
"Masak apa kita hari ini, Bun?" tanya Ary pagi hari setelah selesai mandi dan sholat Subuh.
Ary berjalan mendekati Bunda yang sedang mengupas bawang di dapur. Ary hendak membantu menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Buat nasi goreng kesukaan kamu, sambal teri campur tempe sama pete. Kamu ceplok telur saja, jangan lupa buat dadar telur juga seperti biasanya. Kamu kan lebih suka telur dadar dari pada ceplok kan?" perintah Bunda.
"Asiiaaapp!" jawab Ary sambil mengangkat tangan memberi hormat kepada Bunda.
Ary menyalakan kompor dan memulai menggoreng telur. Disaat menggoreng Ary melamun, pikirannya masih tertuju pada cerita Eno tentang Alex kemarin. Tanpa dia sadari menetes lagi air matanya.
"Awas gosong!" teriak Eno sambil mendekati Ary, kemudian mematikan kompor.
Bunda yang saat itu mencuci teri Medan, reflek membuang teri tersebut karena kaget mendengar Eno berteriak.
Eno yang melihat Bunda malah tertawa sambil memegangi perutnya.
"Hahaha"
Ary ternyata tidak terpengaruh sama sekali oleh teriakan Eno tadi. Dia masih asik melamun, tapi begitu mendengar Eno tertawa membuat dia tersadar dari lamunannya.
"Eno! Kamu ngagetin Bunda aja! Lihat jadi Bunda buang kan ikan terinya!" marah Bunda karena kaget dan membuang teri yang dipegangnya ke keranjang sampah.
"Maaf Bunda! Dari pada kebakaran bagus hilang ikan teri segenggam, Bund!" jawab Eno sambil menahan tawa.
"Ary kamu kenapa, nak?" tanya Bunda.
"Kok dari kemarin Bunda perhatikan kamu murung saja! Ada apa, cerita sini sama Bunda." kata Bunda lembut sambil mengusap kepala Ary.
" Nanti aja Bund, kalau sudah paham masaknya." jawab Ary menghindar dari pertanyaan Bunda.
"Itu Bund, si Ary ditinggal kawin ma mantan!" celetuk Eno.
"Eno!" teriak Ary memohon agar Eno tidak menceritakan masalahnya pada siapapun.
"Cerita saja Ar, keluarkan semua biar plong!" jawab Eno tidak mau diam.
"Kalau ada masalah ya harus diselesaikan jangan sampai berlarut-larut. Kalau lagi ada yang mengganjal di hati harus dikeluarkan biar lega, biar nggak ada yang mengganjal lagi!" nasehat Bunda.
"Itu Bund, si Ary sedih karena Alex nikah duluan tanpa kabar. 7 tahun Ary nungguin, tapi tiba-tiba dia pulang bawa anak bini. Siapa orangnya nggak sedih, Bund? Kak aku jadi Ary sudah cari yang lain!" cerocos Eno dengan semangat.
__ADS_1
Ary hanya diam saja, dia tetap melanjutkan menggoreng telur, tempe dan teri. Setelah itu Ary melanjutkan membuat nasi goreng kesukaannya.
Mereka menghidangkan semua masakan di atas meja makan. Setelahnya mereka bertiga duduk mengitari meja makan.
"Kita sarapannya nunggu Ayah pulang aja ya, Bund." kata Ary.
"Nasib kami sama, Bund!" kata Eno memulai percakapan.
"Sama gimana?" tanya Bunda.
"Sama! Sama-sama patah hati karena mencintai orang yang beda agama." jawab Eno.
"Jangan bawa agama dalam kisah cinta kalian. Karena semua itu sudah digariskan oleh Allah. Sudah jadi ketetapan Allah jodoh kita siapa. Jodoh, hidup, mati dan rejeki itu sudah menjadi ketetapanNya tanpa bisa kita bantah, tanpa bisa kita ubah kapanpun." nasehat Bunda.
"Kalau Alex sudah menikah duluan dari kalian, itu berarti jodoh dia dekat. Kalau kalian tidak bersatu juga karena kalian tidak berjodoh. Begitu juga dengan kamu Eno, kalau Ronald tidak bisa bersama denganmu lagi itu juga sudah menjadi suratan takdir kamu." lanjut Bunda.
"Allah itu tahu mana yang baik buat kalian. Allah membiarkan orang yang kita cintai pergi, karena Allah akan menggantinya dengan orang-orang yang mencintai kita."
"Allah juga yang membolak-balikkan hati umatnya, bisa saja hari ini dia tidak mencintai kamu. Besok dia sudah gundah gulana memikirkan kamu yang tidak mau pergi dari pikirannya. Dia jadi budak cintamu."
"Kamu tahu Ary, cerita cinta almarhum Om Sofyan adik Bunda?" tanya Bunda pada Ary.
"Semua itu sudah kehendak Allah, kalau Allah menginginkan kita berjodoh dengan seseorang yang menjadi takdir kita. Kita hanya bisa menjalani semua itu dengan ikhlas. Berat memang, tapi Allah tidak akan menguji umatnya diluar batas kemampuan umat itu sendiri." Bunda mengakhiri nasehatnya, karena terdengar suara motor Ayah di luar.
"Assalamualaikum..." Ayah mengucap salam saat masuk rumah melalui pintu samping.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh." jawab Bunda, Ary dan Eno serempak.
Ayah masuk langsung berjalan menuju kamar mandi, untuk mencuci tangan dan kaki.
"Ayah kok lama pulangnya?" tanya Ary.
"Iya, tadi ketemu pak RT di jalan. Jadi Ayah ngobrol dulu dengan pak RT." jawab Ayah.
"Ary sudah kelaparan itu, Yah!" seloroh Bunda.
"Ayo makan, kalau sudah lapar! Ulu ulu kasihannya anak Ayah!" kata Ayah sambil duduk bergabung hendak sarapan juga.
Ary menyendokkan nasi ke piring Ayah, lalu gantian piring Bunda. Terakhir dia menyendok untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Woi, gue mana? Tega banget gue nggak diambilkan sekalian!" Eno pura-pura merajuk.
"Mau juga, kirain mau ambil sendiri!" jawab Ary nyengir.
"Udah, gue ambil sendiri!" kata Eno sambil menyendok nasi untuk dirinya.
Ary cekikikan mendengar Eno menggerutu.
"Kalian ini selalu saja berantem, kapan akurnya?" tanya Bunda.
"Kita nggak berantem kali, Bunda aja yang salah mengartikan candaan kami." jawab Ary.
"Sudah, ayo berdo'a lalu makan!" kata Ayah.
Sejam kemudian Eno dan Ary pergi jalan-jalan ke pemandian dekat kampung mereka. Sebuah pemandian peninggalan sejarah. Permandian itu sekarang menjadi salah satu tujuan wisata daerah.
Mereka hanya berjalan-jalan saja, tidak berniat untuk berenang. Mereka juga wisata kuliner, karena tempat ini juga banyak terdapat warung dengan menu andalan daerah tersebut.
"Hmmm... yummy!" kata Ary sambil menikmati ikan wader goreng sampai belepotan bibirnya saking semangatnya menikmati makanannya.
"Pelan-pelan aja makannya, nggak bakalan gue minta ini! Kalau kurang nih, ambil punya gue!" kata Eno.
"Sudah lama banget gue makan ikan ini, Sego wader campur Yuyu. Makanan sederhana murah meriah tapi menyehatkan." kata Ary sambil menyuap ikan ke mulutnya.
"Hajar semua sampai kenyang, biar lupa sama mereka!" kata Eno.
"Jangan lagi bahas mereka, No! Mereka bukan jodoh terbaik buat kita." kata Ary.
"Yah, semoga saja kita mendapatkan jodoh yang lebih baik dari mereka." kata Eno.
"Aammiinn!" kata mereka berdua serempak.
"Sudah lama banget gue nggak ke sini. Kangen makan yuyu goreng yang dilumuri sambel ijo. Rasanya wuih, bikin nagih!" Ary terlalu bersemangat menikmati Yuyu goreng seperti orang yang tidak makan setahun.
Eno yang melihat makan Ary pun ikut bangkit selera makannya. Tanpa mereka sadari, mereka sudah menghabiskan beberapa porsi. Setelah kekenyangan mereka baru menyudahi acara makan sego Yuyu.
****Author sebenernya yang rindu makan sego yuyu di pinggir sendang.🤭🤭🤭***
Akan ada revisi nama dan tempat untuk tokoh baru 🙏🙏🙏
__ADS_1