Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
43. Tabrak Lari


__ADS_3

Hari pun berganti Minggu. Kini Bayu telah kembali bekerja, setelah selesai dengan masa cutinya. Bayu mengambil cuti lama, selain karena sang ibu sakit juga karena ingin mutasi ke daerah yang lebih dekat dengan kampung halaman. Bayu memilih pindah ke Jogja agar bisa tinggal dengan ibunya. Agar bisa merawat dan menjaga ibunya.


Orang tua akan lebih tenang hidupnya, bila ada anak yang mau mendampinginya di hari tua. Semua orang tua pasti menginginkan anaknya merawat dia setelah tua nanti. Anaknya lah yang menjadi teman di hari tua.


Bayu adalah seorang anak yang sangat menyayangi ibunya. Semua akan dilakukannya untuk membahagiakan ibunya. Karena dia tahu bahwa apapun yang dilakukan untuk membalas budi ibu, tidak akan bisa membayar hutang budinya.


Di lain tempat, ada Rendy yang semakin hari semakin berusaha mendekati Ary. Kondisi Rendy juga sudah mulai membaik setelah berobat pada Ary. Rendy memutuskan berobat pada Ary saja, karena dokter Fadli sering melimpahkan pasiennya pada Ary.


Karena seringnya berobat pada Ary, Rendy jadi bisa mengenali bagaimana sifat Ary yang sebenarnya. Rendy pun perlahan mulai berubah menjadi lebih baik. Dulu yang selalu meninggalkan sholat, sekarang tidak pernah tertinggal sholat lima waktu.


Ary masih tetap seperti dulu, tidak ada yang berubah dari seorang Ary. Walaupun berjiwa sosial tinggi, dia tetap dingin dan cuek serta irit bicara.


***


Sore hari di klinik bersama milik Ary dan kawan-kawan.


Saat ini Ary sedang asik bercengkrama bersama teman-temannya, karena belum ada pasien di klinik tersedia. Beberapa hari ini klinik tersebut lebih sepi dari pada hari-hari sebelumnya.


"Ar, aku cabut dulu ya! Sepi ini, kamu bisa kan jaga klinik sendiri?" kata Mira, tepatnya dokter Amira Kusuma Dewi teman sejak kuliah Ary selain dokter Zaky.


"Iya, pergi aja! Sebentar lagi si Zaky juga datang, dia tadi sudah hubungi aku." jawab Ary.


"Dokter Mira, kalau mau pergi pergi aja. Ada kami yang akan menemani dokter Ary. Tenang aja, Dok!" kata salah satu perawat klinik.


"Ok! Aku tinggal ya. Nanti kalau butuh bantuan aku, hubungi aja!" pesan Mira.


"Siip!!" jawab Ary sambil mengacungkan jempolnya.


Tidak jauh dari klinik itu, ada banyak kerumunan orang di pinggir jalan depan swalayan yang sangat terkenal di Jogja. Ada seorang pemuda yang mencoba menolong seorang anak kecil. Anak itu hendak menyeberang jalan tapi tidak melihat kanan kiri, sehingga menjadi korban tabrak lari.


Pemuda itu menolong anak kecil tersebut, niatnya menolong malah membuat dia celaka. Ketika dia hendak menyelamatkan anak kecil itu, dia malah ketabrak motor. Motor tersebut tetap melaju kencang, meninggalkan pemuda ganteng dan anak yang diselamatkan.


Mereka akhirnya dibawa ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan pengobatan.


"Duh, kok aku tiba-tiba ngantuk ya?" kata Ary pada para perawat klinik.


Mereka masih duduk-duduk di depan klinik, ngobrol dan bercanda bersama. Hal ini sudah biasa Ary lakukan agar tidak ada jarak antara pemilik dan karyawannya.

__ADS_1


"Dokter kurang gerak itu, kan sudah biasa nggak berdiam diri saja!" jawab salah satu perawat berkacamata.


"Dokter Ary kan nggak biasa kek kita-kita yang malas-malasan, iya nggak?" jawab perawat yang satunya lagi.


Di klinik itu ada tiga dokter, 5 perawat dengan 2 shift kerja, 1 orang tukang masak dan 2 orang satpam. Mereka semua merangkap menjadi petugas kebersihan dan keamanan klinik.


Tiba-tiba datang beberapa orang ke klinik membawa dua orang pasien.


"Dok, tolong dok! Ada korban tabrak lari." kata salah satu diantara rombongan itu.


"Bawa masuk ke ruangan aja langsung pak!" jawab Ary.


"Sus, siapkan peralatannya sekarang juga!" perintah Ary pada kedua perawat yang bersamanya tadi.


"Siap, Dok!' jawab keduanya kompak.


Ary pun kemudian masuk ke ruang periksa, dan mulai memeriksa kondisi korban tabrak lari itu. Pertama Ary, menolong anak kecil itu. Setelah selesai, kemudian Ary memeriksa kondisi pemuda yang menolong anak kecil tadi.


"Aww... pelan-pelan bisa nggak sih?! Kasar amat sih jadi dokter!" kata Rendy. Ya, pemuda ganteng yang menolong anak kecil tadi adalah Rendy.


"Ini juga sudah pelan! Dasar kamunya aja yang manja, dulu waktu rawat inap tiap hari bongkar pasang jarum infus tenang aja!" jawab Ary sambil membersihkan luka di tangan Rendy.


"Sayang??? Sejak kapan aku jadi sayang kamu?!" jawab Ary ketus.


Ary sudah bosan setiap menangani pasien yang satu ini selalu saja banyak tingkah. Tidak pernah tanpa bujuk rayunya.


"Sejak pertama lihat kamu lah! Atau sejak sekarang aja, gimana?"


Perawat yang mendampingi Ary, senyum-senyum sendiri mendengar bualan Rendy.


"Hah! Kamu itu masih kecil, kuliah dulu yang bener! Pacaran mulu yang ada di otakmu!" jawab Ary.


Ary sudah terbiasa dengan sikap Rendy, jadi sudah tahu gimana menghadapi pasiennya itu.


"Jangan salah ya, kecil-kecil begini bisa buat loe bunting tau!" jawab Rendy emosi, karena selalu dianggap anak kecil oleh Ary.


"Masak sih?! Ihh, takut!" kata Ary pura-pura takut, tapi menahan tawa.

__ADS_1


"Nggak percaya?! Mau bukti, ayok!" tantang Rendy.


"Ayo ngapain? Kemana?" tanya Ary, akhirnya tawanya pecah juga.


"Kok ketawa sih? Loe remehin gue?" tanya Rendy.


"Emang udah nggak sakit lagi tangan sama kepala kamu?" tanya Ary.


"Kepala kamu aja benjol begitu! Nggak pusing ya?" lanjut Ary keheranan.


"Kalau pas lagi buatnya ya nggak sakit lah!" jawab Rendy enteng.


"Hahaha" tawa Ary meledak juga. Melihat atasannya tertawa, perawat itu pun ikut tertawa.


"Kok malah tertawa, ada yang lucu ya?! tanya Rendy.


"Kamu itu lucu, masih kecil tapi otak mesum!" jawab Ary terus terang.


"Loe yang bikin otak gue jadi mesum!" jawab Rendy singkat.


"Kok jadi aku yang salah?" tanya Ary sambil berjalan menuju ke mejanya, karena sudah selesai mengobati luka Rendy.


Perawat yang mendampingi Ary keluar dari ruangan itu. Karena tugasnya sudah selesai.


"Ya, gara-gara Loe! Gara-gara Loe otak gue jadi traveling kemana-mana!" jawab Rendy.


"Iya, kenapa aku! Alasannya apa?" tanya Ary.


"Entahlah, setiap liat loe atau teringat sama loe. Bawaannya mau nerkam loe aja." jawab Rendy jujur.


"Hahaha" Ary tidak dapat menahan tawanya mendengar jawaban Rendy.


"Emang dasar omes!" jawab Ary di sela tawanya.


Rendy diam, hanya mengangkat bahu saja dikatakan omes oleh Ary. Dia sendiri tidak tahu, kenapa dia bisa seperti itu. Bahkan semua cewek cantik yang mengelilinginya selama ini ditinggalkan demi mengejar cinta Ary.


Selain meninggalkan semua ceweknya, Rendy juga sudah mulai menjauh dari dunia malam. Dulu minum alkohol, sekarang setiap hari minum susu kambing etawa dua kali dalam sehari.

__ADS_1


Semua anjuran Ary untuk mengkonsumsi makanan sehat serta obat herbal, dilakukan Rendy dengan patuh. Rendy bertekad untuk sembuh demi mendapatkan dokter cantik itu.


"Nggak percaya ya sudah! Gue laper, masakin dong!" kata Rendy.


__ADS_2