Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
20. Alasan


__ADS_3

Selepas acara pemberian materi (pembekalan), Ary pulang bareng Bayu. Karena kebetulan Bayu juga naik sepeda, Ary dan Bayu memutuskan untuk pulang bareng.


"Ary, kamu betul nggak apa-apa nggak tidur siang?" Bayu membuka percakapan antara mereka.


"Aku nggak apa-apa kok, kak." Ary.


"Kamu kan masih harus banyak istirahat?" tanya Bayu khawatir.


"Aku sudah sehat, kak. Sudah sembuh! Betulan, gak bohong!" Ary mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


"Kata dokter, aku sudah boleh beraktivitas seperti biasa. Tapi nggak boleh berlebihan." imbuh Ary.


"Berarti, sudah bisa ikut latihan PS walet lagi dong." nampak binar bahagia di mata Bayu, karena tahu Ary sudah sembuh benar.


"Kalau itu belum boleh, kak. Latihannya kan berat, larinya lama takutnya ada guncangan pas semangat lari. Lari, lompat sama benturan belum boleh, kalau perlu dihindari dulu. Begitu kak." Ary menjelaskan.


***


Di tempat lain, si sebuah cafe dekat komplek sekolah Ary. Tampak Alex dan kawan-kawan nongkrong sambil mendengarkan life music.


"Nyet, gue tadi lihat Ary jalan bareng ma ketua OSIS lho. Berangkatnya dari parkiran sudah bareng, terus tadi pas pulang sekolah juga. Gue lihat si Ary menemui orang itu di ruang OSIS. Disana cuma ada ketua OSIS itu sedang nungguin Ary." Dheny memanasi Alex.


Tadi Dheny kebetulan melewati depan ruang OSIS, dia berniat mengembalikan bola basket ke gudang penyimpanan alat olahraga.


Dheny hanya melihat Ary masuk ke ruang OSIS, dia tidak melihat keseluruhan kegiatan di ruang OSIS tersebut.


Alex yang pernah melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana akrabnya Ary dan Bayu, merasa cemburu. Dadanya sesak seakan tertimpa benda yang sangat besar dan berat.


Alex merasa dia sudah tidak memiliki hak lagi untuk cemburu pada Ary. Dia berusaha menekan rasa cemburunya itu, tapi tidak bisa.


"Aku masih penasaran alasan sebenarnya kenapa Ary putusin gue. Kalau hanya beda agama kan gak masalah, toh baru pacaran ini. Apa karena dia mau pacaran sama cowok br*ngsek itu?" Alex merasa heran dengan sikap Ary, dia merasa dipermainkan Ary.


Sayup-sayup terdengar lagu "mencari alasan" dari salah satu grup band negara sebelah.


" Kenapa pas banget lagunya, langsung mengena di hati." sindir Anton.


"Tega banget Ary ke gue. Salah gue apa coba? Cari-cari alasan aja biar bisa putusin gue, setelah putus dia jalan sama cowok lain. Apa karena gue terlalu bodoh, dibutakan oleh cinta. Awalnya gue bisa terima alasannya, tapi sekarang gue nggak percaya lagi sama dia."


"Enak sekali dia, dengan mudahnya dia jalan sama cowok lain di depan gue. Gak mungkin kan karena beda agama sekarang banyak kok nikah beda agama. Huuuh" Alex memelas.


"Loe tenang aja dulu, kita bantu loe buat cari tahu alasan sebenarnya kenapa Ary putusin loe." Dheny menenangkan hati Alex.

__ADS_1


"Kita cari tahu dulu, betul nggak dia mutusin loe hanya untuk pacaran sama ketua OSIS itu. Lagian, belum tentu mereka pacaran. Sebelum loe pacaran sama Ary, kemudian putus. Ary kan memang sudah dekat sama ketua OSIS itu." imbuh Dheny.


Dheny memang teman yang bijaksana, pantas saja dia terpilih menjadi ketua kelas sepuluh A. Kelas Alex dan Ary beserta teman-temannya.


"Nah!!" Anton menggebrak meja. Semua temannya kaget dibuatnya.


"Gue tahu jawabannya. Kenapa nggak tanya saja sama Enno atau Candra. Mereka pasti tahu tentang Ary. Apa alasan sebenarnya Ary putusin loe, nyet." kata Anton berapi-api, saking semangatnya.


"Telepon si Mandir sekarang juga, suruh dia kesini!" kata Alex bersemangat


Anton pun mengeluarkan hp-nya, dia mencari kontak Enno kemudian meneleponnya. Pada deringan keempat, baru diangkat Enno.


"Hei, Ndir! Dimana loe?" kata Anton tiba-tiba begitu sambungan terhubung.


(.......)


"Loe datang ke cafe cinta!"


(.......)


"Tahun depan! Sekarang lah, kapan lagi? Dasar dodol!"


(......)


(......)


"Gue tunggu loe, sepuluh menit harus sudah sampai!!!" panggilan telepon pun langsung ditutup Anton.


"Sudah! Sekarang kita tunggu aja kedatangan si Mandir!" kata Anton sambil menyimpan hp ke saku celananya.


"Siapkan isi dompet yang banyak untuk ratu kita." Dheny bercanda, kemudian tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


Siapa yang tidak tahu bagaimana Enno, gadis yang terkenal matre. Semuanya dinilai dengan uang, apalagi sebuah informasi penting. Harus bayar mahal untuk sebuah informasi penting.


"Pasti habis, kena palak loe, nyet!" Anton menimpali sambil tertawa.


Sepuluh menit kemudian Enno datang di cafe "Cinta" dengan diantar Ronal, pacar barunya.


Enno langsung menghampiri Alex dan teman-temannya.


"Loe telat sepuluh detik." kata Anton begitu Enno bergabung dengan mereka.

__ADS_1


"Mana cowok loe?" tanya Dheny penasaran seperti apa pacar baru Enno.


"Itu dia!" Enno menunjuk seseorang yang berjalan mendekati mereka.


"Ronaldo!" teriak Anton. Ternyata Ronaldo adalah teman satu gereja dengan mereka.


"Ternyata dunia ini sempit ya? Loe lagi, loe lagi!" kata Ronal begitu tahu siapa orang akan ditemui pacarnya.


"Kalian sudah lama kenal? Kapan kalian pacaran?" cerca Dheny.


"Kenal sih sudah lama, kalau pacaran baru dua minggu. Iya kan, Beb?" kata Ronal.


"Ngapain kalian manggil gue? Mau bagi-bagi rejeki, ya?" tanya Enno kepo.


"Ndir, loe pasti tahu kan alasan sebenarnya kenapa Ary putusin gue?" tanya Alex penuh selidik.


"Ceritakan semua ke gue, loe mau apa gue kasih!" tegas Alex.


Enno pun mulai cerita kenapa Ary memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Alex. Dia tidak ingin sahabatnya disalahkan karena memutuskan sepihak.


Enno bercerita bahwa Ary harus memilih putus dengan pacarnya atau memilih sekolah di pondok pesantren. Ary memilih putus, karena dia tidak mau pisah dengan kedua orang tuanya dan juga teman-temannya.


Ary dekat dengan Bayu karena memang kebetulan satu ekskul. Bayu sebagai senior sedang Ary junior. Ary sudah ketinggalan kegiatan ekskul selama sebulan. Jadi harus banyak belajar dari Bayu, agar bisa mengikuti kegiatan ekskul tersebut.


Ary yang baru masuk kegiatan ekskul harus bisa mengejar materi yang tertinggal. Sebenarnya tidak begitu penting, hanya saja Ary tidak ingin menjadi penonton saja saat kegiatan berlangsung.


Alex merasa menyesal telah mencurigai Ary. Dia berpikir Ary memutuskannya karena Ary ingin ganti pacar.


"Gue tenang sekarang. Berarti memang dia betul-betul ingin belajar. Bukan karena cari pacar yang seiman." gumam Alex.


"Oke, terima kasih infonya. Sekarang loe makan sepuasnya, gue yang bayar. Atau loe minta apa sebagai imbalannya?" kata Alex bersemangat.


"Gue nggak minta apa-apa, gue cuma pengen loe buang pikiran jelek loe ke Ary. Dia sahabat sekaligus saudara bagi gue. Kalau dia sedih gue juga sedih. Dia bahagia, gue ikut tertawa."


Enno berdiri akan meninggalkan meja mereka.


"Satu lagi, siapapun yang buat Ary menangis. Orang itu harus berhadapan sama gue. Apapun akan gue lakuin asal Ary bisa tertawa!" ancam Enno sambil berlalu dari hadapan Alex dan kawan-kawan.


TERIMA KASIH SUDAH MAU SINGGAH UNTUK MEMBACA NOVELKU INI


MAAFKAN YA GENKS, MASIH BANYAK KEKURANGANNYA.

__ADS_1


__ADS_2