Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
44. Ternyata


__ADS_3

"Nggak percaya ya sudah! Gue laper, masakin dong!" kata Rendy


"Hah?!!" Ary kaget mendengar kata-kata Rendy.


"Nggak salah dengar kan aku?" tanya Ary.


"Iya, gue laper! Tadinya gue mau beli makan tapi nolongin anak kecil tadi, jadinya gue nggak jadi makan." jawab Rendy santai.


"Kamu kehabisan duit atau apa?" tanya Ary.


"Gue mau rasain masakan bini gue!" jawab Rendy.


Ary makin pusing menghadapi Rendy, ada saja kelakuannya.


"Kamu sudah nikah? Kok aku baru tau!?" jawab Ary.


"Ada!" jawab Rendy singkat.


"Hah?!!!" Ary kaget mendengar jawaban Rendy. Tapi dia bisa menguasai dirinya. Ngomong sama Rendy memang harus ekstra sabar.


"Makan di luar aja, deket balai kota ada warung lesehan enak banget. Dan yang pasti sesuai kantong mahasiswa kayak kamu!" kata Ary.


"Yaa, kapan dong gue bisa rasain masakan bini gue!" keluh Rendy.


"Emang siapa istri kamu?" tanya Ary sambil berdiri, mencuci tangannya dan kemudian mengelapnya.


"Loe lah! Emang ada orang lagi selain kita disini?" jawab Rendy.


"Udah, ayo bangun! Masih Maghrib sudah mimpi!" kata Ary sambil berjalan keluar dari ruangan itu.


"Ckk, malah ditinggal!" gerutu Rendy sambil mengikuti Ary keluar ruangan itu.


"Kamu lama-lama makin berani ya! Aku ini lebih tua dari kamu tau nggak!" bentak Ary.


"Ngadi-adi!!" gerutu Ary.


"Cinta kan nggak Mandang usia! Cinta itu buta, jadi tidak bisa memilih mana yang tua dan muda. Cinta itu hati yang berbicara." jawab Rendy sambil terus mengikuti Ary sampai parkiran.


"Kamu tadi naik apa kesini?" tanya Ary.


"Aku bawa motor tadi, motornya ketinggalan di Pamela." jawab Rendy sambil menyebut nama swalayan tempat kejadian tadi.


"Ini aku antar kamu ambil motor atau makan dulu?" tanya Ary sambil mengeluarkan motornya dari tempat parkir.

__ADS_1


Ary memberikan motor ke Rendy, tapi Rendy menolak dengan menunjukkan tangannya. Ary hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Rendy.


"Makan dulu, gue laper!" jawab Rendy. Dia sengaja mengajak makan terlebih dahulu karena dia merasa lapar.


"Oke, eit. Tunggu udah adzan Maghrib nih, sholat dulu ya." kata Ary sambil menghidupkan motor.


"Deket sini ada masjid kok, kita ke masjid dulu." kata Ary mengarahkan motornya menuju mesjid terdekat.


Rendy nurut saja, karena dia hanya penumpang. Penumpang kan ngikut kemana sopir membawa. Selain itu juga dia ingin berlama-lama dekat dengan Ary.


Setelah selesai sholat Maghrib, mereka kemudian ke warung lesehan depan balai kota Jogjakarta.


***


Sabtu pagi seperti biasanya Ary bersiap-siap untuk pulang ke rumah orangtuanya. Dia sudah tidak sabar untuk segera bertemu ayah bundanya serta ibu Marinah.


Sejak Bayu mengantarkan ibunya berobat pada Ary, sekarang setiap pulang ke rumah orangtuanya Ary selalu singgah di rumah Bayu. Ary yang menangani ibu Marinah sekarang, walaupun hanya seminggu sekali datang.


Sekarang Ary sudah menyandang gelar dokter spesialis paru. Bayu pun sudah bekerja di Jogja. Jadi, seminggu sekali mereka bertemu.


Saat ini Ary singgah ke rumah Bayu terlebih dahulu sebelum pulang ke rumahnya. Karena dari arah Jogja ke rumah Ary melewati rumah Bayu terlebih dahulu.


Dari kejauhan tampak ibu Marinah sedang duduk di teras belakang rumah, sedang memandang sebuah foto. Tidak kelihatan dengan jelas foto siapa, karena ibu Marinah langsung menyimpan foto tersebut.


"Assalamualaikum, Ibu!" sapa Ary begitu dekat dengan masyarakat ibu Marinah. Kemudian Ary mencium tangan ibu Marinah dan memeluknya.


"Ibu, apa kabarnya?" tanya Ary.


Sebelum menjawab pertanyaan Ary, ibu Marinah mengajak duduk Ary.


"Alhamdulillah, ibu semakin membaik. Berkat kesabaran kamu merawat ibu." jawab ibu Marinah.


"Ibu, yang menyembuhkan ibu itu Allah bukan Ary. Ary hanya perantara saja." kata Ary dengan lembut.


"Ary, ibu mau tanya. Ary jawab yang jujur sejujurnya sama ibu. Bisa?" kata ibu Marinah.


"Ibu mau tanya apa? Insha Allah akan Ary jawab dengan jujur." kata Ary.


"Sebenarnya perasaan kamu ke Bayu gimana?" tanya ibu Marinah.


"Ary menganggap kak Bayu sudah seperti kakak sendiri." jawab Ary.


"Ibu hanya mau bilang apapun jawaban kamu, ibu tetap tidak akan pernah bisa merestui hubungan kalian jika ingin lebih dari sekedar saudara. Terus terang, ibu sangat menyayangi kamu seperti ibu menyayangi Bayu. Tapi ibu tidak ingin menjadikan kamu sebagai menantu. Sampai kapan pun ibu tidak akan merestui kalian jika kalian menikah." kata ibu Marinah sambil berdiri meninggalkan Ary, masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Ary yang mendengar perkataan ibu Marinah hanya bisa diam. Dia tidak tahu jika ibu Marinah akan mengatakan hal itu. Ary mengikuti ibu Marinah ke kamarnya karena hendak memeriksa keadaannya.


"Tadi malam Bayu bilang sama Ibu, katanya dia sudah mantap melabuhkan hatinya ke kamu." kata ibu Marinah.


"Tapi ibu tidak bisa merestuinya. Ibu akan merestui jika Bayu memilih wanita lain, bukan kamu." lanjut ibu Marinah.


"Ary boleh tau alasannya?" tanya Ary penasaran.


"Nanti kalau sudah saatnya, Ibu akan memberitahu. Saat ini kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan bukan?" kata ibu Marinah.


"Iya, Bu. Ary tau kok, sekarang Ary periksa ibu dulu ya.


Ary merasa tidak enak hati karena perkataan ibu Marinah tadi. Tapi dia profesional, tetap memperhatikan pasiennya. Ary dengan telaten memeriksa keadaan ibu Marinah.


"Sudah normal semua, Bu. Tapi Ibu tetap tidak boleh kecapekan. Ibu tidak boleh banyak pikiran. Kalau masalah Bayu, biar nanti Ary yang urus. Ibu tenang saja, percayakan semuanya pada Ary." kata Ary sambil memegang tangan ibu Marinah, sesekali mengusap punggung tangannya.


Ary ingin ibu Marinah cepat sembuh dan pulih kembali seperti dulu. Ary juga menyayangi ibu Marinah seperti menyayangi Bunda Widya, ibu kandungnya.


"Jangan lupa obatnya masih tetap diminum ya, Bu! Biar gula darahnya tidak naik." pesan Ary.


"Iya, ibu percayakan semuanya pada kamu. Kalau Ibu ngomong sama Bayu, pasti dia akan nekat." jawab ibu Marinah.


"Ary pamit pulang dulu ya, Bu. Sudah siang, takutnya Bunda sudah nungguin Ary." kata Ary pamitan sambil menyalami tangan ibu Marinah.


Ary berjalan keluar diikuti oleh ibu Marinah. Saat di pintu depan, dia berpapasan dengan Bayu.


"Assalamualaikum, kak!" sapa Ary.


"Wa'alaikum salam, sudah dari tadi ya?" tanya Bayu.


"Iya kak, ini mau pulang. Sudah selesai memeriksa Ibu." jawab Ary.


"Ar, nanti malam dinner yuk!" ajak Bayu.


"Boleh! Tapi Ary minta ijin sama Ayah dan Bunda dulu." jawab Ary.


"Pasti ijin lah mereka, kan yang bawa aku." ucap Bayu penuh percaya diri.


"Yee, kepedean kakak!" jawab Ary.


"Habis Isya' aku jemput kamu!" kata Bayu.


"Iyaa, Ary pulang dulu! Bunda sudah nunggin Ary dari pagi. Ary dari Jogja singgah kesini dulu tadi, pasti Bunda sudah resah banget aku belum nyampe rumah." kata Ary meninggalkan Bayu.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan! Jangan ngebut!" pesan Bayu.


"Iyaa, assalamualaikum" kata Ary meninggalkan rumah Bayu.


__ADS_2