Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
39. Boleh Pulang


__ADS_3

Keesokan harinya Rendy meminta Vero untuk menemaninya di rumah sakit. Rendy menjadikan Vero sebagai obat atas kegundahan hatinya. Vero adalah cewek cantik dan seksi yang menjadi pacar Rendy selama enam bulan terakhir ini.


Vero datang setelah mendapat telepon dari Rendy. Dengan berdandan seseksi mungkin Vero mengunjungi Rendy di rumah sakit. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk bertemu sang pangeran pujaan hatinya.


"Pagi, bie!" sapa Vero begitu memasuki ruangan Rendy.


Saat ini Rendy sudah dilepas infusnya, karena sudah membaik kondisinya. Dia juga sudah mandi dan segar, karena akhirnya dia bisa mandi setelah berhari-hari tidak mandi.


"Pagi juga!" jawab Rendy dengan senyum merekah.


Vero memeluk Rendy dan mencium Rendy. Mereka melepas saling melepas rindu.


***


Sementara itu Ary memulai aktivitas paginya di rumah sakit. Hari ini begitu banyak pasien yang datang untuk berobat. Karena banyaknya pasien yang harus diperiksa, dia terlambat melakukan kunjungan pada pasien rawat inap.


Hampir jam 12 siang dia baru mulai mengunjungi semua pasiennya. Dia dahulukan kunjungannya ke pasien yang mempunyai riwayat medis berat. Sedangkan pasien yang sudah membaik kondisinya, dia kunjungi belakangan.


Setelah selesai dengan pasiennya yang berat, dia mulai mengunjungi pasien yang sudah membaik. Giliran Ary mengunjungi ruangan Rendy.


"Selamat siang, A-" Ary terhenyak kaget karena melihat adegan di depannya.


Ary melihat Rendy dan pacarnya sedang bercumbu di atas sofa. Baju dan rambut Vero berantakan, tidak jauh beda dengan Rendy. Bibir dan pipinya belepotan lipstik yang berasal dari bibir Vero.


Vero yang kaget ada gangguan tidak terduga, buru-buru mengancingkan blusnya dan merapikan rambutnya. Begitu juga dengan Rendy, dia pun tidak kalah kagetnya.


"Astaghfirullah..." ucap Ary.


"Sus, buatkan laporan ke bagian administrasi. Katakan pasien yang bernama Renaldy Pratama di ruang VIP sudah boleh pulang. Tidak perlu lagi dirawat disini." kata Ary sambil berbalik arah keluar dari ruangan itu.


"Baik, Dok!" jawab perawat pendamping Ary.


Ary tidak menyangka akan melihat tontonan yang tidak pantas di rumah sakit. Karena rumah sakit bukanlah hotel yang bisa digunakan untuk tempat mesum.


"Oh iya sus, surat berobat jalan ditujukan pada dokter Fadli aja. Kemungkinan dokter Fadli sudah praktek besok." lanjut Ary sebelum keluar dari ruangan itu.


Rendy yang sedang membenahi penampilannya merasa senang karena sudah dibolehkan pulang.


"Betul gue sudah boleh pulang, sus?" tanya Rendy pada perawat yang mendampingi Ary.


"Iya, hari ini Abang sudah boleh pulang. Dan nanti berobat jalannya kembali ditangani dokter Fadli." jawab perawat itu.


Rendy tidak sempat bertanya pada Ary, karena Ary sudah ambil langkah seribu begitu melihat adegan yang tidak pantas tadi.

__ADS_1


Setelah mendapat jawaban dari perawat, Rendy meminta bantuan Vero untuk mengurus administrasi rumah sakit selama dia dirawat.


Saat Vero meninggalkan ruangan itu, Rendy langsung menghubungi Brandon untuk segera datang menjemputnya.


***


Ary kaget bukan main melihat ulah Rendy tadi, dia terus beristighfar untuk menghilangkan pikiran kotornya. Setelah sampai di ruangannya, dia masih mencoba menenangkan diri dengan mengambil wudhu dan menunaikan ibadah sholat Dzuhur. Karena sudah waktunya.


Ary yang selalu berada di jalur lurus dan beraliran putih, belum pernah melihat adegan seperti tadi. Dia jarang menonton drama atau film, waktunya selama ini dihabiskan untuk belajar dan membaca.


Jadi tidak heran jika dia kaget melihat adegan tadi. Saking kagetnya sampai gemetaran kakinya.


Selesai sholat Dzuhur, Ary pulang ke rumah dinasnya. Untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas sejak pagi.


"Huh, akhirnya sampai juga di rumah! Hari ini aku agak senggang, lebih baik aku jalan-jalan aja nanti sebelum pergi ke klinik." Ary ngomong sendiri, karena dia hanya sendiri di rumah itu.


"Aku ajak siapa ya? Aku telepon Eno dulu mana tahu dia mau ke sini. Tapi kasihan, dia kan kerja! Masak dia bolak balik perjalanan jauh! Mmm, telepon Mira aja deh!"


Ary menghubungi teman sejawatnya, dia ingin refreshing untuk menghilangkan penat. Mira adalah teman Ary semasa kuliah. Mira dan Ary bersahabat dekat sejak pertama kali masuk kuliah. Mereka bahkan membuat klinik bersama.


Klinik mereka berada dekat dengan masyarakat, dan dekat dengan balai kota. Klinik keluarga merupakan klinik yang digawangi oleh Ary, Mira dan Zaky.


Mereka bertiga bekerjasama membuat klinik untuk membantu rakyat menengah ke bawah. Walaupun klinik itu masih baru, tapi sudah rame dan terkenal.


"Kemana, aku masih ada beberapa pasien lagi. kira-kira sejam lagi baru kelar." jawab Mira.


"Malioboro mall aja! Cuci mata sekalian belanja, singgah ke apotek juga. Obat-obatanku sudah habis!" kata Ary.


"Ok, dua jam lagi ya!" kata Mira.


Mira tidak berani membuat janji dengan waktu mepet, karena bagaimanapun seorang dokter harus mengutamakan pasiennya dari pada diri sendiri.


****


"Loe pulang juga akhirnya! Bosen gue nemenin loe tidur disini!" kata Brandon begitu masuk ke ruang rawat inap Rendy.


"Loe aja bosen, apalagi gue!" jawab Rendy sambil membereskan barang-barangnya.


"Gue bebas! Nggak diikat-ikat lagi seperti biasanya. Mau ke kamar mandi aja susah!" kata Rendy lagi. Yang dimaksud diikat, tangannya diinfus sedangkan hidungnya dipasang selang oksigen.


"Sudah beres kan, yuk pulang!" kata Brandon.


"Bentar lagi! Nungguin si Vero, dia masih mengurus administrasi di depan." jawab Rendy.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Vero datang.


"Tuh, sudah datang! Gimana bie, sudah beres kan?" tanya Rendy.


"Sudah bie, yuk pulang!" jawab Vero sambil menyerahkan kartu debit Rendy yang dipakai untuk pembayaran tagihan rumah sakit.


Mereka pun meninggalkan rumah sakit. Brandon membawakan tas dan barang lainnya milik Rendy. Sedangkan Rendy dan Vero asik berpelukan sepanjang jalan.


"Pas lah seperti pengawal pribadi!" gerutu Brandon.


"Mana mobil gue?" tanya Rendy.


"Di parkir lah bro, masak di sini!" jawab Brandon.


"Cepetan bawa sini, gue sudah kepanasan ini!" perintah Rendy.


"Siap bos!" jawab Brandon sambil meletakkan barang bawaannya dan meninggalkan Rendy.


"Huh! Pasti habis ini gue disuruh naik bus atau ojek! Nasiiiibbbb!" gumam Brandon.


Brandon dengan patuh menuruti kemauan Rendy bukan karena takut, lebih karena kasihan melihat keadaan Rendy. Rendy dari kecil sudah tampak sikap memimpin, suka memerintah orang seenaknya sendiri.


"Ayo masuk bro!" kata Brandon sambil membuka pintu belakang untuk memasukkan barang-barang bawaan Rendy.


"Loe, naik ojek aja! Gue mau jalan sama ayang gue!" kata Rendy.


"Kan kan, feeling gue kuat! Pasti gue cuma sisi antarkan mobil dia aja!" batin Brandon.


"Ok, tapi ongkos mana ongkos!" jawab Brandon sambil menengadahkan tangannya meminta ongkos naik ojek.


Rendy menyerahkan selembar uang berwarna biru kepada Brandon.


"Nah, segini aja cukup! Sisa malah!" kata Rendy.


Kemudian Rendy meninggalkan Brandon sendirian di depan rumah sakit.


****Maaf kalau garing, nggak bisa konsenπŸ™πŸ™πŸ™****


Untuk visual readers bebas mengkhayal sendiri sesuai selera masing-masing 😁😁😁


Jangan lupa like dan komen ya, kalau boleh vote juga dongπŸ™πŸ™πŸ™


Terima kasih πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2