Sepenggal Kisah Ary

Sepenggal Kisah Ary
31. Renaldy Pratama


__ADS_3

Renaldy Pratama adalah seorang anak dari pengusaha perkebunan sukses, dia anak pertama dari 2 bersaudara. Teman-temannya sering memanggilnya Rendy. Seorang mahasiswa jurusan komputer di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta. Dia berasal dari luar Jawa, di Pulau Sumatera lebih tepatnya Medan.


Rendy memiliki otak cerdas tapi mesum. Dia seorang player, setiap hari selalu berbeda cewek yang menjadi pasangannya. Bahkan dalam sehari dia bisa ganti pasangan, seperti pakaian saja. Walaupun sudah banyak cewek yang dibuat patah hati, tetapi masih banyak cewek yang mengantri untuk menjadi kekasihnya.


Rendy memiliki paras yang lumayan, hidung mancung garis alis yang tebal, tatapan mata yang tajam dan kulit putih bersih. Tinggi badan sekitar 175cm, badan kurus kering karena dimakan penyakit.


Kecerdasan otaknya dan kepandaiannya dalam berinteraksi dengan orang lain membuat dia disukai oleh para perempuan. Dia piawai dalam mengoperasikan komputer, mulai dari merakit hingga program komputer semua dikuasainya.


Di usianya yang masih muda dia sudah bisa mendirikan usaha sendiri. Bakat seorang usahawan diperoleh dari kedua orang tuanya. Orang tua Rendy seorang pengusaha kuliner yang terkenal dan memiliki beberapa cabang di daerah tersebut.


Kesibukan kedua orang tuanya membuat Rendy salah pergaulan. Kurang perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya membuat Rendy mabuk-mabukan dan merokok di usianya yang masih sangat muda saat itu. Sejak duduk di bangku SMP kelas VII, Rendy sudah mengenal rokok dan minuman keras.


Di usia 18 th, dia dinyatakan terkena sakit bronkitis karena dia seorang perokok berat. Tidak heran jika di usianya yang baru menginjak 21 th, sudah terkena penyakit paru-paru bronkitis kronik. Ditambah lagi dengan dia yang malas minum obat membuat penyakitnya tidak kunjung sembuh dan malah semakin parah.


Di Jogjakarta dia tinggal sendiri di rumah yang dibelikan oleh orang tuanya. Tidak hanya rumah, bahkan kendaraan bermotor pun disediakan oleh orang tuanya.


***


"Nggak usah datang! Ngapain datang kalau cuma sejam aja. Kirim aja uang biaya rumah sakit aja ke rekening Abang!" kata Rendy sambil membanting HP kesayangannya ke kasur.


Dia marah karena lagi-lagi orang tuanya memilih mengurus usahanya dibanding dia, anaknya. Dia merasa terbuang, tidak ada artinya di mata kedua orang tuanya.


Disaat Rendy marah-marah setelah menerima telepon dari papanya, Ary masuk ke ruangannya untuk memeriksa keadaannya dan untuk mengetahui perkembangan kesehatannya.


"Selamat siang Abang! Kok mukanya ditekuk kayak gitu, lagi bad mood ya?" sapa Ary dengan ramah.


"Bukan urusan loe!" jawab Rendy singkat.


"Ada keluhan apa hari ini, Abang? Masih sesak dadanya?" Ary seperti biasa memberikan beberapa pertanyaan pada Rendy untuk mengetahui perkembangan kesehatan Rendy.


"Masih sesak dikit!" jawab Rendy dengan ketus.


"Mari saya periksa dulu!" kata Ary sambil tersenyum dan mendekati Rendy.

__ADS_1


Ary mulai memeriksa keadaan Rendy.


"Pasti obatnya nggak diminum lagi, ini paru-parunya kok semakin kotor? Ada menghisap asap rokok?" tanya Ary.


"Nggak!" kata Rendy sambil menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban atas pertanyaan Ary.


"Tadi malam atau tadi pagi?" Ary.


"Nggak ada! Dibilang nggak ada ya nggak ada! Mau tahu banget sih ma urusan orang!" Rendy tersulut emosinya.


Tadi dia sudah emosi mendapat telepon dari papanya, sekarang Ary menginterogasinya.


"Ada pengunjung yang menjenguk Abang?" tanya Ary lagi.


"Nggak ada!" jawab Rendy singkat.


"Tunggu, gue ingat-ingat dulu!" Rendy nampak berpikir mengingat-ingat kembali kejadian tadi malam.


"Temanmu itu pasti merokok ya di ruangan ini?"tanya Ary.


"Kenapa gue jadi kayak tersangka begini sih!" tanya Rendy marah.


Ary tetap tenang menghadapi Rendy, satu-satunya pasien yang menguras energi dan otaknya. Ary harus ekstra sabar menghadapi pasiennya, jika kesabarannya itu hilang maka gagal lah usahanya menempuh sekolah kedokteran.


"Bukan tersangka, kalau bisa bilangin ke temannya jangan merokok di dalam ruang rawat inap pasien. Di rumah sakit itu dilarang merokok, sudah banyak dipasang papan peringatan dilarang merokok. Kenapa juga masih merokok? Di ruang rawat inap pasien lagi!!" jelas Ary.


"Kalau dia gue larang merokok di sini, terus yang temani gue di sini siapa? Loe mau tidur di sini sama gue?" tanya Rendy, otak mesumnya sudah mulai keluar.


"Kamu mau sembuh atau tidak???" Ary sudah malas menanggapi kata-kata Rendy.


"Emang kalau gue sembuh loe mau jadi bini gue?" tantang Rendy sambil memicingkan matanya dengan mengulum senyum.


"Dasar omes!!!" Ary pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Rendy sendirian.

__ADS_1


Selama di rumah sakit Rendy hanya ditemani oleh seorang sahabatnya yang bernama Brandon. Saat Brandon senggang dia akan menemani Rendy, biasanya malam hari dia baru datang. Brandon teman kuliah sekaligus anak buahnya dalam mengelola usaha Rendy.


Rendy tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Ary. Dia merasa senang karena berhasil mengerjai Ary. Sejak kehadiran Ary dalam hidupnya, Rendy merasa lebih tertantang. Jiwa petualangnya untuk menaklukkan wanita bangkit lagi. Padahal selama ini dia sudah merasa bosan dengan kehidupannya yang selalu monoton menurutnya.


"Pokoknya gue harus dapetin tuh cewek!'' kata Rendy sambil mengepalkan tangannya.


Tiba-tiba Rendy memencet tombol darurat untuk memanggil perawat karena dia membutuhkan bantuan.


"Ada yang bisa kami bantu? Atau ada keluhan dengan kesehatan Abang?" tanya suster jaga.


"Gue mau minta no telepon dokter yang ditugaskan untuk merawat gue!" kata Rendy.


Sikap Rendy yang tidak tahu sopan santun sudah banyak dikenal di rumah sakit itu. Selain dia hanya sendiri di rumah sakit selama 2 Minggu dirawat, sikap bossy yang selalu ditunjukkan membuatnya mudah dikenali di rumah sakit itu.


"Maaf, kalau untuk informasi itu lebih baik Abang tanyakan langsung ke bagian administrasi. Bagian yang ditujukan untuk membagi informasi mengenai data pasien dan dokter yang merawat." jawab perawat tadi.


"Ya udah mana gue minta no teleponnya!" kata Rendy.


"Di sebelah tombol darurat sudah ditempel, silahkan hubungi jika ada yang Abang butuhkan." jawab perawat jaga itu.


"Ok! Terima kasih." kata Rendy singkat.


"Saya permisi dulu, jika Abang butuh bantuan silahkan pencet tombol darurat kembali." kata perawat penjaga sambil meninggalkan ruangan tersebut.


"Orang aneh! Mencet bel cuma buat nanyain no HP dokter saja! Kirain ada yang darurat, bikin jantungan aja." gerutu perawat penjaga itu pelan agar tidak ada yang mendengar perkataannya.


Rendy hanya mengibaskan tangannya sebagai tanda "Sana pergi kau!"


Rendy mulai menyimpan no telepon rumah sakit bagian administrasi untuk mencari informasi mengenai Ary. Rendy penasaran dengan sikap Ary yang selalu cuek padanya.


"Baru kali ini ada cewek nggak terpengaruh ma pesona gue! Biasanya cewek yang ngedeketin gue, ini mentang-mentang mahasiswa kedokteran sombong banget ma gue. Pasti gue dapetin loe Cantik!" gumam Rendy.


***Mohon maaf bila ada kesamaan nama tokoh/nama/ tempat kejadian dengan alur cerita novelku. Semua itu hanya kebetulan semata 🙏🙏🙏***

__ADS_1


__ADS_2