Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
17. Ketahuan


__ADS_3

Ary pulang sekolah diantar Alex, hanya sampai gapura masuk kampung Ary. Ary tinggal di perkampungan yang berada di sebuah kabupaten kecil. Walaupun tinggal di perkampungan tapi letaknya tidak jauh dari kota kabupaten. Hanya sepuluh menit perjalanan, jarak rumah Ary ke kota.


"Sudah, aku turun disini aja. Jangan sampai depan rumah, nanti ayah dan bunda tahu." kata Ary sambil menunjuk gapura.


"Betul nggak apa-apa, ini masih jauh dari rumah kamu." Alex menghentikan mobilnya.


"Iya, nggak apa-apa kok. Sudah dekat ini, jalan bentar juga nyampai." Ary membuka pintu mobil lalu keluar.


"Makasih ya." kata Ary sambil berjalan meninggalkan mobil Alex.


"Iya, dadagh..." Alex melambaikan tangannya.


Alex melajukan mobilnya meninggalkan kampung Ary. Dia sangat gembira hari ini, karena bisa mengantarkan Ary pulang. Selangkah lebih maju daripada kemarin. Walaupun Ary selalu memasang wajah datar dan sedikit bicara, tapi dia tidak menolak diantarkan pulang.


Malam harinya, Ary sedang membicarakan tentang ekstrakurikuler yang diadakan di sekolahnya, bersama Ayah dan Bunda. Saat ini mereka berada di ruang keluarga.


"Gimana ini, Yah? Ary kan juga pengen ikut ekskul." tanya Ary.


"Kita tunggu saran dokter Hermanu, selaku dokter syaraf yang merawatmu selama ini. Kapan kamu chec up lagi?" Ayah membetulkan posisi kacamatanya. Beliau sedang membaca koran.


"Hari Jum'at, Yah! Iya kan, Bun?" Ary menghadap ke arah Bunda.


"Iya, jadwalnya hari Jum'at ini." jawab Bunda


"Berarti malam Sabtu sudah ada keputusan. Sabtu pagi Ayah ke sekolah kamu, untuk membahas masalah eksul ini." Ayah memberikan keputusannya.


"Sekarang sudah malam, kamu lekas tidur sana gih?" Bunda menyuruh Ary untuk tidur


"Iya, Bundaku tersayang. Ary masuk kamar duluan ya." kata Ary. "Jangan buat adik Ary ya!" Ary memainkan matanya pada sang Bunda.


Kriiing... kriiing... kriiing...


Hp Ary berbunyi, tandan ada panggilan masuk. Ary yang baru masuk kamar langsung menyambar hpnya tanpa melihat siapa yang menelepon malam malam begini.


"Halo, assalamualaikum." sapa Ary.


"Hai, Ary. Sudah tidur sayangnya aku?" basa-basi Alex begitu mendengar suara merdu Ary.


"Belum, baru masuk kamar." jawab Ary.


Mereka melanjutkan obrolan via hp, tanpa disadari Ary Bunda menguping pembicaraan Ary dengan Alex.

__ADS_1


***


Sudah lima hari sejak diumumkan, bahwa semua murid tanpa terkecuali harus mengikuti ekstrakurikuler sekolah. Ayah pergi ke sekolah Ary untuk menemui guru BK. Ayah menyampaikan pesan dokter pada guru BK.


Ary belum diijinkan untuk mengikuti kegiatan apa pun. Karena kondisi Ary yang belum pulih benar, hal ini untuk menghindari adanya cidera lagi pada syaraf otaknya.


Setelah selesai menemui guru BK, ayah pun segera kembali ke kios. Sewaktu meninggalkan ruangan BK, ada segerombolan anak yang sedang asyik bercerita.(ghibah euy😀)


"Iya, gue lihat sendiri kok. Kalau belum jadian mana mungkin Alex memanggil Ary dengan kata sayang." kata gadis berambut panjang.


"Alex memang udah jadian kok ma Ary. Alex sendiri yang bilang kalau Ary itu pacarnya." temannya menimpali.


"Loe kalah cepat ma Ary, Re!" kali ini gadis berkacamata yang berbicara.


Ayah sempat mendengar apa yang mereka bicarakan, walau hanya sekilas.


Apa Ary yang dimaksud, Ary anakku? Ahh, mana mungkin Ary berani pacaran. Kami selalu mengingatkan agar jangan pacaran dulu. Tapi kalau betul Ary anakku gimana ya? Baiknya aku tanyakan dulu pada Ary. Batin Ayah.


***


Hari pun berganti Minggu, sudah tiga minggu Ary pacaran dengan Alex tanpa diketahui oleh orang tuanya. Setiap malam Alex selalu menelepon Ary, untuk penghantar tidur katanya.


Pada suatu malam, Bunda tidak sengaja lagi mendengar percakapan antara Ary dengan Alex via phone. Ini bukan pertama kalinya Bunda mendengarkan, tapi sudah terlampau sering.


"Sudah ya, aku tutup telponnya." kata Ary.


"....."


"Aku sudah ditunggu Bunda, tadi aku dipanggil Bunda. Sudah ya, selamat malam" Ary menutup panggilan di HP-nya.


"Duduk sini, dekat Bunda." Bunda menepuk ranjang.


Ary pun menurut apa kata Bunda. Ary gugup, dia pun takut dimarahin Bunda karena sudah berani pacaran.


"Siapa tadi yang telepon kamu, Nak?" Bunda memulai percakapan.


"Teman, Bun." Ary menjawab dengan singkat.


"Teman apa pacar? Kalau teman tidak seperti itu, setiap malam telepon. Apalagi seorang teman yang dibahas hanya pelajaran sekolah, telepon tidak lama-lama. Sebentar juga cukup, tidak sampai membuat HP panas. Apa kamu tidak merasa terganggu, setiap malam ditelepon sampai lama begitu?" Bunda mulai menginterogasi Ary.


Tiba-tiba pintu kamar Ary terbuka, tampak Ayah memasuki kamar Ary.

__ADS_1


"Bun, Ayah cari dari tadi. Di sini rupanya. Ada yang penting ya?" tanya Ayah.


"Ini Yah, anakmu sudah pinter pacaran." kata Bunda.


"Betul itu, Ary?" tanya Ayah dengan tegas.


"Ary!" Ayah memanggil Ary dengan suara keras, karena Ary diam saja.


"I - Iya, Yah." jawab Ary ketakutan. Ary takut akan dimarahi Ayah.


"Siapa yang mengajarimu pacaran? Siapa yang mengijinkan kamu pacaran?" Ayah mencoba menahan emosinya.


"Ti - Tidak ada, Yah"


"Lalu?" tanya Ayah lagi.


"Kamu putuskan dia atau kamu kami masukkan ke pondok pesantren?" Ayah memberikan keputusannya.


"Bukannya kami tidak sayang sama kamu, Ary. Karena rasa sayang itulah kami melarang kamu pacaran. Kamu masih labil, sayang. Umur kamu belum genap 15 tahun, belum waktunya kamu berpacaran. Sekarang yang terpenting, kamu pikirkan pelajaran sekolah."


"Bagaimana caranya, agar nilainya tidak turun. Kami tidak ingin kamu terluka nantinya, karena bila sudah pacaran pasti akan ada ciuman, pelukan, dan masih banyak lagi."


"Tapi, Bun. Kami tidak bersentuhan kok. Hanya bersalaman aja." Ary menyela kata-kata Bunda.


"Awalnya hanya salaman, kemudian pegang tangan. Lanjut pelukan, lalu lebih berani lagi. Berciuman, setelah itu nafsu yang menguasai. Ber*******!!! Dosa besar Ary. Jangan tambah dosa kami dengan dosamu Ary. Karey setiap dosa yang kamu lakukan, kami yang menanggungnya." Bunda mulai terisak.


Ayah diam saja untuk mengontrol emosinya. Banyak yang ingin dibicarakannya dengan Ary, tapi jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


"Sekarang sudah malam, baiknya kita istirahat. Besok kita bahas lagi masalah ini." kata Ayah menutup sidang malam ini.


"Ary minta maaf, Ayah... Bunda... Ary salah, sudah berani melanggar larangan Ayah dan Bunda." kata Ary sambil terisak mendekati Ayah dan Bunda. Mereka bertiga berpelukan.


"Iya, jangan ulangi lagi." Bunda membelai rambut Ary.


"Segera putuskan hubunganmu dengannya. Ayah tidak mau dengar ada anak-anak Ayah yang pacaran. Mas Dika mu saja menikah tanpa pacaran. Buktinya dia bahagia, pacaran setelah menikah itu lebih enak." Ayah berdiri bersiap meninggalkan kamar Ary.


"Ayo, Bun. Sudah malam, biar Ary tidur." Ayah mengajak Bunda keluar dari kamar Ary.


Ary masih menangis sewaktu Ayah dan Bunda keluar kamarnya. Ary menyesal karena termakan bujukan Enno untuk pacaran. Seharusnya dia tetap pada pendiriannya untuk tidak pacaran, apalagi belum ada rasa cinta untuk Alex.


Akhirnya Ary pun terlelap setelah lelah menangis, menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Gimana nich, si Ary sudah ketahuan pacaran. Putus atau lanjut ya pacarannya?


Happy Reading kezheyengankuuh🤗🤗😘


__ADS_2