong gak pernah nyambung!" kata Brandon tepuk jidat.


"Karena gak tahu makanya gue tempe!" kata Rommy sambil memakan ayam gorengnya.


"Iya, gue kasih tau! Gegana itu gelisah galau merana." jawab Brandon.


"Sudah paham loe?" lanjut Brandon.


"Kalau markonah?" tanya Rommy lagi.


"Nanya noh, ma yang ngatain loe!"

__ADS_1


__ADS_2