
Tak butuh waktu lama untuk menempuh perjalanan dari rumah Rendy ke rumah dinas Ary. Sesampainya di rumah dinas, Ary dan Eno langsung masuk kamar.
Ary langsung merebahkan badannya di atas ranjang. Badannya lelah sekali, setelah selesai memeriksa pasiennya di rumah sakit tadi dia langsung diajak jalan-jalan sama Rendy.
"Akhirnya ketemu juga sama surtaling! Nyamannya..." ucap Ary sambil memejamkan matanya di atas ranjang.
"Apa surtaling??" tanya Eno penasaran. Karena baru kali ini dia mendengar istilah surtaling.
"Kasur, bantal dan guling!" jawab Ary sambil memeluk gulingnya.
Eno pun menyusul Ary ke posisi wuenaknya. Karena seharian tadi Eno juga capek mencari kerja. Eno ingin mandiri, makanya dia meninggalkan usaha orang tuanya.
"Bagi donk!" kata Eno sambil menarik guling Ary.
"Enak aja! Ini nih pasangan gue yang paling setia. Karena cuma gue yang diijinkan meluk dia!" jawab Ary tetap memeluk erat gulingnya.
"Demam ya loe!" tanya Eno sambil meletakkan sebelah tangannya ke dahi Ary.
"Loe stress ya! Sebentar lagi mau nikah kok malah stress!" lanjut Eno.
"Apaan sih!" jawab Ary.
"Kalau loe belum siap nikah, ngapain juga loe terima lamaran Rendy? Jadinya loe yang tersiksa!" kata Eno pelan, takut menyinggung perasaan Ary.
"Kalau gue gak terima lamaran Rendy, berarti gue nolak rejeki donk!" jawab Ary.
"Kok nolak rejeki? Apa hubungannya rejeki sama lamaran Rendy?" tanya Eno bingung.
"Setahuku ya, No! Kita tidak boleh menolak lamaran dari seorang laki-laki yang berniat baik sama kita. Jodoh, anak, kesehatan itu termasuk rejeki. Kita tidak boleh menolak lamaran kalau kita sudah ada yang melamar, kalau belum ada yang melamar wajib menerima lamaran. Jangan karena alasan tidak cinta , menolak lamaran. Karena cinta kita hanya pantas kita berikan pada Allah semata. Cinta pada sang pencipta itu lebih utama." nasehat Ary.
"Siap Bu Ustadzah!" jawab Eno.
"Kalau gak nerima lamaran Rendy, terus gue mau nunggu siapa? Tidak mungkin gue nunggu suami orang, berdosa! Selain itu juga sia-sia, karena belum tentu dia jodoh gue. Siapa tahu istrinya adalah jodoh dia dunia akhirat. Bukan gue! Gue gak mau berharap pada sesuatu yang gak pasti." lanjut Ary, ada kesedihan tersirat dalam kata-katanya.
"Bukannya gue mau buka luka lama Loe! Gue cuma ingin loe bahagia. Jangan karena ingin move on, loe jadikan Rendy sebagai pelarian. Karena loe gak akan bahagia. Kalau loe gak cinta Rendy, mending loe jujur aja! Biar gak ada yang sakit nantinya." nasehat Eno.
__ADS_1
"Gue sayang kok ke Rendy, jangan terlalu dipikirkan. Gue pasti bahagia nikah sama Rendy!" jawab Ary sambil tersenyum.
"Loe masih menyimpan rasa ke Alex kan?" tanya Eno.
"Rasa itu belum pernah bisa hilang, tapi aku yakin suatu saat nanti akan tergantikan oleh Rendy. Karena Rendy yang sering mengisi dan menghiasi hariku." jawab Ary mantap.
"Tidur yuk, ngantuk!" kata Ary.
Akhirnya mereka pun terlelap dalam buaian mimpi.
***
Hari yang ditunggu pun semakin dekat. Baju sudah beres, cincin pernikahan sudah, undangan sudah, bahkan keluarga Rendy dari Medan sudah mulai berdatangan.
Acaranya akan dibuat sesederhana mungkin, mengingat kondisi Rendy. Undangan hanya untuk keluarga, teman dekat dan teman sejawat saja. Bahkan hanya para dokter saja yang Ary undang, untuk mewakili pihak rumah sakit.
Esok hari adalah hari yang sangat ditunggu oleh Rendy dan Ary. Sudah dua hari ini mereka dipingit, tanpa diijinkan untuk bertemu ataupun video call. Hanya boleh telepon saja, itupun dibatasi. Karena hp kedua calon mempelai disita oleh orang tuanya.
Rendy sangat mantap dengan pilihannya, Ary adalah wanita pertama yang membuat dia ketergantungan. Baginya Ary adalah candu yang tidak pernah bisa hilang.
Begitu sampai di rumah Rendy, Ary langsung dibawa ke kamar Rendy untuk dirias. Di kamar Rendy sudah ada petugas dari MUA yang disewa mama Rendy. Mama Rendy sudah nampak cantik karena baru saja selesai dirias.
Para petugas MUA mulai mendandani Ary, mereka merias wajah Ary sesuai permintaan Ary. Sederhana tapi elegan. Ary tidak suka make up yang mencolok dan berlebihan.
Selesai dirias, wajah Ary nampak sangat cantik natural. Mama Rendy sampai tidak mengenalinya. Bahkan kakak dan bunda Ary pun juga sempat tidak mengenali Ary.
"Waw, cantik sekali adik mbak!" kata mbak Karin memuji kecantikan Ary.
"Tanpa make up saja sudah cantik, apalagi di-make up seperti ini. Semakin luar biasa cantiknya anak mama! Rendy memang tidak salah pilih, Ary memang cantik luar dalam!" puji mama Rendy.
"Rendy pasti tidak mengenali kamu, dan pastinya makin kesengsem!" celetuk Eno.
"Akad nikah akan segera dimulai, ayuk bawa Ary ke depan!" kata Bunda membubarkan kerumunan orang yang mengerubungi Ary. (Emangnya gula pakai dikerubungi ðŸ¤).
Ary pun digiring keluar dari kamar menuju ruang tamu yang dijadikan sebagai tempat akad nikah. Rendy yang melihat Ary berjalan mendekat hanya bisa meneguk air liurnya, melihat kecantikan Ary. Ingin rasanya dia memeluk dan melahap Ary saat ini juga.
__ADS_1
Ary didudukkan di sebelah Rendy, diatas kepala mereka berdua dipasang kain selendang putih. Dan acara akad nikah pun segera dimulai.
Rendy mengucap basmallah dan syahadat terlebih dahulu sebelum mengucapkan ijab qobul.
Akhirnya, Rendy dengan lancar mengucapkan itu semua. Setelah kata sah dari para saksi terdengar, dan diikuti do'a yang dipanjatkan oleh petugas KUA, Ary mencium punggung tangan Rendy dan Rendy pun mengecup kening Ary. Dilanjutkan acara sungkem kepada kedua orang tua Ary dan Rendy.
Wajah Rendy sudah tampak pucat sejak tadi pagi kedatangan Ary. Ary pun merasa curiga, pasti ada yang tidak beres dengan kesehatan Rendy.
Selesai sungkem kepada kedua orang tuanya, Ary meminta segelas air putih pada mbak Karin. Karena sejak tadi mbak Karin yang mendampingi Ary.
"Abang, minum dulu!" kata Ary.
"Makasih sayang!" jawab Rendy dengan tersenyum untuk menutupi rasa sesak di dadanya.
Sejak tadi malam Rendy sudah merasakan sesak di dadanya. Dia hanya diam tidak mengeluh seperti biasanya. Rasa bahagianya telah mengalahkan rasa sakit pada paru-parunya.
Belum sempat diminum air yang diberikan oleh Ary, tiba-tiba Rendy jatuh tidak sadarkan diri. Rendy jatuh tepat di pelukan Ary. Gelas berisi air putih itu pun jatuh pecah berserakan di sekitar Ary dan Rendy.
"Abang!!!" jerit Ary sekeras-kerasnya.
Semua orang yang melihat mereka langsung lari mendekati. Terutama mama Rendy dan Bunda yang sejak tadi mengobrol tidak jauh dari Ary dan Rendy.
Rendy pun segera dilarikan ke rumah sakit. Ary dan kedua orang tuanya ikut dalam satu mobil. Sedangkan orang tua Rendy mengiringi dari belakang.
Rendy dibaringkan di jok belakang, dengan posisi kepalanya berada di pangkuan Ary. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Rendy membuka matanya.
"Yank!" panggil Rendy lirih begitu membuka matanya.
Ary menangis sambil mengusap kepala Rendy.
"Jangan nangis, yank! Jelek, ntar cantiknya hilang kalau nangis!" kata Rendy lagi dengan nafas tersengal-sengal.
"Abang, diam saja biar nafasnya tidak sesak." jawab Ary sambil terus mengusap kepala Rendy.
"Yank, aku minta maaf ya. Belum bisa bahagiain kamu. I love you!" kata Rendy sambil memejamkan matanya kembali.
__ADS_1